{"id":4671,"date":"2017-05-11T14:49:46","date_gmt":"2017-05-11T07:49:46","guid":{"rendered":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?p=4671"},"modified":"2018-02-27T13:13:46","modified_gmt":"2018-02-27T06:13:46","slug":"analisis-derby-madrid-ucl","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/11\/analisis-derby-madrid-ucl\/","title":{"rendered":"Atletico Madrid 2-1 Real Madrid: Superioritas Jumlah di Lini Tengah Banyak Membantu El Real"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_4672\" aria-describedby=\"caption-attachment-4672\" style=\"width: 617px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4672 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/1-2.png\" alt=\"\" width=\"617\" height=\"397\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/1-2.png 617w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/1-2-350x225.png 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/1-2-591x380.png 591w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/1-2-560x360.png 560w\" sizes=\"auto, (max-width: 617px) 100vw, 617px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-4672\" class=\"wp-caption-text\"><em>Susunan pemain derby Madrid.<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Walaupun berhasil mengalahkan rival abadi mereka, Real Madrid, dalam <em>derby <\/em>Madrid di Liga Champions, Atletico Madrid harus rela gagal melangkah ke final Liga Champions di Cardiff.<\/p>\n<h3><strong><em>Build-up <\/em><\/strong><strong>Real vs <em>pressing <\/em>Atletico<\/strong><\/h3>\n<p>Dengan Atletico yang terkenal memiliki <em>compactness <\/em>(kerapatan) kuat di tengah, adalah wajar bila lawan mensirkulasi bola dan mencoba mendapatkan akses serang dengan menggunakan kedua tepi lapangan. Kebetulan, hal ini cocok dengan pendekatan serangan Real era Zidane yang berorientasi ke sayap dan mengandalkan umpan silang melambung dalam fase penciptaan peluang.<\/p>\n<p>Dalam <em>build-up <\/em>serangan dari lini pertama (lini belakang), Real menggunakan kedua nomor 8-nya (Luka Modric dan Toni Kroos) untuk mengisi masing-masing <em>halfspace<\/em> serta mendorong bek sayap jauh ke depan mendekat ke lini terakhir (lini penyerang). Untuk memperkuat aliran bola di koridor sayap sekaligus memancing blok tuan rumah bergeser ke pinggir, pemain-pemain Real coba meng-<em>overload <\/em>sayap sisi bola.<\/p>\n<p>Luka Modric sering terlihat masuk ke sayap (dan melakukan okupansi ganda dengan Danilo) di tepi lapangan untuk kemudian mencari celah mengakses Cristiano Ronaldo atau Karim Benzema yang mengisi <em>halfspace <\/em>sisi bola di pos nomor 10 atau nomor 8 yang berada dalam satu lini dengan Modric.<\/p>\n<p>Ditambah kemampuan tahan tekan (<em>pressure-resistant<\/em>) Modric yang sangat baik, Real mampu mengakses lini depan atau nomor 8 lain yang mengokupansi dua koridor vertikal terdekat.<\/p>\n<figure id=\"attachment_4673\" aria-describedby=\"caption-attachment-4673\" style=\"width: 619px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4673 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-4.png\" alt=\"\" width=\"619\" height=\"445\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-4.png 619w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-4-313x225.png 313w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-4-529x380.png 529w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-4-560x403.png 560w\" sizes=\"auto, (max-width: 619px) 100vw, 619px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-4673\" class=\"wp-caption-text\"><em>Pergeseran Modric ke sayap ditunjang oleh keberadaan 3 gelandang tengah dalam model permainan mereka, yang mana, secara alami masih ada dua gelandang tersisa dalam satu lini yang sama ketika Modric bergeser ke tepi lapangan.<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Di area yang lebih atas, lebih spesifik di pos nomor 10, Isco dan Benzema merupakan dua pemain yang paling konsisten mengisi pos tersebut. Ini diperlukan bila Real mencoba masuk ke celah antarlini belakang dan tengah Atletico.