{"id":4444,"date":"2017-05-06T09:30:01","date_gmt":"2017-05-06T02:30:01","guid":{"rendered":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?p=4444"},"modified":"2017-05-06T07:28:56","modified_gmt":"2017-05-06T00:28:56","slug":"10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/06\/10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990\/","title":{"rendered":"10 Jenderal Lapangan Tengah Terbaik di Era 1990-an"},"content":{"rendered":"<p>Seorang <em>playmaker <\/em>atau gelandang sentral punya peran penting dalam permainan sepak bola. Dia yang mengatur irama permainan dan memberi jalan bagi penyerang untuk membuat gol. Selain itu, <em>playmaker<\/em> juga mengatur pertahanan tim yang bersangkutan.<\/p>\n<p>Sebelum era Xavi Hernandez, Juan Roman Riquelme dan Andres Iniesta, ada beberapa nama hebat di lapangan tengah di era 1990-an. Berikut daftar yang dibuat Daniel Storey di <a href=\"http:\/\/www.football365.com\/news\/top-ten-the-best-1990s-playmakers-ft-gazza\">football365.com<\/a>:<\/p>\n<figure id=\"attachment_4445\" aria-describedby=\"caption-attachment-4445\" style=\"width: 594px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4445 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Zinedine-Zidane.jpg\" alt=\"Zinedine Zidane\" width=\"594\" height=\"396\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Zinedine-Zidane.jpg 594w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Zinedine-Zidane-338x225.jpg 338w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Zinedine-Zidane-570x380.jpg 570w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Zinedine-Zidane-560x373.jpg 560w\" sizes=\"auto, (max-width: 594px) 100vw, 594px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-4445\" class=\"wp-caption-text\">Zinedine Zidane<\/figcaption><\/figure>\n<ul>\n<li>\n<h3><strong>Zinedine Zidane (Prancis)<\/strong><\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p>Tidak mungkin melupakan nama yang satu ini. Pria yang saat ini melatih Real Madrid meraih suksesnya bersama timnas Prancis saat menjadi juara dunia di rumah sendiri (1998) dan juara Eropa tahun 2000.<\/p>\n<p>Bersama Real Madrid sebagai pemain, dia berhasil membawa Los Blancos juara La Liga dan Liga Champions Eropa. Sebelumnya saat masih di Juventus, dia berhasil membawa Si Nyonya Tua meraih gelar Piala Super UEFA dan dua kali juara Serie A.<\/p>\n<p>Tindakan memalukan saat menanduk Marco Materazzi di final Piala Dunia 2006 tidak mengurangi kekaguman dunia pada Zidane. Zidane tetaplah duta sepak bola yang cukup aktif menyuarakan isu-isu perdamaian dan sosial.<\/p>\n<p>Mantan rekan setimnya di Juventus, Edgar Davids, memuji Zidane sebagai pemain spesial. Zidane adalah pemain yang bisa menciptakan celah saat keadaan sempit. Tak peduli bagaimana dia mendapat bola atau bagaimana bola itu datang, Zidane selalu bisa keluar dari kesulitan.<\/p>\n<p>Zidane sempat menjadi asisten Carlo Ancelotti di Real Madrid. Setelah Ancelotti pindah ke Bayern Munchen, Zidane menjadi pelatih utama El Real saat ini. Sukses membawa Madrid meraih gelar Liga Champions Eropa 2015\/2016 (disusul oleh Piala Super UEFA dan Piala Dunia Antarklub), kemungkinan dia mengulang sukses dengan membawa Madrid menjuarai Liga Champions musim ini masih terbuka.<\/p>\n<figure id=\"attachment_4446\" aria-describedby=\"caption-attachment-4446\" style=\"width: 594px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4446 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Michael-Laudrup.jpg\" alt=\"Michael Laudrup\" width=\"594\" height=\"393\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Michael-Laudrup.jpg 594w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Michael-Laudrup-340x225.jpg 340w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Michael-Laudrup-574x380.jpg 574w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Michael-Laudrup-560x371.jpg 560w\" sizes=\"auto, (max-width: 594px) 100vw, 594px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-4446\" class=\"wp-caption-text\">Michael Laudrup<\/figcaption><\/figure>\n<ul>\n<li>\n<h3><strong>Michael Laudrup (Denmark)<\/strong><\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p>Laudrup bersaudara, Michael dan sang adik, Brian, termasuk salah satu bintang lapangan hijau yang memukau dunia di era 1990-an. Sang adik memang lebih berkilau reputasinya dengan membawa Denmark juara Piala Eropa di Swedia tahun 1992. Brian tidak bermain karena berpendapat bahwa pelarangan Yugoslavia untuk tampil di Piala Eropa 1992 karena alasan politik itu tidak adil.