{"id":48592,"date":"2020-12-09T08:38:25","date_gmt":"2020-12-09T01:38:25","guid":{"rendered":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?p=48592"},"modified":"2020-12-31T04:48:12","modified_gmt":"2020-12-30T21:48:12","slug":"formasi-koeman-di-barcelona","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/12\/09\/formasi-koeman-di-barcelona\/","title":{"rendered":"Menakar Kemanjuran Formasi Koeman di Barcelona"},"content":{"rendered":"<p>Barcelona tergelincir ke jurang krisis di awal musim ini, dan formasi 4-2-3-1 yang diusung Ronald Koeman sejauh ini tengah menjadi sorotan dan perhatian lebih. Formasi ini sekilas bisa dipandang sebagai pembaruan revolusioner yang bisa menggusur formasi 4-3-3 <em>El Bar\u00e7a<\/em> yang sudah <em>saklek <\/em>sejak lama. Akan tetapi, apakah peralihan strategi ini sudah tepat dan bijak?<\/p>\n<p>La Liga 2020\/2021 baru saja menyelesaikan <em>jornada<\/em> ke-12 dan Barcelona masih terdampar di posisi kesembilan dengan mengumpulkan 14 poin.<\/p>\n<p>Teranyar Lionel Messi dan kawan-kawan dipecundangi tim promosi Cadiz 2-1 pada Minggu (6\/12) dini hari WIB. Meski masih menyisakan dua laga sisa, anak asuh Ronald Koeman saat ini terpaut 12 poin dari pemuncak klasemen sementara, Atletico Madrid.<\/p>\n<p>Sebelum jeda internasional kedua musim ini, Barcelona bahkan sempat terlempar ke posisi ke-13 di klasemen dengan hanya mengumpulkan 11 poin dari jumlah delapan laga. Ini adalah pencapaian terburuk klub di abad ke-21. Rekor terburuk sebelumnya datang di musim 2002\/2003 dan 2003\/2004 di mana mereka hanya mengumpulkan 12 poin dari delapan laga.<\/p>\n<p>Banyak pihak yang mewajarkan hal ini dan menilai tim sedang menjalani masa transisi dan reformasi. Bisa jadi ini soal trauma runtutan kekalahan memalukan di ajang Liga Champions yang masih membekas, dan ada pula yang mengaitkannya dengan komunikasi yang tak sehat antara para pemain dengan jajaran direksi klub.<\/p>\n<p>Namun seperti yang dikatakan di awal tadi, formasi 4-2-3-1 Koeman di Barcelona mendapatkan porsi lebih untuk dikupas lebih dalam di artikel ini.<\/p>\n<p>Meski sedikit mulus di babak grup Liga Champions 2020\/21, kekalahan 0-3 dari Juventus Rabu (9\/12) dini hari WIB malah semakin membuat kita bertanya-tanya seberapa manjur penerapan pakem baru formasi Koeman di Barcelona saat ini?<\/p>\n<p>Perbedaan paling mendasar dari peralihan formasi 4-3-3 khas <em>El Bar\u00e7a\u00a0<\/em>ke formasi 4-2-3-1 pilihan Koeman adalah dimainkannya <em>double pivot<\/em> alih-alih <em>single pivot.<\/em> Sesuatu yang tak pernah <em>Blaugrana<\/em> lakukan sebelumnya.<\/p>\n<p>Setidaknya selama menyaksikan mereka melalui layar kaca sejak belasan tahun lalu, saya belum pernah menyaksikan FC Barcelona mengadopsi formasi 4-2-3-1.<\/p>\n<p>Barcelona memang pernah mengadopsi formasi 3-4-3 di musim keempat Pep Guardiola. Namun, formasi itu diterapkan dengan satu catatan yang sifatnya prinsipil: <em>El Bar\u00e7a<\/em> harus memainkan seorang pivot saja di lini tengah.<\/p>\n<p>Salah satu alasan formasi 4-2-3-1 diadopsi Koeman di Barcelona karena dengan <em>double pivot<\/em> ia mampu mengoptimalkan potensi bintang muda Belanda, Frenkie de Jong, yang baru semusim merumput di Camp Nou.<\/p>\n<p>Di konferensi pers pertamanya Koeman menyentil para pelatih <em>Blaugrana<\/em> sebelumnya, Ernesto Valverde dan Quique Setien, yang tidak memainkan de Jong pada posisi yang ideal seperti yang dilakukannya di Timnas Belanda.<\/p>\n<p>Dalam catatan saya, terdapat tiga masalah besar yang mengganggu atas diterapkannya formasi Koeman di Barcelona saat ini.<\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/01\/11\/serba-serbi-ronald-koeman\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ronald Koeman, De Grote Drie, dan Serba Serbi Dirinya<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h3>Satu Kapal, Dua Nakhoda<\/h3>\n<p>Dengan diterapkannya pakem <em>double pivot<\/em>, Barcelona seakan-akan memiliki dua nakhoda di lini tengah dalam diri Sergio Busquets dan Frenkie de Jong. Mereka menjadi dua otak utama dalam setiap permainan. Permasalahannya, <em>Blaugrana<\/em> terbiasa tampil dengan <em>single pivot<\/em> saja dan Busquets selalu menjadi pusat permainan serta penentu arah dan tempo serangan.