{"id":5188,"date":"2017-05-21T09:43:48","date_gmt":"2017-05-21T02:43:48","guid":{"rendered":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?p=5188"},"modified":"2018-02-27T13:13:26","modified_gmt":"2018-02-27T06:13:26","slug":"analisis-taktik-chelsea-2016-2017","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/21\/analisis-taktik-chelsea-2016-2017\/","title":{"rendered":"Analisis Taktik Chelsea Musim 2016\/2017"},"content":{"rendered":"<p>Sejak kemenangan 4-0 atas Manchester United, permintaan analisis taktik Chelsea meningkat. Ditambah kemenangan The Blues atas Tottenham Hotspur dan Manchester City, permintaan serupa semakin bertambah. Sejauh ini, permintaan analisis taktik Chelsea 2016\/2017 merupakan permintaan terbanyak yang pernah saya terima.<\/p>\n<p>Kebetulan, bersama TSG Hoffenheim dan FC Rostov, sistem Chelsea merupakan salah satu sistem yang saya pakai sebagai referensi memainkan 3 bek dalam tim. Apa saja yang bisa kita jadikan pelajaran?<\/p>\n<p><strong><em>NB: Ada beberapa singkatan untuk penulisan peran atau posisi pemain di artikel berikut yang penulis gunakan untuk mempermudah pembaca memahami konteks.<\/em><\/strong><\/p>\n<h3><strong>Formasi atau bentuk dasar<\/strong><\/h3>\n<p>Dalam membicarakan pola (bentuk) permainan, fase permainan merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk dilibatkan. Dalam tataran praktis, formasi yang dilambangkan dengan angka (3-4-3, 4-4-2, 4-3-3, dan sebagainya) tidak lebih dari interpretasi untuk memberikan panduan dasar sederhana bagi pembaca. Detail formasi jelas lebih kompleks ketimbang interpretasi angka-angka yang sering kita jumpai di layar televisi.<\/p>\n<p>Detail bentuk sangat dipengaruhi oleh model permainan tim sendiri, fase bermain, dan model permainan tim lawan. Pun dengan Chelsea. The Blues dikenal sebagai klub yang memainkan bentuk (dasar) 3-4-3 atau 3-4-2-1. Yang dalam praktiknya, ada beberapa penyesuaian formasi, bergantung kepada variabel-variabel yang disebutkan di atas.<\/p>\n<figure id=\"attachment_5189\" aria-describedby=\"caption-attachment-5189\" style=\"width: 860px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5189 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/1-4.png\" alt=\"\" width=\"860\" height=\"549\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/1-4.png 860w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/1-4-768x490.png 768w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/1-4-800x511.png 800w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/1-4-350x223.png 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/1-4-595x380.png 595w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/1-4-560x357.png 560w\" sizes=\"(max-width: 860px) 100vw, 860px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5189\" class=\"wp-caption-text\"><strong>Formasi dasar dan 5 koridor vertikal.<\/strong><\/figcaption><\/figure>\n<p>Formasi yang digunakan Chelsea terdiri dari 3 bek, 2 gelandang tengah (GT), 2 bek sayap (BS), dan 3 penyerang. Dalam fase membangun serangan dari lini belakang, Chelsea membentuk pola 3-4-2-1 atau 3-2-2-2-1. Pola dasar serupa terlihat ketika Chelsea mencoba melakukan <em>pressing <\/em>blok tinggi. Diego Costa melakukan <em>press <\/em>kepada bek tengah pemegang bola disokong oleh Pedro Rodriguez dan Eden Hazard, yang menyempit ke <em>halfspace<\/em> (3-4-2-1).<\/p>\n<p>Ketika berhasil mengembangkan akses, <em>pressing <\/em>blok tinggi mereka berubah bentuk berdasarkan <em>man-oriented press <\/em>(<em>pressing <\/em>dengan sub-orientasi pemain lawan). Contoh, tiga pemain di lini depan melakukan <em>press <\/em>terhadap tiga bek lawan sementara pemain nomor 6 (gelandang bertahan) dan nomor 8 (gelandang tengah) lawan di-<em>press <\/em>oleh N\u2019Golo Kante dan Nemanja Matic.<\/p>\n<figure id=\"attachment_5190\" aria-describedby=\"caption-attachment-5190\" style=\"width: 866px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5190 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-9.png\" alt=\"\" width=\"866\" height=\"553\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-9.png 866w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-9-768x490.png 768w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-9-800x511.png 800w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-9-350x223.png 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-9-595x380.png 595w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-9-560x358.png 560w\" sizes=\"(max-width: 866px) 100vw, 866px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5190\" class=\"wp-caption-text\"><strong><em>Press<\/em> blok tinggi Chelsea.<\/strong><\/figcaption><\/figure>\n<p>Dari berbagai pertandingan yang dimainkan Chelsea, Kante maupun Matic dapat melakukan <em>press <\/em>kepada nomor 6 (<em>DM<\/em>) atau nomor 8 (<em>CM<\/em>) lawan bergantung kepada siapa yang memiliki akses terbaik. Terkait sikap <em>pressing <\/em>Matic dan Kante, dalam pembahasan pertahanan akan dibahas lebih detail bagaimana Conte mengorganisir blok pertahanannya untuk tetap dapat melindungi ruang di belakang Kante atau Matic.<\/p>\n<p>Bila The Blues harus bertahan dalam blok rendah, formasi mereka kembali mengalami perubahan bentuk dasar menjadi 5-4-1. Kedua bek sayap turun sejajar dengan 3 bek dan kedua penyerang tepi turun dan menyempit ke lini tengah mendampingi Kante dan Matic.