<\/p>\n<p>Bersama Juventus, Laudrup sempat membawa tim kota Turin ini juara Serie A di awal 1990-an. Lalu, dia pindah ke Barcelona dan menjadi salah satu pemain pujaan di Camp Nou. Michael yang saat ini menjadi pelatih di klub Qatar ini pindah ke Madrid karena perbedaan pendapat dengan pelatih Barca saat itu, Johan Cryuff.<\/p>\n<p>Walau hanya bermain 62 kali bersama Madrid, namun Michael masuk dalam daftar pemain ke-12 terbaik sepanjang sejarah klub tersebut. Tahun 1999, Michael bahkan diberi penghargaan pemain asing terbaik di sepak bola Spanyol selama 25 tahun terakhir.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<figure id=\"attachment_4447\" aria-describedby=\"caption-attachment-4447\" style=\"width: 594px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4447 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Roberto-Baggio.jpg\" alt=\"Roberto Baggio\" width=\"594\" height=\"383\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Roberto-Baggio.jpg 594w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Roberto-Baggio-350x225.jpg 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Roberto-Baggio-589x380.jpg 589w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Roberto-Baggio-560x361.jpg 560w\" sizes=\"auto, (max-width: 594px) 100vw, 594px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-4447\" class=\"wp-caption-text\">Roberto Baggio<\/figcaption><\/figure>\n<ul>\n<li>\n<h3><strong>Roberto Baggio (Italia)<\/strong><\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p>Rambut berkuncir menjadi ciri khas yang membuatnya mudah dikenali. Pencinta sepak bola lebih banyak mengenang dirinya saat gagal menjadi penendang penalti di final Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat saat lawan Brasil. Tapi tidak adil hanya menghakimi karier seseorang dari satu sisi kegagalan saja.<\/p>\n<p>Kegagalan mengeksekusi penalti di final Piala Dunia tidak membuat cinta publik Italia berkurang padanya. Torehan 220 gol sepanjang karier yang dihantui cedera sudah cukup membuktikan kualitasnya. Namun, setelah Piala Dunia 1994, dia kerap tersisihkan, baik saat di Juventus maupun di AC Milan. Dan akhirnya bermain di klub medioker macam Brescia. \u00a0Baggio yang memeluk agama Buddha ini pensiun pada 2004.<\/p>\n<figure id=\"attachment_4448\" aria-describedby=\"caption-attachment-4448\" style=\"width: 594px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4448 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Hagi.jpg\" alt=\"Gheorghe Hagi\" width=\"594\" height=\"382\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Hagi.jpg 594w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Hagi-350x225.jpg 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Hagi-591x380.jpg 591w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Hagi-560x360.jpg 560w\" sizes=\"auto, (max-width: 594px) 100vw, 594px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-4448\" class=\"wp-caption-text\">Gheorghe Hagi<\/figcaption><\/figure>\n<ul>\n<li>\n<h3><strong>Gheorghe Hagi (Rumania)<\/strong><\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p>Hagi dijuluki Maradona dari Carphatians karena <em>skill<\/em>-nya. Sosoknya yang vokal dan terbuka juga mengingatkan kita pada Maradona. Bahkan pelatihnya dulu, Mircea Lucescu, mengatakan <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/02\/05\/catatan-tentang-gheorghe-hagi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Hagi pemain hebat tanpa etika<\/a>.<\/p>\n<p>Hagi membawa Rumania mengejutkan dunia saat mengalahkan Argentina di babak 16 besar Piala Dunia 1994. Nyaris saja Rumania ke babak empat besar sebelum takluk dari Swedia lewat adu penalti. Di Piala Eropa 2000, Hagi membawa Rumania ke babak delapan besar sebelum kalah dari Italia yang akhirnya menjadi <em>runner<\/em><em>&#8211;<\/em><em>up.<\/em><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<figure id=\"attachment_4449\" aria-describedby=\"caption-attachment-4449\" style=\"width: 594px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4449 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Paul-Gascoigne.jpg\" alt=\"Paul Gascoigne\" width=\"594\" height=\"435\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Paul-Gascoigne.jpg 594w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Paul-Gascoigne-307x225.jpg 307w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Paul-Gascoigne-519x380.jpg 519w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Paul-Gascoigne-560x410.jpg 560w\" sizes=\"auto, (max-width: 594px) 100vw, 594px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-4449\" class=\"wp-caption-text\">Paul Gascoigne<\/figcaption><\/figure>\n<ul>\n<li>\n<h3><strong>Paul Gascoigne (Inggris)<\/strong><\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p>Sosoknya menjadi kesayangan publik saat menangis setelah Inggris kalah dari Jerman lewat adu penalti di semifinal Piala Dunia 1990 di Italia. Gazza, nama akrabnya, memang pemain hebat, namun akhir 1990-an, kehidupan pribadi dan kariernya berantakan akibat sikap indisipliner dan kecanduan alkoholnya.