<\/p>\n<p>Menghadapi <em>build-up <\/em>Real dari lini belakang, kedua nomor 9 Atletico (Antoine Griezmann dan Fernando Torres) memulai orientasi gerak dari pos nomor 6 Real Madrid. Saat bola dimainkan oleh bek tengah, nomor 9 terdekat Atleti mendekatinya sambil menutup akses ke pemain di area nomor 6 Real.<\/p>\n<p>Kedua penyerang Atleti bergerak seperti pendulum, bergantian menjaga pos nomor 6 Real dan melakukan <em>press <\/em>ke bek tengah lawan. Walaupun terkadang koordinasi di antara keduanya terasa kurang pas, karena dalam banyak situasi, <em>press <\/em>salah satu nomor 9 tidak di-<em>cover <\/em>secara maksimal oleh nomor 9 lainnya, menyebabkan pemain Real Madrid di pos nomor 6 mendapatkan kesempatan memainkan bola dan memprogres serangan.<\/p>\n<p>Di lini kedua Atletico, Gabi dan Saul Niguez bergantian melakukan <em>onward-press <\/em>(<em>press <\/em>ke arah gawang lawan) kepada gelandang tengah lawan terdekat, membuat satu dari keduanya sering kali ditemui bergerak ke area lebih ke depan dibandingkan Griezmann dan Torres.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h3><strong><em>Zugriffserzeugend<\/em><\/strong><strong> dalam fase menyerang Atletico<\/strong><\/h3>\n<p>Ketika menyerang, Atletico mengambil pendekatan berbeda dengan Real. Secara prinsip, Diego Simeone juga memainkan skema progresi yang (cukup) vertikal. Dalam fase <em>build-up <\/em>yang paten (fase ketika kedua tim tidak berada dalam fase transisional), pemain Atletico mencoba memainkan bola diagonal melambung dari kiri ke sayap kanan atau bola-bola vertikal dari lini belakang ke sisi kanan (<em>halfspace <\/em>atau sayap) di mana Yannick Carrasco, Torres, atau Saul berada.<\/p>\n<figure id=\"attachment_4674\" aria-describedby=\"caption-attachment-4674\" style=\"width: 571px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4674 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-5.png\" alt=\"\" width=\"571\" height=\"357\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-5.png 571w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-5-350x219.png 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-5-560x350.png 560w\" sizes=\"auto, (max-width: 571px) 100vw, 571px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-4674\" class=\"wp-caption-text\"><em>Zugriffserzeugend Atletico, di babak kedua, yang berhasil ditangkal pemain-pemain Real. Bola panjang disundul menjauh oleh Casemiro (14) dan jatuh ke kaki Isco (22).<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Tuan rumah memainkan <em>zugriffserzeugend<\/em>, yaitu (mencoba) mendapatkan jalan masuk ke pertahanan lawan melalui bola-bola kedua (hasil duel udara). Target operasi taktik ini sangat mungkin adalah Marcelo yang memang kurang cakap berduel udara. Di samping itu, kehadiran Carrasco dan Saul ditambah Torres di sekitar sisi kanan membuat sisi tersebut berisi pemain-pemain eksplosif yang bisa diberdayakan untuk melalukan serangan \u201cmengejutkan\u201d ketika berhasil merebut bola kedua.<\/p>\n<p>Taktik ini pernah beberapa kali dipakai di masa lalu dan menuai sukses besar. Seperti ketika mengalahkan Barcelona di perempatfinal Liga Champions 2014 dan Bayer Leverkusen di babak 16 besar lalu. Menghadapi Real, dalam partai ini, dan terutama di babak kedua, keberhasilan taktik nampak semakin menurun. Sebab utamanya adalah, Real sering memenangkan bola kedua setelah mereka sukses melindungi Marcelo dari ekspos langsung bola-bola panjang pemain Atletico.<\/p>\n<p><strong><em>Catatan: Saya tidak menghitung statistik dalam konteks ini, jadi bisa saja observasi visual yang saya lakukan memiliki kemungkinan salah. Bila ada yang dapat mengonfirmasi opini ini, silakan.<\/em><\/strong><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h3><strong>Ambivalensi model permainan kedua tim<\/strong><\/h3>\n<p>Tanpa Gareth Bale, Zinedine Zidane memutuskan memainkan Isco. Perbedaan karakter permainan antara Isco dan Bale membuat sistem permainan Real mengalami sedikit perubahan. Dalam fase menyerang, Isco banyak mengisi area nomor 10 di belakang duo Cristiano Ronaldo dan Benzema. Ini membuat bentuk dasar Real menjadi 4-3-1-2 atau 4-1-3-2.