Para Pemain Muda yang Akan Menarik Perhatian di Piala Presiden 2017

Sepak bola Indonesia kembali menyongsong kompetisi reguler setelah sempat terhenti selama hampir setahun lebih. Liga 1 menjadi tajuk bagi kompetisi level tertinggi sepak bola Indonesia yang rencananya akan bergulir mulai bulan Maret nanti. Serangkaian perubahan dimasukan di kompetisi reguler terbaru ini. Salah satunya adalah soal pembatasan umur bagi para penggawa tim peserta Liga 1.

Selain soal pembatas pemain berusia 35 tahun ke atas, operator kompetisi juga membuat regulasi soal para pemain muda berusia 23 tahun ke bawah. Setiap tim peserta Liga 1 diwajibkan mendaftarkan lima pemain U-23, dan tiga diantaranya wajib dimainkan sejak menit pertama. Meskipun masih banyak diperdebatkan, regulasi baru ini jelas merupakan salah satu persiapan Indonesia mengikuti ajang SEA Games akhir tahun 2017 nanti dan Asian Games setahun berselang. Apalagi, dua kejuaraan ini menerapkan aturan baru di mana setiap negara kini hanya diperbolehkan mengirimkan tim U-22 mereka untuk berlaga.

Kebijakan ini tentu berimbas akan banyaknya pemain-pemain muda yang unjuk gigi. Beberapa bahkan bisa saja menampilkan kualitas mereka di turnamen pra-musim Piala Presiden 2017. Berikut beberapa pemain berusia di bawah 23 tahun yang akan menarik perhatian di Piala Presiden 2017 nanti.

Hansamu Yama Pranata (Barito Putera)

Nama Hansamu Yama Pranata melambung ketika ia menjadi salah satu personel tim Garuda Jaya yang memenangkan Piala AFF U-19 di Sidoarjo tahun 2013 lalu. Ia kembali menarik perhatian publik sepak bola Indonesia ketika ia tanpa sengaja, mencederai Irfan Bachdim  dalam sebuah sesi latihan jelang Piala AFF tahun 2016 lalu. Hansamu kemudian mendapat hujatan dan cacian dari hampir seluruh penjuru negeri. Sebuah tekanan yang bisa dibilang luar biasa untuk ukuran seorang pemain muda.

Akibat kejadian tersebut tentu, Hansamu akan menjadi kambing hitam utama seandainya Indonesia babak belur sepanjang turnamen. Namun yang kemudian terjadi justru di luar perkiraan. Ia menggeser Yanto Basna ke bangku cadangan, dan menjelma menjadi tandem yang sempurna bagi Fachrudin Aryanto. Hansamu berhasil membuktikan diri dengan tampil apik dan stabil, bahkan ia berhasil menyarangkan gol di babak semifinal dan final.

Sempat dikabarkan diincar oleh banyak tim-tim besar. Hansamu kemudian memutuskan untuk tetap bertahan di Barito Putera. Untuk kompetisi mendatang apalagi dengan kebijakan pemain U-23, satu tempat di jantung pertahanan Barito sudah pasti menjadi milik Hansamu. Pelatih Jacksen F. Tiago hanya tinggal memilih antara Ambrizal atau M. Robby sebagai partner Hansamu di pos bek tengah tim asal Kalimantan ini.

Osvaldo Haay (Persipura Jayapura)

Banyak sekali poin menarik ketika Persipura Jayapura berhasil merengkuh gelar juara ISC tahun 2016 lalu. Mulai dari mereka memulai dengan start yang buruk, tidak seringnya Boaz Solossa bermain karena cedera dan dipanggil timnas, hingga banyak sekali pemain muda yang mendapatkan kesempatan tampil bahkan berperan besar terhadap keberhasilan tim untuk meraih juara. Dan salah satunya adalah Osvaldo Haay.

Berposisi sebagai gelandang serang, Osvaldo menunjukan keahlian khas bakat-bakat dari Papua. Ia punya kaki-kaki yang lincah dan teknik menggiring bola yang sangat baik. Bakat dan kualitas Osvaldo semakin terlihat terutama ketika Boaz absen. Sepanjang ISC musim lalu ia bermain 17 kali dan menyarangkan lima gol. Salah satu yang terbaik adalah ketika ia mencetak gol ketika Persipura berhadapan dengan lawan sulit, Arema FC.

