{"id":42728,"date":"2019-06-30T23:58:16","date_gmt":"2019-06-30T16:58:16","guid":{"rendered":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?p=42728"},"modified":"2019-07-01T00:20:06","modified_gmt":"2019-06-30T17:20:06","slug":"jangan-belajar-ke-cina","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/06\/30\/jangan-belajar-ke-cina\/","title":{"rendered":"Jangan Belajar (Sepak Bola) ke Negeri Cina"},"content":{"rendered":"<p>Ada pepatah berkata, \u201cBelajarlah sampai ke negeri Cina\u201d yang punya makna berarti tuntutlah ilmu sejauh mungkin kalau bisa sampai ke luar negeri. Namun nampaknya pepatah tersebut tak berlaku di sepak bola. Ada baiknya kalau PSSI jangan belajar (sepak bola) ke negeri Cina.<\/p>\n<p>Anggapan ini tak sepenuhnya salah, tapi tak sepenuhnya benar juga. Sepak bola Cina dalam beberapa tahun terakhir tengah menggeliat, khususnya melihat pergerakan klub-klub CSL (Chinese Super League) di lantai bursa yang mendatangkan para pemain kelas dunia untuk merumput di Negeri Tirai Bambu.<\/p>\n<p>Sebut saja beberapa pemain Brasil yang masih eksis hingga kini seperti Hulk dan Oscar yang memperkuat Shanghai SIPG, Yannick Carrasco (Belgia\/Dalian Yifang), Javier Mascherano (Argentina\/Hebei China Fortune), atau Sandro Wagner (Jerman\/Tianjin TEDA) merupakan alumni klub-klub top Eropa yang kini berlaga di Asia. Namun sayang masuknya para selebritas lapangan hijau tersebut tak membuat sepak bola Cina kian cemerlang.<\/p>\n<p>Di kancah antarklub Asia, wakil Cina musim ini menyisakan Guangzhou Evergrande dan Shanghai SIPG di babak perempat-final dari total 4 klub yang berlaga (3 lolos langsung ke fase grup, 1 <em>play-off<\/em> fase terakhir) dan mungkin sedikit lebih baik ketimbang performa wakil Indonesia dalam catatan sejarah.<\/p>\n<p>Sepanjang sejarah Liga Champions Asia, baru ada tiga asal Cina yang berhasil melaju ke final. Guangzhou Evergrande menjadi tim tersukses dengan koleksi dua gelar di tahun 2013 dan 2015, sementara Liaoning Whowin yang juara di era 1990-an kini terdampar di kasta kedua. Sisanya, Dalian Shide yang jadi <em>runner-up<\/em> di 1998 harus <em>merger<\/em> dengan Dalian Aerbin di 2012 dan sejak 2015 berganti nama menjadi <strong><a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/03\/17\/lelucon-bernama-dalian-yifang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Dalian Yifang<\/a><\/strong>.<\/p>\n<p>Apalagi bicara level timnas, jika patokan keberhasilan dalam sepak bola yang paripurna adalah menjuarai Piala Dunia (pria), maka timnas Cina pun belum pernah sekalipun merasakannya. Berbanding terbalik dengan <em>Steel Roses<\/em>, julukan untuk timnasita Cina, yang setidaknya pernah menjadi <em>runner-up<\/em> Piala Dunia Wanita 1999.<\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>Baca juga: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/05\/17\/zhao-lina-yang-tolak-jadi-model\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Zhao Lina yang Tolak Kesempatan Jadi Model Untuk Majukan Sepak Bola Perempuan Cina<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p>Namun sepak bola Cina bukannya tak berbenah, bahkan pemerintah sampai ikut turun tangan untuk \u201cmen-sepak bola-kan\u201d masyarakat Cina. Apalagi presiden Xi Jinping terkenal sebagai sosok yang gila bola.<\/p>\n<p>Beberapa tahun terakhir banyak cara yang dilakukan mulai dari membangun puluhan lapangan untuk berlatih para pemain usia dini, hingga melakukan &#8220;diplomasi stadion&#8221; yakni pemberian bantuan dana kepada negara-negara seperti Nepal, Laos, Fiji, Samoa, bahkan Kosta Rika dan Kamerun untuk membantu pembangunan stadion megah di negara tersebut.<\/p>\n<p>Teranyar, para pengusaha Cina juga mulai melakukan manuver bisnis lainnya dengan mulai menguasai saham atau kepemilikan klub-klub Eropa, menjadi sponsor klub yang memungkinkan nama perusahaan mereka <em>mejeng<\/em> di jersey teranyar hingga stadion klub dan lain-lain.