{"id":3516,"date":"2017-04-16T12:18:16","date_gmt":"2017-04-16T05:18:16","guid":{"rendered":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?p=3516"},"modified":"2017-04-17T16:26:00","modified_gmt":"2017-04-17T09:26:00","slug":"mereka-yang-hanya-hebat-sebagai-pemain","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/04\/16\/mereka-yang-hanya-hebat-sebagai-pemain\/","title":{"rendered":"Tentang Mereka yang \u2018Hanya\u2019 Hebat Sebagai Pemain"},"content":{"rendered":"<p>Menjadi bintang lapangan hijau ketika masih aktif bermain \u00a0bukanlah jaminan kelak akan menjadi pelatih hebat. Sebaliknya, tidak sedikit pula pemain yang memiliki karier singkat dan memperkuat tim semenjana ketika bermain, kemudian menjadi hebat bergelimang gelar saat berkarier sebagai pelatih.<\/p>\n<p>Jose Mourinho, Jurgen Klopp, Arsene Wenger, dan Joachim Loew adalah deretan pemain biasa-biasa saja, lalu menjelma menjadi luar biasa ketika menjadi pelatih. Ini pula yang menjadi dua mata pisau ketika para kolega mereka justru mengalami kemunduran karier saat menjadi pelatih.<\/p>\n<p>Bahkan banyak dari mereka hanya menjadi bahan lelucon media ketika melihat tim yang mereka besut menjadi bulan-bulanan lawan.<\/p>\n<figure id=\"attachment_3517\" aria-describedby=\"caption-attachment-3517\" style=\"width: 594px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-3517 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Diego-Maradona.jpg\" alt=\"\" width=\"594\" height=\"396\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Diego-Maradona.jpg 594w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Diego-Maradona-338x225.jpg 338w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Diego-Maradona-570x380.jpg 570w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Diego-Maradona-560x373.jpg 560w\" sizes=\"(max-width: 594px) 100vw, 594px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-3517\" class=\"wp-caption-text\">Diego Maradona.<\/figcaption><\/figure>\n<h3><strong>Diego Maradona<\/strong><\/h3>\n<p>Tidak ada yang meragukan predikat \u201cTuhan\u201d yang disematkan rakyat Argentina padanya. Ketika dunia mulai tersihir oleh Lionel Messi, orang-orang Argentina tetap setia menghamba pada \u201cTuhannya\u201d.\u00a0 Dua trofi Piala Dunia yang bersanding dengan deretan trofi lainnya di tingkat klub adalah bukti betapa dahsyatnya pengaruh \u201csi tangan tuhan\u201d bagi publik Albiceleste.<\/p>\n<p>Perlahan, kesempurnaan itu hilang. Bukan perihal obat terlarang yang sempat menjerat Diego, melainkan kegagalannya mengulang prestasi gemilang kala membesut tim Tango di Piala Dunia 2010. Aa hanya mampu mengantar Messi dan kawan-kawan sampai perempatfinal.<\/p>\n<p>Meski banyak yang berpendapat jika prestasi Argentina di Afrika Selatan tidak jelek-jelek betul, tapi kekalahan mencolok 4-0 dari Jerman menjadi bukti lain jika ia memang layak disebut gagal.<\/p>\n<p>Kegagalan di timnas nyatanya membuka kegagalan lainnya di kemudian hari. Usai lengser dari kursi pelatih, pemain kelahiran Lanus ini menerima pinangan klub Timur Tengah, Al Wasl, yang berani membayar mahal untuk jasanya.<\/p>\n<p>Di negera teluk, bukannya juara yang ia raih, sahabat Fidel Castro ini justru mengukir cerita suram bagi klub yang berbasis di Dubai tersebut. Dari data yang dihimpun, Al Wasl Hanya memenangi tujuh kemenangan dari 22 pertandingan, alhasil klub yang bermarkas di Zabeel Stadium ini hanya mampu nangkring di peringkat delapan dari dua belas kontestan. Hasil minor ini tak ayal membuat Maradona dipecat ketika kontraknya menyisakan satu tahun lagi.<\/p>\n<p>Hingga kini, mertua dari Sergio Aguero ini belum kembali melatih sebuah tim.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-3518 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Lothar-Matthaus.jpg\" alt=\"\" width=\"594\" height=\"396\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Lothar-Matthaus.jpg 594w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Lothar-Matthaus-338x225.jpg 338w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Lothar-Matthaus-570x380.jpg 570w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Lothar-Matthaus-560x373.jpg 560w\" sizes=\"(max-width: 594px) 100vw, 594px\" \/><\/p>\n<h3><strong>Lothar Matthaus<\/strong><\/h3>\n<p>Setali tiga uang dengan Diego Maradona, nama Lothar Matthaus harum mewangi kala ia masih aktif bermain. Bersama tim nasional Jerman, Ia berhasil merengkuh Piala Dunia 1990 di Italia. Capaian ini semakin indah karena Matthaus didapuk sebagai kapten tim.