<\/p>\n<p>Mantan pelatih Timnas Spanyol, Vicente del Bosque, pernah mendeskripsikan Busquets dengan cermat. \u201cApabila kamu menyaksikan pertandingannya, kamu tak akan melihat Busquets. Namun, apabila kamu menyaksikan Busquets, kamu akan melihat pertandingannya secara keseluruhan.\u201d Dengan kata yang sederhana, Busquets adalah napas permainan tim yang dibelanya.<\/p>\n<p>Sejak dipromosikan oleh Pep ke tim utama di akhir dekade 2010-an, Busquets selalu menjadi andalan untuk mengorkestrasi permainan dari barisan tengah. Ia hampir tak tergantikan ketika sedang benar-benar fit 100%.<\/p>\n<p>Sekarang, setelah diduetkan dengan Frenkie, ia kerap kebingungan, seperti yang ditunjukkannya di awal musim ini. Ia merasa masih canggung dengan peran barunya dan harus beradaptasi dengan sistem yang tak pernah dikenalnya sejak lama, bahkan mungkin sejak menginjakan kaki di akademi La Masia. Alhasil, performa Busquets sejauh ini menurun.<\/p>\n<p>Selain belum terbiasa dengan sistem <em>double pivot<\/em>, Busquets sudah menua dan memang performanya diklaim menurun dalam beberapa tahun terakhir ini. Sementara bagi Frenkie, selain masih muda, ia sudah terbiasa dengan pakem dua DMF dan formula ini disokong sepenuhnya oleh formasi Koeman di Barcelona.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-large wp-image-48596\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/12\/Sergio-Busquets-800x500.png\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"500\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/12\/Sergio-Busquets-800x500.png 800w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/12\/Sergio-Busquets-400x250.png 400w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/12\/Sergio-Busquets-250x156.png 250w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/12\/Sergio-Busquets-140x87.png 140w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/12\/Sergio-Busquets-560x350.png 560w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<h3>Ketiadaan pola <em>diamond<\/em> dan &#8216;segitiga&#8217; saat melakukan <em>build-up<\/em><\/h3>\n<p>Sejak direvolusi oleh Guardiola, Barcelona selalu mengawali <em>build-up<\/em> permainan dari lini paling belakang, yakni penjaga gawang. Dua bek sayap melebar jauh ke sisi terluar lapangan, nyaris menyentuh garis. Dua bek tengah melebar ke samping agar tersedia ruang terbuka di tengah bagi seorang defensive midfielder, biasanya Busquets, untuk meminta bola.<\/p>\n<p>Apabila kita tarik garis dari posisi kiper ke dua bek tengah di kiri dan kanan, lalu ke gelandang bertahan yang sejajar secara vertikal dengan penjaga gawang di depan dua bek tengah tadi, maka kita akan melihat pola <em>diamond<\/em>. Pola ini kemudian bisa kita bagi lagi ke bagian terkecil, yakni pola segitiga.<\/p>\n<p>Dalam bentuk <em>diamond<\/em>, terdapat setidaknya empat probabilitas terciptanya pola segitiga:<\/p>\n<ul>\n<li>antara kiper dengan kedua bek tengah,<\/li>\n<li>antara kedua bek tengah dengan satu gelandang bertahan,<\/li>\n<li>antara kiper, satu gelandang bertahan dan satu bek tengah di sebelah kanan,<\/li>\n<li>antara kiper, satu gelandang bertahan, dan satu bek tengah di sebelah kiri.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Akan tetapi dengan formasi 4-2-3-1 di bawah asuhan Koeman pola <em>diamond<\/em> itu tidak terlihat lagi karena jumlah gelandang bertahan menjadi dua pemain. Konsekuensinya, pola-pola segitiga di atas juga hilang.<\/p>\n<p>Di atas kertas, yang ada adalah pemain <em>double pivot<\/em> (Busquets dan Frenkie) berada sejajar dengan dua bek secara vertikal. Alih-alih segitiga, polanya kali ini menjadi persegi. Formula ini menghambat proses pembangunan serangan.<\/p>\n<p>Kalaupun dua bek tengah melebar dan <em>double pivot<\/em> meminta bola dari kiper, alur operan menuju <em>double pivot<\/em> sering kali terlebih dulu ditutup oleh lawan yang memainkan dua striker yang ditugaskan untuk melakukan <em>pressing<\/em> tinggi. Solusinya sejauh ini adalah ketika bola sudah dikuasai bek tengah, alur <em>build-up<\/em> diarahkan ke arah bek sayap.<\/p>\n<p>Jalan keluar lainnya sering kali adalah salah satu dari gelandang bertahan berinisiatif meminta bola ke area lebih tengah (sejajar vertikal dengan kiper) sedangkan satu lainnya mencari ruang kosong di area lain.