<\/p>\n<p>Bergabung dengan Lazio tahun 1992 setelah bersinar di Piala Dunia 1990, ternyata Gazza tidak menampilkan penampilan terbaiknya karena cedera dan kelebihan berat badan. Kariernya sempat naik lagi saat bersama Glasgow Rangers di pertengahan 1990-an dengan mencetak 27 gol di dua musim pertama.\u00a0 Setelah itu, kita tahu bagaimana perjalanan hidupnya kemudian yang berakhir pelik.<\/p>\n<figure id=\"attachment_4450\" aria-describedby=\"caption-attachment-4450\" style=\"width: 594px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4450 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Manuel-Rui-Costa.jpg\" alt=\"Manuel Rui Costa\" width=\"594\" height=\"396\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Manuel-Rui-Costa.jpg 594w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Manuel-Rui-Costa-338x225.jpg 338w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Manuel-Rui-Costa-570x380.jpg 570w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Manuel-Rui-Costa-560x373.jpg 560w\" sizes=\"auto, (max-width: 594px) 100vw, 594px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-4450\" class=\"wp-caption-text\">Manuel Rui Costa<\/figcaption><\/figure>\n<ul>\n<li>\n<h3><strong>Manuel <\/strong><strong>Rui Costa (Portugal)<\/strong><\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p>Pemain berambut panjang ini salah satu <em>playmaker <\/em>terbaik di generasinya. Mulai bersinar saat mewakili tim Portugal U-21 di bawah asuhan Carlos Queiroz di Piala Dunia U-20 mengalahkan Brasil,\u00a0 Rui Costa kemudian mewakili Portugal saat mencapai delapan besar Piala Eropa 1996, semifinal Piala Eropa 2000 dan final Piala Eropa 2004 di rumah sendiri.<\/p>\n<p>Di level klub, Costa sukses bersama Fiorentina dan AC Milan. Costa masuk dalam skuat Milan saar juara Liga Champions Eropa musim 2002\/2003 (mengalahkan saingan abadi di Serie A, Juventus).<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<figure id=\"attachment_4451\" aria-describedby=\"caption-attachment-4451\" style=\"width: 594px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4451 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Dennis-Bergkamp.jpg\" alt=\"Dennis Bergkamp\" width=\"594\" height=\"396\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Dennis-Bergkamp.jpg 594w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Dennis-Bergkamp-338x225.jpg 338w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Dennis-Bergkamp-570x380.jpg 570w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Dennis-Bergkamp-560x373.jpg 560w\" sizes=\"auto, (max-width: 594px) 100vw, 594px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-4451\" class=\"wp-caption-text\">Dennis Bergkamp<\/figcaption><\/figure>\n<ul>\n<li>\n<h3><strong>Dennis Bergkamp (Belanda)<\/strong><\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p>Penyerang bayangan atau <em>playmaker<\/em>? Terkadang agak rumit istilah ini. Tapi <em>the <\/em><em>non<\/em><em>&#8211;<\/em><em>flying Dutchman<\/em> ini lebih sebagai <em>playmaker <\/em>yang juga serba bisa. Di Italia, kita mengenal pemain seperti Bergkamp dengan sebutan fantasista.<\/p>\n<p>Bergkamp adalah salah satu sosok penting yang membawa Arsenal meraih sukses di akhir 1990-an sekaligus menandai awal karier Arsene Wenger di Arsenal dengan beragam gelar. Konsistensinya dan komitmennya membuat dia akan selalu dikenang suporter The Gunners sebagai Dennis \u201cThe God\u201d Bergkamp.<\/p>\n<figure id=\"attachment_4452\" aria-describedby=\"caption-attachment-4452\" style=\"width: 594px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4452 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Robert-Prosinecki.jpg\" alt=\"Robert Prosinecki\" width=\"594\" height=\"396\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Robert-Prosinecki.jpg 594w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Robert-Prosinecki-338x225.jpg 338w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Robert-Prosinecki-570x380.jpg 570w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Robert-Prosinecki-560x373.jpg 560w\" sizes=\"auto, (max-width: 594px) 100vw, 594px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-4452\" class=\"wp-caption-text\">Robert Prosinecki<\/figcaption><\/figure>\n<ul>\n<li>\n<h3><strong>Robert Prosinecki (Kroasia)<\/strong><\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p>Negara-negara pecahan Yugoslavia mempunyai banyak talenta sepak bola handal. Di era sekarang ada Aleksander Kolarov, Branislav Ivanovic, Edin Dzeko dan masih banyak lagi. Di era 1990-an, nama Robert Prosinecki tidak mungkin diabaikan.