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-5197 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Hazard.jpg\" alt=\"Eden Hazard\" width=\"594\" height=\"398\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Hazard.jpg 594w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Hazard-336x225.jpg 336w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Hazard-567x380.jpg 567w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Hazard-560x375.jpg 560w\" sizes=\"(max-width: 594px) 100vw, 594px\" \/><\/p>\n<h3><strong>Sisi kiri Chelea dan Eden Hazard dalam <em>build-up <\/em>dari lini belakang<\/strong><\/h3>\n<p>Ketika Chelsea membangun serangan dari lini belakang, sering kali mereka membentuk formasi 3-2-2-2-1. Tiga bek di lini pertama terdiri dari dua <em>halfback<\/em><b>\u00a0<\/b>atau\u00a0<em>HB <\/em>(Gary Cahill dan Cesar Azpilicueta) dan satu bek tengah atau CB (David Luiz). Kedua gelandang tengah (GT), bergerak horizontal dan mengambil posisi menyesuaikan dengan letak bola berada (<em>ball-oriented<\/em>). Level <em>ball-oriented <\/em>kedua GT Chelsea terlihat sangat kuat, baik dalam fase menguasai bola maupun non-penguasaan bola (akan dibahas nanti).<\/p>\n<p>Bila salah satu GT berada dekat dan mengisi ruang di antara <em>HB <\/em>dan CB, kedua bek sayap (BS), Marcos Alonso dan Victor Moses, dapat bergerak jauh ke atas mendekat ke lini terakhir (lini serang) atau lebih rendah bergantung kepada geometri ruang.<\/p>\n<p>Tujuan GT berada dekat dengan lini belakang Chelsea, di antaranya adalah:<\/p>\n<ul>\n<li>Menawarkan opsi umpan ke depan atau (dengan segera) bertukar tempat dengan <em>HB <\/em>(sisi bola), bila si <em>HB<\/em> membawa bola maju ke depan;<\/li>\n<li>Mengisi <em>halfspace <\/em>sisi bola untuk berperan sebagai papan pantul umpan yang ditujukan kepada salah satu penyerang Chelsea yang berada di sisi bola berada.<\/li>\n<\/ul>\n<figure style=\"width: 480px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/media.giphy.com\/media\/6y34Sbv7vaDuw\/giphy.gif\" alt=\"\" width=\"480\" height=\"307\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\"><strong>Beberapa taktik <em>build-up<\/em> Chelsea.<\/strong><\/figcaption><\/figure>\n<p>Di beberapa pertandingan awal memainkan 3-4-3, terlihat prinsip utama <em>build-up <\/em>Chelsea adalah melakukan progres bola melalui <em>halfspace <\/em>atau sayap kiri, baik melalui <em>HB <\/em>maupun GT terdekat, kepada Eden Hazard. Seperti yang terlihat di dalam animasi GIF di atas, Hazard memulai pergerakan dari <em>halfspace <\/em>kiri untuk kemudian ia menyesuaikan pergerakannya dengan pola sirkulasi dan progresi di lini bawah. Hazard bisa bergerak turun secara vertikal atau ia bisa bergerak diagonal ke koridor sayap.<\/p>\n<p>Untuk menciptakan ruang bagi <em>HB<\/em> kiri agar ia dapat melakukan progres bola ke Hazard, pemain-pemain Chelsea memancing fokus lawan dengan cara memainkan bola ke kanan, baik ke Azpilicueta di <em>halfspace <\/em>kanan atau Moses di tepi kanan, untuk kemudian mengalihkan bola ke sisi kiri, kepada <em>HB <\/em>sisi jauh yang \u201cbebas\u201d.<\/p>\n<p>Sampai Chelsea menghadapi Everton di pekan ke-11, baru tim asuhan Ronald Koeman tersebut yang terlihat \u201csadar\u201d akan pola ini. Everton membangun sebuah organisasi untuk memblokir <em>build-up <\/em>Chelsea di sisi kiri. The Toffees memainkan pergeseran horizontal blok pertahanan yang mana mereka segera meng-<em>overload <\/em>sisi kiri, di mana Hazard berada untuk menghambat dan menghentikan <em>build-up <\/em>Chelsea.<\/p>\n<figure id=\"attachment_5191\" aria-describedby=\"caption-attachment-5191\" style=\"width: 655px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5191 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/3-4.png\" alt=\"\" width=\"655\" height=\"415\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/3-4.png 655w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/3-4-350x222.png 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/3-4-600x380.png 600w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/3-4-560x355.png 560w\" sizes=\"(max-width: 655px) 100vw, 655px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5191\" class=\"wp-caption-text\"><strong>Everton memblokir akses ke Hazard.<\/strong><\/figcaption><\/figure>\n<p>Chelsea menyikapinya dengan tiga cara. Pertama, lebih banyak memainkan bola ke sisi kanan di mana Kante dan Azpilicueta berada. Kedua, Costa terlihat lebih banyak terlibat dengan turun menjemput bola di pos nomor 10 (area gelandang serang) dan nomor 8 di sekitar koridor tengah. Dan, ketiga, Hazard, yang memang memiliki kebebasan lebih dalam fase menyerang, menyesuaikan posisinya dengan cara bergerak jauh dari kiri ke koridor sayap kanan. Melalui cara ketiga inilah Chelsea mencetak gol keempat melalui kaki Eden Hazard sendiri.<\/p>\n<div style=\"width: 640px;\" class=\"wp-video\"><!--[if lt IE 9]><script>document.createElement('video');<\/script><![endif]-->\n<video class=\"wp-video-shortcode\" id=\"video-5188-1\" width=\"640\" height=\"360\" preload=\"metadata\" controls=\"controls\"><source type=\"video\/mp4\" src=\"https:\/\/d3ldtt2c6t0t08.cloudfront.net\/files\/nczohocpa5ccy\/2017\/05\/20\/GMIHZSMEGATRV2R7WUMISP336Q\/main_OUTPUT.tmp.mp4?