<\/p>\n<p>Dengan demikian, cara kerja <em>build-up-<\/em>nya sebetulnya sama saja seperti ketika bermain dengan<em> single pivot<\/em>. Ujung-ujungnya penerapan strategi <em>double pivot<\/em> jadi tak berarti.<\/p>\n<p>Permasalahan yang tak kalah ruwet adalah ketika salah satu dari <em>double pivot<\/em> harus memutuskan siapa yang harus menjorok ke dalam untuk meminta bola dari kiper atau bek. Dalam hal ini, Sergio Busquets sering kali kebingungan dan canggung karena pola permainan ini tidak familiar baginya.<\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/04\/10\/masalah-yang-jarang-diperhatikan-pelatih\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Tribe Tank: Analisis Masalah yang Jarang Diperhatikan Para Pelatih dan Tips untuk Solusi yang Tepat<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h3>Mengubah formasi 4-2-3-1 menjadi 4-3-3 ketika kepepet<\/h3>\n<p>Barcelona boleh berbangga hati bisa membantai tim-tim semenjana seperti Ferencv\u00e1rosi, Real Betis, dan Villarreal dengan skor besar. Namun, mereka sering kali kelabakan menghadapi tim-tim tangguh yang punya <em>plan<\/em> brilian saat bertanding, seperti Getafe, Sevilla, dan musuh bebuyutan, Real Madrid.<\/p>\n<p>Koeman pun seperti setengah menyadari kalau formasi pilihannya di Barcelona, 4-2-3-1, tidak berjalan begitu baik saat menghadapai tim-tim tersebut. Sebagai bukti, ketika timnya berada dalam posisi tertinggal dan kepepet, ia selalu mengubahnya ke formasi 4-3-3.<\/p>\n<p>Biasanya Koeman melakukannya dengan menarik keluar Busquets sekitar 20-10 menit menuju peluit akhir dan menggantinya dengan pemain bertipe menyerang. Sedangkan posisi <em>single pivot<\/em> diserahkan kepada Frenkie de Jong.<\/p>\n<p>Saat El Clasico misalnya, Koeman merombak pola permainan nyaris habis-habisan sejak menit ke-80 saat Barcelona tertinggal 2-1. Bar\u00e7a memainkan lima pemain bertipe penyerang sekaligus: Messi, Griezmann, Dembele, Coutinho, dan Trinc\u00e3o. Hanya saja, ia tak menerapkan formasi 4-2-3-1 lagi, namun lebih ke 4-1-2-3. Busquets ditarik keluar.<\/p>\n<p>Frenkie diinstruksikan bermain lebih melebar dan menyerang, menyerupai posisi Andres Iniesta. Lalu, siapa yang mengisi posisi <em>defensive midfielder<\/em> dalam formula <em>single pivot<\/em> ini? Coutinho!<\/p>\n<p>Sulit untuk menerka-nerka ide apa yang hendak Koeman terapkan dengan formulasi amburadul ini. Akhirnya, Luka Modric menghukumnya dengan menambah keunggulan <em>El Real<\/em> menjadi 3-1 di masa <em>injury time<\/em> yang sekaligus menutup pertandingan.<\/p>\n<p>Begitu pula ketika kalah tipis 1-0 melawan Getafe dan ditahan imbang 1-1 oleh Sevilla. Formulasi <em>single pivot <\/em>baru diterapkan ketika <em>Blaugrana<\/em> hendak mengejar ketertinggalan. Hal ini mengimplikasikan dua hal.<\/p>\n<p>Pertama, tidak mulusnya penerapan formasi 4-2-3-1 dan kedua, tidak siapnya beberapa pemain Barcelona (terutama Busquets) untuk beralih ke formasi yang basisnya berbeda dengan apa yang dianut Bar\u00e7a sebelum Koeman mengambil alih kursi kepelatihan.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-large wp-image-48595\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/12\/Barcelona-2020-21-800x500.png\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"500\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/12\/Barcelona-2020-21-800x500.png 800w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/12\/Barcelona-2020-21-400x250.png 400w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/12\/Barcelona-2020-21-250x156.png 250w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/12\/Barcelona-2020-21-140x87.png 140w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/12\/Barcelona-2020-21-560x350.png 560w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<h3>Jadi, sudah tepatkah formasi Koeman di Barcelona saat ini?<\/h3>\n<p>Jawabannya, tidak. Setidaknya sejauh ini, formasi 4-2-3-1 pilihan Koeman tidak berjalan sebagaimana mestinya terutama ketika Barcelona harus menghadapi lawan-lawan kuat.<\/p>\n<p>Sebagai penonton layar kaca, kita barangkali bisa menilai dan memahami kalau apa yang sedang dilakukan Koeman saat ini adalah semacam reformasi untuk mengangkat derajat <em>Blaugrana<\/em> kembali dari keterpurukkan dalam beberapa tahun terakhir.