{"id":5441,"date":"2017-05-25T11:32:47","date_gmt":"2017-05-25T04:32:47","guid":{"rendered":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?p=5441"},"modified":"2018-02-27T13:13:01","modified_gmt":"2018-02-27T06:13:01","slug":"analisis-manchester-united-ajax","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/25\/analisis-manchester-united-ajax\/","title":{"rendered":"Ajax Amsterdam 0-2 Manchester United: &#8220;Tiki-Taka&#8221; Ajax Diredam Sepak Bola Khas Jose Mourinho"},"content":{"rendered":"<p>Ajax yang memainkan <em>positiespel <\/em>atau <em>juego de posicion <\/em>(JdP), banyak yang mengenalnya sebagai <em>tiki-taka, <\/em>dikalahkan oleh <em>pressing man-oriented <\/em>Manchester United (MU). Jose Mourinho membawa The Red Devils memenangkan Liga Europa, yang juga berarti satu tiket ke Liga Champions musim 2017\/2018.<\/p>\n<p>Sebelum membaca analisis ini, ada beberapa istilah taktik sepak bola yang pemahamannya dapat Anda pelajari di tautan-tautan berikut ini:<\/p>\n<ol>\n<li><a href=\"https:\/\/www.kickoffindonesia.com\/single-post\/2015\/05\/01\/Berkenalan-dengan-Nomor-Posisi\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>Berkenalan dengan nomor posisi<\/strong><\/a><\/li>\n<li><a href=\"http:\/\/fandom.id\/analisis\/taktik\/2015\/09\/half-space-sebagai-ruang-strategis-dalam-sepak-bola-bagian-3\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong><em>Halfspace<\/em><\/strong><\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/fandom.id\/analisis\/taktik\/2015\/05\/apa-itu-overload\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong><em>Overload<\/em><\/strong><\/a><\/li>\n<li><a href=\"http:\/\/spielverlagerung.com\/2014\/06\/01\/zonal-marking-zonal-coverage\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong><em>Zonal-Marking<\/em><\/strong><\/a><\/li>\n<li><a href=\"http:\/\/spielverlagerung.com\/2016\/09\/05\/tactical-theory-the-offensive-and-defensive-potential-of-the-blind-side\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong><em>Blind-side<\/em><\/strong><\/a><\/li>\n<\/ol>\n<h3><strong><em>Man-oriented press <\/em><\/strong><strong>Manchester United melawan <em>build-up <\/em>Ajax<\/strong><\/h3>\n<p>Menghadapi serangan yang dibangun (<em>build-up<\/em>) dari belakang, seperti yang sering kita lihat dalam tim yang memainkan filosofi JdP, model <em>pressing <\/em>Morinho meninggalkan satu pemain di lini depan. <em>Man-oriented <\/em>(berorientasi kepada posisi pemain lawan) dalam <em>pressing <\/em>The Red Devils sudah terlihat sejak gelombang pertama. Pengecualian ada pada Marcus Rashford yang terlihat lebih <em>option-oriented <\/em>(opsi umpan lawan sebagai orientasi) terhadap dua bek tengah Ajax.<\/p>\n<p>Rashford mengisi lini depan seorang diri menghadapi dua bek tengah Ajax. Di belakang Rashford, United memainkan lima pemain. Satu pemain sebagai nomor 6, satu pemain di pos nomor 8, dua gelandang sayap, dan satu pemain nomor 8 yang secara situasional bergerak ke pos nomor 10, bergantung pada perilaku pemain nomor 6 Ajax.<\/p>\n<p>Dalam <em>pressing <\/em>di fase ini, Marouane Fellaini mengawal Lasse Schone yang berperan sebagai nomor 6 Ajax. Karena dalam proses <em>build-up <\/em>Ajax nomor 6-nya tidak mendekati atau turun ke lini belakang, Fellaini pun terlihat lebih banyak berada dekat dengan kedua nomor 8 Setan Merah.<\/p>\n<figure id=\"attachment_5442\" aria-describedby=\"caption-attachment-5442\" style=\"width: 865px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5442 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/1-6.png\" alt=\"\" width=\"865\" height=\"551\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/1-6.png 865w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/1-6-768x489.png 768w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/1-6-800x510.png 800w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/1-6-350x223.png 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/1-6-597x380.png 597w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/1-6-560x357.png 560w\" sizes=\"(max-width: 865px) 100vw, 865px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5442\" class=\"wp-caption-text\"><em>Build-up Ajax melawan pressing Manchester United<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Tentu saja, sangat sulit bagi Rashford seorang diri untuk mengakses kedua bek tengah Ajax dalam situasi kalah jumlah karena kondisi 1 lawan 2. Sebagai kompensasi taktik, penyerang muda United ini sesekali turun ke pos nomor 10 untuk memblokir akses langsung kedua bek tengah Ajax ke area tengah.