{"id":9139,"date":"2017-08-15T08:00:29","date_gmt":"2017-08-15T01:00:29","guid":{"rendered":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?p=9139"},"modified":"2017-08-15T07:24:52","modified_gmt":"2017-08-15T00:24:52","slug":"opsi-model-permainan-luis-milla","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/08\/15\/opsi-model-permainan-luis-milla\/","title":{"rendered":"Opsi Model Permainan bagi Luis Milla di SEA Games 2017"},"content":{"rendered":"<p>Minggu 13 Agustus 2017 yang lalu, Football Tribe merilis <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/08\/13\/analisis-kompetitor-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">analisis kompetitor Indonesia di grup B Sea Games 2017<\/a>. Hari ini, sehubungan dengan tulisan tersebut, kami merilis sebuah tulisan terkait yang menitikberatkan pada apa saja opsi-opsi model permainan yang relevan bagi Timnas U-22 asuhan Luis Milla. Opsi-opsi yang sekiranya dapat membantu timnas melewati grup neraka SEA Games 2017.<\/p>\n<p>Sebagian dari yang tertulis dalam artikel ini belum pernah diterapkan Milla selama melatih Timnas U-22, pun tidak atau belum ada tanda bahwa ia akan memainkannya di masa depan. Tetapi, satu hal yang pasti, model-model permainan yang nanti dijelaskan di dalam tulisan ini diyakini dapat menambah stok atau ide taktik bagi Timnas U-22. Karenanya, tetap menarik untuk disampaikan dan kita cermati bersama.<\/p>\n<p>Untuk memahami istilah taktik yang digunakan, sila klik tautan yang kami sertai dengan <em>backlink <\/em>menuju beberapa penjelasan terkait:<\/p>\n<figure style=\"width: 2000px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium\" src=\"http:\/\/pssi.org\/assets\/images\/5988f717d3ce0_ori.jpg\" width=\"2000\" height=\"1306\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\">Kredit: PSSI<\/figcaption><\/figure>\n<h3><strong>Gaya bermain<\/strong><\/h3>\n<p>Berdasarkan permainan timnas selama uji tanding dan Kualifikasi Piala Asia U-23, terlihat jelas gaya sepak bola <em>direct<\/em>. Gaya <em>direct <\/em>yang, dalam <em>build-up <\/em>serangan<em>, <\/em>banyak memainkan bola jarak menengah dan jauh yang menyasar langsung ke lini depan.<\/p>\n<p>Dari area bawah, bola diprogresi jauh ke depan untuk mengakses gelandang sayap yang sejak awal memanfaatkan lebar lapangan dengan mengisi koridor tepi. Walaupun dalam banyak kesempatan, Evan Dimas sering terlihat turun mendekati lini belakang untuk menjemput bola dan memainkan progresi yang lebih gradual, tetapi bola-bola jarak menengah dan panjang tetap menjadi mayoritas dalam progresi.<\/p>\n<p>Sesuatu yang wajar, bila mengingat Milla bukanlah seorang pelatih yang berkiblat ke <em>juego de posicion<\/em> ala Spanyol. Luis Milla merupakan seorang pelatih yang \u201cberbasiskan pertahanan\u201d. Bisa dikatakan, ia merupakan seorang Spanyol yang <em>Italiano<\/em>. <em>Catenaccio<\/em> dan\u00a0 Fabio Capello merupakan kiblatnya.<\/p>\n<p>Gaya serangan Milla ini yang pada gilirannya memengaruhi pemilihan pemain inti. Pemain-pemain yang dipilih sebagai gelandang sayap dan bagaimana mereka bermain, mencerminkan karakter sepak bola <em>direct<\/em>. Febri Haryadi di sisi kanan dan <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/07\/25\/saddil-ramdani-pemuda-penuh-harapan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Saddil Ramdani<\/a> di kiri, selalu bermain vertikal dan lebih banyak mengambil ruang di koridor sayap.<\/p>\n<p>Sayap-sayap Indonesia, Febri, contohnya, memiliki insting alami untuk segera mengubah mentalitas bertahan ke mentalitas menyerang tepat ketika tim merebut penguasaan bola dan masuk ke dalam fase transisional. Ketika timnas berada dalam blok rendah dan berhasil merebut bola, saat itu juga Febri sering kali terlihat begitu cepat bergerak naik dan bertindak sebagai sasaran umpan jauh bagi rekannya yang menguasai bola. Bisa dikatakan, di sini kekuatan sayap-sayap serang Indonesia berada.<\/p>\n<p>Di pos gelandang tengah, setelah kontroversi pemilihan skuat ketika dihajar Malaysia 0-3, kemungkinan Milla akan memainkan trio Hargianto, Evan Dimas, dan Septian David Maulana sebagai trio utama dalam pola dasar 4-2-3-1 atau 4-1-4-1.<\/p>\n<p>Bila Milla terus memercayai Evan, posisi terbaik Evan tidak lain tidak adalah pemain <a href=\"https:\/\/www.kickoffindonesia.com\/single-post\/2015\/05\/01\/Berkenalan-dengan-Nomor-Posisi.\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>nomor 8<\/strong>.<\/a> Kebiasaan Evan bergerak ke bawah untuk menjemput bola ketika timnas melakukan <em>build-up<\/em>, membuatnya lebih pas diletakkan di pos nomor 8 ketimbang pos nomor 10. Karena, dari pos 8 tersebut, Evan memiliki akses terdekat ke pos nomor 6, baik di depan duo bek tengah maupun <em>halfspace <\/em>di antara bek sayap dan bek tengah.<\/p>\n<p>Meletakkan Evan Dimas di pos nomor 10 akan membuatnya \u201ckehilangan akses langsung untuk menjemput bola\u201d di area bawah. Dan, kalaupun ia dimainkan di pos 10 serta diberikan kebebasan untuk banyak bergerak ke pos 6 dalam proses <em>build-up<\/em>, hal ini berisiko memberi efek buruk terhadap manajemen ruang secara keseluruhan di sepanjang pos nomor 6, 8, dan 10. Selain itu, menempatkan Evan di pos nomor 8 kemungkinan berdampak positif di situasi lain yang akan dijelaskan di bagian lain tulisan ini.