{"id":48389,"date":"2020-11-18T17:53:03","date_gmt":"2020-11-18T10:53:03","guid":{"rendered":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?p=48389"},"modified":"2020-11-18T17:53:03","modified_gmt":"2020-11-18T10:53:03","slug":"dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/11\/18\/dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul\/","title":{"rendered":"Dinamika Politik Tiga Raksasa Istanbul"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejatinya memang sangat sulit memisahkan sepak bola dan politik. Sebab, suporter sepak bola yang jumlahnya masif merupakan sumber daya yang menggiurkan bagi pelaku politik praktis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski tak bisa dimungkiri pula bahwa ada banyak kelompok suporter yang memiliki pandangan dan sikap politik tersendiri. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya bukanlah suatu anomali apabila sekelompok suporter sepak bola berpolitik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, banyak pula klub sepak bola yang lahir dari sebuah kekuatan politik. Misalnya, klub-klub Eropa Timur seperti Crvena Zvezda, FK Partizan Belgrade, Dinamo Zagreb, dan CSKA Sofia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan masalah pula apabila seorang tokoh politik menjadi pendukung dari suatu klub sepak bola. Yang menjadi masalah sebenarnya adalah apabila adanya pengaruh politik dalam sepak bola yang malah mencederai prinsip sportivitas ataupun menggunakan sepak bola sebagai objek politik semata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya menjadikan sebuah klub sebagai simbol legitimasi rezim, seperti Jenderal Franco di Real Madrid dan Adolf Hitler di Schalke 04. Hal seperti itu hanya akan membuat klub lain merasa dicurangi dalam berkompetisi.<\/span><\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/07\/13\/laga-perebutan-juara-tiga-terbaik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Deretan Laga Perebutan Juara Tiga Terbaik Sepanjang Sejarah Piala Dunia<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<h3><b>Politik dan sepak bola di Turki<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Peririsan politik dengan sepak bola juga terjadi di Turki. Tiga raksasa Istanbul yaitu Galatasaray, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Fenerbahce<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, dan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Besiktas, memiliki stereotip politik yang kuat. Terlebih ketiganya berada di kota terbesar seantero Turki, Istanbul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara sederhana, Galatasaray diafiliasikan sebagai klub aristokrat, Fenerbahce sebagai klub para borjuis, dan Be\u015fiktas sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">people\u2019s club <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">atau<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0klub semua orang. Namun, saat ini perbedaan ketiganya sudah tidak terlalu kentara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Galatasaray merupakan klub yang lahir dari rahim SMA yang didirikan sejak zaman Sultan Beyazid II tahun 1481, bernama <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Galata Saray\u0131 Enderun-u H\u00fcmayunu<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Kini, sekolah tersebut menjadi SMA tertua di Turki dan institusi pendidikan tertua kedua di sana setelah Universitas Istanbul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Murid sekolah tersebut mulai tertarik terhadap sepak bola sejak 1904, setelah orang-orang Yunani dan Inggris mendirikan Istanbul Football Union. Akhirnya, tahun 1905 didirikanlah Galatasaray Spor Kul\u00fcb\u00fc oleh Ali Sami Yen yang awalnya hanya berfokus pada sepak bola saja.<\/span><\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/05\/11\/arda-turan-dilarang-main-16-laga\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Dorong dan Ancam Hakim Garis, Arda Turan Dilarang Main di 16 Laga<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk Fenerbahce bisa dikatakan menarik. Selain letaknya di Asia yang membuatnya berbeda dengan Galatasaray dan Besiktas, banyak tokoh mashyur memproklamirkan diri sebagai <em>fans<\/em> Fenerbahce.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Politikus seperti Ataturk, Erdogan, hingga sastrawan ternama Orhan Pamuk, menyatakan dirinya adalah <em>fans<\/em> klub asal Kad\u0131k\u00f6y<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">ini. Klub ini didirikan tahun 1907 oleh Ziya Song\u00fclen, cicit dari Sultan Mahmud II, dengan nama Fenerbah\u00e7e Spor Kul\u00fcb\u00fc.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan Besiktas Jimnastik Kul\u00fcb\u00fc didirikan pada tahun 1903 sebagai sebuah klub gimnastik. Didirikan di rumah Orhan Pasha oleh anaknya bersama para tetangganya. Mereka ditangkap karena pemerintah Ottoman mengetahui adanya perkumpulan ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, karena kebanyakan dari mereka memiliki hubungan dengan elite penguasa dan tidak terbukti bermain sepak bola, mereka dibebaskan. Pada 1910, klub ini baru mendapat pengakuan resmi dan mulai bermain sepak bola.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain klubnya yang dikaitkan dengan kekuatan politik tertentu, para suporter <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Galatasaray, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Fenerbahce<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, dan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Besiktas, juga memiliki sikap politik masing-masing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ultraslan kelompok suporter Galatasaray yang didirikan tahun 2001, dikenal tidak terlalu frontal dalam menyatakan sikap politiknya.