<\/p>\n<p><em>Man-oriented <\/em>yang digunakan oleh para pemain United, pada dasarnya, berbasiskan penjagaan zona. Sebenarnya, pendekatan semacam ini sudah jamak ditemukan dalam sepak bola modern dan sering kali sedikit saya jelaskan dalam tulisan-tulisan sebelumnya. Tetapi, tidak ada salahnya sekali lagi hal ini disinggung dalam tulisan kali ini.<\/p>\n<p>Perbedaan <em>man-oriented zona-press <\/em>dengan <em>man-to-man-marking<\/em> adalah, dalam <em>man-oriened zonal-press<\/em>, para pemain menempatkan <em>press <\/em>kepada pemain (lawan) tertentu ketika si lawan masuk ke dalam daerah (zona)-nya.<\/p>\n<p>Contohnya, Ander Herrera. Gelandang Spanyol ini menempatkan <em>pressure <\/em>kepada Hakim Ziyech ketika Ziyech masuk ke pos nomor 8 United. Tetapi, ketika Ziyech bergeser ke bek sayap, bergantian dengan Jairo Riedewald, Herrera akan kembali ke posnya di area nomor 8 Setan Merah.<\/p>\n<p>Dalam <em>man-to-man-marking<\/em>, intensitas penjagaan lebih tinggi, dikarenakan pemain bertahan cenderung mengikuti lawan yang harus dijaganya ke mana pun sang lawan bergerak.<\/p>\n<p>Kembali lagi ke pertandingan Ajax kontra United. Untuk mengatasi model pertahanan yang dipraktikan United, Ajax melakukan permutasi posisional antara gelandang tengah dan bek sayap yang dikombinasikan dengan pergerakan penyerang sayap dan tengah masuk ke area 10, di <em>halfspace <\/em>maupun area tengah.<\/p>\n<p>Di lain kesempatan, Ajax melakukannya dengan lebih sederhana melalui pertukaran posisi antara penyerang sayap dan bek sayap dengan tujuan mengakses bek sayap yang berlari ke depan menggunakan umpan jauh dari bek tengah pembawa bola.<\/p>\n<p>Perilaku pemain dalam sistem <em>pressing <\/em>ditambah eksekusi yang tepat, membantu MU mencegah Ajax mendapatkan akses nyaman di sepertiga akhir. Salah satu contoh sederhana adalah situasi di sekitar akhir menit ke-6.<\/p>\n<figure id=\"attachment_5443\" aria-describedby=\"caption-attachment-5443\" style=\"width: 863px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5443 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-11.png\" alt=\"\" width=\"863\" height=\"550\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-11.png 863w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-11-768x489.png 768w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-11-800x510.png 800w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-11-350x223.png 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-11-596x380.png 596w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-11-560x357.png 560w\" sizes=\"(max-width: 863px) 100vw, 863px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5443\" class=\"wp-caption-text\"><em>Man-oriented press Manchester United<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p><a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/03\/13\/kilau-kasper-dolberg\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kasper Dolberg<\/a> turun ke pos nomor 10 untuk menarik Chris Smalling keluar. Amin Younes yang mengisi <em>halfspace <\/em>kanan United mencoba memanfaatkan ruang yang tercipta di antara Antonio Valencia (25) dan Smalling (12), dengan cara berlari memutar kembali ke koridor sayap. Ziyech yang menguasai bola di sisi sayap segera melepaskan umpan terobosan untuk mengakses Younes. Tetapi, sikap <em>pressing <\/em>Valencia yang menunggu sesaat untuk menebak aksi Ziyech mampu mencegat (<em>interception<\/em>) umpan kepada Younes.<\/p>\n<p>Perhatikan juga pengambilan posisi Herrera. Ia tidak bergerak ke koridor sayap. Herrera mengokupansi <em>halfspace <\/em>kanan yang pada gilirannya, memblokir akses (langsung) Riedewald maupun Ziyech kepada Dolberg dan Younes.<\/p>\n<p>Sering terlihat, di babak pertama, pergerakan turun dari penyerang sayap Ajax mampu membuka jalur progresi ke depan, kepada Dolberg. Tetapi, ketika pemain Ajax mengakses Dolberg, bek tengah MU sudah mampu mengantisipasinya. Dari sini terindikasi United sangat menyadari pola progresi yang sering dipakai Ajax selama musim ini dan melatih cara menghentikannya dalam sesi latihan jelang final.<\/p>\n<p>Ketika sirkulasi bola Ajax masuk ke salah satu koridor tepi, baik di sayap kanan atau kiri, blok <em>pressing <\/em>MU pun ikut bergeser. Dalam situasi semacam ini, anak asuh The Special One akan mengisi tiga koridor vertikal terdekat (koridor tepi dan <em>halfspace <\/em>sisi bola + koridor tengah). Gelandang dan bek sayap MU di sisi jauh \u201cmeninggalkan\u201d\u00a0 sisi jauh agar sedikit terbuka.