<\/p>\n<p>Di beberapa kesempatan, kehadiran Isco di pos nomor 10 ditambah kesadaran ruangnya yang bagus, membuat Isco mampu menjadi konektor antara area nomor 8 dengan area nomor 9 Real Madrid. Keuntungan Real dikarenakan kecerdasan dan kreativitas Isco, di sisi lain, diperoleh dari bentuk dasar dan perilaku <em>pressing <\/em>pemain Atletico sendiri. Contohnya, kejadian di menit ke-8.<\/p>\n<figure id=\"attachment_4675\" aria-describedby=\"caption-attachment-4675\" style=\"width: 543px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4675 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-6.png\" alt=\"\" width=\"543\" height=\"373\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-6.png 543w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-6-328x225.png 328w\" sizes=\"auto, (max-width: 543px) 100vw, 543px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-4675\" class=\"wp-caption-text\"><em>Isco masuk ke pos nomor 10.<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Dalam pertandingan ini, terindikasi adanya kenaikan intensitas <em>pressing <\/em>dalam sistem permainan bertahan Atletico Madrid dibandingkan pertandingan-pertandingan mereka sebelumnya. Tentu saja, merupakan sebuah keputusan bagus ketika sebuah tim seperti Atletico memutuskan memainkan <em>pressing <\/em>yang lebih intens. Tetapi, di sisi lain, <em>pressing <\/em>yang dilakukan Atletico kali ini memiliki efek negatif terhadap kestabilan blok mereka.<\/p>\n<p>Bila melihat formasi dasar Real di area tengah yang mana keempat gelandang yakni Casemiro, Modric, Kroos, dan Isco, cenderung membentuk formasi dasar 1-3\/3-1\/1-2-1, hal ini membuat Los Galacticos memiliki keuntungan alami di lini tengah. Yaitu superioritas jumlah alami yang disebabkan oleh formasi dasar kedua tim (4-4-2 <em>flat <\/em>Atletico kontra 4-3-1-2 atau 4-1-3-2 Real).<\/p>\n<p>Situasi dalam infografik di atas merupakan salah satu contoh sederhana bagaimana Real memetik keuntungan dari superioritas jumlah alami yang berpihak kepada mereka.<\/p>\n<p>Gabi, yang didukung oleh Saul Niguez, memutuskan melakukan <em>onward-press <\/em>(<em>press <\/em>ke arah gawang lawan), menciptakan situasi dua lawan dua di lingkaran tengah. Kehadiran Isco yang masuk ke pos nomor 10 Real (atau sama dengan pos nomor 6 Atletico) membuat tuan rumah menjadi kalah jumlah di tengah. Koke dan Carrasco yang memiliki akses terdekat ke area nomor 6 pun tidak dapat segera merapat ke area nomor 6, dikarenakan mereka \u201cterikat\u201d oleh dua bek sayap Real yang mengisi kedua tepi lapangan.<\/p>\n<p>Situasi ini bisa diatasi salah satunya dengan memainkan <em>pressing <\/em>4-4-1-1 atau 4-4-2-0, yang mana kedua nomor 9 Atleti bertugas memblokir akses ke nomor 6 (Casemiro) dan nomor 8 (Modric-Kroos) Real, sehingga Gabi atau Saul dapat berfokus melindungi pos nomor 6, di depan bek tengah.<\/p>\n<p>Dalam momen ini, kedua nomor 9 Atletico berada di depan menjaga kedua bek tengah Real, membuat perlindungan di area nomor 10 Atletico menjadi berkurang yang berimbas secara tidak langsung terhadap pos nomor 6 tuan rumah.<\/p>\n<p>Apa yang terjadi di sini, bisa mewakili opini bahwa Real akan sangat merepotkan pos nomor 6 Atletico. Tetapi, sayang, model permainan Zidane tidak membuat Real dapat memetik keuntungan yang dimaksud. Kenapa? Karena Real-nya Zidane sangat dikenal sebagai tim yang, dalam fase menyerangnya, berorientasi masif ke koridor sayap untuk mendapatkan peluang tembak melalui umpan silang melambung.<\/p>\n<p>Selain itu, tim tamu juga dikenal sebagai tim yang sangat vertikal, mereka akan berusaha mencapai lini terakhir (lini serang) secepatnya. Kandungan vertikal semacam ini membuat serangan Real dilakukan dengan kecepatan maksimal, bila memungkinkan. Apa efeknya? Salah satunya, adalah <em>spacing <\/em>Real yang sering kali tidak optimal, karena serangan dilakukan dengan cepat.