{"id":47303,"date":"2020-07-02T11:50:53","date_gmt":"2020-07-02T04:50:53","guid":{"rendered":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?p=47303"},"modified":"2020-07-02T12:01:10","modified_gmt":"2020-07-02T05:01:10","slug":"pele-sepak-bola-ginga-style-dan-idealisme","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/07\/02\/pele-sepak-bola-ginga-style-dan-idealisme\/","title":{"rendered":"Pele: Sepak Bola, Ginga Style dan Idealisme"},"content":{"rendered":"<p>Pele yang saat itu berusia 9 tahun kala melihat ayahnya menangisi kekalahan Brazil melawan Uruguay di final Piala Dunia 1950 berjanji suatu saat nanti akan membawa Brasil menjuarai Piala Dunia. Alasan ini yang tumbuh menjadi pupuk yang menyuburkan bakat Pele menjadi salah satu legenda sepak bola termasyhur.<\/p>\n<p>Piala Dunia Brasil 1950, hampir seluruh rakyat Brasil sedih, murung, dan terpukul usai laga final. Alasannya Brasil merupakan tuan rumah Piala Dunia pertama pasca berakhirnya Perang Dunia II. Menjuarai Piala Dunia di rumah sendiri seolah menjadi harga mati yang tak bisa ditawar dan ditunda lagi.<\/p>\n<p>Tak terkecuali ayah Pele, Dondinho, yang bersama teman-temannya menyaksikan seluruh jalannya pertandingan melalui siaran radio\u00a0 di satu sudut kota di wilayah perkumuhan di Brasil. Dondinho sangat mencintai sepak bola, wajar karena dulunya ia adalah seorang pesepak bola profesional di liga Brasil namun harus pensiun lebih cepat akibat cedera parah dan diabaikan begitu saja oleh klubnya.<\/p>\n<p>Praktis Dodinho menyisakan trauma yang amat dalam. Hidupnya pun berubah dan berakhir dengan pilihan menjadi petugas <em>cleaning service<\/em>, sementara ibu Pele, Celeste Arantes, bekerja sebagai pembantu rumah tangga paruh waktu di sebuah rumah mewah di kawasan Kota Tres Coracoes, Brazil.<\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/03\/25\/sekali-lagi-maracana-mengemban-tugas-mulia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Sekali Lagi, Maracana Mengemban Tugas Mulia<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/07\/08\/gabriel-jesus-dari-suburbia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gabriel Jesus dari Suburbia<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p>Meski mewarisi bakat luar biasa dari ayahnya, lahir dari keluarga yang hidup dalam garis kemiskinan membuat Pele sangat kesulitan sekadar untuk memiliki sepatu sepak bola. Ditambah ibunya tidak benar-benar mengizinkan Pele menjadi seorang pesepak bola profesional membuat kemampuan dan bakatnya hanya tersalur di jalanan.<\/p>\n<p>Atas restu ayahnya, Pele kecil bersama teman-temannya mengikuti turnamen lima lawan lima di pinggiran kota sekaligus sebagai awal baginya berkesempatan mengikuti seleksi akademi klub Santos.<\/p>\n<p>Saat itu legenda Brazil Waldemar de Brito turun langsung menyaksikan Pele, ia tertarik pada keahlian Pele dan kemudian berbicara pada Dodinho soal kemungkinan anaknya mengikuti seleksi untuk akademi Santos. Mengetahui ada ajakan dari Santos, tanpa tedeng aling-aling ibunya menolak.<\/p>\n<p>Sampai pada satu ketika, beberapa tahun setelah tawaran Santos datang sat Pele sudah menginjak 15 tahun, ibunya melihat langsung Dondinho dan Pele berlatih mengontrol bola menggunakan buah mangga. Di situ ibunya menyadari betapa cintanya Pele pada dunia sepak bola: Sepak bola menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari diri Pele.<\/p>\n<p>Ibunya kemudian mengontak kub untuk menanyakan kemungkinan Pele bisa berlatih dan bermain di Santos. Singkatnya Pele bergabung dengan Santos, ia berhasil memukau suporter yang mengelu-elukan namanya dan memujanya bak dewa penyelamat. Gol demi gol ia ciptakan, setiap gerakannya mampu menghipnotis puluhan ribu suporter yang menyaksikannya di stadion.