<\/span><\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/05\/04\/uniknya-stadion-kandang-buaya-milik-bursaspor\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Uniknya Stadion \u201cKandang Buaya\u201d Milik Bursaspor<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, meskipun mereka membentangkan spanduk dukungan kepada Palestina, mereka tidak secara frontal menghina kelompok Yahudi. Sebab, mereka mencoba untuk menghindari retorika agama karena tidak semua anggotanya Muslim, tapi mereka juga melawan anggapan bahwa Muslim adalah teroris.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, walaupun mereka memegang teguh simbol nasionalisme seperti Ataturk, mereka bukanlah kelompok nasionalisme radikal (fasis) layaknya kelompok ultras nasionalis lain di Eropa. Ultraslan bisa dikatakan sebagai kelompok yang inklusif.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_48391\" aria-describedby=\"caption-attachment-48391\" style=\"width: 800px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-large wp-image-48391\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/11\/GettyImages-629360170-800x534.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"534\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/11\/GettyImages-629360170-800x534.jpg 800w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/11\/GettyImages-629360170-400x267.jpg 400w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/11\/GettyImages-629360170-250x167.jpg 250w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/11\/GettyImages-629360170-130x87.jpg 130w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/11\/GettyImages-629360170-560x374.jpg 560w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-48391\" class=\"wp-caption-text\">Carsi kelompok suporter Besiktas yang lahir pada tahun 1980. Kredit: Getty Images.<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, ada Carsi sebagai kelompok yang juga bisa dibilang inklusif. Carsi merupakan kelompok suporter Besiktas yang lahir pada tahun 1980. Waktu itu, wilayah Besiktas merupakan wilayah yang heterogen dan didominasi kelompok kiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Carsi selalu mencuri perhatian dengan spanduk hitam dengan tulisan putih dan huruf \u2018<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">circle A\u2019<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Carsi tidak memiliki susunan hierarki, juga tidak memiliki ketua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anggota Carsi berasal dari berbagai macam kelompok sosial yakni Muslim, atheis, kelompok kiri, akademisi, buruh, juga kaum minoritas seperti Yahudi dan Armenia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Carsi melawan segala sesuatu, sesuai slogan mereka <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Carsi her seye karsi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Mereka menentang rasisme, Islamophobia, fasisme, pornografi anak, kebijakan nuklir, hingga pemanasan global.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan kedua rivalnya yang terletak di Eropa, tidak ada kelompok suporter yang dominan di Fenerbahce. Namun, yang paling getol bersuara adalah Vamos Bien dan Sol Acik.<\/span><\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/05\/04\/caglar-soyuncu-bek-muda-turki\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Caglar Soyuncu, Bek Muda Turki yang Siap Menggebrak Eropa<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Vamos Bien didirikan pada tahun 2006 sebagai kelompok yang sangat menentang kapitalisme. Mereka didirikan dengan tujuan untuk menentang segala eksploitasi sepak bola dan kegiatan olahraga lainnya oleh kepentingan pemerintah, otoritas negara, dan elite perusahaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sama seperti Vamos Bien, kelompok Sol Acik juga menentang segala bentuk eksploitasi yang dilakukan dalam sepak bola dan juga segala bentuk otoritarianisme.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, mereka melakukan protes kepada Presiden Fenerbahce, Aziz Yildirim, yang dianggap hanya memikirkan keuntungan pribadinya dalam mengelola klub. Terlebih lagi saat munculnya wacana Passolig.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 28 Mei 2013 terjadilah <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Gezi Park Movement<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, yaitu aksi protes terhadap pembangunan replika barak militer Ottoman di Taman Gezi, Istanbul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam aksi tersebut, para suporter ketiga klub raksasa Istanbul yang satu sama lainnya adalah rival, akhirnya bersatu melawan pemerintah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka bergabung bersama para demonstran lain mengkritisi rencana pembangunan di atas Taman Gezi. Sebab, Taman Gezi adalah salah satu dari sedikit area terbuka hijau yang tersisa di Istanbul. Di aksi tersebut dikabarkan ada 35 anggota Carsi yang ditangkap.<\/span><\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/02\/08\/hakan-calhanoglu-yang-memudahkan\/\">Hakan \u00c7alhano\u011flu yang (Seharusnya) Memudahkan Harimu<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejatinya, persinggungan politik dan sepak bola di Turki sudah terjadi sejak dahulu. Misalnya, Alt\u0131nordu Kul\u00fcb\u00fc pernah dijadikan &#8220;klub nasional&#8221; oleh pemerintahan Turki Muda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Klub tersebut dijadikan sebagai alat propaganda mempromosikan semangat nasionalisme untuk negara Turki baru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, Presiden Kenan Evren pada tahun 1981 yang memerintahkan Ankarag\u00fcc\u00fc untuk dipromosikan ke liga teratas. Ataupun yang baru-baru ini hangat diperbincangkan, yaitu I<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">stanbul Basaksehir yang santer dikaitkan dengan Erdogan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Turki, pasca-periode 1980 mulai muncul klub-klub dalam bentuk Belediyespor, atau klub sepak bola kota.