<\/p>\n<p>Okupansi ruang yang dilakukan oleh bek sayap dan gelandang sayap baru akan mengalami penyesuaian bila penguasaan bola Ajax bergeser ke <em>halfspace <\/em>sisi bola atau area tengah. Keduanya, secara gradual, bergeser mendekati koridor tepi untuk menjaga kemungkinan Ajax mengakses pemain-pemain yang tadinya berada di sisi jauh.<\/p>\n<figure id=\"attachment_5444\" aria-describedby=\"caption-attachment-5444\" style=\"width: 864px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5444 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/3-6.png\" alt=\"\" width=\"864\" height=\"550\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/3-6.png 864w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/3-6-768x489.png 768w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/3-6-800x509.png 800w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/3-6-350x223.png 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/3-6-597x380.png 597w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/3-6-560x356.png 560w\" sizes=\"(max-width: 864px) 100vw, 864px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5444\" class=\"wp-caption-text\"><em>Pergeseran blok pressing Manchester United<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h3><strong>Disiplin taktik Manchester United<\/strong><\/h3>\n<p>Kedisiplinan taktik pemain MU patut mendapatkan pujian. Kedisiplinan taktik mereka selain ditunjang kemampuan atletik pemain juga disokong oleh kesadaran spasial yang tepat guna. Paul Pogba dan Herrera memperlihatkan hal ini.<\/p>\n<p>Pogba yang ditugaskan mengawal Davy Klaassen, sering terlihat mengikuti pergerakan Klaassen dari area nomor 8 hingga ke kotak penalti MU. Di lain waktu, eks pemain Juventus ini mengawal Klaassen di area nomor 8 lalu turun jauh ke belakang untuk kemudian menghalau umpan silang melambung Ajax ke kotak penalti United. Pogba yang memang memiliki langkah kaki besar memudahkan dirinya melakukan aksi bertahan semacam ini.<\/p>\n<p>Herrera sendiri memainkan peran yang sangat krusial dalam sistem Mourinho. Ia merupakan hibrida nomor 6 dan nomor 8. Bila pemain yang harus dijaganya berada \u201cjauh\u201d dari pos nomor 6 MU, Herrera akan mengisi area tersebut (celah antara bek dan gelandang) untuk sekaligus menjadi benteng pertama di depan duo bek tengah atau menjaga celah horizontal di depan bek sayap dan tengah.<\/p>\n<p>Namun, ketika Ziyech mendekati pos nomor 6 MU pun, Herrera tidak secara serampangan bergerak mendekatinya untuk menempatkan <em>press <\/em>kepada Ziyech.<\/p>\n<figure id=\"attachment_5445\" aria-describedby=\"caption-attachment-5445\" style=\"width: 865px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5445 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/4-6.png\" alt=\"\" width=\"865\" height=\"551\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/4-6.png 865w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/4-6-768x489.png 768w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/4-6-800x510.png 800w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/4-6-350x223.png 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/4-6-597x380.png 597w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/4-6-560x357.png 560w\" sizes=\"(max-width: 865px) 100vw, 865px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5445\" class=\"wp-caption-text\"><em>Kesadaran spasial Ander Herrera<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Herrera memutuskan mendekat ke area di mana duo bek tengah berada, karena ia merasa Fellaini dan Juan Mata cukup mampu mengatasi situasi dua lawan tiga yang terlihat dalam gambar di atas. Herrera memutuskan turun sedikit menyesuaikan posisinya untuk meningkatkan keamanan di depan duo bek tengah MU.<\/p>\n<p>Herrera baru akan bergerak naik (<em>press-onward<\/em>) melakukan <em>press <\/em>kepada Ziyech bila Mata dan Fellaini bergerak naik untuk mengikuti pergerakan pemain-pemain Ajax terdekat yang mereka jaga.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h3><strong>Permasalahan strategis dalam sirkulasi bola Ajax<\/strong><\/h3>\n<p>Kesulitan Ajax menembus lini terakhir (lini belakang) pertahanan MU turut disebabkan oleh permainan mereka sendiri. Dalam tataran strategis, ada beberapa ruang yang tidak diisi oleh pemain-pemain Ajax. Permasalahan ini menyebabkan mereka kehilangan koneksi serangan. <em>Spacing <\/em>(mengisi ruang dan menjaga jarak) menjadi lemah dalam usaha menciptakan koneksi antarlini.