<\/p>\n<div class=\"dugout-video dugout-embed-eyJrZXkiOiJPQ3NLU3poaCIsInAiOiJmb290YmFsbHRyaWJlIiwicGwiOiIifQ==\"><\/div>\n<p><script type=\"text\/javascript\" src=\"https:\/\/embed.dugout.com\/v3.1\/footballtribe.js\"><\/script><\/p>\n<p>Santos pun tak kuasa melepasnya saat timnas Brasil memanggil Pele untuk persiapan Piala Dunia 1958 di Swedia. Saat itu ia berusia 16 tahun dan tidak mudah baginya bisa menembus tim utama. Alasannya waktu itu adalah masa-masa dimana Brasil mulai meninggalkan permainan akrobatik <em>\u201cGinga Style\u201d.<\/em><\/p>\n<p>Gaya permainan khas Tim Samba yang dianggap gagal karena tidak mampu menghadirkan tropi di Piala Dunia 1950 dan Piala Dunia 1954. Sementara pelatih Brazil Vicente Feola menginginkan Brasil bermain dengan umpan-umpan pendek, tendangan akurat dan kompak secara tim dengan mengandalkan kecepatan layaknya para pemain Eropa.<\/p>\n<p>Sementara gaya permainan Pele dianggap sangat kuno, ia kerap menggiring bola seorang diri \u201c<em>one man show\u201d. <\/em>Situasi ini diperkuat oleh kehadiran striker keturunan Italia, Jose Altafini, yang permainannya dianggap mirip dengan striker legendaris Italia Valentino Mazzola.<\/p>\n<p>Perpecahan di tubuh timnas Brasil jelang Piala Dunia 1958 tidak bisa dihindari. Dikotomi pemain yang mendukung revolusi mengikuti perkembangan khas Eropa yang dimotori oleh Altafini dengan kelompok pemain yang masih kental dengan <em>\u201cGinga Style\u201d <\/em>seperti Garrincha, Didi dan Pele pun terjadi.<\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/10\/13\/kerja-kerja-kerja-oriundi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kerja, Kerja, Kerja, Oriundi!<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/05\/29\/moacir-barbosa-dan-mitos-brasil\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Moacir Barbosa dan Mitos Kiper Kulit Putih di Timnas Brasil<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p><em>Ginga Style<\/em> tidak lepas dari sejarah panjang perjuangan kemerdekaan Brasil. Secara historis,<em> Ginga Style<\/em> adalah gaya pertarungan jalanan para budak Afrika yang dibawa kolonilisme Portugal kala menjajah Brasil di abad ke-16.<\/p>\n<p>Tapi pasca kemerdekaan Brasil, <em>Ginga Style<\/em> dilarang, membuat sepak bola menjadi satu-satunya panggung orang-orang jalanan Brasil untuk mempertontonkan teknik bela diri tersebut. <em>Ginga Style<\/em> selanjutnya menggambarkan seseorang yang bisa mengikuti arus dan memiliki kecerdasan jalanan.<\/p>\n<p>Kekacauan di tubuh tim masih terus berlanjut kala badai cedera datang di babak kualifikasi Piala Dunia 1958 saat Brasil bersua Inggris. Diantaranya adalah striker andalan Brazil Jose Altafini. Pun dua pemain andalan Brasil, Dino Sani dan Joel, juga mengalami cedera cukup parah. Brasil dalam posisi yang berbahaya, karena selain banyaknya pemain yang cedera mereka juga mengalami krisis identitas permainan.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Waktu itu tidak ada pilihan lain kecuali memainkan anak muda berusia 17 tahun bernama Pele untuk mengisi posisi yang ditinggalkan penyerang Altafini. Kondisi Pele juga tidak fit karena dalam proses pemulihan pasca cedera lutut di satu sesi latihan.<\/p>\n<p>Perjudian pun dilakukan pelatih Vicente Feola di babak perempat final melawan Wales yang berakhir dengan skor 1-0 untuk kemenangan Brasil. Pele menjadi pencetak gol tunggal di pertandingan itu.<\/p>\n<p>Melihat penampilan impresif yang ditampilkan Pele, ia diturunkan kembali di babak semi-final melawan Prancis yang berkesudahan 5-2 untuk kemenangan Brasil. Penampilan Pele pun dipuji setinggi langit karena ia berhasil melesakkan <em>hat-trick.<\/em><\/p>\n<p>Namun, apa yang ditampilkan Pele pada dua pertandingan tersebut belum cukup. Mereka masih menyisakan trauma akan kegagalannya di Piala Dunia sebelumnya. Melajunya Brasil sampai ke partai puncak Piala Dunia 1958 tidak lepas dari permainan<em> Ginga Style s<\/em>ama seperti kala mereka menjadi tuan rumah delapan tahun sebelumnya.