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Klub seperti Istanbul B\u00fcy\u00fcksehir Belediyespor (kini berubah menjadi I<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">stanbul Basaksehir)<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> dan Ankaraspor, hingga kini ini tetap dikelola oleh pemerintah kota, dan biasanya oleh wali kota sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kasus lain, ada beberapa klub yang secara tidak resmi diambil alih oleh pemerintah kota, seperti Gaziantepspor, Kayserispor, dan Kocaelispor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 1997 saja, jumlah klub sepak bola &#8220;profesional&#8221; yang dikendalikan oleh pemerintah kota ada 29 klub.<\/span><\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/12\/26\/kampung-halaman-untuk-arda-turan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Rindu yang Berbalas, dari Kampung Halaman untuk Arda Turan<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/12\/08\/hamit-dan-halil-altintop\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Hamit dan Halil Alt\u0131ntop, Saudara Kembar Andalan Turki yang Berbeda Nasib<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/11\/26\/kiprah-positif-besiktas\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kiprah Positif Be\u015fikta\u015f di Lapangan Hijau Maupun Dunia Bisnis<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p><em><strong>*Penulis adalah seorang penikmat sepak bola yang tertarik dengan hal-hal yang membangun sepak bola dari luar lapangan. Bisa disapa di akun Twitter <a href=\"https:\/\/twitter.com\/valkenbach\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">@valkenbach<\/a><\/strong><\/em><\/p>\n<div class=\"dugout-video dugout-embed-eyJrZXkiOiJSTG1UMnNkMSIsInAiOiJmb290YmFsbHRyaWJlIiwicGwiOiIifQ==\"><\/div>\n<p><script type=\"text\/javascript\" src=\"https:\/\/embed.dugout.com\/v3.1\/footballtribe.js\"><\/script><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejatinya memang sangat sulit memisahkan sepak bola dan politik. Sebab, suporter sepak bola yang jumlahnya masif merupakan sumber daya yang menggiurkan bagi pelaku politik praktis. Meski tak bisa dimungkiri pula bahwa ada banyak kelompok suporter yang memiliki pandangan dan sikap politik tersendiri. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya bukanlah suatu anomali apabila sekelompok suporter sepak bola berpolitik. Bahkan, banyak pula klub sepak bola yang lahir dari sebuah kekuatan politik. Misalnya, klub-klub Eropa Timur seperti Crvena Zvezda, FK Partizan Belgrade, Dinamo Zagreb, dan CSKA Sofia. Bukan masalah pula apabila seorang tokoh politik menjadi pendukung dari suatu klub sepak bola. Yang menjadi masalah sebenarnya adalah apabila adanya pengaruh politik dalam sepak bola yang malah &hellip; <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/11\/18\/dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul\/\" class=\"tribe-more-link\">Continue reading &#8220;Dinamika Politik Tiga Raksasa Istanbul&#8221;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":48392,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[291],"tags":[465,508,266,371,122,598,240],"class_list":["post-48389","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-suara-pembaca","tag-besiktas","tag-fenerbahce","tag-galatasaray","tag-liga-super-turki","tag-slider","tag-suara-pembaca","tag-turki"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Dinamika Politik Tiga Raksasa Istanbul | Football Tribe Indonesia<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Sejatinya memang sangat sulit memisahkan sepak bola dan politik. Sebab, suporter sepak bola yang jumlahnya masif merupakan sumber daya yang menggiurkan.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/11\/18\/dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul\/\" \/>\n<link rel=\"next\" href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/11\/18\/dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul\/2\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Dinamika Politik Tiga Raksasa Istanbul | Football Tribe Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Sejatinya memang sangat sulit memisahkan sepak bola dan politik. Sebab, suporter sepak bola yang jumlahnya masif merupakan sumber daya yang menggiurkan.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/11\/18\/dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Football Tribe Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"http:\/\/facebook.com\/footballtribeindonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-11-18T10:53:03+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/11\/GettyImages-517260310.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"683\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"tribeindonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@footballtribeid\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@footballtribeid\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"tribeindonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2020\\\/11\\\/18\\\/dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2020\\\/11\\\/18\\\/dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"tribeindonesia\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\"},\"headline\":\"Dinamika Politik Tiga Raksasa Istanbul\",\"datePublished\":\"2020-11-18T10:53:03+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2020\\\/11\\\/18\\\/dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul\\\/\"},\"wordCount\":1099,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2020\\\/11\\\/18\\\/dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2020\\\/11\\\/GettyImages-517260310.jpg\",\"keywords\":[\"Besiktas\",\"Fenerbahce\",\"Galatasaray\",\"Liga Super Turki\",\"Slider\",\"Suara Pembaca\",\"Turki\"],\"articleSection\":[\"Suara Pembaca\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2020\\\/11\\\/18\\\/dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2020\\\/11\\\/18\\\/dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul\\\/\",\"name\":\"Dinamika Politik Tiga Raksasa Istanbul | Football Tribe Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2020\\\/11\\\/18\\\/dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2020\\\/11\\\/18\\\/dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2020\\\/11\\\/GettyImages-517260310.jpg\",\"datePublished\":\"2020-11-18T10:53:03+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\"},\"description\":\"Sejatinya memang sangat sulit memisahkan sepak bola dan politik. Sebab, suporter sepak bola yang jumlahnya masif merupakan sumber daya yang menggiurkan.