<\/p>\n<p>Bila mengacu kepada bagaimana timnas melakukan serangan selama Kualifikasi Piala Asia U-23, komposisi dan bentuk permainan dalam gambar berikut akan menjadi salah satu opsi yang diambil Milla di SEA Games nanti.<\/p>\n<figure id=\"attachment_9140\" aria-describedby=\"caption-attachment-9140\" style=\"width: 919px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-9140 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/1-8.png\" alt=\"\" width=\"919\" height=\"564\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/1-8.png 919w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/1-8-768x471.png 768w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/1-8-800x491.png 800w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/1-8-350x215.png 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/1-8-619x380.png 619w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/1-8-560x344.png 560w\" sizes=\"(max-width: 919px) 100vw, 919px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-9140\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 1: Bentuk dasar Timnas U-22 Luis Milla<\/figcaption><\/figure>\n<p>Khusus di kanan, ketika Milla memainkan Saddil yang berkaki kiri, gelandang sayap kanan akan lebih banyak melakukan pergerakan masuk ke dalam ketimbang ketika Febri yang bermain. Dan, apabila Milla mampu memfasilitasi agar Febri bermain di kiri dan Saddil di kanan, Timnas U-22 akan memiliki lebih banyak dimensi serangan di sepertiga akhir daripada apa yang selama ini mereka perlihatkan.<\/p>\n<p>Penjelasannya begini:<\/p>\n<p>Dalam banyak kesempatan, timnas memainkan sayap serang klasik yang mencoba mematahkan pertahanan lawan dengan cara menyisir sisi terluar lapangan. Yang disayangkan adalah, seringnya sayap-sayap serang tidak menemukan komunikasi taktik yang pas (dan konsisten) yang mampu menjembatani keduanya dengan kedua bek sayap dalam memaksimalkan pengisian ruang, baik di sayap maupun <em>halfspace<\/em>.<\/p>\n<p>Yang sering terlihat, sayap serang dan bek sayap Indonesia sama-sama mengisi koridor sayap tanpa satu dari keduanya yang bergerak ke tengah dan ke <em>halfspace, <\/em>untuk kemudian fase penciptaan peluang dilakukan dengan melepaskan umpan silang melambung ke mulut gawang lawan.Tetapi, ketika menghadapi Mongolia, Saddil beberapa kali terlihat masuk ke <em>halfspace. <\/em>Tampaknya, ini terjadi dikarenakan Saddil yang berkaki kiri.<\/p>\n<p>Berbeda dengan Thailand dan Vietnam, misalnya, yang lebih konsisten memainkan bek sayap, gelandang sayap, dan bahkan, gelandang tengah saat melakukan <em>overload <\/em>di sayap dan <em>halfspace <\/em>sisi bola untuk terus berusaha membuka ruang. Timnas U-22 pun kerap melakukan hal serupa, tetapi tim asuhan Milla ini kalah konsisten dengan Thailand dan Vietnam dalam memainkannya.<\/p>\n<figure id=\"attachment_9141\" aria-describedby=\"caption-attachment-9141\" style=\"width: 704px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-9141 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/2-4.png\" alt=\"\" width=\"704\" height=\"303\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/2-4.png 704w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/2-4-350x151.png 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/2-4-680x293.png 680w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/2-4-560x241.png 560w\" sizes=\"(max-width: 704px) 100vw, 704px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-9141\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 2: Okupansi ruang di sisi sayap dan halfspace oleh bek sayap dan gelandang sayap.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Bila ternyata Milla memainkan sayap-sayapnya dengan cukup dinamis seperti infografik di atas, secara garis besar, model kedinamisan struktur dalam serangan timnas bisa dibayangkan seperti gambar berikut.<\/p>\n<figure id=\"attachment_9142\" aria-describedby=\"caption-attachment-9142\" style=\"width: 929px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-9142 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/3-5.png\" alt=\"\" width=\"929\" height=\"566\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/3-5.png 929w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/3-5-768x468.png 768w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/3-5-800x487.png 800w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/3-5-350x213.png 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/3-5-624x380.png 624w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/3-5-560x341.png 560w\" sizes=\"(max-width: 929px) 100vw, 929px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-9142\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 3: Kedinamisan struktur serangan.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Keuntungan yang didapatkan adalah kedinamisan di sisi sayap menyebabkan penambahan variasi permainan yang membuat arah serangan menjadi lebih sulit ditebak. Timnas, yang berorientasi ke sayap dalam progresinya, selain tetap dapat melepaskan umpan silang dari sayap, juga dapat meningkatkan kemungkinan melakukan umpan silang dari <em>halfspace<\/em>.