<\/p>\n<p>Singkat cerita, pada babak final, Brasil dipertemukan dengan tuan rumah Swedia yang dikenal bermain cepat, keras dan cerdas. Sudah menganalisa seluruh pertandingan Swedia dari babak kualifikasi hingga sampai di final, pelatih Vicente Feola sempat berpikir mengganti susunan formasi dan strategi.<\/p>\n<p>Tapi hal itu urung dilakukan pelatih Vicente Feola karena menyadari Brasil harus punya identitas, yang membuat mereka\u00a0 tidak harus sama dengan yang lainnya karena: Brasil adalah Brasil, Tim Samba adalah <em>Ginga Style.<\/em><\/p>\n<p>Pilihan itu diambil kala Feola melihat langsung aksi Pele menginisiasi latihan <em>juggling<\/em> dan mengiring bola ratusan meter bersama beberapa pemain utama dari lobby hotel sampai air mancur yang ada dekat taman kota di Kota Solna, Swedia.<\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/06\/07\/7-juni-1970-gordons-banks\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">7 Juni 1970, Ketika Gordons Banks Membuat Pele Kecewa<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/06\/07\/kisah-hilangnya-tulang-garrincha\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kisah Hilangnya Tulang Legenda Brasil<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p>Di partai final melawan Swedia Tim Samba menampilkan permainan yang menawan yang menjadi ciri khas mereka, <em>Ginga Style<\/em>. Meski sempat tertinggal gol di menit-menit awal, Brasil berhasil membalikkan keadaan untuk skor kemenangan 5-2. Tim Samba terlihat bahagia memainkan gaya khasnya.<\/p>\n<p>Seolah menari sepanjang pertandingan, Pele menyumbangkan 2 gol di pertandingan itu dan membawa Brasil menjuarai Piala Dunia untuk kali pertama.<\/p>\n<p>Apa yang dilakukan Pele sepanjang Piala Dunia 1958 bukan sekadar membawa Brasil menjadi juara. Lebih dari itu, di usia yang masih tergolong belia, ia berhasil menginspirasi Tim Samba melawan segala rasa takut atas trauma masa lalu kemudian mengubahnya menjadi kekuatan yang menjadikan Brasil tidak terhentikan lewat <em>Ginga Style.<\/em><\/p>\n<p>Kini <em>Ginga Style<\/em> yang menggambarkan sempurna gaya sepak bola Brasil yang juga dikenal sebagai \u00a0<em>\u201cjoga bonito\u201d<\/em> atau bermain dengan indah, yang kerap pula kita saksikan hingga sekarang\u00a0 karena jamak dipertontonkan oleh para pemain asal Brazil di era modern seperti Zico, Romario, Ronaldo Nazario, Ronaldinho, Rivaldo, Robinho, Neymar, hingga Vinicius Junior.<\/p>\n<p>Sampai akhir karirnya sebagai pesepak bola Pele kemudian berhasil membawa\u00a0 Brasil menjuarai Piala Dunia 1962 dan Piala Dunia 1970. Artinya Pele adalah satu-satunya pemain yang pernah membawa sebuah negara untuk menjuarai 3 kali piala dunia.<\/p>\n<p>Fantastisnya, Pele juga tercatat telah mencetak 1.279 gol dalam 1.363 laga sepanjang kariernya dan dinobatkan oleh federasi sepakbola dunia FIFA sebagai pemain terbaik di abad ke-20.<\/p>\n<div class=\"dugout-video dugout-embed-eyJrZXkiOiJQMU9JcDBFVSIsInAiOiJmb290YmFsbHRyaWJlIiwicGwiOiIifQ==\"><\/div>\n<p><script type=\"text\/javascript\" src=\"https:\/\/embed.dugout.com\/v3.1\/footballtribe.js\"><\/script><\/p>\n<p><em>Penulis adalah Madridista dan blogger dapat ditemui di akun Twitter <a href=\"https:\/\/twitter.com\/anwargigi\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">@anwargigi<\/a>. Seluruh penulisan artikel ini diinspirasi oleh Film \u201cPele: Birth of a Legend\u201d yang ditulis oleh Jeff &amp; Michael Zimbalist dan dirilis pada tahun 2016.