<\/p>\n<figure id=\"attachment_5446\" aria-describedby=\"caption-attachment-5446\" style=\"width: 864px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5446 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/5-1.png\" alt=\"\" width=\"864\" height=\"551\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/5-1.png 864w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/5-1-768x490.png 768w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/5-1-800x510.png 800w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/5-1-350x223.png 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/5-1-596x380.png 596w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/5-1-560x357.png 560w\" sizes=\"(max-width: 864px) 100vw, 864px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5446\" class=\"wp-caption-text\"><em>Permasalahan dalam spacing Ajax<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Perhatikan penempatan posisi pemain-pemain Ajax di lini gelandang. Situasi di atas berawal ketika Ziyech (22) turun ke sepertiga tengah untuk menjemput bola dari kaki Matthijs De Ligt di <em>halfspace<\/em> kiri. Yang menjadi permasalahan adalah, (1) Ziyech menjemput bola di depan lini <em>pressing <\/em>lawan, (2) ketiadaan pemain (koneksi) di celah antarlini <em>pressing <\/em>lawan.<\/p>\n<p>Isu nomor 2 terjadi karena, baik Riedewald (4) atau Dolberg (25) tidak melakukan penyesuaian posisional demi membangun struktur yang mampu menjamin koneksi progresi bola.<\/p>\n<p>Yang terjadi selanjutnya adalah Ajax mensirkulasi bola secra horizontal ke sisi kanan. Hal serupa terjadi berulang, terutama ketika <em>build-up <\/em>Ajax masuk ke sepertiga tengah.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-5447 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/687880644.jpg\" alt=\"Fellaini\" width=\"594\" height=\"400\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/687880644.jpg 594w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/687880644-334x225.jpg 334w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/687880644-564x380.jpg 564w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/687880644-560x377.jpg 560w\" sizes=\"(max-width: 594px) 100vw, 594px\" \/><\/p>\n<h3><strong>Umpan jauh Manchester United dan Fellaini<\/strong><\/h3>\n<p>Peter Bosz akan memainkan <em>pressing <\/em>blok tinggi. Ini sudah sangat dapat dipastikan. Lyon telah merasakan akibatnya ketika tim Prancis tersebut dibobol oleh Kasper Dolberg di pertemuan pertama di Amsterdam. Untuk menghindari Ajax mengancam melalui <em>pressing <\/em>blok tinggi mereka, seperti yang juga telah diduga sebelumnya, yang juga merupakan model permainan Jose Mourinho, eks pelatih Chelsea ini memerintahkan pemain-pemain MU untuk segera melambungkan bola jauh ke lini depan dalam fase <em>build-up<\/em>.<\/p>\n<p>Fellaini menjadi target umpan karena memiliki kemampuan <em>flick-on <\/em>di udara. Bila tidak memungkinkan mengakses Fellaini, MU akan memainkan bola langsung ke lini terakhir baik kepada Rashford di tengah atau ke sisi sayap di mana Henrikh Mkhitaryan, Mata, atau Rashford sendiri mengisi area tersebut.<\/p>\n<p>Di dalam fase eksekusi pun, MU terlihat mencoba memanfaatkan kekuatan Fellaini dan Pogba. Secara bergantian, terkadang bersamaan, kedua pemain ini masuk ke kotak penalti lawan untuk mengeksekusi umpan silang melambung dari sayap.<\/p>\n<p>Kehadiran Fellaini juga sering dimanfaatkan MU dalam lemparan ke dalam. Fellaini menjadi target utama lemparan. Setelah menerima lemparan, ia menahan bola untuk memainkan umpan pendek atau segera melakukan <em>flick-on <\/em>ke depan dengan kepalanya untuk menjangkau Rashford di lini terakhir.<\/p>\n<p>Pogba dan Herrera, sebagai pemain lain di lini gelandang, dalam situasi semacam ini, lebih banyak bertindak sebagai pendukung (<em>support<\/em>) yang digunakan untuk berjaga, di area sedikit lebih bawah, dalam pertarungan memperebutkan bola kedua, ketiga, dan seterusnya.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h3><strong><em>Gegenpressing <\/em><\/strong><strong>Ajax tetap memukau<\/strong><\/h3>\n<p>Ajax yang memainkan sepak bola umpan pendek dan berusaha membuat lawan bermain selama mungkin dalam blok rendah, sudah barang tentu akan tampil dengan garis pertahanan tinggi. Ini yang selalu dilakukan Ajax. Dan, model permainan seperti ini juga yang menjadi penyebab stabilnya <em>gegenpressing <\/em>mereka. Dukungan <em>spacing <\/em>juga menjadi faktor lain dalam stabilnya <em>gegenpresing <\/em>Ajax.