<\/p>\n<p>Hanya saja, dalam pandangan saya, perubahan dasar yang prinsipil dari <em>single pivot<\/em> ke <em>double pivot<\/em> ini tidak bijak, atau secara kasar bisa dikatakan sebagai pengkhianatan filosofis terhadap pondasi dasar yang dibangun oleh ide-ide radikal Cruyffian.<\/p>\n<p>Padahal, banyak penggemar yang berekspektasi kalau Koeman akan mengembalikan kejayaan Barcelona dengan cara yang sama seperti dulu\u2014cara yang arogan, cara yang keras kepala, cara yang hanya satu-satunya, yaitu cara Johan Cruyff.<\/p>\n<p>Lagipula, penggemar sadar kalau Koeman dulu pernah dilatih Cruyff secara langsung.<\/p>\n<p>Memang, saat itu, ketika Barcelona menjuarai Liga Champions untuk pertama kalinya di tahun 1992 di mana Koeman menjadi pencetak gol tunggal, formasi yang digunakan bukanlah 4-3-3, melainkan 3-4-3. Hanya saja, prinsip dasarnya tidak hilang, yaitu <em>single pivot<\/em>, yang waktu itu diperankan oleh Guardiola.<\/p>\n<p>Maka wajar apabila sekarang terdapat pertanyaan bernada kesal seperti ini: mengapa Koeman tidak menerapkan hal yang sama saat ini? Apalagi El Bar\u00e7a kini banyak dibintangi gelandang-gelandang muda bertipe kreatif dan menyerang.<\/p>\n<p>Namun, Koeman lebih memilih sistem double pivot. Padahal jumlah gelandang bertahan di dalam skuad hanya berjumlah tiga pemain: Busquets, Frenkie, dan Pjanic.<\/p>\n<p>Ketika para gelandang jangkar tersebut mengalami cedera atau diistirahatkan, gelandang yang tidak berprofil defensif mau tak mau harus bermain sebagai pivot, seperti yang dialami Carles Ale\u00f1a saat pertandingan tandang ke Ukraina menghadapi Dynamo Kyiv di ajang Liga Champions.<\/p>\n<p>Gelandang bertalenta lain yang digadang-gadang sebagai aset terbaik bagi Barcelona di masa depan, Riqui Puig, bahkan disingkirkan sebagai pilihan utama. Koeman beralasan bahwa jumlah skuad terlalu banyak dan Puig tidak sesuai dengan rencana taktiknya, yang tak lain dan tak bukan adalah formasi 4-2-3-1.<\/p>\n<p>Mungkin saja hasilnya akan berubah dan berbuah manis di akhir musim nanti, dan saya akan senang kalau argumen saya dalam artikel ini keliru. Namun sejauh ini, apa yang ditampilkan <em>El Bar\u00e7a<\/em> di atas lapangan hijau tidak menunjukkan indikasi perbaikan dan rencana yang matang.<\/p>\n<p><em>*Penulis adalah penggemar berat FC Barcelona. Bukan kidal tapi mampu menyepak bola dengan kaki kiri karena terinspirasi oleh Leo Messi. Bisa disapa di akun Twitter<\/em>\u00a0<a href=\"https:\/\/twitter.com\/pratamaesque\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>@pratamaesque<\/em><\/a><\/p>\n<div class=\"dugout-video dugout-embed-eyJrZXkiOiJFbm93alhqNyIsInAiOiJmb290YmFsbHRyaWJlIiwicGwiOiIifQ==\"><\/div>\n<p><script type=\"text\/javascript\" src=\"https:\/\/embed.dugout.com\/v3.1\/footballtribe.js\"><\/script><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Barcelona tergelincir ke jurang krisis di awal musim ini, dan formasi 4-2-3-1 yang diusung Ronald Koeman sejauh ini tengah menjadi sorotan dan perhatian lebih. Formasi ini sekilas bisa dipandang sebagai pembaruan revolusioner yang bisa menggusur formasi 4-3-3 El Bar\u00e7a yang sudah saklek sejak lama. Akan tetapi, apakah peralihan strategi ini sudah tepat dan bijak? La Liga 2020\/2021 baru saja menyelesaikan jornada ke-12 dan Barcelona masih terdampar di posisi kesembilan dengan mengumpulkan 14 poin. Teranyar Lionel Messi dan kawan-kawan dipecundangi tim promosi Cadiz 2-1 pada Minggu (6\/12) dini hari WIB. Meski masih menyisakan dua laga sisa, anak asuh Ronald Koeman saat ini terpaut 12 poin dari pemuncak klasemen sementara, Atletico Madrid. &hellip; <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/12\/09\/formasi-koeman-di-barcelona\/\" class=\"tribe-more-link\">Continue reading &#8220;Menakar Kemanjuran Formasi Koeman di Barcelona&#8221;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":49046,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[291],"tags":[180,2736,852,470,928,1724],"class_list":["post-48592","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-suara-pembaca","tag-barcelona","tag-frenkie-de-jong","tag-lionel-messi","tag-pep-guardiola","tag-ronald-koeman","tag-sergio-busquets"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Menakar Kemanjuran Formasi Koeman di Barcelona | Football Tribe Indonesia<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Barcelona tergelincir ke jurang krisis di awal