{"id":47171,"date":"2020-05-21T15:03:19","date_gmt":"2020-05-21T08:03:19","guid":{"rendered":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?p=47171"},"modified":"2020-12-24T14:02:11","modified_gmt":"2020-12-24T07:02:11","slug":"sepak-bola-fanatisme-buta-hingga-simbol-kapitalisme-global","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/21\/sepak-bola-fanatisme-buta-hingga-simbol-kapitalisme-global\/","title":{"rendered":"Sepak Bola, Fanatisme Buta hingga Simbol Kapitalisme Global"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernahkah kita menyadari, bahwa sepak bola menyimpan teka-teki yang cukup rumit? Bagaimana sepak bola dapat bertransformasi dari olahraga sederhana menjadi olahraga yang megah dan bertabur pundi-pundi uang di setiap laganya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Para awam mendefinisikan sepak bola sebagai olahraga yang dimainkan dengan mudah dan sederhana, sesederhana oper, tendang, dan mencetak gol. Juga memahami dengan mudah tim yang paling banyak menang adalah yang akan mendapatkan gelar juara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun bagi para penikmatnya, sepak bola tentu berbicara jauh lebih banyak daripada itu. Sepak bola bukan sekadar hiburan, tetapi mengandung banyak sekali arti dari berbagai gagasan duniawi, ia juga berperan penting dalam mengakomodasi kebahagiaan masyarakat. Sepak bola adalah rumah dari berbagai keluh kesah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin Anda familiar dengan kalimat \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Football is my religion<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d yang sekilas tampak bernada provokatif bagi sebagian orang, tapi jika kita menelaah lagi maka kita akan memahami sesuatu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahwasanya bagi penikmatnya, sepak bola telah memasuki aspek-aspek kehidupan sekali pun aspek paling vital atau sensitif. Tanpa disadari, sepak bola telah menghilangkan sekat etnis, suku, dan agama. Semua membaur menjadi satu nama, sepak bola.<\/span><\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/14\/piala-dunia-virtual-kala-pandemik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Serunya Piala Dunia Virtual di Kala Pandemik<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya senang menganalogikan sepak bola sebagai \u201cminiatur konkret kehidupan manusia\u201d, karena di dalamnya tercampur banyak sekali komponen kehidupan pada umumnya. Rumusan tentang penghilangan sekat etnis, suku, dan agama nyatanya hanya berubah dalam cara kerjanya saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selebihnya, hal-hal tersebut melebur bersama klub kebanggaan dan merepresentasi harga diri masing-masing pendukungnya. Tak aneh jika di negara dengan penduduk yang fanatik sepak bola, sering terjadi konflik semata untuk mempertaruhkan &#8220;harga diri&#8221; mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak hanya itu, sepak bola juga mengandung nilai-nilai ideologis dan politik yang mana sering kali disuguhkan di atas bangku tribun. Semuanya bercampur lebur jadi sebuah identitas, menjelma budaya, melahirkan sensasi, dan\u00a0 membentuk satu nama, fanatisme.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fanatisme lahir sebagai bentuk ekspresi hasil dari kawin silang antara cinta dan rasa bangga. Bentuk ekspresi itu berangsur-angsur berubah menjadi sebuah keyakinan yang dibawa oleh masing-masing penganutnya dalam setiap laga kandang maupun tandang. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keyakinan itulah yang diturunkan dari generasi ke generasi dengan pola yang relatif sama. Fanatisme menjadi ciri bahwa sepak bola bukan perihal menang-kalah, tapi tentang nafkah, pertaruhan harga diri, bahkan hidup-mati.<\/span><\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/14\/andres-iniesta-dan-hari-yang-tak-terlupakan-di-afrika\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Andres Iniesta dan Hari yang Tak Terlupakan di Afrika<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Efeknya bukan hanya berimbas pada afeksi, bahkan sampai tingkah laku, keinginan lagi dan lagi, sepak bola telah menjadi candu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasa candu itulah yang telah menutup nalar sebagian &#8220;penganut&#8221; sepakbola dalam berperilaku. Mereka akan mencari cara apa pun demi memenuhi candu tersebut, dan bertindak kasar ketika ada pihak yang berusaha untuk &#8220;mensterilkan&#8221; mereka dari rasa candu itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada berapa banyak kerusuhan yang terjadi akibat laga yang dibatalkan? Atau soal larangan suporter tamu untuk datang ke markas lawan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fanatisme telah mengubah pola kebiasaan klub yang mereka bela, seolah kekuasaan tertinggi suatu klub ada pada pendukungnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal itu terlihat dari banyaknya kerusuhan yang terjadi saat klub kebanggaan kalah, dicurangi wasit, dizalimi federasi, dan berbagai hal lain yang menggambarkan fanatisme menjadi bekal ideologi suporter dalam menamengi klub kebanggaannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lucunya, rasa bangga yang berlebihan itu justru membuat sepak bola semakin digandrungi oleh banyak orang. Mereka tak lagi memandang sepak bola sebagai sebuah olahraga, tapi sebagai kebudayaan warisan entah dari orang tua atau sekadar representatif sebuah kota.