<\/p>\n<p>Usut punya usut, sepak bola menjadi lahan bebas rencana pemerintah Cina membuat <strong><a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/04\/29\/di-balik-investasi-cina\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Jalur Sutera Baru melalui pintu masuk Eropa yakni Italia<\/a><\/strong>.<\/p>\n<h3><strong>Perlu dan tidaknya Indonesia meniru geliat sepak bola Cina<\/strong><\/h3>\n<p>Lantas bagaimana dengan Indonesia? Situasi sepak bola Indonesia dan Cina ternyata hampir mirip. Jika bicara soal banyaknya pemain asing, meski kini tak ada lagi nama-nama seperti Roger Milla, Mario Kempes, Lee Hendrie, atau Michael Essien di Liga Indonesia, tetap saja pamor \u201cliga terbaik ketiga\u201d di Asia menurut eks Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi, belum luntur.<\/p>\n<p>Bahkan angka menjamurnya ekspatriat di kompetisi Indonesia terus bertambah, mengingat banyak juga pemain asing yang betah tinggal di Indonesia, kemudian mengganti kewarganegaraannya sampai kerap dijuluki pemain E-KTP oleh beberapa <em>sportcaster<\/em> di televisi.<\/p>\n<p>Di Asia Tenggara sendiri penggunaan pemain asing di Indonesia terbilang wajar. Di Thailand satu klub bahkan dapat memiliki maksimal 7 pemain asing (3 non-Asia, 1 Asia, dan 1 Asia Tenggara), sedangkan di Malaysia 5 pemain asing (3 non-Asia, 1 Asia, dan 1 Asia Tenggara).<\/p>\n<p>Batas maksimal pemain asing di Indonesia sama dengan Cina yakni 4, dengan catatan tambahan satu pemain &#8220;asing&#8221; dari luar wilayah <em>mainland China <\/em>(Hong Kong, Makau, dan Taiwan).<\/p>\n<p>Otoritas liga Cina juga tidak mengenal aturan pemain asing Asia seperti yang diwajibkan PT. LIB dari beberapa musim ke belakang. Namun uniknya tiap klub di Cina diwajibkan untuk tidak mengontrak kiper asing.<\/p>\n<p>Kondisi tersebut terbilang unik, karena ada anggapan bahwa hal tersebut baik untuk melatih kiper-kiper Cina mendapat pengalaman lebih berhadapan satu lawan satu dengan para penyerang kelas dunia seperti Hulk atau Wagner namun tak berlaku sebaliknya.<\/p>\n<p>Akan tetapi, banyaknya bintang dunia tak lantas membuat kualitas liga Cina seperti liga-liga Eropa. Meski Liga Super Cina menyandang status liga ketiga terbaik di Asia (data resmi AFC, bukan diaku-akui seperti Pak Edy) tetap saja Liga Super Cina tak luput dari keributan antarpemain persis seperti yang terjadi di Liga 1.<\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"Oscar cause big fight on game between Shanghai SIPG and Guangzhou R&amp;F\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/LpFN5iwxFhk?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Sama seperti Liga 1 yang sedang krisis klub-klub dari wilayah timur Indonesia, hal serupa juga terjadi di Cina. Bedanya di Cina kebanyakan klub yang berlaga di Liga Super Cina berada di timur, sementara wilayah barat yang dekat dengan negara-negara pecahan Uni Soviet dan India tak memiliki klub sepak bola yang mumpuni.<\/p>\n<p>Maka setidaknya menjadi sebuah anti-tesis tersendiri jika Xi ingin \u201cmen-sepak bola-kan\u201d masyarakat Cina, ia perlu mengembangkan sepak bola secara merata di seluruh negeri. Agar bakat-bakat dari komunitas minoritas Uyghur seperti <strong><a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/03\/12\/city-football-group-di-cina\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">\u00d6tk\u00fcr Hesen<\/a><\/strong> yang kini bermain di klub satelit milik City Football Group, bisa bertambah dan dibina dengan baik.<\/p>\n<p><strong><div class=\"post_partner clearfix\"><p>Baca juga: <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/05\/05\/mutiara-sepak-bola-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Tentang Papua dan Mutiara Sepak Bola Indonesia<\/a><\/p>\n<\/div><\/strong><\/p>\n<p>Bicara soal pemain naturalisasi di level timnas, dalam sedekade terakhir tercatat puluhan nama pemain E-KTP yang membela Garuda di berbagai level. Mulai dari pemain keturunan seperti Stefano Lilipaly, Ezra Walian, atau Kevin Gomes. hingga yang tak punya darah Indonesia sama sekali seperti Cristian Gonzales, Victor Igbonefo atau Alberto Goncalves.