<\/p>\n<p>Serangan yang cepat, tentu berpotensi menimbulkan kepanikan lebih cepat dalam pertahanan lawan, tetapi di sisi lain, pemain-pemain Real tidak memiliki waktu cukup untuk menempatkan diri dalam ruang-ruang strategis (<em>spacing<\/em>) demi menjaga \u201ckeamanan\u201d sirkulasi dan progres serangan.<\/p>\n<p>Perlu diperhatikan, tanpa <em>spacing <\/em>pun sebuah tim tetap dapat memiliki koneksi. Dan Zidane, tampaknya tidak meletakkan pentingnya <em>spacing<\/em> sebagai fondasi utama dalam model permainannya. Bagi Zidane, bermain vertikal, serang lewat sayap, dan sesegera mungkin mencapai lini terakhir merupakan pendekatan terbaik bagi Real.<\/p>\n<p>Dalam banyak proses penciptaan peluang di samping kotak penalti lawan, sering terlihat tidak adanya koneksi optimal antara pemain sayap dengan <em>halfspace <\/em>terdekat dan area tengah. Ini memang merupakan konsekuensi model permainan Real Madrid, mereka sengaja berfokus untuk melepaskan umpan silang melambung langsung kepada salah satu dari tiga pemain yang berada di depan gawang lawan.<\/p>\n<p>Dalam <em>build-up <\/em>serangan dari belakang pun, kita bisa melihat Zidane tampak \u201cmembebaskan\u201d para pemainnya untuk mengambil posisi terbaik menurut si pemain. Sering ditemui, bek sayap dan ketiga gelandang melibatkan diri dan meng-<em>overload <\/em>dua lini pertama (belakang dan tengah) Real Madrid. Dalam <em>build-up <\/em>ini pula, karena pendekatan vertikal dan orientasi sayap yang disebutkan di atas, membuat Sergio Ramos dan kawan-kawan sering langsung melepaskan umpan jauh ke lini akhir atau ke sisi sayap.<\/p>\n<p>Di menit ke-6, terlihat jelas contoh dari pendekatan serangan Real. Keylor Navas langsung memainkan bola ke Marcelo untuk kemudian diarahkan kepada Isco yang bergeser ke sayap kiri di sepertiga tengah (bola dipotong oleh pemain Atleti).<\/p>\n<p>Perhatikan, sisi <em>halfspace <\/em>yang berada di dekat Isco dan area tengah. Tidak ada pemain Real Madrid di sana. Kalau pun Isco saat itu berhasil mengontrol umpan Marcelo, satu hal sudah jelas, tidak ada koneksi (pemain) yang membantu Isco mengalirkan progresi bola ke depan bila pemain-pemain tuan rumah berhasil mengurungnya.<\/p>\n<p>Di menit ke-10, berawal dari keberhasilan tiga pemain Atletico memotong umpan pendek satu sentuhan Ronaldo ke Benzema, tuan rumah mendapatkan tendangan sudut dan menciptakan gol pertama. Gol ini, terutama dalam prosesnya, sangat mencerminkan apa yang menjadi ciri kedua tim.<\/p>\n<p>Pertama, Navas berusaha melepaskan umpan jauh langsung menjangkau lini depan (vertikal). Umpannya gagal, karena kiper Real tersebut terpeleset. Kedua, setelah Luka Modric sukses me-<em>recovery <\/em>(mendapatkan bola liar), segera terlihat arah serang diarahkan langsung ke sayap (orientasi sayap dan secepatnya menjangkau lini depan), kepada Benzema.<\/p>\n<p>Tuan rumah meresponnya dengan <em>pressing <\/em>yang <em>compact<\/em>, yang telah menjadi ciri mereka. Filipe Luis, Koke, dan Gabi menciptakan situasi 3 lawan 2 terhadap Benzema dan Ronaldo. Saul berjaga di area tengah sekaligus menjaga Modric. Carrasco berjaga di <em>halfspace <\/em>jauh dari bola. Dan, yang terakhir, Torres memblokir akses umpan balik ke nomor 6 Real.<\/p>\n<p>Setelah bola berhasil direbut kembali, Atletico segera melakukan serangan. Begitu perhatiannya Simeone pada <em>compactness, <\/em>Atletico yang dilatihnya bisa dikatakan sebagai tim dengan <em>compactness <\/em>\u00a0di segala fase, baik fase serang maupun fase bertahan.<\/p>\n<p>Perhatikan bentuk <em>overload <\/em>Atleti di sisi kanan Real berikut ini.<\/p>\n<figure id=\"attachment_4676\" aria-describedby=\"caption-attachment-4676\" style=\"width: 457px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4676 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-7.png\" alt=\"\" width=\"457\" height=\"369\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-7.png 457w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-7-279x225.png 279w\" sizes=\"auto, (max-width: 457px) 100vw, 457px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-4676\" class=\"wp-caption-text\"><em>Overload Atletico di sisi kanan Real.