Turin, pada Suatu Malam

Gemerlap liga suatu negara tidak serta merta membuat timnasnya digdaya. Apalagi jika liga tersebut dijejali pemain-pemain asing, klub-klub yang ada tak mementingkan akademi, sehingga meminggirkan pemain-pemain asli.

Inggris, dengan mental aristokratnya, sampai kini masih menganggap sebagai bangsa penemu sepak bola. Namun sejarah membuktikan bahwa terakhir kali timnas Inggris sanggup berbicara banyak di suatu ajang internasional adalah pada pagelaran Piala Dunia 1990 di Italia – dua puluh tujuh tahun yang lalu. Sisanya? Inggris selalu tampil ala kadarnya dan relatif memalukan.

Di Piala Dunia 1990-lah Inggris terakhir kali mampu berbicara banyak. Ini adalah satu-satunya momen di mana Inggris mampu melaju ke semifinal di kompetisi yang tidak diadakan di negeri mereka sendiri. The Three Lions yang saat itu diperkuat nama-nama seperti Gary Lineker, Peter Shilton,Terry Butcher, dan Paul Gascoigne, membuat bangsa mereka bergeletar, di tengah zaman yang tengah berubah.

Saat itu bandul politik semakin berayun ke kanan. Ditandai dengan runtuhnya tembok Berlin di Jerman dan warna perestroika pemerintahan Gorbachev di Rusia. Juga peristiwa Tiananmen di Cina dan Revolusi Iran 1979, yang meski menumpahkan banyak darah, namun memberi pertanda bahwa peradaban tengah bergolak dan optimisme merubungi sanubari warganya. Di tengah itu semua, Inggris – dengan impotennya sayap kiri dalam menghadang pemerintahan Thatcher – semakin merosot, usang, dan jika diilustrasikan: terlukis dalam nuansa muram film-film Ken Loach.

Di aspek sepak bola, sudah sejak 1985 tim-tim Inggris dilarang tampil di ajang antarklub Eropa sebagai hukuman untuk tragedi Heysel. Publik Inggris dihantui hooligan-isme suporter sehingga menganggap kekerasan adalah anak kandung sepak bola. Sementara itu, insiden Hillsborough yang menewaskan 96 suporter Liverpool adalah misteri yang sampai hari ini terus dituntut The Kop untuk diungkap. Menurut investigasi, peristiwa nahas itu terjadi akibat keteledoran aparat ketimbang brutalnya suporter.

Dalam konteks penuh mendung itulah, skuad timnas Inggris bersama Sir Bobby Robson dan Paul “Gazza” Gascoigne mampu mencuri hati rakyat Inggris sehingga kerap disebut tim terbaik terakhir yang mereka punya.

***

Situasi rumit di negeri sendiri makin diperparah oleh senarai pemberitaan sensasional yang cenderung mendiskreditkan anak-anak asuh Robson, sehingga suhu di kamar ganti tidak terlalu positif. Robson menyatakan perang secara terang-terangan dengan media di suatu konferensi pers.

Di satu surat kabar, Robson dicap pengkhianat karena sedang bermain mata dengan klub Belanda untuk membicarakan karier selanjutnya. Yang menjengkelkan, timing pemberitaan beredar sekira dua setengah minggu sebelum keberangkatan timnas ke Italia. Lagi pula, kontrak Robson – apapun pencapaian timnas di Italia – akan berakhir seturut Piala Dunia.

Di depan kilatan lampu kamera dan mulut cerewet para jurnalis Inggris yang nyinyir, Robson dengan mata berair dan hidung memerah berkata keras, “Kalian(media) semua telah menghancurkannya. Kalian menghancurkannya, di tengah persiapan-persiapan yang kami jalani.” Geruh tak berbunyi, malang tak berbau. Sampai saat ini sepak bola Inggris seperti jalan di tempat berkat – salah satu dari sekian banyak faktor – kecenderungan media nasional untuk membesar-besarkan peristiwa (baik dalam rupa berita atau cerita).

Namun Italia sudah di depan mata. Robson bersama anak-anak asuhnya harus fokus mempesiapkan diri melawan Irlandia di Cagliari. Meski mayoritas skuat adalah muka-muka lama, Terry Butcher bahkan telah bekerjasama dengan Robson saat keduanya membela Ipswich Town, Inggris sedikit pongah karena kini diperkuat Paul “Gazza” Gascoigne: anak muda dari Newcastle yang oleh Stuart Pearce disebut ‘The quackerjack of English football.