<\/p>\n<figure id=\"attachment_5448\" aria-describedby=\"caption-attachment-5448\" style=\"width: 863px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5448 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/6.png\" alt=\"\" width=\"863\" height=\"552\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/6.png 863w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/6-768x491.png 768w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/6-800x512.png 800w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/6-350x225.png 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/6-594x380.png 594w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/6-560x358.png 560w\" sizes=\"(max-width: 863px) 100vw, 863px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5448\" class=\"wp-caption-text\"><em>Gegenpressing Ajax ketika lawan bertahan di dalam kotak penalti<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Kedua bek sayap (3 dan 4) masuk ke <em>halfspace <\/em>atau merapat sedekat mungkin dengan gelandang tengah ketika penyerang sayap berada jauh di depan. Fungsinya adalah\u00a0 untuk mempersempit ruang gerak lawan ketika lini belakang lawan membuang bola ke luar kotak penalti.<\/p>\n<p>Bek tengah juga difungsikan dalam fase transisional ini. Terutama sekali, ketika Rashford (atau siapa pun) menerima bola di sekitar pos nomor 6 Ajax, bek tengah terdekat yang memiliki akses terbaik akan melakukan <em>onward-press <\/em>memanfaatkan posisi tubuh pemain lawan yang membelakangi gawang Ajax.<\/p>\n<p>Dengan menerima bola membelakangi gawang Ajax, sudah tentu sudut pandang ke depan dari si penerima bola berkurang. Ini merupakan saat ideal bagi pemain tim bertahan untuk melakukan <em>press<\/em> dari arah punggung si penerima bola.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h3><strong>Babak kedua<\/strong><\/h3>\n<p>Seperti juga di babak pertama, Ajax masih banyak menggunakan Ziyech sebagai pembuka ruang progresi bola. Salah satu contoh penggunaan Ziyech dalam progresi adalah ketika Davinson Sanchez menguasai bola dan memasuki sepertiga tengah Ajax, Ziyech, yang berada di <em>blind-side<\/em>, turun ke sepertiga tengah lawan untuk menerima umpan untuk kemudian memainkan bola kepada Riedewald (bek kiri).<\/p>\n<p>Ziyech yang kemudian terus bergerak menuju ke tepi lapangan membuka ruang bagi Riedewald untuk masuk dari koridor sayap menuju ke <em>halfspace. <\/em>Dari <em>halfspace<\/em>, Riedewald berprogres ke tengah, mendekati Dolberg.<\/p>\n<figure id=\"attachment_5449\" aria-describedby=\"caption-attachment-5449\" style=\"width: 865px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5449 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/7-1.png\" alt=\"\" width=\"865\" height=\"550\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/7-1.png 865w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/7-1-768x488.png 768w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/7-1-800x509.png 800w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/7-1-350x223.png 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/7-1-598x380.png 598w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/7-1-560x356.png 560w\" sizes=\"(max-width: 865px) 100vw, 865px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5449\" class=\"wp-caption-text\"><em>Ziyech (22) membuka ruang bagi Riedewald (4) untuk mengakses area tengah. Angka hitam merupakan urutan aksi<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Namun, seperti yang terihat di babak pertama, progres serangan Ajax berhenti di Dolberg karena lini belakang MU telah mampu mengantisipasinya. Smalling atau Daley Blind akan mengikuti pergerakan Dolberg ditambah sokongan <em>backward-press <\/em>(<em>press <\/em>ke arah gawang sendiri) dari pemain tengah MU, yang memampatkan ruang gerak Dolberg dan menutup akses penyerang muda ini ke kedua penyerang sayap. Kalaupun Dolberg mendapatkan ruang, umpan-umpannya berlanjut dengan umpan ke belakang atau horizontal.