<\/p>\n<p>Umpan silang dari <em>halfspace <\/em>memiliki keuntungan strategis, yaitu jarak pengumpan yang lebih dekat ke gawang lawan ketimbang jarak ketika umpan silang dilakukan dari area sayap.<\/p>\n<figure id=\"attachment_9143\" aria-describedby=\"caption-attachment-9143\" style=\"width: 925px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-9143 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/4-2.png\" alt=\"\" width=\"925\" height=\"568\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/4-2.png 925w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/4-2-768x472.png 768w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/4-2-800x491.png 800w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/4-2-350x215.png 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/4-2-619x380.png 619w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/4-2-560x344.png 560w\" sizes=\"(max-width: 925px) 100vw, 925px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-9143\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 4: Umpan silang dari sayap dan halfspace. Panah titik-titik merupakan umpan silang.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Yang kedua, dengan kedinamisan struktur seperti yang ditunjukan sebelumnya, timnas juga membuka peluang melakukan umpan silang mendatar <em>cut-back <\/em>dari sayap kepada pemain nomor 10 yang merangsek ke kotak penalti atau siapa pun yang berperan sebagai penyerang nomor 9.<\/p>\n<p>Selain itu, dengan Rezaldi Hehanussa, Evan, Hargianto, dan Gavin Kwan Adsit yang merapat ke tengah dan <em>halfspace<\/em>, <em>gegenpressing <\/em>ala timnas akan lebih stabil, terutama dalam hal merebut bola kedua, ketiga, dan seterusnya yang sering kali jatuh ke koridor tengah dan <em>halfspace<\/em>.<\/p>\n<p>Selama ini, setelah umpan silang dilepaskan dan lawan berhasil menghalau bola, yang kemudian memicu bola kedua dan seterusnya, keberhasilan timnas merebut bola liar terhitung rendah. Ini disebabkan oleh jarak vertikal yang besar antara lini serang dan lini gelandang serta ruang horizontal yang tidak dilindungi dengan maksimal.<\/p>\n<p>Walaupun hal ini tidak dapat sepenuhnya dianggap salah, karena tampaknya Milla memang tidak mengganggapnya sebagai poin penting dalam strateginya, tetapi tentu saja, bila konsep <em>gegenpressing <\/em>seperti yang dijelaskan di atas bisa diadaptasi, Garuda Muda akan memiliki lebih banyak variasi taktik.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<figure style=\"width: 2000px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium\" src=\"http:\/\/pssi.org\/assets\/images\/5988f71659782_ori.jpg\" width=\"2000\" height=\"1488\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\">Kredit: PSSI<\/figcaption><\/figure>\n<h3><strong>Tempo bermain dan struktur permainan<\/strong><\/h3>\n<p>Karena Timnas U-22 memainkan sepak bola <em>direct<\/em>, sudah merupakan sesuatu yang jamak bila kita melihat banyak sekali serangan yang dilakukan untuk segera mencapai lini terakhir (lini penyerang) dalam tempo yang cepat.<\/p>\n<p>Memainkan tempo cepat, apalagi dalam transisi menyerang, sudah barang tentu berpotensi menurunkan stabilitas pertahanan lawan. Tetapi, di sisi lain, memainkan tempo cepat menimbulkan konsekuensi kepada kestabilan penguasaan bola (<em>ball possession<\/em>) tim yang tengah menyerang. Luis Milla tidak mempermasalahkan konsekuensi yang dimaksud, karena sepak bola Milla bukan sepak bola dengan basis penguasaan bola stabil dan terstruktur.<\/p>\n<p>Yang menjadi masalah adalah, dalam banyak situasi, pemain-pemain timnas terlalu cepat melakukan progresi bola dari area bawah ke atas. Dampaknya, seperti yang disebutkan di bagian sebelumnya, struktur posisional gagal menutup dengan maksimal ruang vertikal dan horizontal. Akibat berikutnya, timnas sering kalah dalam perebutan bola kedua ketika progresi bola dihalau bek-bek lawan.<\/p>\n<p>Isu ini, pada kenyataannya, juga teridentifikasi di tim-tim lain seperti Vietnam, Thailand, Kamboja, atau Malaysia. Dan, sejauh ini, tidak tampak satu pun tim yang menunjukan progres berarti dalam menangani isu serupa.<\/p>\n<p>Timnas memiliki dua opsi untuk lebih mampu mengontrol tempo dalam kaitannya saat membangun struktur posisional yang lebih taktis. Yang pertama adalah koordinasi antarpemain ketika timnas melakukan tendangan gawang yang dilakukan jauh ke depan. Jepang menjadi contoh yang tepat ketika menang 5-1 atas Kamboja di Kualifikasi AFC U-23 lalu.<\/p>\n<figure id=\"attachment_9144\" aria-describedby=\"caption-attachment-9144\" style=\"width: 913px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-9144 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/5-3.png\" alt=\"\" width=\"913\" height=\"570\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/5-3.png 913w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/5-3-768x479.png 768w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/5-3-800x499.png 800w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/5-3-350x219.png 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/5-3-609x380.png 609w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/5-3-560x350.png 560w\" sizes=\"(max-width: 913px) 100vw, 913px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-9144\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 5: Struktur dengan compactness bagus ketika Jepang mendapatkan tendangan gawang.