<\/p>\n<p>Prosinecki adalah jenderal lapangan tengah sejati. Kariernya mulai menanjak saat bersama Red Star Belgrade meraih tiga gelar (Piala Yugoslavia, Liga 1 Yugoslavia, dan Piala Champions Eropa) musim 1990\/1991. Kemudian dia merantau ke Real Madrid dan bermain selama tiga musim \u00a0di sana lalu hijrah ke Barcelona satu musim.<\/p>\n<p>Dia kemudian menjadi salah satu bintang bersama Davor Suker dan Zvonimir Boban saat mewakili Kroasia di Piala Dunia 1998 di rrancis, di mana Kroasia sukses meraih juara tiga. Sebagai negara baru merdeka, Kroasia berhasil memukau dunia di Piala Dunia.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<figure id=\"attachment_4453\" aria-describedby=\"caption-attachment-4453\" style=\"width: 594px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4453 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Abedi-Pele.jpg\" alt=\"Abedi Pele\" width=\"594\" height=\"396\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Abedi-Pele.jpg 594w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Abedi-Pele-338x225.jpg 338w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Abedi-Pele-570x380.jpg 570w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Abedi-Pele-560x373.jpg 560w\" sizes=\"auto, (max-width: 594px) 100vw, 594px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-4453\" class=\"wp-caption-text\">Abedi Pele<\/figcaption><\/figure>\n<ul>\n<li>\n<h3><strong>Abedi Pele (Ghana)<\/strong><\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p>Sebelum era Samuel Eto\u2019o dan Didier Drogba serta Michael Essien, Afrika punya Abedi Pele. Sekalipun gelar Liga Champions Eropa 1993 dicabut akibat kasus suap, penampilannya bersama Marseille patut diacungi jempol.<\/p>\n<p>Bersama Ghana, Pele membawa negaranya meraih gelar Piala Afrika pada 1982. Kapten timnas Ghana ini pensiun pada 1998 dan di awal 1990-an dia meraih gelar Pemain Terbaik Afrika selama tiga tahun berturut-turut. Wajar jika Abedi Pele dijuluki pesepak bola terbaik Afrika sepanjang masa.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<figure id=\"attachment_4454\" aria-describedby=\"caption-attachment-4454\" style=\"width: 594px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4454 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Dejan-Savicevic.jpg\" alt=\"Dejan Savicevic\" width=\"594\" height=\"387\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Dejan-Savicevic.jpg 594w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Dejan-Savicevic-345x225.jpg 345w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Dejan-Savicevic-583x380.jpg 583w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Dejan-Savicevic-560x365.jpg 560w\" sizes=\"auto, (max-width: 594px) 100vw, 594px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-4454\" class=\"wp-caption-text\">Dejan Savicevic<\/figcaption><\/figure>\n<ul>\n<li>\n<h3><strong>Dejan Savicevic (<\/strong><strong>Yugoslavia\/Montenegro<\/strong><strong>)<\/strong><\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p>Saat negara Yugoslavia masih ada, bersama Prosinecki dia mengantarkan Red Star menjadi juara Liga Champions Eropa musim 1990\/1991. Namun, publik Milan selalu mengenangnya sebagai sosok yang jenius. Savicevic bersama Carlo Ancelotti, Daniel Massaro dan Paolo Maldini, turut\u00a0 membawa AC Milan juara Liga Champions Eropa musim 1993\/1994 dengan mengalahkan tim impian Barcelona di bawah asuhan Johan Cryuff dengan skor telak 4-0.<\/p>\n<p>Bersama timnas Yugoslavia (saat itu), Savicevic sudah tampil sebanyak 56 kali dalam rentang waktu 13 tahun. Pria berusia 50 tahun ini juga dikenal aktif mendukung merdekanya Montenegro dari Serbia di pertengahan 2000-an. Savicevic saat ini menjadi ketua PSSI-nya Montenegro dan sudah menjabat selama 13 tahun.