Gazza, yang saat itu baru berumur 23 tahun, diharapkan mampu membawa Inggris ke posisi terhormat. Badannya yang gempal dan kegemarannya bertingkah tak pelak membuatnya dibanding-bandingkan dengan Maradona. Perbandingan yang disertai pula dengan kemampuannya mengolah si kulit bundar. Ia sosok gelandang yang memiliki kemampuan mencetak gol dan mengirim umpan yang sama baiknya. Tak heran jika Tottenham Hotspur dan Manchester United berebut merekrutnya, yang akhirnya dimenangkan klub pertama. Kelak, kita kemudian tahu bahwa kepindahannya ke Lazio disambut seheboh penyambutan Napolitani terhadap Maradona. Minus prestasi tentu saja, tak seperti El Diego di Naples.

Skuat Inggris juga masih diperkuat Gary Lineker: topskor Piala Dunia empat tahun sebelumnya yang sama-sama berbaju Spurs sehingga klop dengan Gazza. Di kedua sisi sayap dihuni oleh pemain Liverpool John Barnes dan Chris Waddle, gelandang Auxerre berambut mullet dengan gaya menggiring bola flamboyan. Terutama di sisi kiri, Barnes juga dibantu Stuart Pearce yang berkarakter lebih ofensif ketimbang bek-bek sayap pada umumnya. Mereka juga dikapteni Bryan Robson, kapten legendaris Manchester United.

Di Cagliari, Inggris akan menjalani laga pertama melawan Irlandia: bangsa yang sekian ratus tahun mereka jajah sehingga tak menjadi bagian dari Kerajaan Britania. Selain sentimen identitas yang menyesakkan ini, mereka juga satu grup dengan Belanda yang diperkuat trio AC Milan Marco van Basten, Ruud Gullit dan Frank Rijkaard sehingga kans Inggris, bisa dibilang, tak terlalu besar.

Selain ganasnya tekanan pers nasional dan beratnya lawan-lawan di grup F (kecuali Mesir), Inggris juga mendapat musuh lain: negara. Pemerintah, lewat Menteri Olahraganya Colin Moynihan ikut campur di Italia terkait pengawasan keamanan sebagai tindakan preventif karena Inggris baru saja dihukum UEFA akibat Tragedi Heysel.

Pemilihan Cagliari yang terletak di Kepulauan Sardinia juga hasil dari campur tangan ini. Cagliari yang terpencil dan relatif terisolir bisa sedikit menghambat berjubelnya fan Inggris yang barbar dan kerap bertindak banal. Selain itu, tindakan pengawasan akan lebih mudah terkoordinasi ketimbang di tengah kota besar seperti Milan atau Roma. Skuat dan terutama suporter Inggris berada dalam bayang-bayang suram.

Tepatnya di Stadio Sant’Elia, bayang-bayang tersebut itu berwujud menjadi kenyataan. Mereka hanya mampu berbagi hasil 1-1 dengan Irlandia. Tekanan terhadap Robson semakin besar karena gol Irlandia terjadi akibar kesalahan taktik yang ia buat. Menit 69, dalam upaya mempertahankan keunggulan, Robson mengganti Peter Beardsley dengan Steve McMahon. Hujan deras yang tiba-tiba turun beserta permainan keras anak-anak asuhan Jack Charlton membuat Robson merasa strategi ini sebagai langkah tepat.

Malang, justru McMahon pula yang beberapa menit kemudian mendatangkan petaka di partai perdana. Giringan bolanya di depan kotak penalti Inggris terlalu sembrono sehingga mudah direbut yang membuat Kevin Sheedy mampu menjebol gawang Peter Shilton. 1-1! Gol cantik Lineker di menit ke-8 terasa seperti ampas kopi belaka: tak berarti.

Sudah barang tentu, media kembali menghajar timnas dan, terutama, Robson. Narasi yang dibangun adalah musim panas Inggris di Italia hanya akan berjalan sebentar karena mereka akan angkat koper lebih dulu. Apalagi pertandingan mereka selanjutnya adalah melawan tim Negeri Kincir Angin yang pada Euro ’88 mengempaskan mereka 3-1 lewat trigol Marco van Basten.

Berstatus sebagai jawara Eropa, Belanda justru tampil melempem. Robson mengganti taktik klasik 4-4-2 dengan mengakomodasi Mark Wright untuk menjadi sweeper sehingga bisa meladeni aura kontinental Belanda. Sweeper yang aslinya fokus pada tanggung jawab pertahanan, di era ’90-an berkembang lebih luwes sehingga mereka kerap memulai serangan balik. Posisi ini dengan baik dilakoni Mathias Sammer dan Franco Baresi. Di laga melawan Belanda, peran itu jatuh ke kaki Mark Wright sehingga secara formasi menjadi 5-4-1.

Kontrol penuh mereka punya. Barnes, yang merasa aman karena posisinya juga sering diisi Pearce, leluasa bergerak ke sisi kanan. Gazza berkali-kali mengecoh pertahanan Belanda yang dikawal Rijkaard dan Ronald Koeman. Jawara Eropa dibuat tak berkutik Inggris di Cagliari. Tepuk tangan dan yel-yel dihamburkan suporter kepada para pemain kebanggaan setelah peluit akhir berbunyi.