<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Ini merupakan salah satu model penetrasi tim tuan rumah ketika mereka berada di sepertiga akhir. Atletico akan meng-<em>overload <\/em>sisi di mana bola berada untuk kemudian masuk dari sisi yang sama. Bek sayap sisi jauh bertahan di lini belakang. Bek sayap hanya akan bergerak maju bila Atletico beralih ke sisi jauh. Serangan ini, seperti yang disebutkan di atas, menghasilkan tendangan sudut, yang berujung pada gol pertama oleh Saul Niguez.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h3><strong>Sikap <em>pressing <\/em>kedua nomor 9 Atletico<\/strong><\/h3>\n<p>Seperti yang disinggung di atas, sikap <em>pressing <\/em>kedua penyerang tuan rumah diperlukan untuk menstabilkan area tengah. Di babak pertama, terutama dalam <em>pressing <\/em>blok tinggi dan menengah, sering kali pengambilan posisi dan intensitas <em>pressing <\/em>Fernando Torres dan Antoine Griezmann kurang memberikan tekanan terhadap nomor 6 Real. Karena nyatanya, Casemiro atau Modric sering terlihat mampu mengakses Isco yang mengisi celah antarlini tengah dan belakang Atletico.<\/p>\n<p>Hal yang sama tidak terjadi dalam blok rendah. Torres dan kawan-kawan bertahan dengan formasi dasar 4-4-2-0 yang mana kedua penyerangnya turung jauh hingga ke sepertiga awal. <em>Backward-press <\/em>(<em>pressing <\/em>ke arah gawang sendiri) kedua nomor 9 Atletico terhitung baik.<\/p>\n<p>Hal pertama karena memang ditunjang oleh geometri ruang itu sendiri. Dalam blok rendah, ruang gerak Real lebih terbatas dan area yang harus dijelajahi oleh kedua penyerang Atletico Madrid pun relatif lebih kecil, yang pada gilirannya, membantu Atletico melindungi area tengah dan <em>halfspace <\/em>pertahanan.<\/p>\n<p>Dengan kesanggupan lebih dari tim tuan rumah untuk melindungi celah antarlini belakang dan tengah, kesempatan lawan untuk masuk lewat celah antarlini tentu berkurang. Real sendiri beberapa kali mampu menemukan celah antarlini lebih disebabkan oleh pergerakan tanpa bola dan baiknya penempatan posisi dari Benzema atau Isco yang mampu mengubah geometri ruang.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h3><strong>Babak kedua<\/strong><\/h3>\n<p>Meningkatnya urgensi menambah gol membuat Atletico mempercepat sirkulasi dan progresi bola dalam fase menyerang mereka. Anak asuh Simeone semakin vertikal dalam melakukan progres serangan. Salah satu skema bola-bola langsung Atletico adalah umpan dari sekitar pos nomor 6 langsung ke lini depan kepada Griezmann yang berlari horizontal dari tengah ke <em>halfspace <\/em>sisi bola.<\/p>\n<figure id=\"attachment_4677\" aria-describedby=\"caption-attachment-4677\" style=\"width: 567px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4677 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-8.png\" alt=\"\" width=\"567\" height=\"499\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-8.png 567w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-8-256x225.png 256w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-8-432x380.png 432w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/2-8-560x493.png 560w\" sizes=\"auto, (max-width: 567px) 100vw, 567px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-4677\" class=\"wp-caption-text\"><em>Skema bola langsung (direct ball) Atletico.<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Salah satu efek buruk vertikalnya serangan Atletico adalah mereka tampak terburu-buru dalam memainkan bola-bola panjang, yang terkadang, tanpa didukung struktur yang menjamin keamanan dalam perebutan bola-bola kedua hasil duel udara<\/p>\n<p>Contohnya, ketika Koke melepaskan umpan jauh dari garis tengah ke lini terakhir yang diisi oleh empat pemain tuan rumah. Keempat pemain ini berada dalam satu garis horizontal yang sejajar (<em>flat<\/em>) sementara lini kedua di belakang keempat pemain berposisi terlalu jauh sehingga akses menjadi hilang.