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Pemain-pemain Jepang merapat menciptakan <a href=\"http:\/\/fandom.id\/analisis\/taktik\/2015\/05\/soal-kompaksi-dan-beberapa-contoh-dari-pertandingan-akhir-pekan-lalu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong><em>compactness<\/em><\/strong><\/a> spasial yang sangat kuat di lokasi di mana bola mendarat. Dengan strategi semacam ini, Jepang banyak memenangkan bola liar yang lahir dari duel udara.<\/p>\n<p>Milla, di sisi lain, tampaknya tidak akan memainkan strategi serupa. Milla, seperti juga Leonardo Jardim, lebih mengutamakan struktur yang terjaga dan tidak menitikberatkan penciptaan akses menyerang melalui perebutan bola-bola liar hasil duel udara.<\/p>\n<p>Kalaupun ingin coba diterapkan tetapi \u2018metode Jepang\u2019 dirasa terlalu ekstrem dan Timnas U-22 bisa mencoba mengadaptasi mekanisme lain. Salah satunya, seperti yang ditunjukan Bayer Leverkusen.<\/p>\n<figure id=\"attachment_9145\" aria-describedby=\"caption-attachment-9145\" style=\"width: 922px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-9145 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/6-1.png\" alt=\"\" width=\"922\" height=\"567\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/6-1.png 922w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/6-1-768x472.png 768w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/6-1-800x492.png 800w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/6-1-350x215.png 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/6-1-618x380.png 618w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/6-1-560x344.png 560w\" sizes=\"(max-width: 922px) 100vw, 922px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-9145\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 6: Leverkusen dalam tendangan gawang. Nama pemain-pemain timnas merupakan gambaran adaptasi yang dapat diterapkan.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Setelah bola mendarat ke lokasi yang direncanakan, Leverkusen segera memblokir akses ke pemain lawan yang agak jauh dari bola (lihat segitiga hitam). Sementara di area bola berada, terjadi pertarungan langsung di mana Leverkusen menciptakan situasi menang jumlah pemain.<\/p>\n<p>Namun, mekanisme merebut bola melalui \u2018metode Leverkusen\u2019 ini pun nampaknya tidak masuk dalam rencana taktik Luis Milla. Karena, selain <a href=\"https:\/\/fandom.id\/analisis\/taktik\/2017\/07\/gegenpressing-dalam-teori-dan-latihan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong><em>gegenpressing<\/em><\/strong><\/a> memang tidak masuk dalam model permainan Milla, di Indonesia penerapan <em>gegenpressing <\/em>belum pernah dilakukan. Memainkannya membutuhkan menu latihan yang kuat untuk bisa menanamkannya ke dalam setiap individu.<\/p>\n<p>Selain koordinasi dalam tendangan gawang, bagaimana Evan Dimas, yang notabene sebagai pemain yang sering memicu progresi bola dari area bawah, melakukan progresi dalam kaitannya terhadap struktur di area depan, menjadi poin yang patut dipertimbangkan. Prinsipnya sama seperti apa yang dijelaskan di atas.<\/p>\n<p>Dari sudut pandang lain, umpan jarak jauh ke depan, baik melambung maupun mendatar, yang dilakukan tanpa pertimbangan tempo yang pas, juga sering sekali membuat pemain penerima bola terisolasi dan masuk dalam kepungan lawan. Situasi ini meningkatkan risiko kehilangan bola.<\/p>\n<p>Kalaupun si penerima bola sukses mempertahankan bola, akses masuk ke kedalaman pertahanan lawan tidak segera dapat dimanfaatkan, karena jarak vertikal yang besar tadi. Mengakibatkan progresi terhambat, aksi selanjutnya berlanjut dengan umpan ke area belakang dan lawan mendapatkan kesempatan menata diri kembali. Contohnya bisa dilihat dari gambar di bawah:<\/p>\n<figure id=\"attachment_9146\" aria-describedby=\"caption-attachment-9146\" style=\"width: 942px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-9146 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/7-1.png\" alt=\"\" width=\"942\" height=\"567\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/7-1.png 942w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/7-1-768x462.png 768w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/7-1-800x482.png 800w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/7-1-350x211.png 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/7-1-631x380.png 631w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/7-1-560x337.png 560w\" sizes=\"(max-width: 942px) 100vw, 942px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-9146\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 7: Umpan lambung Hansamu Yama kepada Yabes Roni di laga kontra Mongolia (Kualifikasi AFC U-23)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Setelah Yabes menerima bola, ia tidak mendapatkan dukungan (<em>support<\/em>) struktur memadai dari Gavin dan Andy Setyo. Permasalahannya ada pada waktu umpan dilepaskan tidak sinkron dengan pergerakan vertikal Andy dan Gavin dalam kaitannya untuk memberikan dukungan struktural memadai kepada Yabes. Pada gilirannya, Yabes sukses memainkan umpan pendek kepada Andy, tetapi sayangnya, aksi ini terlambat karena Mongolia berhasil membentuk blok <em>pressing <\/em>yang ideal.