Sponsor, Sepak Bola dan Ekonomi Jerman

Mendengar kata Jerman, maka kata “efisien” langsung terngiang di benak kita. Baik di perilaku masyarakat, perekonomian, hingga sepak bola. Anda boleh tidak mengindahkan Bundesliga, tetapi banyak kolektif suporter di Inggris yang berkhayal klub-klub mereka menjalankan model bisnis sepak bola Jerman.

Klub-klub Jerman mampu menggerakkan mesin finansial klub yang melibatkan ribuan suporternya. Rasa memiliki semakin terwujud, suporter semakin tulus mendukung klub karena Jerman memiliki formula khusus, yakni kebijakan 50+1. Seorang miliarder tidak bisa memiliki saham mayoritas di klub Jerman sehingga tidak terdapat klub-klub seperti Chelsea atau PSG di Jerman.

Model ini kemudian mempengaruhi kefanatikan suporter di dalam stadion. Tonton saja laga-laga Liga Champions atau Liga Europa yang mempertemukan tim Jerman dengan Inggris. Perbedaannya sangat mencolok. Suporter Jerman berdiri dan melonjak-lonjak sepanjang laga, menyanyikan mars dan yel-yel sementara yang mereka tempati adalah tribun duduk.

Atmosfir pertandingan di Inggris kalah jauh dibanding dengan Jerman. Beberapa ada yang berkilah bahwa itu disebabkan pelarangan tribun berdiri di seluruh stadion di Inggris akibat tragedi Hillborough pada 1989. Tapi seandainya peraturan tersebut dihapus, untuk kemudian diberlakukan sistem safe standing, saya sih sangsi bila atmosfer turut berubah.

Pasalnya, sepak bola Inggris telah memperlakukan suporter sebagai konsumen. Baik tiket harian maupun tiket terusan (season ticket) selalu mengalami kenaikan harga tiap musimnya. Ironisnya, stadion-stadion terus dirombak dan diperbanyak kapasitasnya.

Dalam logika sederhana, itu seharusnya membuat harga tiket semakin murah, bukun justru melambungkannya. Sepak bola yang identik sebagai wahana rekreasi kelas pekerja kini justru mencekik mereka.

Hal tersebut dengan mudah kita lihat di logo sponsor yang tertera di seragam klub kedua negara. Jika menjejerkan masing-masing pemain dari 20 tim EPL, kita bisa menyaksikan ‘warna global’ liga Inggris.

Di seragam Tottenham dan Watford kita menemukan perusahaan Cina, AIA dan 138.com. Di seragam Arsenal dan Manchester City, wangi Arab tercium dan terpampang berkat Fly Emirates dan Etihad Airways.

Bahkan di antara 20 klub, hanya Liverpool (Standard Chartered), Southampton (Virgin Media), Stoke City (Bet365), dan Middlesbrough (Ramsdens) yang disponsori perusahaan-perusahaan Inggris.

Tak berhenti sampai di situ, telah disepakati perjanjian anyar yang menyebutkan bahwa tim-tim EPL kini diperkenankan untuk ‘menjual’ lengan kanan seragam mereka kepada sponsor di musim depan. Pengamat menyatakan perjanjian ini dapat menggenjot nilai sponsorship hingga di angka 10 juta paun. Lengan kiri seragam tetap diisi logo Premier League.

Komersialisasi dan indentitas klub

Akumulasi nilai sponsorship klub-klub Inggris semakin meningkat tiap tahun. Dalam rentang waktu enam tahun, nilai kontrak sponsor melonjak lebih dari seratus persen. Seperti yang diutarakan Alex Miller dan Nick Harris di Sportingintelligence (31/7/2016), di musim 2010/11 saja, nilai sponsorship klub-klub EPL berjumlah 100,45 juta paun. Musim ini, angka tersebut melonjak menjadi 226,5 juta paun.

Tabel di bawah adalah daftar nilai kontrak sponsor klub-klub EPL (dari yang tertinggi)*:

No. Klub Merek Nilai/tahun Durasi
1 Manchester United Chevrolet (AS) £53 juta 7 tahun (2014-21)
2 Chelsea Yokohama (Jepang) £40 5 tahun (2015-20)
3 Arsenal Fly Emirates (UEA) £30 5 tahun (2015-19)
4 Liverpool Standard Chartered (Inggris) £25 3 tahun (2016-19)
5 Manchester City Etihad Airways (UEA) £20 10 tahun (2011-21)
6 Tottenham AIA (Cina) £16 5 tahun (2014-19)
7 West Ham United Betway (Malta) £6 3,5 tahun (2015-18)
8 Everton Chang (Thailand) £5,3 3 tahun (2014-17)
9 Southampton Virgin Media (Inggris) £6 3 tahun (2016-19)
10 Sunderland Dafabet (Filipina) £6 2 tahun (2015-19)
11 Swansea City BetEast (Asia) £5 2016-17
12 Crystal Palace Mansion (Gibraltar) £5 2016-17
13 Stoke City Bet365 (Inggris) £3,5 3 tahun (2015-18)
14 Hull City SportPesa (Kenya) £3 3 tahun (2016-19)
15 West Brom United UK-K8.com (Asia) £2,8 2 tahun (2016-18)
16 Leicester City King Power (Thailand) £1 Jangka panjang sejak 2010
17 Burnley Dafabet (Filipina) £2 2 tahun (2016-18)
18 Watford 138.com (Cina) £1 2016-17
19 AFC Bournemouth Mansion (Gibraltar) £2 2016-17
20 Middlesbrough Ramsdens (Inggris) £1 5 tahun (2013-18)

*sumber: Totalsportek

EPL bukan lagi sekadar industri sepak bola. Ia menjelma menjadi industri hiburan yang melibatkan banyak sektor ekonomi. Magnet EPL membuat perusahaan-perusahaan global berebut ‘kue’ sepak bola Inggris, bahkan tak sedikit pula yang rela untuk sekadar mencicipi ‘remah-remahnya’.

Ini membuat para budak finansial turut memiliki peran sepenting para pemain. Bila para pemain berjibaku berebut bola di lapangan hijau, maka pekerja finansial turut ‘baku hantam’ dengan fluktuasi saham, nilai dan klausul kontrak, beragam perjanjian dengan stakeholder serta tetek bengek keuangan lain.

Ultra komersialisasi macam inilah yang dibenci habis-habisan oleh suporter Inggris. Permainan yang sejak kecil mereka kenal kini sudah tidak sama lagi. Di tiap pertandingan, mereka sering beradupandang dengan wajah-wajah asing (baca: turis mancanegara) di tribun.

Berbeda dengan di Jerman, suporter memiliki ikatan solidaritas kelokalan yang kuat. Tak peduli dengan urusan komersialisasi, sepak bola masih menjadi tempat meluangkan waktu luang yang mengakar dengan identitas suporter.

Dari 18 tim yang berlaga di Bundesliga, hanya Hamburg (Emirates/UEA), RB Leipzig (Red Bull/Austria), dan Schalke (Gazprom/Rusia) yang disponsori perusahaan-perusahaan non-Jerman. Klub-klub lain disponsori oleh perusahaan-perusahaan Jerman yang bergerak di berbagai sektor mulai perbankan, teknologi informasi, minuman keras, hingga jaringan supermarket.

Selain perusahaan nasional, banyak juga yang merupakan perusahaan lokal yang beroperasi di kota yang sama dengan klub tersebut. Cara ini membuat ekonomi dan olahraga menjadi identitas warga yang membanggakan dan sederhananya, menurut saya, turut menciptakan kohesi sosial.

Kolumnis sepak bola kenamaan, Simon Kuper, dalam tulisannya di Financial Times (27/6/2012) mengutarakan bahwa sepak bola Jerman menjadi cerminan ekonomi salah satu negara adikuasa tersebut.

Seiring dengan kegagalan Jerman di Piala Dunia 1998 dan Euro 2000, pada 1997 untuk pertama kalinya Jerman dipenuhi lebih banyak warga yang mendapat tunjangan negara ketimbang mereka yang bergaji. Krisis ketenagakerjaan ini juga diperparah dengan resesi global di awal milenium (yang melanda negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada, Jepang, dan Rusia). Secara historis, era ini adalah langkah awal reunifikasi antara Jerman Barat dengan Jerman Timur.

Beralih ke sepak bola, skuat Jerman di Piala Dunia 1998 disebut pelatihnya memiliki kelincahan seperti kulkas, “Germans dance like refrigerators. Jerman tidak bisa lagi mengandalkan efisiensi dan fisik belaka. Jerman kemudian tidak sungkan untuk mempelajari sepak bola ke negara lain seperti Belanda, Perancis dan Swiss. Jerman bahkan mempelajari sepak bola hingga ke negara yang tradisi sepak bolanya tidak kuat: Amerika Serikat!

Pun model bisnis liga. Mereka sadar bahwa konsep yang mereka jalankan sudah usang. Mereka harus berubah untuk menghadapi industri sepak bola yang semakin terdampak globalisasi. Maka diputuskanlah kebijakan masyhur itu: 50+1.