<\/p>\n<figure id=\"attachment_5450\" aria-describedby=\"caption-attachment-5450\" style=\"width: 865px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5450 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/8.png\" alt=\"\" width=\"865\" height=\"551\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/8.png 865w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/8-768x489.png 768w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/8-800x510.png 800w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/8-350x223.png 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/8-597x380.png 597w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/8-560x357.png 560w\" sizes=\"(max-width: 865px) 100vw, 865px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5450\" class=\"wp-caption-text\"><em>Kasper Dolberg (25) &#8216;dimatikan&#8217;<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Blokade pemain MU di <em>halfspace <\/em>dan tengah juga membuat progresi dari lini belakang Ajax dimainkan kepada Ziyech yang bergerak ke koridor sayap. Yang sialnya, ketika Ziyech masuk ke sayap, Amin Younes (penyerang kiri) dan Jairo Riedewald berada terlalu jauh. Ditambah lagi tidak ada pemain yang mengisi <em>halfspace <\/em>dekat Ziyech, membuat MU mendapatkan kembali penguasaan bola.<\/p>\n<p>Dolberg yang terlihat bermain jauh di bawah penampilan terbaiknya, pada akhirnya, ditarik keluar. Pergantian Dolberg membuat peran Bertrand Traore dalam <em>build-up <\/em>Ajax semakin penting. Ia menjadi penyerang tengah yang turun ke pos nomor 10 di\u00a0 <em>halfspace <\/em>dan koridor tengah. Bahkan, terkadang, Traore ikut masuk sampai pos nomor 8.<\/p>\n<p>Bersama Ziyech, Traore bergerak dari sisi ke sisi untuk menciptakan <em>overload <\/em>yang kuat demi mendukung progresi serangan Ajax. Ketika keduanya masuk ke pos nomor 8, Klaassen yang bergerak naik mengisi pos nomor 10 di belakang penyerang. Sayangnya, selain kuatnya barikade MU di tengah, pengambilan posisi penyerang tengah (baik Dolberg maupun Traore kemudian) sering kali sejajar secara vertical dengan Klaassen, yang menyebabkan Ajax kehilangan aspek <em>depth <\/em>(kedalaman) dalam struktur posisional mereka.<\/p>\n<p>Manchester United sendiri, walaupun memainkan sistem pertahanan yang sangat tepat guna, permasalahan tetap teridentifikasi dalam model serang mereka.<\/p>\n<figure id=\"attachment_5451\" aria-describedby=\"caption-attachment-5451\" style=\"width: 864px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5451 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/9.png\" alt=\"\" width=\"864\" height=\"550\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/9.png 864w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/9-768x489.png 768w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/9-800x509.png 800w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/9-350x223.png 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/9-597x380.png 597w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/9-560x356.png 560w\" sizes=\"(max-width: 864px) 100vw, 864px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5451\" class=\"wp-caption-text\"><em>Minimnya opsi (tidak ada okupansi di area elips biru) bagi Mkhitaryan menyebabkan Ajax segera merebut kembali penguasaan bola<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Permasalahan ini sendiri merupakan konsekuensi model permainan Mourinho. Penggunaan Fellaini dalam serangan lebih dikarenakan pertimbangan akan kemampuannya dalam duel udara dan kekuatan tubuhnya untuk menahan bola sebelum disodorkan kepada pemain lain.<\/p>\n<p>Keterbatasannya, Felllaini memang bukan pemain yang punya mobilitas baik. Ia tidak eksplosif seperti Mkhitaryan atau Thiago Alcantara, misalnya. <a href=\"https:\/\/ryantank100.wordpress.com\/2017\/03\/24\/kreativitas-dalam-sepakbola-bagian-1\/\">Kreativitasnya<\/a> tidak sebaik Mkhitaryan atau Thiago. Konsekuensinya, untuk mengisi pos nomor 10, dalam fase menguasai bola, Mkhitaryan atau Mata yang masuk ke ruang tersebut.<\/p>\n<p>Permasalahan timbul ketika keduanya sedang tidak memiliki akses memadai ke ruang 10 di celah antarlini lawan, koneksi <em>spacing <\/em>MU menjadi lemah dikarenakan Fellaini sering tidak masuk ke celah tersebut. Mou tidak mempermasalahkan hal ini, karena, <em>toh<\/em>, model permainan miliknya memang tidak menekankan kepada <em>spacing <\/em>optimal seperti yang sering kita temui dalam tim yang berlandaskan <em>positiespel atau <\/em>JdP.<\/p>\n<p>Keunggulan dua gol membuat MU semakin fokus ke blok medium dan rendah. Kestabilan blok pertahanan mereka, secara tidak langsung, didukung oleh Ajax yang tidak banyak melibatkan kedua bek tengah mereka ketika masuk ke separuh pertahanan MU. Sesuatu yang pantas dipertimbangkan dan dipraktikkan oleh Peter Bosz di masa depan, ketika menghadapi tim yang bertahan seperti Manchester United.<\/p>\n<p>Pemain terbaik final Liga Europa versi saya adalah Ander Herrera.