Hanya menorehkan dua poin dari dua laga tak menahan optimisme suporter Inggris di Kepulauan Sardinia. Pesta semakin menggila, bir berliter-liter ditenggak. Ditambah muramnya suasana di kampung halaman, ini menjustifikasi mereka untuk berbuat onar. Gelas-gelas dilemparkan, pecah berhamburan. Aparat tak tinggal diam. Mereka menangkapi dan memukuli siapa saja yang tertangkap. Di negeri sendiri, negara menyetujui tindakan aparat lewat pernyataan resmi di konferensi pers.

***

Inggris adalah negara yang memiliki tradisi menetapkan anthem resmi di kejuaraan sepak bola yang mereka ikuti. Kali ini, grup elektronik asal Manchester, New Order yang diberi kesempatan istimewa tersebut. New Order menjawabnya lewat “World in Motion” di mana Barnes turut menyumbang kemampuannya nge-rap.

Bait terakhir yang dinyanyikan Barnes berbunyi, “We ain’t no hooligans, this ain’t no football song/ Three lions on my chest, I know we can’t go wrong.” Di tengah arsiran syntesizer, Barnes seperti mewakili mentalitas dan harapan rekan-rekannya. Sepak bola Inggris harus menunjukkan taji setelah dibikin ambruk Maradona pada 1986 dan tampil teramat buruk di Piala Eropa ’88.

Menghadapi Mesir, Robson berpaling kembali pada khittah 4-4-2 Inggris. Di babak kedua, di sepertiga kedua lapangan sisi kiri, Inggris mendapat peluang tendangan bebas. Gazza sang penendang mengambil ancang-ancang, melepaskan bola yang tinggi menukik untuk kemudian disambut tandukan Wright – yang telah kembali berposisi sebagai bek. 1-0. Inggris melaju ke babak 16 besar untuk menghadapi Belgia.

Tetapi mendung kembali menghampiri. Inggris harus kehilangan sang kapten Bryan Robson sehingga dipulangkan karena cedera. Sementara itu, melajunya mereka ke babak selanjutnya membuat Inggris bermain di kepulauan utama. Eksotisme khas negeri-negeri Mediterania dan struktur perkotaan yang lebih rumit ketimbang di kota-kota kepulauan mendatangkan bencana: tingkah suporter semakin liar.

Salah satu bar dibuat rusuh hingga api berkobar membakarnya, hal yang menjadi pemicu bagi tindakan keras aparat keamanan terhadap mereka. Akibatnya, lebih dari 200 suporter Inggris dideportasi. Skuat Inggris seperti terus menerus dipusingkan hal-hal yang tak bersangkutan sama sekali dengan sepak bola.

Untungnya, laga melawan Belgia dapat mereka lewati dengan kemenangan. Belgia yang diperkuat salah satu bakat terbaiknya, Enzo Scifo, mesti takluk di hadapan Inggris dengan gol yang dicetak David Platt di menit 119, satu menit menjelang penentuan laga lewat adu penalti.

Skenario kemenangan atas Mesir terulang. Keandalan Gazza melepas umpan dari tendangan bebas menjadi senjata yang kemudian dituntaskan Platt sambil memutar badan di tengah kawalan ketat pemain Belgia. Untuk sementara adu penalti tak menjadi momok. Bayangan akan hal itu pecah oleh gol Platt. Dan Robson berlari-lari kecil di pinggir lapangan.

Sepak bola membuat Inggris tertawa seperti bocah. Namun perhatian dunia tidak terlalu berpusat pada mereka. Seperti halnya perasaan kita pada Leicester City musim lalu, publik sepak bola bersimpati pada permainan Kamerun, lawan Inggris di perempat final. Dipimpin oleh pemain gaek Roger Milla, Kamerun sukses menyadarkan khalayak bahwa talenta-talenta Afrika juga mampu menampilkan permainan atraktif dalam wujud tim nasional. Dansa Milla membius dunia.

Sebagaimana sebelumnya, laga versus Kamerun harus dituntaskan melalui cara yang dramatis. Meski unggul lebih dulu lewat gol Platt, berturut-turut di menit 61’ dan 65’ Kamerun hampir menjungkalkan harapan Inggris. Skor berbalik 2-1 untuk keunggulan mereka. Di stadion San Paolo, Naples, Milla yang baru masuk, tuntas menunjukkan bakatnya: kontribusi nyata di dua gol Kamerun.