<\/p>\n<p>Dukungan kepada target umpan dan pemilihan waktu dilakukannya progresi merupakan isu taktik timnas serta semua negara-negara ASEAN. Bila Milla berhasil mereduksi permasalahan ini, model permainan yang diterapkannya akan semakin mendekati titik ideal.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><strong>Memanfaatkan celah antarlini<\/strong><\/h3>\n<p>Salah satu kelemahan lawan yang bisa dimanfaatkan Timnas Indonesia adalah memanfaatkan ruang di <a href=\"http:\/\/fandom.id\/analisis\/2017\/03\/latihan-6v6-untuk-mengeksploitasi-celah-antarlini-lawan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>celah antarlini<\/strong><\/a> lawan. Celah antarlini merupakan area yang terletak di antara lini bek dan lini gelandang atau biasa disebut sebagai pos nomor 6 atau pos gelandang bertahan.<\/p>\n<p>Timor Leste, Kamboja, dan Filipina sering kali terekspos di area ini, lebih sering ketimbang Vietnam, Thailand, dan Indonesia. Siapa yang mampu memanfaatkan celah ini, memiliki peluang untuk memenangkan pertandingan.<\/p>\n<p>Namun, ada dua penghalang untuk (dapat secara maksimal) memanfaatkan kelemahan ini. Yang pertama adalah model serangan yang diusung Luis Milla sendiri. Yang kedua, isu pengambilan keputusan terkait tempo dan dukungan struktural, seperti yang dijelaskan di bagian sebelumnya di atas.<\/p>\n<p>Kita mulai dari isu pertama, yaitu model serangan Indonesia. Orientasi serangan Indonesia dan negara-negara lain ASEAN pada umumnya adalah berorientasi ke sayap, menciptakan kedinamisan di sayap, dan masuk melalui sisi sayap atau <em>halfspace <\/em>sisi bola. Sederhananya, area sayap merupakan area yang diidentifikasi sebagai area strategis.<\/p>\n<p>Karena seringnya bermain <em>direct<\/em>, pada gilirannya, struktur timnas di dalam blok pertahanan lawan belum terbentuk dengan ideal dalam kaitannya dengan usaha membongkar sisi tengah lawan. Akses ke tengah (pos nomor 6 lawan) pun menjadi lamban dan memberikan kesempatan lawan untuk membentuk blok rendah yang rapat.<\/p>\n<p>Namun, bukan berarti tidak memungkinkan memainkannya. Keberadaan Evan Dimas, formasi 4-2-3-1, dan keberadaan satu di antara Ezra Walian atau Marinus Wanewar membuat eksploitasi celah nomor 6 lawan mungkin dilakukan.<\/p>\n<figure id=\"attachment_9147\" aria-describedby=\"caption-attachment-9147\" style=\"width: 909px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-9147 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/8-1.png\" alt=\"\" width=\"909\" height=\"565\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/8-1.png 909w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/8-1-768x477.png 768w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/8-1-800x497.png 800w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/8-1-350x218.png 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/8-1-611x380.png 611w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/8-1-560x348.png 560w\" sizes=\"(max-width: 909px) 100vw, 909px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-9147\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 8: Man to man marking Filipina<\/figcaption><\/figure>\n<p>Filipina merupakan salah satu tim yang memainakan <em>man to man marking <\/em>dan sering mengekspos ruang di depan bek lawan. Indonesia dapat mencoba menciptakan ruang dengan cara melakukan <em>overload <\/em>berganda (oleh pemain nomor 7dan nomor 2) di sayap untuk membuka akses umpan dari sayap atau <em>halfspace <\/em>(pemain nomor 8) kepada penyerang atau gelandang serang yang mengisi pos penyerang tengah (pemain nomor 9).<\/p>\n<p>Begitu juga dengan Kamboja dan Timor Leste yang kerap terlihat mengekspos pos nomor 6 mereka dikarenakan agresifnya <em>pressing <\/em>yang dilakukan oleh gelandang tengah. Semoga saja, keberadaan gelandang serang dalam 4-2-3-1 dan kemampuan olah bola Evan Dimas dapat dimanfaatkan secara maksimal dalam pertandingan.<\/p>\n<p>Ini menjadi alasan lain kenapa Evan lebih cocok ditempatkan sebagai nomor 8. Karena dari pos tersebut, ia bisa melakukan koneksi serangan baik secara vertikal, horizontal, maupun diagonal antara area bawah dengan area atas.<\/p>\n<p>Kekuatan tubuh Marinus untuk menahan bola juga dapat digunakan untuk menjadikannya target umpan di area antarlini lawan sembari menunggu kedua gelandang sayap atau gelandang serang merangsek masuk ke kotak penalti lawan.<\/p>\n<p>Opsi-opsi di atas akan semakin cair dimainkan apabila Evan Dimas dan kawan-kawan mampu mengidentifikasi waktu yang tepat untuk memainkan dan menerima umpan. Ditambah lagi, antisipasi dari pemain lain untuk bertindak sebagai pendukung (<em>support<\/em>) struktural bagi penerima bola seperti yang dijelaskan dalam infografis.<\/p>\n<p>Vietnam sendiri memiliki kelemahan di area yang sama. Anda dapat membacanya di <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/08\/13\/analisis-kompetitor-indonesia\/4\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>sini<\/strong><\/a> dan melihat bagaimana Korea Selatan menunjukan cara memanfaatkannya.