\u00a0Herrera layak menjadi pemain terbaik karena disiplin menjaga pos nomor 6, nomor 8 dan mampu meng-<em>cover<\/em> pergerakan gelandang sayap maupun bek sayap United.<\/p>\n<p>Akhir kata, selamat atas gelar juaranya, Manchester United!<\/p>\n<p><strong>Author: <em>Ryan Tank (<a class=\"ProfileHeaderCard-screennameLink u-linkComplex js-nav\" href=\"https:\/\/twitter.com\/ryantank100\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><span class=\"username u-dir\" dir=\"ltr\">@<b class=\"u-linkComplex-target\">ryantank100<\/b><\/span><\/a>)<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ajax yang memainkan positiespel atau juego de posicion (JdP), banyak yang mengenalnya sebagai tiki-taka, dikalahkan oleh pressing man-oriented Manchester United (MU). Jose Mourinho membawa The Red Devils memenangkan Liga Europa, yang juga berarti satu tiket ke Liga Champions musim 2017\/2018. Sebelum membaca analisis ini, ada beberapa istilah taktik sepak bola yang pemahamannya dapat Anda pelajari di tautan-tautan berikut ini: Berkenalan dengan nomor posisi Halfspace Overload Zonal-Marking Blind-side Man-oriented press Manchester United melawan build-up Ajax Menghadapi serangan yang dibangun (build-up) dari belakang, seperti yang sering kita lihat dalam tim yang memainkan filosofi JdP, model pressing Morinho meninggalkan satu pemain di lini depan. Man-oriented (berorientasi kepada posisi pemain lawan) dalam pressing The &hellip; <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/25\/analisis-manchester-united-ajax\/\" class=\"tribe-more-link\">Continue reading &#8220;Ajax Amsterdam 0-2 Manchester United: &#8220;Tiki-Taka&#8221; Ajax Diredam Sepak Bola Khas Jose Mourinho&#8221;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":5452,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3018],"tags":[361,1008,176,129,151,122,175],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v22.8 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ajax Amsterdam 0-2 Manchester United: &quot;Tiki-Taka&quot; Ajax Diredam Sepak Bola Khas Jose Mourinho | Football Tribe Indonesia<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Ajax yang memainkan positiespel atau juego de posicion (JdP) atau tiki-taka, berhasil dikalahkan oleh pressing man-oriented Manchester United\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/25\/analisis-manchester-united-ajax\/\" \/>\n<link rel=\"next\" href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/25\/analisis-manchester-united-ajax\/2\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ajax Amsterdam 0-2 Manchester United: &quot;Tiki-Taka&quot; Ajax Diredam Sepak Bola Khas Jose Mourinho | Football Tribe Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Ajax yang memainkan positiespel atau juego de posicion (JdP) atau tiki-taka, berhasil dikalahkan oleh pressing man-oriented Manchester United\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/25\/analisis-manchester-united-ajax\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Football Tribe Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"http:\/\/facebook.com\/footballtribeindonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-05-25T04:32:47+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-02-27T06:13:01+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/687973520.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"594\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"396\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"tribeindonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@footballtribeid\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@footballtribeid\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"tribeindonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"11 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/25\/analisis-manchester-united-ajax\/\",\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/25\/analisis-manchester-united-ajax\/\",\"name\":\"Ajax Amsterdam 0-2 Manchester United: \\\"Tiki-Taka\\\" Ajax Diredam Sepak Bola Khas Jose Mourinho | Football Tribe Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/25\/analisis-manchester-united-ajax\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/25\/analisis-manchester-united-ajax\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/687973520.jpg\",\"datePublished\":\"2017-05-25T04:32:47+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-27T06:13:01+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\"},\"description\":\"Ajax yang memainkan positiespel atau juego de posicion (JdP) atau tiki-taka, berhasil dikalahkan oleh pressing man-oriented Manchester United\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/25\/analisis-manchester-united-ajax\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/25\/analisis-manchester-united-ajax\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/687973520.