\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2020\\\/11\\\/18\\\/dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2020\\\/11\\\/18\\\/dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2020\\\/11\\\/GettyImages-517260310.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2020\\\/11\\\/GettyImages-517260310.jpg\",\"width\":1024,\"height\":683},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/\",\"name\":\"Football Tribe Indonesia\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\",\"name\":\"tribeindonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"tribeindonesia\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/author\\\/tribeindonesia\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Dinamika Politik Tiga Raksasa Istanbul | Football Tribe Indonesia","description":"Sejatinya memang sangat sulit memisahkan sepak bola dan politik. Sebab, suporter sepak bola yang jumlahnya masif merupakan sumber daya yang menggiurkan.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/11\/18\/dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul\/","next":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/11\/18\/dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul\/2\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Dinamika Politik Tiga Raksasa Istanbul | Football Tribe Indonesia","og_description":"Sejatinya memang sangat sulit memisahkan sepak bola dan politik. Sebab, suporter sepak bola yang jumlahnya masif merupakan sumber daya yang menggiurkan.","og_url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/11\/18\/dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul\/","og_site_name":"Football Tribe Indonesia","article_publisher":"http:\/\/facebook.com\/footballtribeindonesia","article_published_time":"2020-11-18T10:53:03+00:00","og_image":[{"width":1024,"height":683,"url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/11\/GettyImages-517260310.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"tribeindonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@footballtribeid","twitter_site":"@footballtribeid","twitter_misc":{"Written by":"tribeindonesia","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/11\/18\/dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/11\/18\/dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul\/"},"author":{"name":"tribeindonesia","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3"},"headline":"Dinamika Politik Tiga Raksasa Istanbul","datePublished":"2020-11-18T10:53:03+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/11\/18\/dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul\/"},"wordCount":1099,"image":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/11\/18\/dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/11\/GettyImages-517260310.jpg","keywords":["Besiktas","Fenerbahce","Galatasaray","Liga Super Turki","Slider","Suara Pembaca","Turki"],"articleSection":["Suara Pembaca"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/11\/18\/dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul\/","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/11\/18\/dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul\/","name":"Dinamika Politik Tiga Raksasa Istanbul | Football Tribe Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/11\/18\/dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/11\/18\/dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/11\/GettyImages-517260310.jpg","datePublished":"2020-11-18T10:53:03+00:00","author":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3"},"description":"Sejatinya memang sangat sulit memisahkan sepak bola dan politik. Sebab, suporter sepak bola yang jumlahnya masif merupakan sumber daya yang menggiurkan.","inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/11\/18\/dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/11\/18\/dinamika-politik-tiga-raksasa-istanbul\/#primaryimage","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/11\/GettyImages-517260310.jpg","contentUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2020\/11\/GettyImages-517260310.jpg","width":1024,"height":683},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/","name":"Football Tribe Indonesia","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3","name":"tribeindonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g","caption":"tribeindonesia"},"url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/author\/tribeindonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48389","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=48389"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48389\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":48393,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48389\/revisions\/48393"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/48392"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=48389"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=48389"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=48389"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}