musim ini, dan formasi 4-2-3-1 yang diusung Ronald Koeman sejauh ini tengah menjadi sorotan dan perhatian\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/12\/09\/formasi-koeman-di-barcelona\/\" \/>\n<link rel=\"next\" href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/12\/09\/formasi-koeman-di-barcelona\/2\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Menakar Kemanjuran Formasi Koeman di Barcelona | Football Tribe Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Barcelona tergelincir ke jurang krisis di awal musim ini, dan formasi 4-2-3-1 yang diusung Ronald Koeman sejauh ini tengah menjadi sorotan dan perhatian\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/12\/09\/formasi-koeman-di-barcelona\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Football Tribe Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"http:\/\/facebook.com\/footballtribeindonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-12-09T01:38:25+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2020-12-30T21:48:12+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/12\/GettyImages-1229404618.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"683\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"tribeindonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@footballtribeid\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@footballtribeid\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"tribeindonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"9 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2020\\\/12\\\/09\\\/formasi-koeman-di-barcelona\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2020\\\/12\\\/09\\\/formasi-koeman-di-barcelona\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"tribeindonesia\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\"},\"headline\":\"Menakar Kemanjuran Formasi Koeman di Barcelona\",\"datePublished\":\"2020-12-09T01:38:25+00:00\",\"dateModified\":\"2020-12-30T21:48:12+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2020\\\/12\\\/09\\\/formasi-koeman-di-barcelona\\\/\"},\"wordCount\":1729,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2020\\\/12\\\/09\\\/formasi-koeman-di-barcelona\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2020\\\/12\\\/GettyImages-1229404618.jpg\",\"keywords\":[\"Barcelona\",\"Frenkie de Jong\",\"Lionel Messi\",\"Pep Guardiola\",\"Ronald Koeman\",\"Sergio Busquets\"],\"articleSection\":[\"Suara Pembaca\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2020\\\/12\\\/09\\\/formasi-koeman-di-barcelona\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2020\\\/12\\\/09\\\/formasi-koeman-di-barcelona\\\/\",\"name\":\"Menakar Kemanjuran Formasi Koeman di Barcelona | Football Tribe Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2020\\\/12\\\/09\\\/formasi-koeman-di-barcelona\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2020\\\/12\\\/09\\\/formasi-koeman-di-barcelona\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2020\\\/12\\\/GettyImages-1229404618.jpg\",\"datePublished\":\"2020-12-09T01:38:25+00:00\",\"dateModified\":\"2020-12-30T21:48:12+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\"},\"description\":\"Barcelona tergelincir ke jurang krisis di awal musim ini, dan formasi 4-2-3-1 yang diusung Ronald Koeman sejauh ini tengah menjadi sorotan dan perhatian\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2020\\\/12\\\/09\\\/formasi-koeman-di-barcelona\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2020\\\/12\\\/09\\\/formasi-koeman-di-barcelona\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2020\\\/12\\\/GettyImages-1229404618.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2020\\\/12\\\/GettyImages-1229404618.jpg\",\"width\":1024,\"height\":683},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/\",\"name\":\"Football Tribe Indonesia\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\",\"name\":\"tribeindonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"tribeindonesia\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/author\\\/tribeindonesia\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Menakar Kemanjuran Formasi Koeman di Barcelona | Football Tribe Indonesia","description":"Barcelona tergelincir ke jurang krisis di awal musim ini, dan formasi 