{"id":6987,"date":"2017-07-02T11:00:56","date_gmt":"2017-07-02T04:00:56","guid":{"rendered":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?p=6987"},"modified":"2017-07-02T11:49:38","modified_gmt":"2017-07-02T04:49:38","slug":"thierry-henry-lahirnya-sang-raja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/07\/02\/thierry-henry-lahirnya-sang-raja\/","title":{"rendered":"Thierry Henry: Lahirnya Sang Raja"},"content":{"rendered":"<p>Terkadang, mereka yang ditakdirkan menjadi sang raja harus melewati masa-masa percobaan. Mereka harus menderita, kehilangan kepercayaan, dan direndahkan. Thierry Henry, melewati segala ujian, dan memenuhi takdirnya untuk menjadi \u201csang raja.\u201d<\/p>\n<p>**<\/p>\n<p>Ia datang ke Arsenal dengan status juara dunia. Namun, status itu tak membantunya, ia tengah terpuruk. Henry datang ke Highbury di usia 22 tahun, dan awal yang lamban membuat kapasitasnya dipertanyakan.<\/p>\n<p>Suatu pagi sebelum berangkat ke London Colney, ia sudah mengambil keputusan bahwa sebuah perubahan harus dilakukan. Ia tak mau bermain lagi sebagai striker, dan meminta <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/tag\/arsene-wenger\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Arsene Wenger<\/a> memainkannya sebagai pemain sayap. Ia merasa tak akan ada yang protes dengan keputusannya. Bukan juga para suporter yang terlanjut kecewa kepadanya. Henry pun sudah tak peduli, lantaran kepercayaan dirinya yang sudah lebih dahulu runtuh. <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/06\/23\/patrick-vieira\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Patrick Vieira<\/a> sering membuat lelucon dari kebiasaan Henry membuang peluang. Lucu dan menyegarkan. Namun sebenarnya, lelucon itu menyakiti hatinya.<\/p>\n<p>Lagipula, ia sukses ketika bermain sebagai pemain sayap. Ia adalah sosok <em>winger<\/em> yang liar dan berteknik. Ia sukses bersama <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/tag\/as-monaco\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">AS Monaco<\/a> dan timnas Prancis ketika bermain sebagai sayap. bahkan ketika di Juventus, ia juga bermain sebagai pemain sayap. Ia sudah telanjur dikenal sebagai seorang pemain sayap. Ketika tiba di tempat latihan, ia berubah pikiran. Mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan Wenger tentang keputusannya untuk tak mau lagi bermain sebagai striker. Ia akan mencobanya, setidaknya, sekali lagi.<\/p>\n<figure style=\"width: 594px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium\" src=\"http:\/\/media.gettyimages.com\/photos\/aug-1999-thierry-henry-signs-for-arsenal-football-club-and-is-to-the-picture-id1226015?k=6&amp;m=1226015&amp;s=594x594&amp;w=0&amp;h=oOD__qqJErF3bACpyz2SLTITIF--VL7pLe0rgHHZHIg=\" width=\"594\" height=\"394\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\">Thierry Henry (kanan) bersama Arsene Wenger saat resmi hijrah ke Arsenal pada Agustus 1999.<\/figcaption><\/figure>\n<h3><strong>Sosok tua bermata elang<\/strong><\/h3>\n<p>Arsene Wenger sudah yakin akan memainkan Henry sebagai striker sejak kali pertama menghubunginya untuk bergabung bersama Arsenal. Agustus 1999, The Gunners memecahkan rekor pembelian pemain termahal, 11 juta paun untuk mendatangkan Henry dari Juventus. Beberapa bulan sebelumnya, di tengah penerbangan dari Italia menuju Paris, Wenger sudah berbicara kepada Henry tentang kemungkinan transfer. Waktu itu, pelatih berkacamata tersebut menegaskan kepada Henry bahwa, \u201cKamu hanya buang-buang waktu dengan bermain sebagai pemain sayap. Kamu itu striker.\u201d<\/p>\n<p>Sebenarnya, Wenger sudah sejak lama ingin memboyong Henry ke Inggris. Tepatnya ketika Henry akan meninggalkan Monaco. Sayang, Juventus lebih kuat secara ekonomi. Sekitar 30 menit sebelum kesepakatan antara Monaco dan Juventus terjalin, Wenger menghubungi Henry. Sayang, 30 menit tak cukup untuk mengintervensi kesepakatan kedua klub. Wenger adalah orang yang menemukan bakat Henry sejak masih di akademi Monaco, bahkan memberinya kesempatan debut di usia 17 tahun. Meski bermain sebagai <em>winger<\/em>, Henry sudah menunjukkan ketajamannya.