{"id":43375,"date":"2019-08-12T14:42:38","date_gmt":"2019-08-12T07:42:38","guid":{"rendered":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?p=43375"},"modified":"2019-08-12T14:42:38","modified_gmt":"2019-08-12T07:42:38","slug":"sepak-bola-jepang-era-heisei","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/08\/12\/sepak-bola-jepang-era-heisei\/","title":{"rendered":"Hegemoni Sepak Bola Jepang di Era Heisei"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menulis tulisan ini pada awal Agustus sembari mengingat peristiwa besar yang terjadi di awal bulan kedelapan ini: Bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin jika dua kota tersebut tidak dijatuhi bom atom, serangan udara Tokyo pada tahun 1942 akan lebih dikenang. Atau bisa jadi jika bom atom tidak dijatuhkan, perang akan terus berlanjut dan entah berapa banyak pesawat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ohka\u00b8<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> pesawat berbahan kayu bertenaga roket yang dibuat khusus untuk misi bunuh diri <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kamikaze,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> diproduksi untuk menambah panjang daftar tentara Jepang yang gugur untuk dikenang di Kuil Yasukuni.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin juga, jika Hiroshima dan Nagasaki tidak luluh lantak akibat bom atom, status saya saat ini bukan WNI, melainkan Warga Negara Asia Timur Raya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jepang menyerah kalah. Perang Dunia II, bencana paling mengerikan pada abad 20 itu pun berakhir. Jalan hidup negara Jepang pun berubah, dari fasis dan totaliter menjadi lebih demokratis, namun tidak melupakan semangat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bushido<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelahnya, Jepang menjadi negara maju dan memimpin dunia. Namun, era <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Showa <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang gemilang pasca-hancur lebur akibat perang, berakhir ketika Ketua Sekretariat Kabinet Jepang, Keizo Obuchi, pada 7 Januari 1989 mengumumkan dimulainya era baru yakni era <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Heisei, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">setelah sebelumnya Shoichi Fujimori, Kepala Rumah Tangga Kekaisaran mengumumkan berita duka, Kaisar Hirohito telah mangkat akibat penyakit kanker yang diderita. Akihito, putra tertua Kaisar Hirohito, naik tahta menggantikan ayahanda sebagai Kaisar Jepang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>Baca juga: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/01\/17\/ko-itakura-bek-city\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ko Itakura, Bek Muda Jepang Milik Manchester City<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Heisei<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0yang bermakna damai, ternyata tidak damai-damai amat bagi Jepang. Khususnya bagi perekonomian mereka. Gelembung ekonomi yang terjadi akibat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ekses <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ditandatanganinya Perjanjian Plaza di New York pada tahun 1985. Meski gelembung ekonomi sudah terasa pada era <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Showa,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> namun dampaknya makin terasa pada era <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Heisei<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ekonomi Jepang mengalami stagnansi, dan Jepang harus merelakan singgasananya sebagai penguasa ekonomi Asia pada Cina, negara yang pada Perang Dunia II menjadi ladang pembantaian, dan harus menyaksikan dengan pahit ketika Korea Selatan, tetangga di semenanjung yang pada tahun 1960-an adalah salah satu negara miskin di dunia, berhasil mengalami kemajuan dengan pesat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keadaan diperparah dengan datangnya bencana alam. Dua di antaranya masuk dalam kategori bencana alam besar: Gempa bumi di Jepang Barat pada 1995 dan gempa bumi yang mengakibatkan tsunami di bagian Tohoku pada 2011.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi gangguan kemanan dalam negeri yang terusik akibat ulah para anggota sekte hari kiamat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Aum Shinrikyo,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> lewat serangan gas sarin di beberapa stasiun kereta bawah tanah Tokyo pada 20 Maret 1995, yang menewaskan 14 orang dan mengakibatkan ribuan orang mengalami gangguan penglihatan.<\/span><\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>Baca juga: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/01\/04\/nakamachi-jepang-afrika\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kosuke Nakamachi, Gelandang Jepang di Liga Afrika<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Era <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Heisei <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">mungkin kelam bagi perekonomian Jepang, namun tidak bagi sepak bolanya. Pada era <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Heisei <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">inilah sepak bola Jepang bangkit. Pada era <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Showa, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sepak bola Jepang berada pada level semenjana. Persis dengan apa yang terjadi pada Manchester United usai era Sir Alex Ferguson.