<\/p>\n<p>Uniknya kini giliran timnas Cina yang mencontek Indonesia dengan mulai menggunakan pemain naturalisasi untuk mempercepat datangnya prestasi ke Negeri Tirai Bambu. Adalah Nicholas Harry Yennaris alias Li Ke yang sosok pemain naturalisasi pertama untuk <em>Team Dragon<\/em>. Eks gelandang Arsenal berusia 26 tahun ini punya darah Cina dari ibunya dan sudah mengoleksi 2 penampilan internasional sejauh ini.<\/p>\n<p>Namun lagi-lagi naturalisasi juga bukan jawaban instan untuk membuat timnas kedua negara ini memiliki level yang lebih baik, sama seperti liganya. Untungnya di kompetisi regional, Cina sudah merasakan gelar juara EAFF di 2005 dan 2010, sementara Garuda belum sekali pun memegang trofi AFF di level senior.<\/p>\n<p>Jadi, bukan dengan deretan bintang dunia dan program naturalisasi, sepak bola suatu negara dapat berkembang. Perlu lebih dari sekadar revolusi untuk mengubah iklim sepak bola suatu negara mulai dari pengembangan sarana dan prasarana, sinergi dengan pemerintah, sampai melihat sepak bola sebagai bisnis atau penggerak roda ekonomi di suatu negara.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada pepatah berkata, \u201cBelajarlah sampai ke negeri Cina\u201d yang punya makna berarti tuntutlah ilmu sejauh mungkin kalau bisa sampai ke luar negeri. Namun nampaknya pepatah tersebut tak berlaku di sepak bola. Ada baiknya kalau PSSI jangan belajar (sepak bola) ke negeri Cina. Anggapan ini tak sepenuhnya salah, tapi tak sepenuhnya benar juga. Sepak bola Cina dalam beberapa tahun terakhir tengah menggeliat, khususnya melihat pergerakan klub-klub CSL (Chinese Super League) di lantai bursa yang mendatangkan para pemain kelas dunia untuk merumput di Negeri Tirai Bambu. Sebut saja beberapa pemain Brasil yang masih eksis hingga kini seperti Hulk dan Oscar yang memperkuat Shanghai SIPG, Yannick Carrasco (Belgia\/Dalian Yifang), Javier Mascherano (Argentina\/Hebei China &hellip; <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/06\/30\/jangan-belajar-ke-cina\/\" class=\"tribe-more-link\">Continue reading &#8220;Jangan Belajar (Sepak Bola) ke Negeri Cina&#8221;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":42740,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3003],"tags":[3050,677,122,3466],"class_list":["post-42728","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerita","tag-cina","tag-liga-super-cina","tag-slider","tag-timnas-cina"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Jangan Belajar (Sepak Bola) ke Negeri Cina | Football Tribe Indonesia<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Ada pepatah berkata, \u201cBelajarlah sampai ke negeri Cina\u201d yang punya makna berarti tuntutlah ilmu sejauh mungkin kalau bisa sampai ke luar negeri. Namun nampaknya pepatah tersebut tak berlaku di sepak bola. Ada baiknya kalau PSSI jangan belajar (sepak bola) ke negeri Cina.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/06\/30\/jangan-belajar-ke-cina\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Jangan Belajar (Sepak Bola) ke Negeri Cina | Football Tribe Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Ada pepatah berkata, \u201cBelajarlah sampai ke negeri Cina\u201d yang punya makna berarti tuntutlah ilmu sejauh mungkin kalau bisa sampai ke luar negeri. Namun nampaknya pepatah tersebut tak berlaku di sepak bola. Ada baiknya kalau PSSI jangan belajar (sepak bola) ke negeri Cina.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/06\/30\/jangan-belajar-ke-cina\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Football Tribe Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"http:\/\/facebook.com\/footballtribeindonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2019-06-30T16:58:16+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2019-06-30T17:20:06+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2019\/07\/Lavezzi-Cina.