<\/p>\n<p>Bagi Wenger, Henry sudah nampak seperti striker kala itu. Monaco sendiri sudah punya striker yang sangat tajam masa itu dalam diri Sonny Anderson. Jadi Henry (terpaksa) lebih banyak bermain di sisi lapangan. Di balik kacamata tebalnya, Wenger sudah menetapkan buruannya: memboyong Henry ke Arsenal dan menjadikannya penyerang.<\/p>\n<h3><strong>Runtuh<\/strong><\/h3>\n<p>Dua minggu sebelum ulang tahunnya yang ke-22, Henry tiba di Arsenal. Ia datang dengan sebuah tantangan. Saat itu, The Gunners tengah dalam suasana tak menyenangkan setelah kepergian Nicholas Anelka ke Real Madrid dengan dana 23 juta paun. Tahun itu, Arsenal tengah berusaha mengisi posisi pendulang gol yang ikonik itu.<\/p>\n<p>Sebelum kedatangan Henry, sebenarnya Arsenal sudah membeli satu striker. Ia adalah pahlawan Kroasia di Piala Dunia 1998, Davor Suker. Namun, Henry yang pasti akan memikul beban itu. Beban dibanding-bandingkan dan harus menggantikan Anelka, yang sama-sama berdarah Prancis. Henry dan Anelka sebenarnya berteman baik. Namun hubungan keduanya sedikit unik. Sejak di Clairefontaine, Anelka dipandang lebih berbakat ketimbang Henry. Berkat Anelka pula, Henry didemosi ke skuat Prancis U-21. Jadi, menggantikan posisi juniornya yang berbakat di Arsenal tentu sebuah situasi yang bisa membuat perus mulas.<\/p>\n<p>Henry menunjukkannya ketika meladeni sesi wawancara di awal-awal minggu bersama Arsenal. ia gelisah dan tak nyaman dengan sikap jurnalis yang membandingkan dirinya dengan Anelka. Wenger menangani situasi itu dengan caranya sendiri. Ia ingin Henry bangkit dengan caranya sendiri. Alih-alih menenangkan, Wenger justru \u201cmencambuk\u201d Henry dengan komentarnya.<\/p>\n<p>\u201cJika tak ingin dibanding-bandingkan, sebaiknya kamu di rumah saja! Jika ingin menjadi pemain besar, kamu harus menunjukkannya di lapangan. Henry punya kualitas untuk menjadi sebagus Nicholas (Anelka). Henry lebih mudah membaur dengan kawan-kawannya ketimbang Nicholas. Ia akan selalu bekerja keras untuk tim ini!\u201d<\/p>\n<p>Tapi memang, kepercayaan diri Henry sudah telanjur runtuh. Masa-masa singkat bersama Juventus sangat mengecewakan. Kegagalan yang menghantui, menutup bakat dirinya. Ia bergabung di pertengahan Januari 1999 ketika Si Nyonya Tua terpuruk di posisi 10 dengan catatan 18 gol dari 17 pertandingan. Juventus sangat membutuhkan pemain yang rajin mencetak gol, dan Henry menyandang beban itu. Ia dibeli ketika Juventus masih dilatih Marcello Lippi. Namun ketika ia datang, Lippi sudah dipecat.<\/p>\n<p>Pengganti Lippi adalah Carlo Ancelotti. Di bawah asuhan Ancelotti, Henry bermain sebagai <em>starter<\/em> sebanyak 12 kali dari 14 pertandingan. \u201cDi lima atau enam pertandingan, saya tak mencetak gol atau membuat asis. Butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan sistem baru. Kami bermain dengan 3-5-2, yang mana saya tidak terbiasa. Tapi saya bisa beradaptasi dan bermain lebih baik,\u201d ungkap Henry kepada <em>FourFourTwo<\/em>.<\/p>\n<p>Meski menegaskan bahwa ia sudah berusaha bermain lebih baik, pada kenyataanya, Henry gagal total. Padahal, ekspektasi di pundaknya begitu berat. Betul, ekspektasi tersebut lahir bukan tanpa alasan. Meski masih muda, ia sudah bermain di semifinal Liga Champions, menjuarai Ligue 1, dan menjadi juara dunia bersama Prancis. Ekspektasi, ditambah keraguan kepada diri sendiri adalah beban yang ia bawa ketika datang ke Inggris.<\/p>\n<p>Keraguan kepada diri sendiri juga merupakan menjadi tanda keengganan bermain sebagai striker di Arsenal. \u201cSaya harus kembali belajar seni menendang bola,\u201d ungkapnya menggambarkan beratnya situasi yang dihadapi.