<\/span><\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/14\/serie-a-kembali-dengan-gairah-berbeda\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Serie A Kembali dengan Gairah Berbeda<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anggapannya, membela sebuah klub sepak bola yang mewakili suatu kota\/negara berarti telah membela seisi kota\/negara tersebut. Maka tak aneh jika banyak ditemui konflik dua pendukung klub sepak bola justru terlihat sebagai konflik rasial, ideologi, juga politik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rupanya hal-hal itu disadari pula oleh kaum oportunis. Baginya, sepak bola bukan hanya olahraga, bukan juga produk kebudayaan, melainkan ladang bisnis yang hasilkan jutaan lembar uang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelumnya, mari kita ingat soal drama saling klaim antara bangsa Timur dan Barat tentang siapakah penemu pertama sepak bola?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari Wahyudi dalam bukunya yang berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Land of Hooligans<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0mengatakan bahwasanya Inggris dan Eropa pada umumnya, sesungguhnya hanya mengembangkan olahraga ini dari apa yang sudah ditemukan oleh orang-orang Asia Tengah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bangsa barat berhasil memodifikasi sepak bola menjadi sebuah permainan yang ramah bagi semua kalangan lewat peraturan-peraturan yang dibuatnya. Namun di sisi lain, peraturan tersebut juga menghadirkan\u00a0 drama baru; bahwa sepak bola adalah permainan yang rawan praktik kapitalisme.<\/span><\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/13\/legenda-label-the-new-dan-beban-pemain-muda\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Legenda, Label \u201cThe New\u201d, dan Beban Pemain Muda<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menyarankan Anda untuk menonton serial <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The English Game<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk memberi gambaran praktik kapitalisme sederhana dalam permainan sepak bola.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seiring berkembangnya zaman, dan ketika uang menjadi kebutuhan krusial semua orang. Sepak bola pun tak dapat dipisahkan dari praktik kapitalisme.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan gemerlapnya setiap pertandingan, mewahnya sebuah kompetisi, dan banyaknya pemain yang namanya serupa selebriti, sepak bola telah menjadi magnet bagi kapitalisme dalam mengembangkan praktiknya ke semua penjuru hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Roman Abramovich, Sheikh Mansour, atau Erick Thohir adalah nama-nama yang sedang atau pernah menaruh saham di klub sepak bola.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaannya, kenapa harus sepak bola? Seberapa besar mereka mencintai dan memahami sepak bola sebagai olahraga dan sebagai tanah subur yang cocok ditanami benih-benih uang? Kalimat \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Football: created by the poor, stolen by the rich<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d, cocok menggambarkan fenomena tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Faktanya, kapitalisme telah beroperasi melegitimasi sepak bola lewat drama pengaturan skor, seluk beluk mafia, dan berbagai macam hal lain.<\/span><\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/10\/corona-dan-dampaknya-ke-bursa-transfer-musim-panas-2020-2021\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Corona dan Dampaknya ke Bursa Transfer Musim Panas 2020\/2021<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengapa kebanyakan nama besar memilih untuk menanam saham di klub yang besar? Seolah-olah semakin besar suatu klub maka semakin besar juga peluangnya menjuarai kompetisi. Sekilas hal tersebut tidak adil dan menciderai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">fair play<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang selalu dicita-citakan elit federasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Praktik kapitalisme itu menjalar ke berbagai negara dengan basis suporter sepak bola yang tinggi, hingga menjadikan sepak bola sebagai simbol kapitalisme global. Kapitalisme berperan dalam komersialisasi permainan sepak bola.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sadar atau tidak, tetes keringat Cristiano Ronaldo dapat menutupi biaya renovasi sebuah rumah di Indonesia, atau tiap laju langkah Lionel Messi sama dengan tebaran uang yang sedang menari-nari unjuk diri di lapangan hijau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal lain dapat ditemui dengan beralihnya fungsi suporter sebagai pendukung menjadi konsumen suatu klub sepak bola. Kapitalisme telah merubah tatanan dan kebiasaan demi mencapai tujuan sepak bola modern yang &#8220;katanya&#8221; menjanjikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Segala intrik dan problematika yang ada, membawa kita pada permasalahan baru; apakah fanatisme yang melahirkan kapitalisasi sepakbola? Atau justru sebaliknya, kapitalisme yang melahirkan fanatisme?