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika prestasi tertinggi <em>The Red Devils <\/em>pada level Eropa setelah ditinggal Sir Alex hanya berupa juara Liga Europa, kejuaraan kelas dua antarklub benua biru, maka prestasi tertinggi Jepang di era <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Showa <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">hanyalah berupa medali perunggu pada Olimpiade 1968 di Meksiko.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada era <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Showa<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, klub sepak bola masih dikelola amatir, persis seperti apa yang dilakukan petinggi Manchester United sekarang ini. Maka tak salah jika ada yang mengatakan Yasuhiko Okudera datang ke Jerman dengan status amatiran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yasuhiko Okudera memang berhasil membawa FC Koeln meraih gelar ganda, juara <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Bundesliga <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">dan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">DFB Pokal <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">di musim 1977, musim pertama Okudera merasakan kompetisi liga di Eropa. Selanjutnya praktis tidak ada lagi pemain yang bersinar seperti Okudera di Eropa pada era <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Showa<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<div class=\"dugout-video dugout-embed-eyJrZXkiOiJXZjk2Q05kWCIsInAiOiJmb290YmFsbHRyaWJlIiwicGwiOiIifQ==\"><\/div>\n<p><script async type=\"text\/javascript\" src=\"https:\/\/embed.dugout.com\/v3.1\/footballtribe.js\"><\/script><br \/>\n<span style=\"font-weight: 400;\">Jepang hanya mengirim \u201cwakil\u201d berupa nama sponsor di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">jersey <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">klub-klub Eropa.\u00a0 Ini mengingatkan saya akan petinggi Manchester United yang hanya memikirkan keuangan klub dibanding prestasi dengan lebih giat mendatangkan sponsor ketimbang pemain berkualitas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di era <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Heisei<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Jepang berhasil menjadi juara Asia sebanyak 4 kali, <em>r<\/em><\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">unner-up <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Piala Konfederasi 2001, dan tidak pernah absen tampil di Piala Dunia sejak 1998. Kegemilangan Jepang dimulai di Hiroshima, kota yang hancur lebur akibat bom atom.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">8 November 1992 akan selalu dikenang masyarakat Jepang. Untuk pertama kalinya Jepang menjadi juara Asia, meski di rumah sendiri. Umur era <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Heisei<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> saat itu masih 3 tahun 7 bulan. Segera setelah berhasil menjadi jawara Asia, langkah selanjutnya adalah pembenahan kompetisi, dan lahirlah apa yang kita semua kenal dengan nama J.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">League<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> yang sampai sekarang ini masuk dalam salah satu kompetisi sepak bola terbaik di Asia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pembenahan kompetisi berdampak positif. Layaknya budaya pop Jepang yang mendunia di era <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Heisei<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, pemain Jepang pun mulai dilirik klub-klub Eropa. Meski sebelumnya ada nama Kazuyoshi Miura yang malang melintang di klub-klub Eropa mulai dari Genoa kemudian menyebrangi Laut Adriatik dan bermain bersama Croatia Zagreb, namun prestasi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">King Kazu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, julukan Miura, terbilang biasa saja.<\/span><\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>Baca juga: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/03\/07\/kazuyoshi-miura-yang-masih-berlari\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kaki Renta Kazuyoshi Miura yang Masih Berlari<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seringnya Miura berganti klub mengingatkan saya akan koas yang berganti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">stase<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Bulan ini di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">stase <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">bedah, 6 bulan kemudian pindah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">stase <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">anak. Baru setelah Piala Dunia 1998, pemain Jepang yang berkualitas mulai dikenal dunia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika ada pemain Jepang yang mewakili kegemilangan sepak bola di era <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Heisei<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, maka Shinji Kagawa orangnya. Bukan Hidetoshi Nakata, Shunsuke Nakamura, Shinji Ono, Makoto Hasebe, atau Keisuke Honda. Tidak seperti mereka, yang sebenarnya punya prestasi mengilap, Shinji Kagawa lahir di era <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Heisei<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kagawa lahir 17 Maret 1989, memang hanya beberapa bulan setelah era <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Heisei <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dimulai, tapi Kagawa berhasil menaklukkan dua kompetisi top Eropa: <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Bundesliga <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">dan Liga Primer Inggris. Kagawa berhasil membawa Dortmund menjadi jawara <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Bundesliga<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> pada musim pertamanya, mengikuti jejak Okudera dan Hasebe. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Musim berikutnya, yang merupakan musim terakhirnya bersama Dortmund, Kagawa kembali mengantarkan Dortmund menjadi juara.<\/span><\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>Baca juga: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/10\/29\/mengapresiasi-mental-jepang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Mengapresiasi Mentalitas Bertanding Timnas U-19 Jepang<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Musim 2012, Kagawa bergabung bersama Manchester United dan meraih titel ke-20. Shinji 1 &#8211; Gerrard <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nil<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Meski kemudian kembali ke Dortmund dan kemudian dipinjamkan ke Besiktas, Kagawa adalah representasi kegemilangan Jepang di era <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Heisei<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanpa Kagawa, Jepang akan kesulitan meraih gelar juara pada ajang Piala Asia 2011. Sekadar pengingat, musim 2015 ada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">samurai <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dengan nama Shinji juga, namun berbeda marga, yakni Okazaki yang berhasil membawa Leicester juara liga domestik. Shinji 2 &#8211; Gerrard <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nil.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Era <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Heisei<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, layaknya era <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Showa<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, kini sudah berakhir. Era yang baru bernama <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Reiwa <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sudah dimulai sejak Mei kemarin. Kagawa dan kolega gagal memberi perpisahan yang manis bagi era <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Heisei <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">setelah dikalahkan Qatar di final Piala Asia 2019, namun Olimpiade 2020 di Tokyo bisa jadi awal pembuka jalan kegemilangan Jepang di era <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Reiwa<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Mungkin bisa melebihi era <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Heisei.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menarik ditunggu.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><em><strong>*Penulis adalah seorang karyawan yang percaya cinta pada pandangan pertama itu ada setelah melihat Manchester United dan Erika Ikuta. Bisa ditemui di akun Twitter <a href=\"https:\/\/twitter.com\/adithya86530_d\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">@adithya86530_d<\/a><\/strong><\/em><\/p>\n<div class=\"dugout-video dugout-embed-eyJrZXkiOiI3RnEwREVTaSIsInAiOiJmb290YmFsbHRyaWJlIiwicGwiOiIifQ==\"><\/div>\n<p><script async type=\"text\/javascript\" src=\"https:\/\/embed.dugout.com\/v3.1\/footballtribe.js\"><\/script><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya menulis tulisan ini pada awal Agustus sembari mengingat peristiwa besar yang terjadi di awal bulan kedelapan ini: Bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Mungkin jika dua kota tersebut tidak dijatuhi bom atom, serangan udara Tokyo pada tahun 1942 akan lebih dikenang. Atau bisa jadi jika bom atom tidak dijatuhkan, perang akan terus berlanjut dan entah berapa banyak pesawat Ohka\u00b8 pesawat berbahan kayu bertenaga roket yang dibuat khusus untuk misi bunuh diri Kamikaze, diproduksi untuk menambah panjang daftar tentara Jepang yang gugur untuk dikenang di Kuil Yasukuni. Mungkin juga, jika Hiroshima dan Nagasaki tidak luluh lantak akibat bom atom, status saya saat ini bukan WNI, melainkan Warga Negara Asia Timur &hellip; <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/08\/12\/sepak-bola-jepang-era-heisei\/\" class=\"tribe-more-link\">Continue reading &#8220;Hegemoni Sepak Bola Jepang di Era Heisei&#8221;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":43377,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[291],"tags":[388,573,1003,122,598,3277],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v22.8 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Hegemoni Sepak Bola Jepang di Era Heisei | Football Tribe Indonesia<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Saya menulis tulisan ini pada awal Agustus sembari mengingat peristiwa besar yang terjadi di awal bulan kedelapan ini: Bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/08\/12\/sepak-bola-jepang-era-heisei\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Hegemoni Sepak Bola Jepang di Era Heisei | Football Tribe Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Saya menulis tulisan ini pada awal Agustus sembari mengingat peristiwa besar yang terjadi di awal bulan kedelapan ini: Bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/08\/12\/sepak-bola-jepang-era-heisei\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Football Tribe Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"http:\/\/facebook.com\/footballtribeindonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2019-08-12T07:42:38+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2019\/08\/Suporter-Jepang.