_=1\" \/><a href=\"https:\/\/d3ldtt2c6t0t08.cloudfront.net\/files\/nczohocpa5ccy\/2017\/05\/20\/GMIHZSMEGATRV2R7WUMISP336Q\/main_OUTPUT.tmp.mp4\">https:\/\/d3ldtt2c6t0t08.cloudfront.net\/files\/nczohocpa5ccy\/2017\/05\/20\/GMIHZSMEGATRV2R7WUMISP336Q\/main_OUTPUT.tmp.mp4<\/a><\/video><\/div>\n<p><span style=\"font-size: 10pt;\"><strong>Gol keempat Chelsea ke gawang Everton<\/strong><\/span><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-5198 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/666213798.jpg\" alt=\"\" width=\"594\" height=\"392\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/666213798.jpg 594w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/666213798-341x225.jpg 341w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/666213798-576x380.jpg 576w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/666213798-560x370.jpg 560w\" sizes=\"(max-width: 594px) 100vw, 594px\" \/><\/p>\n<h3><strong>Marcos Alonso dan David Luiz sebagai alternatif progresi<\/strong><\/h3>\n<p>Bila lawan berhasil memblokir jalur umpan dari ketiga bek maupun kedua gelandang tengah ke lini serang, Thibaut Courtois akan memainkan umpan lambung ke depan. Alonso yang bermain sebagai bek sayap kiri merupakan sasaran umpan Courtois. Chelsea menggunakan Alonso sebagai jalan keluar dari <em>pressing <\/em>lawan.<\/p>\n<p>Dari bola lambung Courtois, Alonso akan melakukan <em>flick-on <\/em>sundulan. <em>Flick-on<\/em> yang ditujukan langsung kepada Hazard. Alternatif lainnya, bola dimainkan horizontal kepada Matic untuk kemudian Chelsea mencari akses progresi serangan.<\/p>\n<p>Kenapa Chelsea memilih Alonso, tentu ada beberapa (kemungkinan) logika taktik dibaliknya. Pertama, dibandingkan Moses, si bek sayap kanan, Alonso memiliki kemampuan duel udara lebih baik menilik dari postur badannya.<\/p>\n<p>Kedua, Chelsea memiliki Hazard yang dalam model serangan Conte menjadi pemain utama dalam prinsip progresi Chelsea dari sisi kiri. Sederhananya, Hazard merupakan andalan Conte dalam menciptakan akses serangan di sepertiga awal lawan. Dengan kehadiran Hazard di kiri, adalah wajar bila Conte berharap timnya dapat segera mengakses Hazard setelah perebutan (dan pemenangan) bola kedua hasil <em>flick-on <\/em>Alonso.<\/p>\n<p>Ketiga, Alonso berada di tepi lapangan. Bila Alonso gagal memenangkan duel udara atau Chelsea gagal mendapatkan bola kedua, ketiga dan seterusnya, paling tidak, bola masih berada di pinggir, bukan di area tengah yang secara strategis berpotensi menciptakan kerepotan lebih banyak bagi pertahanan Chelsea.<\/p>\n<p>Pilihan lain dalam <em>build-up<\/em> adalah memainkan bola ke sisi kanan yang mana Chelsea berusaha masuk ke dalam kotak penalti lawan melalui Pedro Rodriguez. Bila pilihan ini dinilai sulit digunakan, Diego Costa yang akan melibatkan diri dengan cara turun mendekat ke lini tengah untuk menciptakan opsi progresi.<\/p>\n<p>Salah satu cara Chelsea mencapai Costa, di koridor tengah, adalah\u00a0 dengan memainkan bola kepada bek sayap untuk kemudian bola dilambungkan atau diumpan mendatar diagonal dari tepi lapangan kepada Costa yang mengokupansi koridor tengah.<\/p>\n<p>Selain pola progresi yang beragam, kunci lain dalam <em>build-up <\/em>\u00a0Chelsea adalah peran lini belakang. Tentu saja, kita tidak lagi membicarakan bagaimana kedua <em>HB <\/em>Chelsea menciptakan koneksi dengan lini depan. Kali ini yang kita sorot adalah David Luiz dan kemampuan umpan jarak jauhnya.<\/p>\n<p>Walaupun lini belakang Chelsea tidak diberdayakan Conte untuk langsung mengakses lini terakhir (seperti Mats Hummels dan Jerome Boateng di Bayern Munchen), ada kalanya kemampuan umpan para bek Chelsea diperlukan untuk mengirimkan umpan kepada pemain terjauh.<\/p>\n<p>David Luiz yang kebetulan memiliki karakteristik permainan semacam ini, sering kita temui memainkan bola-bola panjang diagonal jauh ke depan menyasar kepada pemain yang mengokupansi koridor tepi lapangan.<\/p>\n<figure id=\"attachment_5192\" aria-describedby=\"caption-attachment-5192\" style=\"width: 865px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5192 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/4-4.png\" alt=\"\" width=\"865\" height=\"551\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/4-4.png 865w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/4-4-768x489.png 768w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/4-4-800x510.png 800w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/4-4-350x223.png 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/4-4-597x380.png 597w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/4-4-560x357.png 560w\" sizes=\"(max-width: 865px) 100vw, 865px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5192\" class=\"wp-caption-text\"><strong>Bola panjang diagonal David Luiz.<\/strong><\/figcaption><\/figure>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h3><strong>Peran GT dan BS dalam fase menyerang<\/strong><\/h3>\n<p>Kedua GT bergerak horizontal dan berorientasi sangat kuat kepada posisi bola. Begitu kuatnya orientasi keduanya terhadap posisi bola berada, Matic dan Kante bisa ditemukan berada dalam satu koridor <em>halfspace <\/em>yang sama. Di lain situasi, Matic bergeser ke koridor sayap sementara Kante berada di <em>halfspace <\/em>terdekat dan sebaliknya.<\/p>\n<p>Selain ikut mengalirkan bola langsung ke lini depan, ketika akses ke depan sulit didapatkan atau terlalu berisiko untuk ditempuh, kedua GT akan membantu peralihan horizontal dari satu sayap ke sayap lainnya. Dalam banyak situasi, kita bisa menemukan bahwa prinsip model peralihan dalam situasi semacam ini adalah dengan cara Chelsea memindahkan bola dari satu sisi ke sisi lapangan berbeda kepada <em>halfback <\/em>(<em>HB<\/em>) sisi jauh dari bola.