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<figure style=\"width: 2000px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium\" src=\"http:\/\/pssi.org\/assets\/images\/598ddc90529c6_ori.jpg\" width=\"2000\" height=\"1358\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\">Kredit: PSSI<\/figcaption><\/figure>\n<h3><strong>Pertahanan: organisasi <em>pressing<\/em>, harmonisasi, dan intensitas<\/strong><\/h3>\n<p>Selama ini, menghadapi tim mana pun, Luis Milla memainkan <em>pressing <\/em>blok menengah. Bentuk dasar <em>pressing <\/em>adalah 4-4-1-1 atau 4-2-3-1 yang berorientasi pada formasi sendiri. Di fase awal, Indonesia hanya akan menerapkan <em>pressing <\/em>berorientasi pemain lawan kepada nomor 6 (gelandang bertahan lawan). Tugas ini dimainkan oleh nomor 9 Indonesia (Marinus Manewar).<\/p>\n<p>Bila nomor 9 bergerak naik melakukan <em>press <\/em>kepada bek tengah, pemain nomor 10 yang akan menggantikan tempatnya menjaga nomor 6 lawan.<\/p>\n<figure id=\"attachment_9148\" aria-describedby=\"caption-attachment-9148\" style=\"width: 924px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-9148 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/9-1.png\" alt=\"\" width=\"924\" height=\"570\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/9-1.png 924w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/9-1-768x474.png 768w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/9-1-800x494.png 800w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/9-1-350x216.png 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/9-1-616x380.png 616w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/9-1-560x345.png 560w\" sizes=\"(max-width: 924px) 100vw, 924px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-9148\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 9: Pressing blok menengah timnas<\/figcaption><\/figure>\n<p>Di tengah, duo gelandang tengah menyesuaikan diri dalam formasi dasar serta pergerakan gelandang tengah lawan. Bila pemain lawan bergerak turun untuk membantu progresi, Evan Dimas atau Hargianto, siapa yang lebih dekat, harus segera mengikutinya dan melakukan <em>press <\/em>dari arah punggung lawan.<\/p>\n<p>Yang sering menjadi masalah adalah ketika nomor 4 lawan mengakses nomor 10. Dalam situasi seperti ini, Hargianto (dalam gambar di atas) bisa saja melakukan <em>backward-press <\/em>(<em>press <\/em>ke arah belakang), tetapi, idealnya, karena nomor 10 membelakangi gawang Indonesia, bek tengah yang lebih tepat untuk melakukan <em>onward-press <\/em>(<em>press <\/em>ke arah depan) kepada nomor 10 lawan. Sering sekali, Indonesia tidak melakukan keduanya yang membuat celah antarlini terekspos dengan sangat mudah.<\/p>\n<p>Untungnya, orientasi sayap dalam model serangan lawan-lawan Indonesia membuat pemain lawan seperti tidak sadar akan ruang tersebut. Walaupun demikian, mari kita berharap Luis Milla mampu mengatasi isu ini.<\/p>\n<p>Isu lain adalah intensitas <em>pressing <\/em>yang tidak konsisten. Paling sering terlihat dilakukan oleh pemain-pemain belakang dan gelandang bertahan. Dalam banyak situasi, ketika pemain lawan bergerak turun yang mana pemain terdekat timnas wajib mengikutinya, <em>pressing <\/em>yang dilakukan telat.<\/p>\n<p>Menghadapi Vietnam dan Thailand, merupakan hal yang dapat dipahami apabila Indonesia lebih memilih melakukan <em>pressing <\/em>blok menengah. Tetapi, ketika menghadapi Kamboja, ada baiknya Indonesia mempertimbangkan melakukan <em>press <\/em>dengan <a href=\"http:\/\/www.dribble9.com\/belajar-taktik-high-pressing-4-3-3-dengan-kontrol-ruang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">4-4-2 <strong>blok tinggi<\/strong><\/a> ketimbang 4-4-1-1. Luis Milla bisa saja meminta anak asuhnya memulai <em>pressing <\/em>dari bentuk dasar 4-4-1-1, tetapi kali ini disertai dengan pengembangan akses menjadi 4-4-2. Kenapa hal ini perlu dilakukan?<\/p>\n<p>Ketika lawan memainkan <em>pressing <\/em>dua pemain depan, Kamboja akan segera bertranposisi dari pola dua bek menjadi tiga bek. Jeleknya, walaupun Kamboja mendapatkan situasi <a href=\"http:\/\/fandom.id\/analisis\/taktik\/2015\/05\/apa-itu-overload\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>menang jumlah<\/strong><\/a> (3 lawan 2), mereka terlalu sering terburu-buru melepaskan umpan jauh ke depan. Biasanya, dalam situasi ini, ada jarak yang besar antara lini tengah dan trio serang Kamboja. Menyebabkan lawan lebih mudah memenangkan bola-bola kedua.<\/p>\n<figure id=\"attachment_9149\" aria-describedby=\"caption-attachment-9149\" style=\"width: 918px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-9149 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/10-1.png\" alt=\"\" width=\"918\" height=\"572\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/10-1.png 918w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/10-1-768x479.png 768w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/10-1-800x498.png 800w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/10-1-350x218.png 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/10-1-610x380.png 610w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/10-1-560x349.png 560w\" sizes=\"(max-width: 918px) 100vw, 918px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-9149\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 10: Press 4-4-2 timnas (bayangan ketika melawan Kamboja)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Perhatikan nomor 6 Kamboja yang turun ke bawah membentuk pola tiga bek. Garis putus-putus biru merupakan umpan melambung jauh ke depan. Garis hijauh putus-putus merupakan keberhasilan bek Indonesia memenangkan duel udara. Bola jatuh di area nomor 6 di mana Indonesia menang jumlah. Peluang Indonesia memenangkan bola kedua lebih besar ketika Kamboja memainkan 3-4-3 daripada ketika Kamboja dibiarkan membentuk pola 2-1-4-3 atau 2-5-3.