<\/p>\n<p><strong>Author: <em>Yasmeen Rasidi (<a class=\"ProfileHeaderCard-screennameLink u-linkComplex js-nav\" href=\"https:\/\/twitter.com\/melatee2512\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><span class=\"username u-dir\" dir=\"ltr\">@<b class=\"u-linkComplex-target\">melatee2512<\/b><\/span><\/a>)<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seorang playmaker atau gelandang sentral punya peran penting dalam permainan sepak bola. Dia yang mengatur irama permainan dan memberi jalan bagi penyerang untuk membuat gol. Selain itu, playmaker juga mengatur pertahanan tim yang bersangkutan. Sebelum era Xavi Hernandez, Juan Roman Riquelme dan Andres Iniesta, ada beberapa nama hebat di lapangan tengah di era 1990-an. Berikut daftar yang dibuat Daniel Storey di football365.com: Zinedine Zidane (Prancis) Tidak mungkin melupakan nama yang satu ini. Pria yang saat ini melatih Real Madrid meraih suksesnya bersama timnas Prancis saat menjadi juara dunia di rumah sendiri (1998) dan juara Eropa tahun 2000. Bersama Real Madrid sebagai pemain, dia berhasil membawa Los Blancos juara La Liga &hellip; <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/06\/10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990\/\" class=\"tribe-more-link\">Continue reading &#8220;10 Jenderal Lapangan Tengah Terbaik di Era 1990-an&#8221;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":4449,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[69,78],"tags":[129,976],"class_list":["post-4444","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-eropa","category-lannya","tag-featured","tag-playmaker"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>10 Jenderal Lapangan Tengah Terbaik di Era 1990-an | Football Tribe Indonesia<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Sebelum era Xavi Hernandez, Juan Roman Riquelme dan Andres Iniesta, ada beberapa nama playmaker hebat di lapangan tengah di era 1990-an.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/06\/10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990\/\" \/>\n<link rel=\"next\" href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/06\/10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990\/2\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"10 Jenderal Lapangan Tengah Terbaik di Era 1990-an | Football Tribe Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Sebelum era Xavi Hernandez, Juan Roman Riquelme dan Andres Iniesta, ada beberapa nama playmaker hebat di lapangan tengah di era 1990-an.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/06\/10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Football Tribe Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"http:\/\/facebook.com\/footballtribeindonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-05-06T02:30:01+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Paul-Gascoigne.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"594\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"435\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"tribeindonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@footballtribeid\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@footballtribeid\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"tribeindonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/05\\\/06\\\/10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/05\\\/06\\\/10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"tribeindonesia\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\"},\"headline\":\"10 Jenderal Lapangan Tengah Terbaik di Era 1990-an\",\"datePublished\":\"2017-05-06T02:30:01+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/05\\\/06\\\/10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990\\\/\"},\"wordCount\":1226,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/05\\\/06\\\/10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2017\\\/05\\\/Paul-Gascoigne.jpg\",\"keywords\":[\"Featured\",\"Playmaker\"],\"articleSection\":[\"Eropa\",\"Lainnya\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/05\\\/06\\\/10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/05\\\/06\\\/10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990\\\/\",\"name\":\"10 Jenderal Lapangan Tengah Terbaik di Era 1990-an | Football Tribe Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/05\\\/06\\\/10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/05\\\/06\\\/10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2017\\\/05\\\/Paul-Gascoigne.jpg\",\"datePublished\":\"2017-05-06T02:30:01+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\"},\"description\":\"Sebelum era Xavi Hernandez, Juan Roman Riquelme dan Andres Iniesta, ada beberapa nama playmaker hebat di lapangan tengah di era 1990-an.\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/05\\\/06\\\/10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2017\\\/05\\\/06\\\/10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2017\\\/05\\\/Paul-Gascoigne.