<\/p>\n<p>\u201cMeski berstatus juara dunia, saya bukan siapa-siapa. Dan itu sebuah kebenaran. Saya belum membuktikan diri bersama Arsenal. Jadi, siapa saya berani jemawa?\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium\" src=\"http:\/\/media.gettyimages.com\/photos\/nov-1999-joy-for-arsenal-scorer-thierry-henry-during-the-fa-carling-picture-id1206829?k=6&amp;m=1206829&amp;s=594x594&amp;w=0&amp;h=M1YogTxzKFG5FmqZ-cKivbZHT-bjVQe4lLvis1RQQAg=\" alt=\"Thierry Henry\" width=\"594\" height=\"450\" \/><\/p>\n<h3><strong>Titik Balik<\/strong><\/h3>\n<p>Masa-masa awal bersama Arsenal diwarnai dengan kegagalan mencetak gol di delapan pertandingan. Dan pada akhirnya, ia membuka keran golnya bersama Arsenal di pertengahan September. Bermain di The Dell, kandang Southampton waktu itu, Henry bermain sebagai pemain pengganti. Ia hanya butuh delapan menit untuk akhirnya memuaskan dahaga gol. Tendangan melengkung ke arah tiang jauh, yang pada akhirnya menjadi ciri khas, gagal ditepis Paul Jones, kiper Soton.<\/p>\n<p>Henry kembali tak menjadi pilihan utama kala Arsenal bermain di Liga Champions menghadapi AIK Solna. Ia menjadi pemain pengganti lagi, dan kali ini ia merancang satu asis untuk gol Suker dan membuat satu gol untuk menutup skor menjadi 3-1. Namun, meski bermain bagus di dua pertandingan, komparasi dengan Anelka masih saja didengungkan jurnalis.<\/p>\n<p>\u201cIa masih saja membuang peluang, yang mana Anelka pasti bisa membuatnya menjadi gol,\u201d tulis <em>The Times<\/em>. Memang, Henry sempat membuang peluang emas dari jarak dekat. \u201cJika kami tak menang, saya merasa sudah mengecewakan semua orang,\u201d ungkapnya selepas pertandingan Liga Champions.<\/p>\n<p>Empat bulan, 17 pertandingan, dan hanya dua gol. Situasi semakin memburuk untuk Henry. Saat itu, Henry masih sering dimainkan di sisi lapangan. Wenger ingin Henry belajar bersabar dan berlatih menemukan <em>timing<\/em> yang tepat untuk berlari masuk ke kotak penalti. Sebuah ilmu yang kelak membuatnya begitu berbahaya di depan gawang lawan.<\/p>\n<p>\u201cPelatih memang ingin saya bermain lebih ke tengah. Tapi artinya saya harus berlatih menemukan <em>timing<\/em> untuk berlari dengan cara yang benar-benar berbeda. Proses itu butuh waktu,\u201d kenangnya.<\/p>\n<p>Titik balik bagi karier Henry terjadi bukan ketika ia mencetak gol atau berkontribusi secara langsung. Tertanggal 25 November 1999, Arsenal menjamu Nantes dalam tajuk UEFA Cup. Sebelumnya, Arsenal gagal lolos dari fase penyisihan grup Liga Champions dan harus bermain di babak ketiga di kompetisi kasta kedua Eropa yang sekarang bernama Europa League. Saat itu, Arsenal sudah unggul satu gol dan waktu tinggal menyisakan 10 menit. Henry masuk menggantikan Freddie Ljungberg. Henry memang tak bisa memutus kesengsaraan gagal mencetak gol. Namun, Henry tampak sangat \u201chidup\u201d. Dari 20 menit waktunya bermain, ia membuat begitu banyak peluang. Ia bermain dari sisi kiri dan begitu berbahaya ketika menusuk masuk ke tengah. Henry menemukan <em>timing<\/em>-nya.<\/p>\n<p>20 menit yang ajaib, dan Wenger tak membuang momen untuk memainkan Henry sejak awal. Tiga hari setelah melawan Nantes, Arsenal melawan Derby County. Wenger menduetkan Henry dengan Dennis Bergkamp untuk kali pertama. Henry menyambut kesempatan itu dengan sangat antusias. Ia tahu ini kesempatannya untuk membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia <em>bisa<\/em> bermain sebagai striker. Ia tak ingin lagi mengecewakan siapa pun lagi, terutama Wenger, yang selalu mendukungnya, sekaligus \u201cayah spiritual\u201d-nya.<\/p>\n<p>Ketika Henry ditarik keluar di menit 72, Highbury menghadiahinya <em>standing ovation<\/em>. Baru dua menit pertandingan, Dean Sturidge membobol gawang Arsenal. Di tengah tekanan, Henry menyeret Arsenal untuk bangkit. Sembilan menit kemudian, Henry menyamakan kedudukan. Dan enam menit setelah turun minum, Henry mencetak gol kemanangan dengan ketenangan yang mengagumkan.