<\/span><\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/10\/melempem-dan-menua-trio-bbc-juventus-di-pengujung-masa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Melempem dan Menua, Trio BBC Juventus di Pengujung Masa<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teka-teki inilah yang seharusnya menampar keras para awam yang menganggap sepak bola sebagai permainan sederhana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana pun juga, sepak bola tidaklah pernah sesederhana kelihatannya, ia mengandung berbagai komponen kehidupan, berperan dalam keberlangsungan dunia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepak bola adalah rumah dari segala keluh kesah, ia menjadi tempat bercumbu antara sedih dan bahagia, semua karena sepak bola adalah miniatur konkret dari kehidupan kita.<\/span><\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/06\/cerita-dari-penyelenggaraan-piala-soeratin-pertama\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Cerita dari Penyelenggaraan Piala Soeratin Pertama<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/06\/ganti-pelatih-di-tengah-musim-tuah-chelsea-saat-juara-eropa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ganti Pelatih di Tengah Musim, Tuah Chelsea Saat Juara Eropa<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/06\/ketika-portsmouth-mengakhiri-dahaga-piala-fa-dalam-69-tahun\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ketika Portsmouth Mengakhiri Dahaga Piala FA dalam 69 Tahun<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p><b>*<\/b><b><i>Penulis merupakan seorang mahasiswa asal Bandung yang telanjur mencintai sepak bola. Dapat disapa di akun twitter <a href=\"https:\/\/twitter.com\/BikryPna\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">@bikrypna<\/a><\/i><\/b><\/p>\n<div class=\"video-description\"><em>Melihat beberapa momen terbaik N&#8217;Golo Kant\u00e9 saat berada di London barat bersama Chelsea. Pemain Prancis ini pindah dari Leicester City ke Chelsea, memenangkan gelar Premier League beruntun.<\/em><\/div>\n<div><\/div>\n<div class=\"dugout-video dugout-embed-eyJrZXkiOiJUUGJrQWozcyIsInAiOiJmb290YmFsbHRyaWJlIiwicGwiOiIifQ==\"><\/div>\n<p><script type=\"text\/javascript\" src=\"https:\/\/embed.dugout.com\/v3.1\/footballtribe.js\"><\/script><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pernahkah kita menyadari, bahwa sepak bola menyimpan teka-teki yang cukup rumit? Bagaimana sepak bola dapat bertransformasi dari olahraga sederhana menjadi olahraga yang megah dan bertabur pundi-pundi uang di setiap laganya? Para awam mendefinisikan sepak bola sebagai olahraga yang dimainkan dengan mudah dan sederhana, sesederhana oper, tendang, dan mencetak gol. Juga memahami dengan mudah tim yang paling banyak menang adalah yang akan mendapatkan gelar juara. Namun bagi para penikmatnya, sepak bola tentu berbicara jauh lebih banyak daripada itu. Sepak bola bukan sekadar hiburan, tetapi mengandung banyak sekali arti dari berbagai gagasan duniawi, ia juga berperan penting dalam mengakomodasi kebahagiaan masyarakat. Sepak bola adalah rumah dari berbagai keluh kesah. Mungkin Anda familiar &hellip; <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/21\/sepak-bola-fanatisme-buta-hingga-simbol-kapitalisme-global\/\" class=\"tribe-more-link\">Continue reading &#8220;Sepak Bola, Fanatisme Buta hingga Simbol Kapitalisme Global&#8221;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":44620,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[291],"tags":[224,122,598],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v22.8 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Sepak Bola, Fanatisme Buta hingga Simbol Kapitalisme Global | Football Tribe Indonesia<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Pernahkah kita menyadari, bahwa sepak bola menyimpan teka-teki yang cukup rumit? Bagaimana sepak bola dapat bertransformasi dari olahraga\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/21\/sepak-bola-fanatisme-buta-hingga-simbol-kapitalisme-global\/\" \/>\n<link rel=\"next\" href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/21\/sepak-bola-fanatisme-buta-hingga-simbol-kapitalisme-global\/2\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Sepak Bola, Fanatisme Buta hingga Simbol Kapitalisme Global | Football Tribe Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Pernahkah kita menyadari, bahwa sepak bola menyimpan teka-teki yang cukup rumit? Bagaimana sepak bola dapat bertransformasi dari olahraga\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/21\/sepak-bola-fanatisme-buta-hingga-simbol-kapitalisme-global\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Football Tribe Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"http:\/\/facebook.com\/footballtribeindonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-05-21T08:03:19+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2020-12-24T07:02:11+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2019\/11\/GettyImages-481798626.