<\/p>\n<p>Saat bola liar hasil sundulan Ramos bergulir ke tengah, karena \u201cketiadaan\u201d pemain tuan rumah di sana, <em>gegenpressing <\/em>mereka menjadi lemah dan Real mendapatkan kembali (<em>recovery<\/em>) penguasaan bola.<\/p>\n<p>Real Madrid sendiri tetap dapat beberapa kali memperlihatkan bagaimana mereka memanfaatkan keunggulan jumlah di lini tengah untuk mengamankan sirkulasi dan progresi. Atletico kerap kesulitan menggagalkan kombinasi umpan pendek di antara pemain Real yang kebanyakan disebabkan oleh kedua nomor 9 mereka kehilangan akses <em>pressing <\/em>terhadap nomor 6 Real<em>.<\/em><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-4687 aligncenter\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/7-real-menang-jumlah-300x173.png\" alt=\"\" width=\"474\" height=\"273\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>Real menang jumlah, kedua nomor 9 Atletico kehilangan akses kepada nomor 6 Real, dan progresi Real (Benzema kepada Isco) ditunjang oleh superioritas posisional.<\/em><\/p>\n<p>Simeone memasukan dua pemain pengganti untuk memberikan penyegaran sekaligus menambah daya dobrak. Torres keluar diagntikan oleh Kevin Gameiro dan Gimenez keluar digantikan oleh Thomas Partey, namun agaknya pergantian itu tidak membawa perubahan berarti. Sampai akhir pertandingan, skor 2-1 untuk keunggulan tuan rumah tidak berubah. Atletico Madrid menang tetapi tersingkir dari Liga Champions 2017.<\/p>\n<p>[perfectpullquote align=&#8221;full&#8221; cite=&#8221;&#8221; link=&#8221;&#8221; color=&#8221;&#8221; class=&#8221;&#8221; size=&#8221;&#8221;]Baca juga: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/10\/analisis-juventus-2-1-monaco\/\">Juventus 2-1 Monaco, Perihal Superioritas Dani Alves<\/a>[\/perfectpullquote]<\/p>\n<p><strong>Author: <em>Ryan Tank (<span class=\"username u-dir\" dir=\"ltr\"><a class=\"ProfileHeaderCard-screennameLink u-linkComplex js-nav\" href=\"https:\/\/twitter.com\/ryantank100\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">@<b class=\"u-linkComplex-target\">ryantank100<\/b><\/a>)<\/span><\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Walaupun berhasil mengalahkan rival abadi mereka, Real Madrid, dalam derby Madrid di Liga Champions, Atletico Madrid harus rela gagal melangkah ke final Liga Champions di Cardiff. Build-up Real vs pressing Atletico Dengan Atletico yang terkenal memiliki compactness (kerapatan) kuat di tengah, adalah wajar bila lawan mensirkulasi bola dan mencoba mendapatkan akses serang dengan menggunakan kedua tepi lapangan. Kebetulan, hal ini cocok dengan pendekatan serangan Real era Zidane yang berorientasi ke sayap dan mengandalkan umpan silang melambung dalam fase penciptaan peluang. Dalam build-up serangan dari lini pertama (lini belakang), Real menggunakan kedua nomor 8-nya (Luka Modric dan Toni Kroos) untuk mengisi masing-masing halfspace serta mendorong bek sayap jauh ke depan mendekat &hellip; <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/11\/analisis-derby-madrid-ucl\/\" class=\"tribe-more-link\">Continue reading &#8220;Atletico Madrid 2-1 Real Madrid: Superioritas Jumlah di Lini Tengah Banyak Membantu El Real&#8221;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":4678,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3018],"tags":[1008,181,129,179,122,155],"class_list":["post-4671","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tribe-tank","tag-analisis","tag-atletico-madrid","tag-featured","tag-real-madrid","tag-slider","tag-uefa-champions-league"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Atletico Madrid 2-1 Real Madrid: Superioritas Jumlah di Lini Tengah Banyak Membantu El Real | Football Tribe Indonesia<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Walaupun berhasil mengalahkan rival abadi mereka, Atletico Madrid harus rela gagal melangkah ke final Liga Champions di Cardiff.