<\/p>\n<figure id=\"attachment_5193\" aria-describedby=\"caption-attachment-5193\" style=\"width: 864px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5193 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/5.png\" alt=\"\" width=\"864\" height=\"552\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/5.png 864w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/5-768x491.png 768w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/5-800x511.png 800w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/5-350x225.png 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/5-595x380.png 595w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/5-560x358.png 560w\" sizes=\"(max-width: 864px) 100vw, 864px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5193\" class=\"wp-caption-text\"><strong>Peralihan bola dari HB sisi bola ke HB sisi jauh melalui kedua GT sebelum gol pertama Chelsea ke gawang Manchester United (Chelsea 4-0 United).<\/strong><\/figcaption><\/figure>\n<p>Peran lain kedua GT adalah memindahkan bola ke sisi berseberangan, langsung kepada pemain yang berada di koridor terjauh ketika <em>overload <\/em>Chelsea di sisi bola tidak menemukan akses progresi yang memadai. Siapa dari kedua GT yang dapat melakukannya, bergantung kepada siapa di antara keduanya yang memiliki kesempatan lebih baik untuk melakukannya.<\/p>\n<div style=\"width: 640px;\" class=\"wp-video\"><video class=\"wp-video-shortcode\" id=\"video-5188-2\" width=\"640\" height=\"360\" preload=\"metadata\" controls=\"controls\"><source type=\"video\/mp4\" src=\"https:\/\/d3ldtt2c6t0t08.cloudfront.net\/files\/nczohocpa5ccy\/2017\/05\/20\/Z274JRGRR2MBY4FJDOTUMO73KA\/main_OUTPUT.tmp.mp4?_=2\" \/><a href=\"https:\/\/d3ldtt2c6t0t08.cloudfront.net\/files\/nczohocpa5ccy\/2017\/05\/20\/Z274JRGRR2MBY4FJDOTUMO73KA\/main_OUTPUT.tmp.mp4\">https:\/\/d3ldtt2c6t0t08.cloudfront.net\/files\/nczohocpa5ccy\/2017\/05\/20\/Z274JRGRR2MBY4FJDOTUMO73KA\/main_OUTPUT.tmp.mp4<\/a><\/video><\/div>\n<p><span style=\"font-size: 10pt;\"><strong>Kante memindahkan bola kepada bek sayap sisi jauh.<\/strong><\/span><\/p>\n<p>Dalam potongan video di atas juga terlihat salah satu peran BS dalam model serangan Chelsea. BS sisi jauh mengambil posisi di koridor sayap jauh atau dalam situasi tertentu, ia mendekat ke <em>halfspace <\/em>di sisi jauh. Tujuannya jelas karena dengan berada di koridor terjauh, BS Chelsea sedang memecah konsentrasi lawan yang terbagi antara berfokus ke tengah sekaligus sayap. Juga, dengan berposisi di koridor terjauh, BS mendapatkan ruang lebih untuk mengontrol bola dan melakukan pergerakan eksplosif setelah menerima bola.<\/p>\n<p>Kalau Anda pernah mendengar atau membaca <em>\u201cbermainlah selebar mungkin saat menyerang\u201d<\/em>, struktur serang Chelsea dalam potongan video di atas merupakan contohnya.<\/p>\n<p>Apa peranan lain dari bek sayap Chelsea? Seperti yang Anda bisa lihat dalam animasi berformat GIF di bagian <em>\u201cSisi kiri Chelea dan Eden Hazard\u2026\u201d<\/em>, kedua BS membantu mengalirkan bola ke depan dengan cara mengokupansi koridor sayap dan membentuk pola berlian bersama <em>HB<\/em>, GT, dan penyerang.<\/p>\n<figure id=\"attachment_5194\" aria-describedby=\"caption-attachment-5194\" style=\"width: 848px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5194 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/6.jpg\" alt=\"\" width=\"848\" height=\"397\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/6.jpg 848w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/6-768x360.jpg 768w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/6-800x375.jpg 800w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/6-350x164.jpg 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/6-680x318.jpg 680w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/6-560x262.jpg 560w\" sizes=\"(max-width: 848px) 100vw, 848px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5194\" class=\"wp-caption-text\"><strong>Bek sayap dalam pola berlian.<\/strong><\/figcaption><\/figure>\n<p>Dalam situasi semacam ini, <em>HB <\/em>(Cahill atau Azpilicueta) merupakan pemain yang mendapatkan tugas utama melakukan progresi bola ke lini depan (menuju Hazard atau Pedro). Dikarenakan posisi antara <em>HB <\/em>dan Hazard yang kerap kali vertical karena berada di koridor <em>halfspace <\/em>yang sama, progres bola pun dilakukan menggunakan umpan vertikal.<\/p>\n<p>Beda halnya bila BS yang memperoleh tugas melakukan progresi. Karena jalur umpan antara si BS dengan Hazard yang sering kali diagonal, progresi serangan pun dilakukan menggunakan umpan diagonal, baik mendatar maupun melambung.<\/p>\n<p>Peranan lain BS Chelsea adalah kedua BS dilibatkan lebih banyak dalam eksekusi peluang ketimbang kedua GT. Gol Moses ke gawang Tottenham Hotspurs (2-1) dan gol Alonso ke gawang Everton (5-0) merupakan sedikit contoh dari keterlibatan BS Chelsea dalam eksekusi peluang.<\/p>\n<p>Selain tugas-tugas utama tersebut di atas, baik GT maupun BS Chelsea kerap memainkan taktik yang kurang diperhatikan. Apa itu? Baik GT maupun BS merupakan pemain-pemain yang membantu ketiga pemain depan Chelsea dalam mengendorkan atau melepaskan diri dari <em>pressing<\/em> lawan. Hazard sering kali memperlihatkannya. Taktik ini sederhana, tetapi berguna untuk (sedikit) menghemat tenaga.<\/p>\n<p>Perhatikan setelah pemain asal Belgia tersebut menerima umpan dalam GIF di bawah. Demi mengendorkan tekanan lawan, Hazard memainkan <em>lay-off <\/em>pendek kepada BS atau GT tedekat untuk kemudian ia bergerak mencari ruang yang lebih nyaman di sekitar <em>halfspace<\/em> untuk menerima bola kembali dan masuk lebih dalam ke pertahanan lawan.<\/p>\n<figure style=\"width: 480px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/\/media.giphy.com\/media\/t4s5ACgtRFFwQ\/giphy.gif\" alt=\"\" width=\"480\" height=\"306\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\"><strong>Bagaimana Hazard melepaskan diri dari <em>pressure<\/em> lawan.