<\/p>\n<p>Keesokan harinya, <em>The Times<\/em> menggambarkan gol Henry sebagai \u201cgol klasik yang indah\u201d. Henry menyebutnya sebagai \u201cgol seorang striker\u201d dan Wenger menegaskannya sebagai \u201csebuah awal\u201d.<\/p>\n<p>Pada hari yang sama, Anelka menolak bermain ketika Madrid menghadapi Celta Vigo. Ia mengaku tengah cedera lutut, yang mana banyak orang tak percaya. Empat bulan bersama Madrid, Anelka gagal mencetak gol. Catatan buruk yang berlanjut hingga 26 Februari. Setelah laga melawan Derby yang menjadi titik baliknya, Henry mencetak delapan gol dari 10 pertandingan. Tak ada lagi yang membuat komparasi dirinya dengan Anelka.<\/p>\n<p>Tujuh musim kemudian, Henry menjadi pusat dominasi Arsenal. Dari seorang anak muda yang tengah terpuruk, menjadi pembunuh di depan gawang. Masa-masa itu, di tengah pergantian milenium, <em>the making of the king<\/em>, seorang raja telah lahir. Ia ditempa masa-masa sulit. Didekorasi dengan keraguan dan cibiran. Semua hal negatif menjadi bekalnya menempa baju baja. Yang ia kenakan dengan kebanggaan. Menjadi raja, dan satu-satunya, King Henry, yang bertahta di Highbury.<\/p>\n<p><strong><em>Disclaimer: Tulisan ini ditulis ulang dari artikel Joe Brewin yang berjudul, <a href=\"https:\/\/www.fourfourtwo.com\/features\/year-zero-making-thierry-henry-arsenal-19992000\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">\u201cYear Zero: The making of Thierry Henry (Arsenal, 1999\/2000)\u201d<\/a>.<\/em><\/strong><\/p>\n<p><strong>Author: Yamadipati Seno (<span class=\"username u-dir\" dir=\"ltr\"><a class=\"ProfileHeaderCard-screennameLink u-linkComplex js-nav\" href=\"https:\/\/twitter.com\/arsenalskitchen\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">@arsenalskitchen<\/a>)<\/span><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Terkadang, mereka yang ditakdirkan menjadi sang raja harus melewati masa-masa percobaan. Mereka harus menderita, kehilangan kepercayaan, dan direndahkan. Thierry Henry, melewati segala ujian, dan memenuhi takdirnya untuk menjadi \u201csang raja.\u201d ** Ia datang ke Arsenal dengan status juara dunia. Namun, status itu tak membantunya, ia tengah terpuruk. Henry datang ke Highbury di usia 22 tahun, dan awal yang lamban membuat kapasitasnya dipertanyakan. Suatu pagi sebelum berangkat ke London Colney, ia sudah mengambil keputusan bahwa sebuah perubahan harus dilakukan. Ia tak mau bermain lagi sebagai striker, dan meminta Arsene Wenger memainkannya sebagai pemain sayap. Ia merasa tak akan ada yang protes dengan keputusannya. Bukan juga para suporter yang terlanjut kecewa kepadanya. &hellip; <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/07\/02\/thierry-henry-lahirnya-sang-raja\/\" class=\"tribe-more-link\">Continue reading &#8220;Thierry Henry: Lahirnya Sang Raja&#8221;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":6997,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[89],"tags":[120,381,129,122,1298],"class_list":["post-6987","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kolom","tag-arsenal","tag-arsene-wenger","tag-featured","tag-slider","tag-thierry-henry"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Thierry Henry: Lahirnya Sang Raja | Football Tribe Indonesia<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Simak kisah singkat bagaimana Thierry Henry berhasil bangkit dari keterpurukan, hingga menjadi Sang Raja bagi klub yang telah membesarkannya, Arsenal.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/07\/02\/thierry-henry-lahirnya-sang-raja\/\" \/>\n<link rel=\"next\" href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/07\/02\/thierry-henry-lahirnya-sang-raja\/2\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Thierry Henry: Lahirnya Sang Raja | Football Tribe Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Simak kisah singkat bagaimana Thierry Henry berhasil bangkit dari keterpurukan, hingga menjadi Sang Raja bagi klub yang telah membesarkannya, Arsenal.