Kaka, Manusia Terakhir Peraih Ballon d’Or dan Karier yang Tak Patut Disesali

Ricardo Izecson dos Santos Leite, atau yang lebih dikenal dengan nama Kaka, pasti memiliki tempat di hati sebagian besar penggemar AC Milan. Ya, legenda sepak bola asal Brasil ini memang menikmati puncak kariernya bersama klub besar dari Italia tersebut.

Namun kini, pemain yang terkenal sangat relijius ini sudah masuk dalam pengujung kariernya. Di usianya yang sudah mencapai 35 tahun, Kaka baru saja memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya saat ini bersama klub Major League Soccer, Amerika Serikat, Orlando City.

Patut diingat sebelumnya, meskipun menghabiskan ujung karier di MLS, Kaka adalah manusia terakhir yang menjadi pemenang Ballon d’Or, trofi pesepak bola terbaik di dunia, sebelum akhirnya menjadi duopoli dua ‘alien’, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Banyak orang yang menyesali kariernya, yang terjun bebas kala hengkang dari AC Milan, namun sesungguhnya, patutlah kita kenang perjalanan sepak bola Kaka dengan manis tanpa perlu ada penyesalan.

Mengawali karier di Sao Paulo, Kaka menjadi salah satu remaja yang diincar oleh banyak klub besar di Eropa ketika ia mulai muncul ke permukaan. Ia mengawali debutnya di tahun 2001 ketika masih berusia 18 tahun. Dua tahun berselang, AC Milan meminangnya dengan biaya sebesar 8,5 juta euro, biaya yang cukup besar untuk pemuda berusia 20 tahun pada saat itu.

Bersama Milan, Kaka menjelma menjadi pesepak bola yang luar biasa. Berbagai macam trofi ia raih, mulai dari level klub hingga individual. Sebut saja trofi Serie A, Supercopa Italia, dan tentunya, Liga Champions. Ia juga meraih kejayaan sebagai pesepak bola ketika didapuk menjadi yang terbaik di dunia di tahun 2007.

Memori tentang Kaka tentu terpatri dengan baik bagi para Milanisti di seluruh dunia. Masih teringat jelas bagaimana ia menjadi dirigen di hampir semua serangan yang Milan bangun. Siapa yang bisa lupa, bagaimana pria kelahiran Gama, Brasil ini, mengobrak-abrik pertahanan Manchester United yang terkenal garang di semifinal Liga Champions musim 2006/2007, musim dimana I Rossonerri merengkuh trofi Si Kuping Lebar.

Tentu, performa Kaka yang gemilang ini menjadikannya komoditi panas sepak bola tahun itu. Sempat diisukan, bahwa Kaka ditawar oleh klub kaya baru, Manchester City, dengan biaya di atas 100 juta paun. Namun, belum lama ini, Kaka menyebutkan bahwa negosiasi dengan City berlangsung terlalu lama dan ia urung pindah ke Inggris.

Akhirnya, di tahun 2009, ia diakuisisi Real Madrid dengan biaya sebesar 67 juta euro, harga yang pada saat itu sempat memecahkan rekor dunia, sebelum akhirnya kembali dipecahkan di bursa transfer yang sama oleh Cristiano Ronaldo.

Karier Kaka bersama raksasa Spanyol sekaligus dunia itulah yang menyebabkan mengapa kariernya disesali oleh banyak orang. Penyebab utamanya tentu adalah cedera. Ia sebenarnya menciptakan impresi yang bagus di musim pertamanya dengan menciptakan sembilan gol dan delapan asis bagi Los Blancos di semua kompetisi, walaupun mungkin masih di bawah ekspektasi yang dibebankan kepadanya.

Musim keduanya diawali dengan bencana. Kaka harus menjalani operasi pada lutut kirinya dan absen selama kurang lebih delapan bulan. Akibat cedera itu juga, Kaka harus rela menjadi pilihan kedua, di belakang Mesut Özil, sebagai playmaker utama Madrid. Namun, menilai bahwa waktu Kaka di ibu kota Spanyol tersebut adalah kegagalan jelas salah. Kaka jarang tampil mengecewakan ketika diberi kesempatan (sedang sehat). Selain itu, ia juga berhasil menyumbangkan satu trofi La Liga, dan mencetak 29 gol serta 32 asis dari 120 pertandingan yang ia lakoni bersama Madrid.

Kaka sempat kembali ke AC Milan di musim 2013/2014, dan berhasil mencetak gol ke-100 nya bersama Si Merah Hitam. Tetapi, romansa cinta lama ini hanya berlangsung selama satu tahun, dan sang pemain memutuskan untuk pindah ke Orlando City sebagai designated player (marquee player).

Namun, karena Orlando City baru terbentuk dan belum bermain di MLS, di tahun 2014 tersebut Kaka dipinjamkan ke klub yang menjadi tempat belajarnya, Sao Paulo. Sekembalinya ke Amerika, Kaka langsung menunjukkan kelasnya yang memang tak pernah pudar. Ia beberapa kali meraih gelar Player of The Month, dan masuk ke dalam MLS All-Star tiga tahun berturut-turut (2015,2016,2017).

Kaka juga menikmati hidup yang enak di Orlando City, mengingat gajinya yang mencapai 7,2 juta dolar per tahun, menjadikan dirinya sebagai pemain termahal di MLS. Selain itu, meskipun Orlando City terhitung tak punya prestasi mengingat mereka baru terbentuk di tahun 2013, klub yang berbasis di Florida ini mereguk keuntungan berkat kehadiran Kaka.

Dilansir dari media lokal, OrlandoSentinel, kehadiran Kaka di klub bak seorang pengasuh yang menuntun anak kecil berusia tiga tahun.

Baru-baru ini, sang pemain yang tenar dengan nomor punggung 22 di Milan ini memutuskan untuk hengkang dari Orlando City di akhir musim ini. Dikutip dari ESPN FC, ia tak akan memperpanjang kontraknya, dan menginginkan tantangan baru dalam hidupnya. Ada kemungkinan bahwa ia akan kembali ke Brasil, namun tidak menutup kemungkinan bahwa ia akan pensiun selepas kontraknya usai.

Apapun yang telah terjadi padanya, mari ingat bahwa karier Kaka terhitung sempurna sebagai pesepak bola. Ia sudah meraih trofi-trofi bergengsi, seperti Liga Champions dan Piala Dunia. Ia pun pernah menjadi pesepak bola terbaik di dunia. Kenanglah Kaka seperti legenda lainnya dalam sepak bola, tak perlu sesali apa yang telah terjadi padanya.

Author: Ganesha Arif Lesmana (@ganesharif)
Penggemar sepak bola dan basket