<\/strong><\/figcaption><\/figure>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-5199 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/682418744.jpg\" alt=\"\" width=\"594\" height=\"384\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/682418744.jpg 594w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/682418744-348x225.jpg 348w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/682418744-588x380.jpg 588w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/682418744-560x362.jpg 560w\" sizes=\"(max-width: 594px) 100vw, 594px\" \/><\/p>\n<h3><strong>Lini depan<\/strong><\/h3>\n<p>Selain organisasi permainan yang jelas, rapi, dan tereksekusi dengan pas, kehadiran trio penyerang dalam sistem Conte menjadi kunci dalam penetrasi Chelsea di sepertiga akhir. Ketimbang pergerakan pemain-pemain Chelsea lainnya, pergerakan ketiga pemain terdepan terlihat lebih \u201cbebas\u201d.<\/p>\n<p>Ada kalanya ketiganya mengokupansi masing-masing <em>halfspace <\/em>dan area tengah, ada kalanya dua dari tiga penyerang masuk ke <em>halfspace <\/em>yang sama lalu ada saatnya juga mereka berposisi sangat lebar dan agak berjauhan satu sama lain. Dan dari ketiganya, Eden Hazard merupakan pemain yang diberikan kebebasan lebih, baik dalam <em>build-up <\/em>hingga ke fase eksekusi.<\/p>\n<p>Pedro dan Hazard, di masing-masing <em>halfspace<\/em>, sering kali menciptakan kombinasi permainan untuk menciptakan akses menuju kotak penalti lawan. Dari kombinasi-kombinasi yang dilakukan keduanya dengan pemain-pemain lain, Chelsea terlihat sangat sedikit mengandalkan umpan silang melambung dalam proses penciptaan peluang.<\/p>\n<p>Pemain lain di lini depan adalah Diego Costa. Bekas pemain Atletico Madrid ini berhasil menemukan dirinya kembali. Musim sebelumnya, ia sempat dianggap \u201chilang\u201d dan tidak berkontribusi sama sekali \u00a0terhadap permainan. Musim ini, Costa kembali ke jajaran elite dan memperlihatkan permainan yang sangat-sangat berguna bagi The Blues.<\/p>\n<p>Dalam fase bertahan, Costa kerap terlihat mengisi sayap kiri yang ditinggalkan Hazard. Dalam fase penguasaan bola, ia juga ikut menjemput bola hingga ke pos nomor 10 dan nomor 8. Kemampuan lainnya yang sangat berguna adalah Costa mampu mempertahankan penguasaan bola di dalam ruang sesak (di bawah <em>pressure <\/em>lawan) untuk kemudian bergerak dengan sangat cepat ke arah gawang lawan.<\/p>\n<p>Gol kelima Chelsea, oleh Pedro, ketika menghadapi Everton menjadi contoh. Memasuki menit ke-65, David Luiz mengirimkan umpan lambung ke lingkaran tengah kepada Costa. Dalam posisi yang dijaga ketat (bahkan terjepit) oleh Phil Jagielka dan Gareth Barry, plus <em>backward-press <\/em>(<em>press <\/em>ke arah belakang atau ke arah gawang sendiri) dari Ross Barkley, Costa yang sedikit membelakangi gawang lawan mampu memutar tubuhnya dan melewati jepitan Jagielka untuk kemudian bergerak vertikal sampai ke kotak penalti Everton.<\/p>\n<div style=\"width: 640px;\" class=\"wp-video\"><video class=\"wp-video-shortcode\" id=\"video-5188-3\" width=\"640\" height=\"360\" preload=\"metadata\" controls=\"controls\"><source type=\"video\/mp4\" src=\"https:\/\/d3ldtt2c6t0t08.cloudfront.net\/files\/nczohocpa5ccy\/2017\/05\/20\/DBKDRE5R43BCZ5S5VGOGVXLN4M\/main_OUTPUT.tmp.mp4?_=3\" \/><a href=\"https:\/\/d3ldtt2c6t0t08.cloudfront.net\/files\/nczohocpa5ccy\/2017\/05\/20\/DBKDRE5R43BCZ5S5VGOGVXLN4M\/main_OUTPUT.tmp.mp4\">https:\/\/d3ldtt2c6t0t08.cloudfront.net\/files\/nczohocpa5ccy\/2017\/05\/20\/DBKDRE5R43BCZ5S5VGOGVXLN4M\/main_OUTPUT.tmp.mp4<\/a><\/video><\/div>\n<p><strong>Costa mengelabui <em>pressure <\/em>Jagielka dan Barry<\/strong><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-5200 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/664959908.jpg\" alt=\"\" width=\"594\" height=\"424\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/664959908.jpg 594w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/664959908-315x225.jpg 315w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/664959908-532x380.jpg 532w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/664959908-560x400.jpg 560w\" sizes=\"(max-width: 594px) 100vw, 594px\" \/><\/p>\n<h3><strong>Orientasi dan sikap <em>pressing <\/em>dalam sistem pertahanan<\/strong><\/h3>\n<p>Seperti yang disebutkan di atas, Chelsea memainkan <em>pressing <\/em>zona dengan sub-orientasi <em>pressing <\/em>kepada posisi pemain lawan (<em>man-oriented zonal press<\/em>) yang dikombinasi dengan beberapa sub-orientasi lain, seperti <em>space <\/em>(ruang) dan <em>option <\/em>(opsi).<\/p>\n<p>Menghadapi lawan yang mengandalkan <em>build-up <\/em>terstruktur dari lini belakang, anak asuh Conte memainkan <em>pressing <\/em>blok tinggi. Costa ditemani Pedro dan Hazard mengisi lini pertama <em>pressing<\/em> disokong oleh empat pemain di lini kedua dengan struktur posisional yang dipengaruhi oleh orientasi <em>pressing<\/em> Chelsea.<\/p>\n<p>Menghadapi tim yang bermain lebih langsung (<em>direct<\/em>), seperti Manchester United, misalnya, Chelsea memilih untuk lebih cepat masuk ke blok menengah dan membiarkan Costa sendiri di lini depan. Dalam blok medium seperti ini, <em>pressing <\/em>Chelsea berbentuk 5-4-1.