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"683\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"tribeindonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@footballtribeid\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@footballtribeid\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"tribeindonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/21\/sepak-bola-fanatisme-buta-hingga-simbol-kapitalisme-global\/\",\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/21\/sepak-bola-fanatisme-buta-hingga-simbol-kapitalisme-global\/\",\"name\":\"Sepak Bola, Fanatisme Buta hingga Simbol Kapitalisme Global | Football Tribe Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/21\/sepak-bola-fanatisme-buta-hingga-simbol-kapitalisme-global\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/21\/sepak-bola-fanatisme-buta-hingga-simbol-kapitalisme-global\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2019\/11\/GettyImages-481798626.jpg\",\"datePublished\":\"2020-05-21T08:03:19+00:00\",\"dateModified\":\"2020-12-24T07:02:11+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\"},\"description\":\"Pernahkah kita menyadari, bahwa sepak bola menyimpan teka-teki yang cukup rumit? Bagaimana sepak bola dapat bertransformasi dari olahraga\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/21\/sepak-bola-fanatisme-buta-hingga-simbol-kapitalisme-global\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/21\/sepak-bola-fanatisme-buta-hingga-simbol-kapitalisme-global\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2019\/11\/GettyImages-481798626.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2019\/11\/GettyImages-481798626.jpg\",\"width\":1024,\"height\":683},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/\",\"name\":\"Football Tribe Indonesia\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\",\"name\":\"tribeindonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"tribeindonesia\"},\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/author\/tribeindonesia\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Sepak Bola, Fanatisme Buta hingga Simbol Kapitalisme Global | Football Tribe Indonesia","description":"Pernahkah kita menyadari, bahwa sepak bola menyimpan teka-teki yang cukup rumit? Bagaimana sepak bola dapat bertransformasi dari olahraga","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/21\/sepak-bola-fanatisme-buta-hingga-simbol-kapitalisme-global\/","next":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/21\/sepak-bola-fanatisme-buta-hingga-simbol-kapitalisme-global\/2\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Sepak Bola, Fanatisme Buta hingga Simbol Kapitalisme Global | Football Tribe Indonesia","og_description":"Pernahkah kita menyadari, bahwa sepak bola menyimpan teka-teki yang cukup rumit? Bagaimana sepak bola dapat bertransformasi dari olahraga","og_url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/21\/sepak-bola-fanatisme-buta-hingga-simbol-kapitalisme-global\/","og_site_name":"Football Tribe Indonesia","article_publisher":"http:\/\/facebook.com\/footballtribeindonesia","article_published_time":"2020-05-21T08:03:19+00:00","article_modified_time":"2020-12-24T07:02:11+00:00","og_image":[{"width":1024,"height":683,"url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2019\/11\/GettyImages-481798626.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"tribeindonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@footballtribeid","twitter_site":"@footballtribeid","twitter_misc":{"Written by":"tribeindonesia","Est. reading time":"6 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/21\/sepak-bola-fanatisme-buta-hingga-simbol-kapitalisme-global\/","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/21\/sepak-bola-fanatisme-buta-hingga-simbol-kapitalisme-global\/","name":"Sepak Bola, Fanatisme Buta hingga Simbol Kapitalisme Global | Football Tribe Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/21\/sepak-bola-fanatisme-buta-hingga-simbol-kapitalisme-global\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/21\/sepak-bola-fanatisme-buta-hingga-simbol-kapitalisme-global\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2019\/11\/GettyImages-481798626.jpg","datePublished":"2020-05-21T08:03:19+00:00","dateModified":"2020-12-24T07:02:11+00:00","author":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3"},"description":"Pernahkah kita menyadari, bahwa sepak bola menyimpan teka-teki yang cukup rumit? Bagaimana sepak bola dapat bertransformasi dari olahraga","inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/21\/sepak-bola-fanatisme-buta-hingga-simbol-kapitalisme-global\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2020\/05\/21\/sepak-bola-fanatisme-buta-hingga-simbol-kapitalisme-global\/#primaryimage","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2019\/11\/GettyImages-481798626.jpg","contentUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2019\/11\/GettyImages-481798626.jpg","width":1024,"height":683},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/","name":"Football Tribe Indonesia","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3","name":"tribeindonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g","caption":"tribeindonesia"},"url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/author\/tribeindonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47171"}],"collection":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=47171"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47171\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":47174,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47171\/revisions\/47174"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/44620"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=47171"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=47171"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=47171"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}