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/07\/02\/thierry-henry-lahirnya-sang-raja\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Football Tribe Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"http:\/\/facebook.com\/footballtribeindonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-07-02T04:00:56+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2017-07-02T04:49:38+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/07\/GettyImages-138194813-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"699\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"tribeindonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@footballtribeid\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@footballtribeid\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"tribeindonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"8 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/07\\\/02\\\/thierry-henry-lahirnya-sang-raja\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/07\\\/02\\\/thierry-henry-lahirnya-sang-raja\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"tribeindonesia\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\"},\"headline\":\"Thierry Henry: Lahirnya Sang Raja\",\"datePublished\":\"2017-07-02T04:00:56+00:00\",\"dateModified\":\"2017-07-02T04:49:38+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/07\\\/02\\\/thierry-henry-lahirnya-sang-raja\\\/\"},\"wordCount\":1517,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/07\\\/02\\\/thierry-henry-lahirnya-sang-raja\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2017\\\/07\\\/GettyImages-138194813-1.jpg\",\"keywords\":[\"Arsenal\",\"Arsene Wenger\",\"Featured\",\"Slider\",\"Thierry Henry\"],\"articleSection\":[\"Kolom\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/07\\\/02\\\/thierry-henry-lahirnya-sang-raja\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/07\\\/02\\\/thierry-henry-lahirnya-sang-raja\\\/\",\"name\":\"Thierry Henry: Lahirnya Sang Raja | Football Tribe Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/07\\\/02\\\/thierry-henry-lahirnya-sang-raja\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/07\\\/02\\\/thierry-henry-lahirnya-sang-raja\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2017\\\/07\\\/GettyImages-138194813-1.jpg\",\"datePublished\":\"2017-07-02T04:00:56+00:00\",\"dateModified\":\"2017-07-02T04:49:38+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\"},\"description\":\"Simak kisah singkat bagaimana Thierry Henry berhasil bangkit dari keterpurukan, hingga menjadi Sang Raja bagi klub yang telah membesarkannya, Arsenal.\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/07\\\/02\\\/thierry-henry-lahirnya-sang-raja\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/07\\\/02\\\/thierry-henry-lahirnya-sang-raja\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2017\\\/07\\\/GettyImages-138194813-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2017\\\/07\\\/GettyImages-138194813-1.jpg\",\"width\":1024,\"height\":699,\"caption\":\"Thierry Henry\"},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/\",\"name\":\"Football Tribe Indonesia\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\",\"name\":\"tribeindonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"tribeindonesia\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/author\\\/tribeindonesia\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Thierry Henry: Lahirnya Sang Raja | Football Tribe Indonesia","description":"Simak kisah singkat bagaimana Thierry Henry berhasil bangkit dari keterpurukan, hingga menjadi Sang Raja bagi klub yang telah membesarkannya, Arsenal.