<\/p>\n<p>Menghadapi Vietnam, situasi yang dihadapi berbeda. Vietnam memiliki Nguy\u1ec5n C\u00f4ng Ph\u01b0\u1ee3ng, seorang pemain berkelas. Pemain ini sangat berbahaya apabila mendapatkan ruang gerak dari kiri ke tengah untuk kemudian melakukan tembakan ke gawang.<\/p>\n<p>Bila Luis Milla berniat menghentikan taktik ini, salah satu jalan yang bisa dicoba adalah memainkan <em>pressing <\/em>asimetris yang ditujukan untuk mengarahkan Vietnam melakukan progresi ke sisi kanan. Bek kanan timnas, Gavin Kwan, juga harus terus mempersempit ruang gerak gelandang kiri Vietnam dengan tujuan agar Vietnam mengarahkan progresinya ke kanan.<\/p>\n<p>Apakah cara ini akan efektif? Belum tentu, karena C\u00f4ng Ph\u01b0\u1ee3ng merupakan pemain yang sangat bagus. Bukan hanya cepat, tetapi juga sangat mampu bermain di ruang sesak, baik di kanan, kiri, atau tengah. Tetapi paling tidak, dengan menghambat Vietnam bergerak ke kiri, sudah sedikit mengurangi ancaman C\u00f4ng Ph\u01b0\u1ee3ng dari area tersebut.<\/p>\n<p>Kalau pun Milla ingin memainkan pertahanan yang lebih simetris, ia harus memastikan <a href=\"http:\/\/fandom.id\/analisis\/taktik\/2015\/05\/apa-itu-overload\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong><em>overload-overload<\/em><\/strong><\/a> Garuda Muda di kedua sisi lapangan selalu konsisten dan kuat. Kenapa? Karena, dibandingkan Indonesia dan Thailand, kedinamisan Vietnam di sisi sayap merupakan yang paling variatif dan agresif. Di sini kemudian kekuatan kolektif serangan Vietnam berada. Menghambatnya bisa menjadi pemicu frustrasi bagi pemain-pemain Vietnam.<\/p>\n<p>Jadi bagaimana Luis Milla, siap mencoba model permainan yang kami tawarkan?<\/p>\n<p><strong>Author: <em>Ryan Tank (<a class=\"ProfileHeaderCard-screennameLink u-linkComplex js-nav\" href=\"https:\/\/twitter.com\/ryantank100\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span class=\"username u-dir\" dir=\"ltr\">@<b class=\"u-linkComplex-target\">ryantank100<\/b><\/span><\/a>)<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Minggu 13 Agustus 2017 yang lalu, Football Tribe merilis analisis kompetitor Indonesia di grup B Sea Games 2017. Hari ini, sehubungan dengan tulisan tersebut, kami merilis sebuah tulisan terkait yang menitikberatkan pada apa saja opsi-opsi model permainan yang relevan bagi Timnas U-22 asuhan Luis Milla. Opsi-opsi yang sekiranya dapat membantu timnas melewati grup neraka SEA Games 2017. Sebagian dari yang tertulis dalam artikel ini belum pernah diterapkan Milla selama melatih Timnas U-22, pun tidak atau belum ada tanda bahwa ia akan memainkannya di masa depan. Tetapi, satu hal yang pasti, model-model permainan yang nanti dijelaskan di dalam tulisan ini diyakini dapat menambah stok atau ide taktik bagi Timnas U-22. Karenanya, &hellip; <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/08\/15\/opsi-model-permainan-luis-milla\/\" class=\"tribe-more-link\">Continue reading &#8220;Opsi Model Permainan bagi Luis Milla di SEA Games 2017&#8221;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":9150,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[88,86],"tags":[1008,129,105,423,424,122],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v22.8 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Opsi Model Permainan bagi Luis Milla di SEA Games 2017 | Football Tribe Indonesia<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Kami merilis sebuah tulisan terkait yang menitikberatkan pada apa saja opsi-opsi model permainan yang relevan bagi Timnas U-22 asuhan Luis Milla.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/08\/15\/opsi-model-permainan-luis-milla\/\" \/>\n<link rel=\"next\" href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/08\/15\/opsi-model-permainan-luis-milla\/2\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Opsi Model Permainan bagi Luis Milla di SEA Games 2017 | Football Tribe Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Kami merilis sebuah tulisan terkait yang menitikberatkan pada apa saja opsi-opsi model permainan yang relevan bagi Timnas U-22 asuhan Luis Milla.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/08\/15\/opsi-model-permainan-luis-milla\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Football Tribe Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"http:\/\/facebook.com\/footballtribeindonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-08-15T01:00:29+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2017-08-15T00:24:52+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/5988f7177e984_ori.