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/11\/analisis-derby-madrid-ucl\/\" \/>\n<link rel=\"next\" href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/11\/analisis-derby-madrid-ucl\/2\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Atletico Madrid 2-1 Real Madrid: Superioritas Jumlah di Lini Tengah Banyak Membantu El Real | Football Tribe Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Walaupun berhasil mengalahkan rival abadi mereka, Atletico Madrid harus rela gagal melangkah ke final Liga Champions di Cardiff.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/11\/analisis-derby-madrid-ucl\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Football Tribe Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"http:\/\/facebook.com\/footballtribeindonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-05-11T07:49:46+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-02-27T06:13:46+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/681626534.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"594\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"436\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"tribeindonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@footballtribeid\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@footballtribeid\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"tribeindonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"11 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/05\\\/11\\\/analisis-derby-madrid-ucl\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/05\\\/11\\\/analisis-derby-madrid-ucl\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"tribeindonesia\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\"},\"headline\":\"Atletico Madrid 2-1 Real Madrid: Superioritas Jumlah di Lini Tengah Banyak Membantu El Real\",\"datePublished\":\"2017-05-11T07:49:46+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-27T06:13:46+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/05\\\/11\\\/analisis-derby-madrid-ucl\\\/\"},\"wordCount\":2246,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/05\\\/11\\\/analisis-derby-madrid-ucl\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2017\\\/05\\\/681626534.jpg\",\"keywords\":[\"Analisis\",\"Atletico Madrid\",\"Featured\",\"Real Madrid\",\"Slider\",\"UEFA Champions League\"],\"articleSection\":[\"Tribe Tank\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/05\\\/11\\\/analisis-derby-madrid-ucl\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/05\\\/11\\\/analisis-derby-madrid-ucl\\\/\",\"name\":\"Atletico Madrid 2-1 Real Madrid: Superioritas Jumlah di Lini Tengah Banyak Membantu El Real | Football Tribe Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/05\\\/11\\\/analisis-derby-madrid-ucl\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/05\\\/11\\\/analisis-derby-madrid-ucl\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2017\\\/05\\\/681626534.jpg\",\"datePublished\":\"2017-05-11T07:49:46+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-27T06:13:46+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\"},\"description\":\"Walaupun berhasil mengalahkan rival abadi mereka, Atletico Madrid harus rela gagal melangkah ke final Liga Champions di Cardiff.\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/05\\\/11\\\/analisis-derby-madrid-ucl\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/05\\\/11\\\/analisis-derby-madrid-ucl\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2017\\\/05\\\/681626534.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2017\\\/05\\\/681626534.jpg\",\"width\":594,\"height\":436,\"caption\":\"Derby Atletico Madrid\"},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/\",\"name\":\"Football Tribe Indonesia\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\",\"name\":\"tribeindonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"tribeindonesia\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/author\\\/tribeindonesia\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Atletico Madrid 2-1 Real Madrid: Superioritas Jumlah di Lini Tengah Banyak Membantu El Real | Football Tribe Indonesia","description":"Walaupun berhasil mengalahkan rival abadi mereka, Atletico Madrid harus rela gagal melangkah ke final Liga Champions di Cardiff.