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pele yang saat itu berusia 9 tahun kala melihat ayahnya menangisi kekalahan Brazil melawan Uruguay di final Piala Dunia 1950 berjanji suatu saat nanti akan membawa Brasil menjuarai Piala Dunia. Alasan ini yang tumbuh menjadi pupuk yang menyuburkan bakat Pele menjadi salah satu legenda sepak bola termasyhur. Piala Dunia Brasil 1950, hampir seluruh rakyat Brasil sedih, murung, dan terpukul usai laga final. Alasannya Brasil merupakan tuan rumah Piala Dunia pertama pasca berakhirnya Perang Dunia II. Menjuarai Piala Dunia di rumah sendiri seolah menjadi harga mati yang tak bisa ditawar dan ditunda lagi. Tak terkecuali ayah Pele, Dondinho, yang bersama teman-temannya menyaksikan seluruh jalannya pertandingan melalui siaran radio\u00a0 di satu sudut &hellip; <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/07\/02\/pele-sepak-bola-ginga-style-dan-idealisme\/\" class=\"tribe-more-link\">Continue reading &#8220;Pele: Sepak Bola, Ginga Style dan Idealisme&#8221;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":13683,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[291],"tags":[161,519,2116,213,2232],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v22.8 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Pele: Sepak Bola, Ginga Style dan Idealisme | Football Tribe Indonesia<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Pele yang saat itu berusia 9 tahun kala melihat ayahnya menangisi kekalahan Brasil melawan Uruguay di final Piala Dunia 1950 berjanji suatu saat nanti\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/07\/02\/pele-sepak-bola-ginga-style-dan-idealisme\/\" \/>\n<link rel=\"next\" href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/07\/02\/pele-sepak-bola-ginga-style-dan-idealisme\/2\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Pele: Sepak Bola, Ginga Style dan Idealisme | Football Tribe Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Pele yang saat itu berusia 9 tahun kala melihat ayahnya menangisi kekalahan Brasil melawan Uruguay di final Piala Dunia 1950 berjanji suatu saat nanti\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/07\/02\/pele-sepak-bola-ginga-style-dan-idealisme\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Football Tribe Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"http:\/\/facebook.com\/footballtribeindonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-07-02T04:50:53+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2020-07-02T05:01:10+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/10\/Pele.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"720\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"404\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"tribeindonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@footballtribeid\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@footballtribeid\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"tribeindonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/07\/02\/pele-sepak-bola-ginga-style-dan-idealisme\/\",\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/07\/02\/pele-sepak-bola-ginga-style-dan-idealisme\/\",\"name\":\"Pele: Sepak Bola, Ginga Style dan Idealisme | Football Tribe Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/07\/02\/pele-sepak-bola-ginga-style-dan-idealisme\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/07\/02\/pele-sepak-bola-ginga-style-dan-idealisme\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/10\/Pele.png\",\"datePublished\":\"2020-07-02T04:50:53+00:00\",\"dateModified\":\"2020-07-02T05:01:10+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\"},\"description\":\"Pele yang saat itu berusia 9 tahun kala melihat ayahnya menangisi kekalahan Brasil melawan Uruguay di final Piala Dunia 1950 berjanji suatu saat nanti\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/07\/02\/pele-sepak-bola-ginga-style-dan-idealisme\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/07\/02\/pele-sepak-bola-ginga-style-dan-idealisme\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/10\/Pele.