<\/p>\n<figure id=\"attachment_5195\" aria-describedby=\"caption-attachment-5195\" style=\"width: 866px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5195 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/7.png\" alt=\"\" width=\"866\" height=\"552\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/7.png 866w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/7-768x490.png 768w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/7-800x510.png 800w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/7-350x223.png 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/7-596x380.png 596w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/7-560x357.png 560w\" sizes=\"(max-width: 866px) 100vw, 866px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5195\" class=\"wp-caption-text\"><strong><em>Pressing<\/em> Chelsea di tepi lapangan.<\/strong><\/figcaption><\/figure>\n<p>Sub-orientasi pada ruang (<em>space-oriented<\/em>) bisa ditemui, paling sering, pada bagaimana perilaku <em>pressing <\/em>Costa. Dalam blok medium dan rendah, pemain berdarah Brasil ini lebih banyak berjaga di sekitar pos nomor 6 lawan. Seringkali, ia hanya bereaksi saat lawan dan bola betul-betul berada dekat dengan posisinya. Khusus dalam situasi di atas, penempatan posisi Kante juga mengindikasikan <em>space-oriented.<\/em><\/p>\n<p>Seperti kebanyakan sistem pertahanan pada umumnya, mendorong lawan ke tepi lapangan juga merupakan rencana awal Chelsea. Setelah bola bergeser ke sayap, blok <em>pressing <\/em>Chelsea juga bergeser secara kolektif, dengan orientasi awal kepada letak bola (<em>ball-oriented<\/em>), menutup tiga koridor vertikal terdekat. BS sisi jauh (nomor 15) berada sedikit lebih jauh dengan ketiga BT dikarenakan dirinya harus mengawasi pemain sayap lawan (nomor 11) yang berada di sisi jauh.<\/p>\n<p>BS atau gelandang sayap (GS) sisi bola melakukan <em>press <\/em>kepada penerima bola yang berada di tepi lapangan. Bila BS yang melakukan <em>press<\/em>, secara otomatis, akan ada jarak yang tercipta di antara BS dan <em>HB<\/em>. Idealnya, dalam pola 3 bek, pemain yang menutup atau melindungi celah ini adalah gelandang sayap (GS) atau GT terdekat. Ini pula yang dilakukan oleh Antonio Conte.<\/p>\n<p>Bila memungkinkan, ketiga BT tetap pada tempatnya melindungi lini belakang di depan kiper. Kedua GT atau GS yang berperan dalam menutup celah yang ditinggalkan oleh BS. Di dalam banyak blok rendah, adalah GT yang mengisi celah yang dimaksud. Karena, seringkali, GS harus menempuh jarak lebih jauh ketimbang GT ketika blok <em>pressing <\/em>melakukan transisi dari blok medium ke blok rendah.<\/p>\n<figure style=\"width: 200px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/media.giphy.com\/media\/rarCiV6a0HFsI\/200w_d.gif\" alt=\"\" width=\"200\" height=\"128\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\"><strong><em>Pressing<\/em> blok rendah Chelsea.<\/strong><\/figcaption><\/figure>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-5201 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/673437020.jpg\" alt=\"\" width=\"594\" height=\"384\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/673437020.jpg 594w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/673437020-348x225.jpg 348w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/673437020-588x380.jpg 588w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/673437020-560x362.jpg 560w\" sizes=\"(max-width: 594px) 100vw, 594px\" \/><\/p>\n<h3><strong>Celah dalam pertahanan Chelsea<\/strong><\/h3>\n<p>Tidak ada sistem sempurna tanpa ada celah sama sekali. Begitu pula sistem pertahanan Chelsea. Hanya saja, celah dalam pertahanan Chelsea lebih dikarenakan oleh kelemahan alami formasi mereka serta konsekuensi yang harus diambil oleh Conte.<\/p>\n<p>Kita mulai dari konsekuensi taktik yang diambil Conte dalam membangun sistem pertahanannya. Intensitas <em>pressing<\/em> Hazard dan Costa mengindikasikan Conte tidak memberikan beban terlalu besar kepada keduanya dalam fase bertahan. Intensitas <em>backward-press <\/em>(pergerakan <em>pressing <\/em>ke belakang) kedua pemain yang tidak setinggi pemain-pemain lain mengindikasikan hal tersebut.<\/p>\n<p>Pada gilirannya, hal ini menimbulkan konsekuensi pada kerapatan struktural dalam <em>pressing <\/em>Chelsea. Terutama Hazard, kurangnya intensitas <em>backward-pressing <\/em>Hazard untuk melindungi ruang di sebelah GT merupakan salah satu celah yang dapat dieksploitasi lawan. Tottenham memperlihatkan bagaimana memanfaatkan celah ini ketika Delle Alli memborong dua gol kemenangaan Tottenham kala menjamu Chelsea di White Hart Lane.<\/p>\n<p>Konsekuensi ini sangat bisa dipahami dan ini bukan soal Chelsea menjadi juara. Hal ini dikarenakan Conte tidak ingin keduanya kehabisan energi karena diforsir dalam semua fase permainan. Dengan beban dan kebebasan dalam fase serang, adalah wajar bila Conte mengurangi beban Costa dan Hazard dalam fase tanpa bola.<\/p>\n<p>Celah lain dalam pertahanan Chelsea dikarenakan oleh kelemahan alami dari pola 5-4-1 yang dipakai Conte. Dengan 5-4-1, sebuah tim tidak memiliki \u201cnomor 6 (gelandang bertahan) tetap\u201d. Karena ketiadaan \u201cnomor 6 tetap\u201d, perlindungan ruang antarlini di depan bek tengah pun secara alami kurang optimal. Berbeda dengan Tottenham, misalnya. Mauricio Pocchettino meletakkan Victor Wanyama di belakang Christian Eriksen dan Moussa Dembele dalam pola dasar 4-1-4-1 ketika bertahan.<\/p>\n<p>Namun, bila Chelsea, katakanlah, memainkan \u201cnomor 6 paten\u201d menggunakan pola 5-1-4 untuk melindungi ruang di depan bek, tentu saja mereka kehilangan pemain di lini depan. Yang pada gilirannya, mengakibatkan pada berkurangnya intensitas dalam serangan balik.