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/07\/02\/thierry-henry-lahirnya-sang-raja\/","next":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/07\/02\/thierry-henry-lahirnya-sang-raja\/2\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Thierry Henry: Lahirnya Sang Raja | Football Tribe Indonesia","og_description":"Simak kisah singkat bagaimana Thierry Henry berhasil bangkit dari keterpurukan, hingga menjadi Sang Raja bagi klub yang telah membesarkannya, Arsenal.","og_url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/07\/02\/thierry-henry-lahirnya-sang-raja\/","og_site_name":"Football Tribe Indonesia","article_publisher":"http:\/\/facebook.com\/footballtribeindonesia","article_published_time":"2017-07-02T04:00:56+00:00","article_modified_time":"2017-07-02T04:49:38+00:00","og_image":[{"width":1024,"height":699,"url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/07\/GettyImages-138194813-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"tribeindonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@footballtribeid","twitter_site":"@footballtribeid","twitter_misc":{"Written by":"tribeindonesia","Est. reading time":"8 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/07\/02\/thierry-henry-lahirnya-sang-raja\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/07\/02\/thierry-henry-lahirnya-sang-raja\/"},"author":{"name":"tribeindonesia","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3"},"headline":"Thierry Henry: Lahirnya Sang Raja","datePublished":"2017-07-02T04:00:56+00:00","dateModified":"2017-07-02T04:49:38+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/07\/02\/thierry-henry-lahirnya-sang-raja\/"},"wordCount":1517,"image":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/07\/02\/thierry-henry-lahirnya-sang-raja\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/07\/GettyImages-138194813-1.jpg","keywords":["Arsenal","Arsene Wenger","Featured","Slider","Thierry Henry"],"articleSection":["Kolom"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/07\/02\/thierry-henry-lahirnya-sang-raja\/","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/07\/02\/thierry-henry-lahirnya-sang-raja\/","name":"Thierry Henry: Lahirnya Sang Raja | Football Tribe Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/07\/02\/thierry-henry-lahirnya-sang-raja\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/07\/02\/thierry-henry-lahirnya-sang-raja\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/07\/GettyImages-138194813-1.jpg","datePublished":"2017-07-02T04:00:56+00:00","dateModified":"2017-07-02T04:49:38+00:00","author":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3"},"description":"Simak kisah singkat bagaimana Thierry Henry berhasil bangkit dari keterpurukan, hingga menjadi Sang Raja bagi klub yang telah membesarkannya, Arsenal.","inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/07\/02\/thierry-henry-lahirnya-sang-raja\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/07\/02\/thierry-henry-lahirnya-sang-raja\/#primaryimage","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/07\/GettyImages-138194813-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/07\/GettyImages-138194813-1.jpg","width":1024,"height":699,"caption":"Thierry Henry"},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/","name":"Football Tribe Indonesia","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3","name":"tribeindonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g","caption":"tribeindonesia"},"url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/author\/tribeindonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6987","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6987"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6987\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6997"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6987"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6987"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6987"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}