Abdul Aziz Luthfi (Pusamania Borneo FC)

Punya latar belakang paling unik ketimbang kontestan lain. Nama Abdul Aziz Lutfi pada awalnya justru terkenal di cabor futsal ketimbang sepak bola. Sebelum dikontrak secara profesional oleh Persiba Balikpapan, ia merupakan pemain klub peserta Futsal Super League Indonesia, Libido FC. Sebelumnya ia sempat memperkuat tim lain yaitu FKB pada tahun 2013. Namanya semakin melambung ketika menjadi kapten tim Jawa Barat di PON XIX yang kemudian berhasil meraih medali emas.

Setelah Persiba, untuk gelaran musim ini Aziz memperkuat tim asal Kalimantan Timur lain yaitu Pusamania Borneo FC. Berposisi sebagai gelandang, Aziz yang merupakan produk pembinaan usia muda Persib Bandung ini terkenal memiliki visi dan kreativitas yang sangat baik untuk pemain seusianya. Peluang bermainnya di Piala Presiden cukup besar mengingat Ponaryo Astaman yang sudah semakin uzur.

Febri Hariyadi (Persib Bandung)

Meledak-ledak dan tricky. Itulah kesan yang akan muncul ketika membicarakan Febri Hariyadi, winger muda milik Persib Bandung yang fasih bermain di sisi kiri atau kanan. Namanya sudah terkenal bahkan sejak kelompok anak-anak. Bersama Gian Zola Nasrullah, Bow, begitu pemain ini akrab disapa, dianggap sebagai pemain masa depan tim kebanggaan Jawa Barat tersebut. Bow juga termasuk kedalam tim PON Jawa Barat yang berhasil medali emas.

Dipanggilnya Zulham Zamrun ke timnas menjadi berkah tersendiri. Bow kemudian mendapatkan banyak sekali waktu bermain. Dan kesempatan tersebut tidak disia-siakan olehnya, ia menunjukan kemampuan terbaiknya. Bahkan dalam beberapa kesempatan ia sangat merepotkan para pemain belakang senior seperti Johan Alfarizie, Zulvin Zamrun, dan Victor Pae. Aksi Bow bahkan sempat diunggah oleh salah satu media sosial terkenal dari luar negeri.

Sepanjang Torabika Soccer Championship (TSC) musim lalu ia berhasil menyarangkan dua gol dan tiga asis. Dengan hengkangnya Zulham, maka dipastikan Bow mendapatkan satu tempat di tim utama Persib Bandung. Maka besar kemungkinan pada gelaran musim mendatang tentu akan lebih banyak aksi dari Bow yang bisa disaksikan.

Dendi Sulistyawan (Bhayangkara FC)

Mungkin tidak sebelumnya tidak ada di benak seorang Dendi Sulistyawan bahwa ia akan menjadi tumpuan serangan utama di klub masa kecilnya, Persela Lamongan di ISC lalu. Sebuah kesempatan luar biasa yang bahkan membuat ia mendapatkan panggilan Tim nasional. Di kompetisi pengganti liga tahun lalu tersebut, Dendi bermain sebanyak 32 pertandingan dan berhasil menyarangkan tujuh gol. Dengan jumlah tersebut ia juga menjadi pencetak gol terbanyak Persela di ISC lalu.

Tidak hanya bisa ditempatkan sebagai penyerang tengah. Dendi juga bisa saja ditempatkan di sektor penyerang sayap bagi di sisi kiri maupun kanan. Pergerakan tanpa bola dan penempatan posisi yang baik menjadi keunggulan dari pemain berusia 20 tahun ini. Musim mendatang ia akan memperkuat Bhayangkara FC yang tentunya bisa meningkatkan lagi level bermain dirinya. Karena di sana ia bergabung dengan bintang-bintang muda lain seperti Evan Dimas, Hargianto, dan Ilham Udin Armayn.

Selain nama-nama diatas tentu masih banyak lagi para pemain muda lain yang memiliki potensi luar biasa. Sebut saja dua sayap Mitra Kukar, Septian David Maulana dan Yogi Rahadian. Atau bek sayap tangguh milik PSM, Wasyiat Hasbullah. Begitu pula dengan bek kiri Sriwijaya FC, Zalnando. Yang pasti, meskipun masih perlu disempurnakan, regulasi soal pemain muda ini bisa jadi stimulan bagi regenerasi bakat-bakat sepak bola Indonesia agar bisa dimaksimalkan lebih baik lagi.

Author: Aun Rahman (@aunrrahman)