<\/p>\n<p>Lantas, bagaimana Conte menanggulangi kelemahan semacam ini? Dalam hal inilah kehadiran 3 bek menjadi sangat bermanfaat. Dengan keberadaan 3 bek, Anda bisa memerintahkan salah satu bek (dengan akses terdekat) bergerak ke celah antarlini untuk mengurangi kemungkinan lawan mengeksploitasinya. Dalam pola 3 bek, ketika salah satu pemain meninggalkan posnya, masih ada dua pemain untuk melindungi lini belakang. Sesuatu yang tidak kita temui ketika memainkan bentuk dua bek tengah.<\/p>\n<figure id=\"attachment_5196\" aria-describedby=\"caption-attachment-5196\" style=\"width: 843px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5196 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/8.jpg\" alt=\"\" width=\"843\" height=\"364\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/8.jpg 843w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/8-768x332.jpg 768w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/8-800x345.jpg 800w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/8-350x151.jpg 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/8-680x294.jpg 680w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/8-560x242.jpg 560w\" sizes=\"(max-width: 843px) 100vw, 843px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5196\" class=\"wp-caption-text\"><strong>Alli mengisi ruang antarlini Chelsea. Untuk lebih jelas, perhatikan video di bawah.<\/strong><\/figcaption><\/figure>\n<div style=\"width: 640px;\" class=\"wp-video\"><video class=\"wp-video-shortcode\" id=\"video-5188-4\" width=\"640\" height=\"360\" preload=\"metadata\" controls=\"controls\"><source type=\"video\/mp4\" src=\"https:\/\/d3ldtt2c6t0t08.cloudfront.net\/files\/nczohocpa5ccy\/2017\/05\/20\/S3NAA3PQCBOVW4PT2YK2ZJW4OM\/main_OUTPUT.tmp.mp4?_=4\" \/><a href=\"https:\/\/d3ldtt2c6t0t08.cloudfront.net\/files\/nczohocpa5ccy\/2017\/05\/20\/S3NAA3PQCBOVW4PT2YK2ZJW4OM\/main_OUTPUT.tmp.mp4\">https:\/\/d3ldtt2c6t0t08.cloudfront.net\/files\/nczohocpa5ccy\/2017\/05\/20\/S3NAA3PQCBOVW4PT2YK2ZJW4OM\/main_OUTPUT.tmp.mp4<\/a><\/video><\/div>\n<p><span style=\"font-size: 10pt;\"><strong>Gary Cahill naik melindungi pos nomor 6.<\/strong><\/span><\/p>\n<h3><strong>Penutup<\/strong><\/h3>\n<p>Antonio Conte kembali sukses memainkan 3 bek setelah sebelumnya sukses besar bersama Juventus dan cukup sukses di Piala Eropa 2016 bersama timnas Italia.<\/p>\n<p>Kali ini, giliran Chelsea dibawanya menjadi juara Liga Inggris. Kelancaran para pemain Chelsea memainkan 3 bek sejak pertama kali dipakai memperlihatkan bahwa Conte sangat paham akan segala kelebihan dan keterbatasan formasi ini.<\/p>\n<p>Musim depan akan menjadi musim yang lebih menantang. Chelsea berlaga di Liga Champions yang juga berarti, potensi cedera dan kelelahan pemain meningkat. Juga berarti mengurangi kemungkinan Conte untuk secara konsisten memainkan<em> winning team<\/em> dari pekan ke pekan. Patut ditunggu bagaimana eks pelatih Bari ini menghadapi tantangan besar yang sudah menanti musim depan.<\/p>\n<p>Author: <em>Ryan Tank (<a class=\"ProfileHeaderCard-screennameLink u-linkComplex js-nav\" href=\"https:\/\/twitter.com\/ryantank100\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><span class=\"username u-dir\" dir=\"ltr\">@<b class=\"u-linkComplex-target\">ryantank100<\/b><\/span><\/a>)<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejak kemenangan 4-0 atas Manchester United, permintaan analisis taktik Chelsea meningkat. Ditambah kemenangan The Blues atas Tottenham Hotspur dan Manchester City, permintaan serupa semakin bertambah. Sejauh ini, permintaan analisis taktik Chelsea 2016\/2017 merupakan permintaan terbanyak yang pernah saya terima. Kebetulan, bersama TSG Hoffenheim dan FC Rostov, sistem Chelsea merupakan salah satu sistem yang saya pakai sebagai referensi memainkan 3 bek dalam tim. Apa saja yang bisa kita jadikan pelajaran? NB: Ada beberapa singkatan untuk penulisan peran atau posisi pemain di artikel berikut yang penulis gunakan untuk mempermudah pembaca memahami konteks. Formasi atau bentuk dasar Dalam membicarakan pola (bentuk) permainan, fase permainan merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk dilibatkan. &hellip; <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/21\/analisis-taktik-chelsea-2016-2017\/\" class=\"tribe-more-link\">Continue reading &#8220;Analisis Taktik Chelsea Musim 2016\/2017&#8221;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":5202,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3018],"tags":[1008,134,286,129,122],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v22.8 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Analisis Taktik Chelsea Musim 2016\/2017 | Football Tribe Indonesia<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Sejauh ini, permintaan analisis taktik Chelsea 2016\/2017 merupakan permintaan terbanyak yang pernah penulis terima. Simak selengkapnya pada artikel ini!\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/21\/analisis-taktik-chelsea-2016-2017\/\" \/>\n<link rel=\"next\" href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/21\/analisis-taktik-chelsea-2016-2017\/2\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Analisis Taktik Chelsea Musim 2016\/2017 | Football Tribe Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Sejauh ini, permintaan analisis taktik Chelsea 2016\/2017 merupakan permintaan terbanyak yang pernah penulis terima. Simak selengkapnya pada artikel ini!\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/21\/analisis-taktik-chelsea-2016-2017\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Football Tribe Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"http:\/\/facebook.com\/footballtribeindonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-05-21T02:43:48+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-02-27T06:13:26+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/683775422.