Bersumber dari laporan Ulrich Hesse di majalah FourFourTwo Indonesia (Maret 2013), sebelum restrukturisasi ini, klub-klub Jerman dimiliki publik non-profit yang disimpulkan sebagai ‘kumpulan asosiasi-asosiasi olahraga yang merupakan representasi suatu komunitas dan dijalankan oleh anggota-anggota komunitas tersebut.’

Kini, mereka mempersilakan investor untuk berinvestasi, tapi jangan pernah berharap untuk menguasai klub seperti yang terjadi pada klub-klub EPL. Klub-klub Jerman tidak terjerumus seperti Chelsea atau Man. City yang seperti ‘mainan’ para sugar daddy.

50+1 kemudian membuktikan kepada dunia bahwa model bisnis yang merupakan artikulasi “Soziale Marktwirtschaft” ini bisa berbicara banyak di atas lapangan hijau, tidak semata menjaga keluhuran identitas.

Ketika model bisnis ini selaras dengan semangat reformasi federasi sepak bola Jerman, hasilnya berimbas pula pada keberlanjutan ekonomi (self-sustainability). Sepak bola bahkan telah berkontribusi dalam menciptakan lapangan kerja. Tidak tanggung-tanggung, menurut lembaga konsultan manajemen McKinsey, sepak bola telah mempekerjakan 110.000 manusia secara full-time.

Riset yang saya kutip dari Deutsch Welle (12/8/2015) ini juga menyebutkan bahwa meski sumbangsih ekonomi sepak bola Jerman kecil, hanya menyumbang 0,3 persen dari total produk domestik bruto (PDB) Jerman, namun pertumbuhannya termasuk yang tertinggi. Sektor sepak bola mengalahkan jasa teknologi informasi dan automotive engineering.

Model alternatif yang membahagiakan

Tidak perlu rasanya saya sebut kesuksesan sepak bola Jerman. Baru dua tahun yang lalu Jerman, dengan skuat kosmopolitan yang berkembang lewat restrukturasi sistem, menaklukkan Argentina.

Mereka juga masih mampu menunjukkan taring di tengah dominasi Spanyol meski dalam sepuluh tahun terakhir penyelenggaraan Liga Champions hanya memunculkan Bayern Munchen sebagai juara.

Kritik terhadap sepak bola Jerman memang menyasar ke Munchen. Bahwa klub Bavaria tersebut terlalu dominan, kerap membajak bakat-bakat terbaik Bundesliga. Di sisi lain, secara umum hal tersebut tidak membuat antusiasme penonton menurun.

Dalam beberapa tahun terakhir, kita bisa melihat bagaimana antusiasme itu tak nampak di EPL. Tidak hanya sepi dari koregrafi ataupun kekompakkan bernyanyi, jumlah rerata kehadiran penonton di stadion juga rendah.

Jika penyelenggara Liga Primer Inggris kerap mengaku liga mereka yang terbaik, mengapa minat penonton tak setinggi orang-orang Jerman?

Jawaban dari pertanyaan ini telah saya ulas di atas. Di pasar global, mungkin brand Liga Inggris berkuasa. Tetapi, mengapa mesti repot mengurusi orang-orang di luar sana bila pertandingan tidak memikat rakyat sendiri?

Di samping nilai-nilai moral yang dinarasikan, sepak bola, sebagaimana olahraga-olahraga adu fisik lain adalah perwujudan naluri beringas manusia. Saat pemain saling baku hantam, misalnya, kita dengan mudah melihat para penonton di tribun justru berdiri dan memberikan apresiasi. Di rumah, di depan layar televisi kita me-mampus-mampus-in pemain lawan yang kena sikut. Olah raga juga menjadi penyalur kebencian lewat cara ini.

Seiring waktu yang bergulir, kebengisan itu juga mewujud dalam keserakahan pemodal yang kelewat rakus. Mengglobalnya merek Premier League melunturkan nilai-nilai sosio-historis yang melekat di olahraga yang ‘katanya’ milik rakyat ini. Klub-klub semakin ‘mengasingkan’ diri dari suporter, prestasi tim nasional pun jalan di tempat.

Sementara itu, di kota-kota besar Inggris seperti London dan Manchester, gentrifikasi merebut berbagai ruang kelas pekerja seperti akses terhadap tanah, kesempatan kerja, hingga keadilan sosial.

Inilah yang dinamakan konsekuensi. Klub semakin jauh dari suporter dan prestasi timnas akan jalan di tempat. Tidak kemana-mana. Tidak mendapat apa-apa. Liga Inggris semakin komersil namun perlahan, nasib sepak bola dalam negerinya berjalan menuju senjakala.

Author: Fajar Martha
Esais dan narablog Arsenal FC di indocannon.wordpress.com