Penalti mereka dapati karena penetrasi Milla di kotak penalti dihajar Gazza. Gol kedua yang diceploskan Eugene Ekeke terjadi berkat assist pemain yang saat itu telah menapaki usia 38. Beruntung, nasib memihak Inggris. Permainan atraktif Kamerun terpaksa berhenti karena mereka sembrono mengatur pertahanan. Umpan pembelah pertahanan yang dilepas Gazza menyusur mulus ke kaki Lineker yang kemudian dijegal kiper Kamerun. Penalti kedua untuk Inggris. Gazza kemudian menunjukkan pada Milla bahwa ia juga bisa berdansa, yang kemudian ia lakukan setelah laga usai.

***

Dari Naples di belahan selatan, mereka menuju utara, ke Turin untuk menghadapi Jerman. Turin bukanlah nama yang asing karena kota ini merupakan basis Juventus: klub yang menjadi korban di tragedi Heysel, lima tahun sebelumnya. Di pertandingan kontra Liverpool itu pendukung si Nyonya Tua bernasib nahas karena menjadi bagian terbanyak dari jumlah korban 39 tewas dan 600 luka-luka.

Kota telah berkobar mengikuti kekalahan sang tuan rumah di tangan Argentina-nya Maradona. Aksi penyerangan kemudian turut mengarah ke suporter Inggris sebagai balas dendam untuk tragedi Heysel.  Latar pertandingan terasa mencekam, sama seperti yang dirasakan skuat Inggris. Pasalnya lawan mereka sekarang adalah Jerman (saat itu masih Jerman Barat), yang melaju ke semifinal dengan meyakinkan, mencetak 13 gol tanpa sekali pun melaluinya lewat perpanjangan waktu.

Di luar dugaan, Inggris justru memeragakan permainan yang menghambat efektifitas Der Panzer. Gazza, dengan kaki kiri dan kanannya, bahkan berhasil melepas tendangan dari luar kotak penalti walau tak berbuah gol. Bayang-bayang keberhasilan mereka meredam Belanda pun mewarnai pertandingan. Sayang, Jerman memiliki Bodo Illgner di bawah mistar. Aksinya berkali-kali menyelamatkan gawang mereka dari hantaman para pemain Inggris.

Hal tersebut hanya berjalan di babak pertama. Lothar Matthaeus dkk mengambil alih kontrol di babak kedua dan terbukti, berhasil mencuri gol lewat sepakan Andreas Brehme yang sebelumnya membentur pagar betis Inggris.

Inggris berhasil membalas lewat Lineker. Napas dapat kembali berembus normal. Senyum dan tawa kemenangan bertaburan. Namun Jerman tetaplah Jerman dan Inggris tetaplah Inggris.

Gazza berbuat sembrono sehingga dihadiahi kartu kuning wasit yang membuatnya, kendati Inggris  melaju ke final, mendapat hukuman larangan tampil karena akumulasi kartu. Ia menangis sebelum peluit akhir ditiup. Tangisan yang kita tahu sama mengiris hatinya seperti tangisan Baggio di Piala Dunia ’94 atau David Luis di Piala Dunia ’14.

Babak perpanjangan waktu usai sudah dan tos-tosan terpaksa dilakukan demi menentukan pemenang. Pada mata Chris Waddle kita menemukan tatapan nanar yang sama seperti tatapan Andriy Shevchenko di final Liga Champions 2005 di Istanbul.

Dan di tangis Gazza serta tatapan nanar Waddle, semua berakhir sudah. Kita tahu perebutan juara ketiga takkan mampu menggantikan kenikmatan menggenggam Piala Dunia. Setelah ini, Inggris tak pernah lagi memikat hati penonton, entah lewat permainan cantik atau langkah berarti di suatu kejuaraan.

Inggris, secara sosial-politik, turut berubah. Thatcher tumbang dan pada 1997 gerakan New Labour-nya Tony Blair sedikit membawa perubahan. Dua tahun setelah malam di Turin, bersama taipan media Rupert Murdoch dan jaringan televisi SKY-nya, sepak bola Inggris menggurita. Jika nilai kontrak televisi yang menjadi acuan, liga Premier League Inggris adalah kiblat sepak bola.

Sayang, kiblat tersebut harus tergerus oleh kapitalisasi gila-gilaan sehingga identitas timnas Inggris tak pernah meyakinkan. Otoritas sepak bola selalu kalah oleh kepentingan para miliarder sehingga mereka tak mampu melakukan apa yang dilakukan Jerman saat merestrukturisasi sistem sepak bola di awal abad ke-21.

Sialnya, berlainan dengan Inggris, Jerman menghasilkan sepak bola yang sanggup berjaya di level klub (lewat Bayern Muenchen) dan skuat timnasnya yang menjuarai Piala Dunia Brasil ’14.

Author: Fajar Martha
Esais dan narablog Arsenal FC di indocannon.wordpress.com