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"594\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"400\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"tribeindonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@footballtribeid\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@footballtribeid\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"tribeindonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"16 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/21\/analisis-taktik-chelsea-2016-2017\/\",\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/21\/analisis-taktik-chelsea-2016-2017\/\",\"name\":\"Analisis Taktik Chelsea Musim 2016\/2017 | Football Tribe Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/21\/analisis-taktik-chelsea-2016-2017\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/21\/analisis-taktik-chelsea-2016-2017\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/683775422.jpg\",\"datePublished\":\"2017-05-21T02:43:48+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-27T06:13:26+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\"},\"description\":\"Sejauh ini, permintaan analisis taktik Chelsea 2016\/2017 merupakan permintaan terbanyak yang pernah penulis terima. Simak selengkapnya pada artikel ini!\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/21\/analisis-taktik-chelsea-2016-2017\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/21\/analisis-taktik-chelsea-2016-2017\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/683775422.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/683775422.jpg\",\"width\":594,\"height\":400},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/\",\"name\":\"Football Tribe Indonesia\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\",\"name\":\"tribeindonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"tribeindonesia\"},\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/author\/tribeindonesia\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Analisis Taktik Chelsea Musim 2016\/2017 | Football Tribe Indonesia","description":"Sejauh ini, permintaan analisis taktik Chelsea 2016\/2017 merupakan permintaan terbanyak yang pernah penulis terima. Simak selengkapnya pada artikel ini!","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/21\/analisis-taktik-chelsea-2016-2017\/","next":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/21\/analisis-taktik-chelsea-2016-2017\/2\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Analisis Taktik Chelsea Musim 2016\/2017 | Football Tribe Indonesia","og_description":"Sejauh ini, permintaan analisis taktik Chelsea 2016\/2017 merupakan permintaan terbanyak yang pernah penulis terima. Simak selengkapnya pada artikel ini!","og_url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/21\/analisis-taktik-chelsea-2016-2017\/","og_site_name":"Football Tribe Indonesia","article_publisher":"http:\/\/facebook.com\/footballtribeindonesia","article_published_time":"2017-05-21T02:43:48+00:00","article_modified_time":"2018-02-27T06:13:26+00:00","og_image":[{"width":594,"height":400,"url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/683775422.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"tribeindonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@footballtribeid","twitter_site":"@footballtribeid","twitter_misc":{"Written by":"tribeindonesia","Est. reading time":"16 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/21\/analisis-taktik-chelsea-2016-2017\/","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/21\/analisis-taktik-chelsea-2016-2017\/","name":"Analisis Taktik Chelsea Musim 2016\/2017 | Football Tribe Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/21\/analisis-taktik-chelsea-2016-2017\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/21\/analisis-taktik-chelsea-2016-2017\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/683775422.jpg","datePublished":"2017-05-21T02:43:48+00:00","dateModified":"2018-02-27T06:13:26+00:00","author":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3"},"description":"Sejauh ini, permintaan analisis taktik Chelsea 2016\/2017 merupakan permintaan terbanyak yang pernah penulis terima. Simak selengkapnya pada artikel ini!","inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/21\/analisis-taktik-chelsea-2016-2017\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/21\/analisis-taktik-chelsea-2016-2017\/#primaryimage","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/683775422.jpg","contentUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/683775422.jpg","width":594,"height":400},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/","name":"Football Tribe Indonesia","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3","name":"tribeindonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g","caption":"tribeindonesia"},"url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/author\/tribeindonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5188"}],"collection":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5188"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5188\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5202"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5188"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5188"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5188"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}