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2017\\\/05\\\/Paul-Gascoigne.jpg\",\"width\":594,\"height\":435,\"caption\":\"Paul Gascoigne\"},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/\",\"name\":\"Football Tribe Indonesia\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\",\"name\":\"tribeindonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"tribeindonesia\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/author\\\/tribeindonesia\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"10 Jenderal Lapangan Tengah Terbaik di Era 1990-an | Football Tribe Indonesia","description":"Sebelum era Xavi Hernandez, Juan Roman Riquelme dan Andres Iniesta, ada beberapa nama playmaker hebat di lapangan tengah di era 1990-an.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/06\/10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990\/","next":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/06\/10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990\/2\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"10 Jenderal Lapangan Tengah Terbaik di Era 1990-an | Football Tribe Indonesia","og_description":"Sebelum era Xavi Hernandez, Juan Roman Riquelme dan Andres Iniesta, ada beberapa nama playmaker hebat di lapangan tengah di era 1990-an.","og_url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/06\/10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990\/","og_site_name":"Football Tribe Indonesia","article_publisher":"http:\/\/facebook.com\/footballtribeindonesia","article_published_time":"2017-05-06T02:30:01+00:00","og_image":[{"width":594,"height":435,"url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Paul-Gascoigne.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"tribeindonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@footballtribeid","twitter_site":"@footballtribeid","twitter_misc":{"Written by":"tribeindonesia","Est. reading time":"6 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/06\/10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/06\/10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990\/"},"author":{"name":"tribeindonesia","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3"},"headline":"10 Jenderal Lapangan Tengah Terbaik di Era 1990-an","datePublished":"2017-05-06T02:30:01+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/06\/10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990\/"},"wordCount":1226,"image":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/06\/10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Paul-Gascoigne.jpg","keywords":["Featured","Playmaker"],"articleSection":["Eropa","Lainnya"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/06\/10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990\/","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/06\/10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990\/","name":"10 Jenderal Lapangan Tengah Terbaik di Era 1990-an | Football Tribe Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/06\/10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/06\/10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Paul-Gascoigne.jpg","datePublished":"2017-05-06T02:30:01+00:00","author":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3"},"description":"Sebelum era Xavi Hernandez, Juan Roman Riquelme dan Andres Iniesta, ada beberapa nama playmaker hebat di lapangan tengah di era 1990-an.","inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/06\/10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/05\/06\/10-jenderal-lapangan-terbaik-di-era-1990\/#primaryimage","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Paul-Gascoigne.jpg","contentUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/05\/Paul-Gascoigne.jpg","width":594,"height":435,"caption":"Paul Gascoigne"},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/","name":"Football Tribe Indonesia","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3","name":"tribeindonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g","caption":"tribeindonesia"},"url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/author\/tribeindonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4444","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4444"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4444\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4449"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4444"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4444"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4444"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}