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2000\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1250\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"tribeindonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@footballtribeid\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@footballtribeid\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"tribeindonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"15 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/08\/15\/opsi-model-permainan-luis-milla\/\",\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/08\/15\/opsi-model-permainan-luis-milla\/\",\"name\":\"Opsi Model Permainan bagi Luis Milla di SEA Games 2017 | Football Tribe Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/08\/15\/opsi-model-permainan-luis-milla\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/08\/15\/opsi-model-permainan-luis-milla\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/5988f7177e984_ori.jpg\",\"datePublished\":\"2017-08-15T01:00:29+00:00\",\"dateModified\":\"2017-08-15T00:24:52+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\"},\"description\":\"Kami merilis sebuah tulisan terkait yang menitikberatkan pada apa saja opsi-opsi model permainan yang relevan bagi Timnas U-22 asuhan Luis Milla.\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/08\/15\/opsi-model-permainan-luis-milla\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/08\/15\/opsi-model-permainan-luis-milla\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/5988f7177e984_ori.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/5988f7177e984_ori.jpg\",\"width\":2000,\"height\":1250,\"caption\":\"Kredit: PSSI\"},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/\",\"name\":\"Football Tribe Indonesia\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\",\"name\":\"tribeindonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"tribeindonesia\"},\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/author\/tribeindonesia\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Opsi Model Permainan bagi Luis Milla di SEA Games 2017 | Football Tribe Indonesia","description":"Kami merilis sebuah tulisan terkait yang menitikberatkan pada apa saja opsi-opsi model permainan yang relevan bagi Timnas U-22 asuhan Luis Milla.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/08\/15\/opsi-model-permainan-luis-milla\/","next":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/08\/15\/opsi-model-permainan-luis-milla\/2\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Opsi Model Permainan bagi Luis Milla di SEA Games 2017 | Football Tribe Indonesia","og_description":"Kami merilis sebuah tulisan terkait yang menitikberatkan pada apa saja opsi-opsi model permainan yang relevan bagi Timnas U-22 asuhan Luis Milla.","og_url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/08\/15\/opsi-model-permainan-luis-milla\/","og_site_name":"Football Tribe Indonesia","article_publisher":"http:\/\/facebook.com\/footballtribeindonesia","article_published_time":"2017-08-15T01:00:29+00:00","article_modified_time":"2017-08-15T00:24:52+00:00","og_image":[{"width":2000,"height":1250,"url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/5988f7177e984_ori.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"tribeindonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@footballtribeid","twitter_site":"@footballtribeid","twitter_misc":{"Written by":"tribeindonesia","Est. reading time":"15 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/08\/15\/opsi-model-permainan-luis-milla\/","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/08\/15\/opsi-model-permainan-luis-milla\/","name":"Opsi Model Permainan bagi Luis Milla di SEA Games 2017 | Football Tribe Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/08\/15\/opsi-model-permainan-luis-milla\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/08\/15\/opsi-model-permainan-luis-milla\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/5988f7177e984_ori.jpg","datePublished":"2017-08-15T01:00:29+00:00","dateModified":"2017-08-15T00:24:52+00:00","author":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3"},"description":"Kami merilis sebuah tulisan terkait yang menitikberatkan pada apa saja opsi-opsi model permainan yang relevan bagi Timnas U-22 asuhan Luis Milla.","inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/08\/15\/opsi-model-permainan-luis-milla\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/08\/15\/opsi-model-permainan-luis-milla\/#primaryimage","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/5988f7177e984_ori.jpg","contentUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/08\/5988f7177e984_ori.jpg","width":2000,"height":1250,"caption":"Kredit: PSSI"},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/","name":"Football Tribe Indonesia","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3","name":"tribeindonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g","caption":"tribeindonesia"},"url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/author\/tribeindonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9139"}],"collection":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9139"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9139\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9150"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9139"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9139"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9139"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}