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"674\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"tribeindonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@footballtribeid\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@footballtribeid\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"tribeindonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2019\\\/06\\\/30\\\/jangan-belajar-ke-cina\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2019\\\/06\\\/30\\\/jangan-belajar-ke-cina\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"tribeindonesia\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\"},\"headline\":\"Jangan Belajar (Sepak Bola) ke Negeri Cina\",\"datePublished\":\"2019-06-30T16:58:16+00:00\",\"dateModified\":\"2019-06-30T17:20:06+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2019\\\/06\\\/30\\\/jangan-belajar-ke-cina\\\/\"},\"wordCount\":1030,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2019\\\/06\\\/30\\\/jangan-belajar-ke-cina\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2019\\\/07\\\/Lavezzi-Cina.jpg\",\"keywords\":[\"Cina\",\"Liga Super Cina\",\"Slider\",\"Timnas Cina\"],\"articleSection\":[\"Cerita\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2019\\\/06\\\/30\\\/jangan-belajar-ke-cina\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2019\\\/06\\\/30\\\/jangan-belajar-ke-cina\\\/\",\"name\":\"Jangan Belajar (Sepak Bola) ke Negeri Cina | Football Tribe Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2019\\\/06\\\/30\\\/jangan-belajar-ke-cina\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2019\\\/06\\\/30\\\/jangan-belajar-ke-cina\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2019\\\/07\\\/Lavezzi-Cina.jpg\",\"datePublished\":\"2019-06-30T16:58:16+00:00\",\"dateModified\":\"2019-06-30T17:20:06+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\"},\"description\":\"Ada pepatah berkata, \u201cBelajarlah sampai ke negeri Cina\u201d yang punya makna berarti tuntutlah ilmu sejauh mungkin kalau bisa sampai ke luar negeri. Namun nampaknya pepatah tersebut tak berlaku di sepak bola. Ada baiknya kalau PSSI jangan belajar (sepak bola) ke negeri Cina.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2019\\\/06\\\/30\\\/jangan-belajar-ke-cina\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2019\\\/06\\\/30\\\/jangan-belajar-ke-cina\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2019\\\/06\\\/30\\\/jangan-belajar-ke-cina\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2019\\\/07\\\/Lavezzi-Cina.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2019\\\/07\\\/Lavezzi-Cina.jpg\",\"width\":1200,\"height\":674},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/2019\\\/06\\\/30\\\/jangan-belajar-ke-cina\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Jangan Belajar (Sepak Bola) ke Negeri Cina\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/\",\"name\":\"Football Tribe Indonesia\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\",\"name\":\"tribeindonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"tribeindonesia\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/football-tribe.com\\\/indonesia\\\/author\\\/tribeindonesia\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Jangan Belajar (Sepak Bola) ke Negeri Cina | Football Tribe Indonesia","description":"Ada pepatah berkata, \u201cBelajarlah sampai ke negeri Cina\u201d yang punya makna berarti tuntutlah ilmu sejauh mungkin kalau bisa sampai ke luar negeri. Namun nampaknya pepatah tersebut tak berlaku di sepak bola. Ada baiknya kalau PSSI jangan belajar (sepak bola) ke negeri Cina.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/06\/30\/jangan-belajar-ke-cina\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Jangan Belajar (Sepak Bola) ke Negeri Cina | Football Tribe Indonesia","og_description":"Ada pepatah berkata, \u201cBelajarlah sampai ke negeri Cina\u201d yang punya makna berarti tuntutlah ilmu sejauh mungkin kalau bisa sampai ke luar negeri. Namun nampaknya pepatah tersebut tak berlaku di sepak bola. Ada baiknya kalau PSSI jangan belajar (sepak bola) ke negeri Cina.","og_url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/06\/30\/jangan-belajar-ke-cina\/","og_site_name":"Football Tribe Indonesia","article_publisher":"http:\/\/facebook.com\/footballtribeindonesia","article_published_time":"2019-06-30T16:58:16+00:00","article_modified_time":"2019-06-30T17:20:06+00:00","og_image":[{"width":1200,"height":674,"url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2019\/07\/Lavezzi-Cina.