4-2-3-1 yang diusung Ronald Koeman sejauh ini tengah menjadi sorotan dan perhatian","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/12\/09\/formasi-koeman-di-barcelona\/","next":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/12\/09\/formasi-koeman-di-barcelona\/2\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Menakar Kemanjuran Formasi Koeman di Barcelona | Football Tribe Indonesia","og_description":"Barcelona tergelincir ke jurang krisis di awal musim ini, dan formasi 4-2-3-1 yang diusung Ronald Koeman sejauh ini tengah menjadi sorotan dan perhatian","og_url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/12\/09\/formasi-koeman-di-barcelona\/","og_site_name":"Football Tribe Indonesia","article_publisher":"http:\/\/facebook.com\/footballtribeindonesia","article_published_time":"2020-12-09T01:38:25+00:00","article_modified_time":"2020-12-30T21:48:12+00:00","og_image":[{"width":1024,"height":683,"url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/12\/GettyImages-1229404618.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"tribeindonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@footballtribeid","twitter_site":"@footballtribeid","twitter_misc":{"Written by":"tribeindonesia","Est. reading time":"9 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/12\/09\/formasi-koeman-di-barcelona\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/12\/09\/formasi-koeman-di-barcelona\/"},"author":{"name":"tribeindonesia","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3"},"headline":"Menakar Kemanjuran Formasi Koeman di Barcelona","datePublished":"2020-12-09T01:38:25+00:00","dateModified":"2020-12-30T21:48:12+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/12\/09\/formasi-koeman-di-barcelona\/"},"wordCount":1729,"image":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/12\/09\/formasi-koeman-di-barcelona\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/12\/GettyImages-1229404618.jpg","keywords":["Barcelona","Frenkie de Jong","Lionel Messi","Pep Guardiola","Ronald Koeman","Sergio Busquets"],"articleSection":["Suara Pembaca"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/12\/09\/formasi-koeman-di-barcelona\/","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/12\/09\/formasi-koeman-di-barcelona\/","name":"Menakar Kemanjuran Formasi Koeman di Barcelona | Football Tribe Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/12\/09\/formasi-koeman-di-barcelona\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/12\/09\/formasi-koeman-di-barcelona\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/12\/GettyImages-1229404618.jpg","datePublished":"2020-12-09T01:38:25+00:00","dateModified":"2020-12-30T21:48:12+00:00","author":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3"},"description":"Barcelona tergelincir ke jurang krisis di awal musim ini, dan formasi 4-2-3-1 yang diusung Ronald Koeman sejauh ini tengah menjadi sorotan dan perhatian","inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/12\/09\/formasi-koeman-di-barcelona\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/12\/09\/formasi-koeman-di-barcelona\/#primaryimage","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/12\/GettyImages-1229404618.jpg","contentUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/12\/GettyImages-1229404618.jpg","width":1024,"height":683},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/","name":"Football Tribe Indonesia","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3","name":"tribeindonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g","caption":"tribeindonesia"},"url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/author\/tribeindonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48592","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=48592"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48592\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":48602,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48592\/revisions\/48602"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/49046"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=48592"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=48592"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=48592"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}