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/11\/analisis-derby-madrid-ucl\/","next":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/11\/analisis-derby-madrid-ucl\/2\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Atletico Madrid 2-1 Real Madrid: Superioritas Jumlah di Lini Tengah Banyak Membantu El Real | Football Tribe Indonesia","og_description":"Walaupun berhasil mengalahkan rival abadi mereka, Atletico Madrid harus rela gagal melangkah ke final Liga Champions di Cardiff.","og_url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/11\/analisis-derby-madrid-ucl\/","og_site_name":"Football Tribe Indonesia","article_publisher":"http:\/\/facebook.com\/footballtribeindonesia","article_published_time":"2017-05-11T07:49:46+00:00","article_modified_time":"2018-02-27T06:13:46+00:00","og_image":[{"width":594,"height":436,"url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/681626534.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"tribeindonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@footballtribeid","twitter_site":"@footballtribeid","twitter_misc":{"Written by":"tribeindonesia","Est. reading time":"11 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/11\/analisis-derby-madrid-ucl\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/11\/analisis-derby-madrid-ucl\/"},"author":{"name":"tribeindonesia","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3"},"headline":"Atletico Madrid 2-1 Real Madrid: Superioritas Jumlah di Lini Tengah Banyak Membantu El Real","datePublished":"2017-05-11T07:49:46+00:00","dateModified":"2018-02-27T06:13:46+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/11\/analisis-derby-madrid-ucl\/"},"wordCount":2246,"image":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/11\/analisis-derby-madrid-ucl\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/681626534.jpg","keywords":["Analisis","Atletico Madrid","Featured","Real Madrid","Slider","UEFA Champions League"],"articleSection":["Tribe Tank"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/11\/analisis-derby-madrid-ucl\/","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/11\/analisis-derby-madrid-ucl\/","name":"Atletico Madrid 2-1 Real Madrid: Superioritas Jumlah di Lini Tengah Banyak Membantu El Real | Football Tribe Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/11\/analisis-derby-madrid-ucl\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/11\/analisis-derby-madrid-ucl\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/681626534.jpg","datePublished":"2017-05-11T07:49:46+00:00","dateModified":"2018-02-27T06:13:46+00:00","author":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3"},"description":"Walaupun berhasil mengalahkan rival abadi mereka, Atletico Madrid harus rela gagal melangkah ke final Liga Champions di Cardiff.","inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/11\/analisis-derby-madrid-ucl\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/11\/analisis-derby-madrid-ucl\/#primaryimage","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/681626534.jpg","contentUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/681626534.jpg","width":594,"height":436,"caption":"Derby Atletico Madrid"},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/","name":"Football Tribe Indonesia","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3","name":"tribeindonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g","caption":"tribeindonesia"},"url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/author\/tribeindonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4671","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4671"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4671\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4678"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4671"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4671"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4671"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}