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/687973520.jpg\",\"width\":594,\"height\":396,\"caption\":\"Manchester United\"},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/\",\"name\":\"Football Tribe Indonesia\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\",\"name\":\"tribeindonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"tribeindonesia\"},\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/author\/tribeindonesia\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ajax Amsterdam 0-2 Manchester United: \"Tiki-Taka\" Ajax Diredam Sepak Bola Khas Jose Mourinho | Football Tribe Indonesia","description":"Ajax yang memainkan positiespel atau juego de posicion (JdP) atau tiki-taka, berhasil dikalahkan oleh pressing man-oriented Manchester United","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/25\/analisis-manchester-united-ajax\/","next":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/25\/analisis-manchester-united-ajax\/2\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ajax Amsterdam 0-2 Manchester United: \"Tiki-Taka\" Ajax Diredam Sepak Bola Khas Jose Mourinho | Football Tribe Indonesia","og_description":"Ajax yang memainkan positiespel atau juego de posicion (JdP) atau tiki-taka, berhasil dikalahkan oleh pressing man-oriented Manchester United","og_url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/25\/analisis-manchester-united-ajax\/","og_site_name":"Football Tribe Indonesia","article_publisher":"http:\/\/facebook.com\/footballtribeindonesia","article_published_time":"2017-05-25T04:32:47+00:00","article_modified_time":"2018-02-27T06:13:01+00:00","og_image":[{"width":594,"height":396,"url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/687973520.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"tribeindonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@footballtribeid","twitter_site":"@footballtribeid","twitter_misc":{"Written by":"tribeindonesia","Est. reading time":"11 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/25\/analisis-manchester-united-ajax\/","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/25\/analisis-manchester-united-ajax\/","name":"Ajax Amsterdam 0-2 Manchester United: \"Tiki-Taka\" Ajax Diredam Sepak Bola Khas Jose Mourinho | Football Tribe Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/25\/analisis-manchester-united-ajax\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/25\/analisis-manchester-united-ajax\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/687973520.jpg","datePublished":"2017-05-25T04:32:47+00:00","dateModified":"2018-02-27T06:13:01+00:00","author":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3"},"description":"Ajax yang memainkan positiespel atau juego de posicion (JdP) atau tiki-taka, berhasil dikalahkan oleh pressing man-oriented Manchester United","inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/25\/analisis-manchester-united-ajax\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/25\/analisis-manchester-united-ajax\/#primaryimage","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/687973520.jpg","contentUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/687973520.jpg","width":594,"height":396,"caption":"Manchester United"},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/","name":"Football Tribe Indonesia","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3","name":"tribeindonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g","caption":"tribeindonesia"},"url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/author\/tribeindonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5441"}],"collection":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5441"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5441\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5452"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5441"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5441"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5441"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}