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"674\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"tribeindonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@footballtribeid\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@footballtribeid\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"tribeindonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/08\/12\/sepak-bola-jepang-era-heisei\/\",\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/08\/12\/sepak-bola-jepang-era-heisei\/\",\"name\":\"Hegemoni Sepak Bola Jepang di Era Heisei | Football Tribe Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/08\/12\/sepak-bola-jepang-era-heisei\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/08\/12\/sepak-bola-jepang-era-heisei\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2019\/08\/Suporter-Jepang.jpg\",\"datePublished\":\"2019-08-12T07:42:38+00:00\",\"dateModified\":\"2019-08-12T07:42:38+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\"},\"description\":\"Saya menulis tulisan ini pada awal Agustus sembari mengingat peristiwa besar yang terjadi di awal bulan kedelapan ini: Bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/08\/12\/sepak-bola-jepang-era-heisei\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/08\/12\/sepak-bola-jepang-era-heisei\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/08\/12\/sepak-bola-jepang-era-heisei\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2019\/08\/Suporter-Jepang.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2019\/08\/Suporter-Jepang.jpg\",\"width\":1200,\"height\":674},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/08\/12\/sepak-bola-jepang-era-heisei\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Hegemoni Sepak Bola Jepang di Era Heisei\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/\",\"name\":\"Football Tribe Indonesia\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\",\"name\":\"tribeindonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"tribeindonesia\"},\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/author\/tribeindonesia\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Hegemoni Sepak Bola Jepang di Era Heisei | Football Tribe Indonesia","description":"Saya menulis tulisan ini pada awal Agustus sembari mengingat peristiwa besar yang terjadi di awal bulan kedelapan ini: Bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/08\/12\/sepak-bola-jepang-era-heisei\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Hegemoni Sepak Bola Jepang di Era Heisei | Football Tribe Indonesia","og_description":"Saya menulis tulisan ini pada awal Agustus sembari mengingat peristiwa besar yang terjadi di awal bulan kedelapan ini: Bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.","og_url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/08\/12\/sepak-bola-jepang-era-heisei\/","og_site_name":"Football Tribe Indonesia","article_publisher":"http:\/\/facebook.com\/footballtribeindonesia","article_published_time":"2019-08-12T07:42:38+00:00","og_image":[{"width":1200,"height":674,"url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2019\/08\/Suporter-Jepang.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"tribeindonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@footballtribeid","twitter_site":"@footballtribeid","twitter_misc":{"Written by":"tribeindonesia","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/08\/12\/sepak-bola-jepang-era-heisei\/","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/08\/12\/sepak-bola-jepang-era-heisei\/","name":"Hegemoni Sepak Bola Jepang di Era Heisei | Football Tribe Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/08\/12\/sepak-bola-jepang-era-heisei\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/08\/12\/sepak-bola-jepang-era-heisei\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2019\/08\/Suporter-Jepang.jpg","datePublished":"2019-08-12T07:42:38+00:00","dateModified":"2019-08-12T07:42:38+00:00","author":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3"},"description":"Saya menulis tulisan ini pada awal Agustus sembari mengingat peristiwa besar yang terjadi di awal bulan kedelapan ini: Bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/08\/12\/sepak-bola-jepang-era-heisei\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/08\/12\/sepak-bola-jepang-era-heisei\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/08\/12\/sepak-bola-jepang-era-heisei\/#primaryimage","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2019\/08\/Suporter-Jepang.jpg","contentUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2019\/08\/Suporter-Jepang.jpg","width":1200,"height":674},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/08\/12\/sepak-bola-jepang-era-heisei\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Hegemoni Sepak Bola Jepang di Era Heisei"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/","name":"Football Tribe Indonesia","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3","name":"tribeindonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g","caption":"tribeindonesia"},"url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/author\/tribeindonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43375"}],"collection":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=43375"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43375\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":43378,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43375\/revisions\/43378"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/43377"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=43375"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=43375"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=43375"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}