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/10\/Pele.png\",\"width\":720,\"height\":404,\"caption\":\"Pel\u00e9 tetap menjadi figur populer\"},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/\",\"name\":\"Football Tribe Indonesia\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\",\"name\":\"tribeindonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"tribeindonesia\"},\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/author\/tribeindonesia\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Pele: Sepak Bola, Ginga Style dan Idealisme | Football Tribe Indonesia","description":"Pele yang saat itu berusia 9 tahun kala melihat ayahnya menangisi kekalahan Brasil melawan Uruguay di final Piala Dunia 1950 berjanji suatu saat nanti","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/07\/02\/pele-sepak-bola-ginga-style-dan-idealisme\/","next":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/07\/02\/pele-sepak-bola-ginga-style-dan-idealisme\/2\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Pele: Sepak Bola, Ginga Style dan Idealisme | Football Tribe Indonesia","og_description":"Pele yang saat itu berusia 9 tahun kala melihat ayahnya menangisi kekalahan Brasil melawan Uruguay di final Piala Dunia 1950 berjanji suatu saat nanti","og_url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/07\/02\/pele-sepak-bola-ginga-style-dan-idealisme\/","og_site_name":"Football Tribe Indonesia","article_publisher":"http:\/\/facebook.com\/footballtribeindonesia","article_published_time":"2020-07-02T04:50:53+00:00","article_modified_time":"2020-07-02T05:01:10+00:00","og_image":[{"width":720,"height":404,"url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/10\/Pele.png","type":"image\/png"}],"author":"tribeindonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@footballtribeid","twitter_site":"@footballtribeid","twitter_misc":{"Written by":"tribeindonesia","Est. reading time":"6 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/07\/02\/pele-sepak-bola-ginga-style-dan-idealisme\/","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/07\/02\/pele-sepak-bola-ginga-style-dan-idealisme\/","name":"Pele: Sepak Bola, Ginga Style dan Idealisme | Football Tribe Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/07\/02\/pele-sepak-bola-ginga-style-dan-idealisme\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/07\/02\/pele-sepak-bola-ginga-style-dan-idealisme\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/10\/Pele.png","datePublished":"2020-07-02T04:50:53+00:00","dateModified":"2020-07-02T05:01:10+00:00","author":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3"},"description":"Pele yang saat itu berusia 9 tahun kala melihat ayahnya menangisi kekalahan Brasil melawan Uruguay di final Piala Dunia 1950 berjanji suatu saat nanti","inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/07\/02\/pele-sepak-bola-ginga-style-dan-idealisme\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/07\/02\/pele-sepak-bola-ginga-style-dan-idealisme\/#primaryimage","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/10\/Pele.png","contentUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/10\/Pele.png","width":720,"height":404,"caption":"Pel\u00e9 tetap menjadi figur populer"},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/","name":"Football Tribe Indonesia","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3","name":"tribeindonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g","caption":"tribeindonesia"},"url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/author\/tribeindonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47303"}],"collection":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=47303"}],"version-history":[{"count":17,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47303\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":47320,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47303\/revisions\/47320"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13683"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=47303"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=47303"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=47303"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}