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"tribeindonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@footballtribeid","twitter_site":"@footballtribeid","twitter_misc":{"Written by":"tribeindonesia","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/06\/30\/jangan-belajar-ke-cina\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/06\/30\/jangan-belajar-ke-cina\/"},"author":{"name":"tribeindonesia","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3"},"headline":"Jangan Belajar (Sepak Bola) ke Negeri Cina","datePublished":"2019-06-30T16:58:16+00:00","dateModified":"2019-06-30T17:20:06+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/06\/30\/jangan-belajar-ke-cina\/"},"wordCount":1030,"image":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/06\/30\/jangan-belajar-ke-cina\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2019\/07\/Lavezzi-Cina.jpg","keywords":["Cina","Liga Super Cina","Slider","Timnas Cina"],"articleSection":["Cerita"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/06\/30\/jangan-belajar-ke-cina\/","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/06\/30\/jangan-belajar-ke-cina\/","name":"Jangan Belajar (Sepak Bola) ke Negeri Cina | Football Tribe Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/06\/30\/jangan-belajar-ke-cina\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/06\/30\/jangan-belajar-ke-cina\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2019\/07\/Lavezzi-Cina.jpg","datePublished":"2019-06-30T16:58:16+00:00","dateModified":"2019-06-30T17:20:06+00:00","author":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3"},"description":"Ada pepatah berkata, \u201cBelajarlah sampai ke negeri Cina\u201d yang punya makna berarti tuntutlah ilmu sejauh mungkin kalau bisa sampai ke luar negeri. Namun nampaknya pepatah tersebut tak berlaku di sepak bola. Ada baiknya kalau PSSI jangan belajar (sepak bola) ke negeri Cina.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/06\/30\/jangan-belajar-ke-cina\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/06\/30\/jangan-belajar-ke-cina\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/06\/30\/jangan-belajar-ke-cina\/#primaryimage","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2019\/07\/Lavezzi-Cina.jpg","contentUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2019\/07\/Lavezzi-Cina.jpg","width":1200,"height":674},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2019\/06\/30\/jangan-belajar-ke-cina\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Jangan Belajar (Sepak Bola) ke Negeri Cina"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/","name":"Football Tribe Indonesia","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3","name":"tribeindonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e261cc9d8b5106a5a4a06406beeb1dc1cd161c3adc882f7b3be38f6d1c464097?s=96&d=mm&r=g","caption":"tribeindonesia"},"url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/author\/tribeindonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42728","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42728"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42728\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":42741,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42728\/revisions\/42741"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/42740"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42728"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42728"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42728"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}