<\/p>\n<p>Prestasi di tim nasional kemudian tertular ke klub yang ia bela. Bayern Munchen, Internazionale Milan, hingga Metro Star di Major League Soccer (MLS) dibawa ke puncak singgasana juara.<\/p>\n<p>Meski berlabel bintang, ia tak jarang memantik api peperangan. Perselisihan antara Matthaus dan Berti Vogts (pelatih Jerman ketika itu) jelang Euro 1996 mungkin yang paling kita ingat. Pemain berjuluk Terminator ini tak senang dengan sang pelatih yang menganggap jika pemain yang mengawali karier profesionalnya bersama Borrusia Moenchenggladbach ini tidak lebih bintang dari Jurgen Klinsmann. Tak pelak, Matthaus dipinggirkan dari skuat Der Panzer di ajang empat tahunan tersebut.<\/p>\n<p>Pemain yang bisa bermain sebagai gelandang dan bek sama baiknya ini memutuskan pensiun pada tahun 2000 lalu. Setahun berselang, ia langsung melanjutkan karier sebagai pelatih. Matthaus pun menyeberang ke negara tetangga untuk menukangi Rapid Wien, klub ternama Austria, yang kemudian menandai karier barunya di dunia kepelatihan.<\/p>\n<p>Hingga kini, sudah tujuh tim dari enam negara berbeda yang ia latih, dan ketujuhnya hanya berlabel tim semenjana. Seperti Partizan Beograd (serbia) , tim nasional Hungaria, Atletico Paranaense (Brazil), RB Salzburg (Austria), Maccabi Netanya (Israel), hingga tim nasional Bulgaria. Dan semua berakhir dengan pemecatan.<\/p>\n<p>Satu hal yang menarik dari karier melatih Matthaus adalah, ia tidak pernah bertahan selama dua musim di setiap timnya. Semua hanya berjalan semusim kompetisi.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-3519 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Gennaro-Gattuso.jpg\" alt=\"\" width=\"594\" height=\"408\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Gennaro-Gattuso.jpg 594w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Gennaro-Gattuso-328x225.jpg 328w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Gennaro-Gattuso-553x380.jpg 553w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Gennaro-Gattuso-560x385.jpg 560w\" sizes=\"(max-width: 594px) 100vw, 594px\" \/><\/p>\n<h3><strong>Gennaro Gattuso<\/strong><\/h3>\n<p>Selama aktif bermain, semua kawan dan lawan segan pada pria bertubuh gempal ini. Siapapun yang mencari masalah dengannya, bersiaplah diserang oleh mantan pemain Glasgow Rangers ini. Bersama Alesandro Nesta, Filippo Inzaghi, Clarence Seedorf, ia kompak menutup kariernya bersama AC Milan dan memulai cerita baru dari pinggir lapangan.<\/p>\n<p>Apa mau dikata, hingga kini, cerita indah selama bermain masih jauh panggang dari api saat Gattuso memutuskan menjadi pelatih. Mantan gelandang bertahan ini mengawali karier melatihnya dengan menukangi klub asal Swiss, FC Sion, pada 2013 lalu. Kebutaannya akan dunia kelepatihan membuat pemain yang sempat memukul asisten Harry Redknapp, Joe Jordan, ini hanya bertahan selama tiga bulan.<\/p>\n<p>Setelah itu, kariernya sebagai pelatih pun tidak lebih baik, ia bahkan tidak pernah menyelesaikan satu musim kompetisi karena lebih sering dipecat di pertengahan musim. Hanya menjalani enam pertandingan bersama Palermo, mantan pemain Perugia ini sempat berpetualang ke Yunani bersama OFI Krete selama enam bulan, lalu kembali ke tanah kelahiran untuk mengarsiteki tim gurem, AC Pisa.<\/p>\n<p>Ada kejadian unik yang mengiringi penunjukkan Gattuso sebagai pelatih klub asal Tuscan tersebut. Sebulan usai menandatangani kontrak, Gattuso langsung mengundurkan diri sebagai bentuk protes. Tak lama, ia kembali menerima pinangan klub berjuluk Nerrazzuri tersebut.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-3520 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Roy-Keane.jpg\" alt=\"\" width=\"594\" height=\"373\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Roy-Keane.jpg 594w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Roy-Keane-350x220.jpg 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Roy-Keane-560x352.jpg 560w\" sizes=\"(max-width: 594px) 100vw, 594px\" \/><\/p>\n<h3><strong>Roy Keane<\/strong><\/h3>\n<p>Jika saja ia tidak berselisih paham dengan Sir Alex Ferguson, hampir bisa dipastikan jika Roy Keane akan menutup karier indahnya di Old Trafford. Pemain yang kerap dianggap bermusuhan dengan Patrick Viera ini akhirnya membelot ke klub Britania lainnya, Glasgow Celtic, jelang akhir kariernya sebagai pemain.<\/p>\n<p>Semasa bermain, Roy Keane dikenal sebagai pemain yang tak kenal kompromi kala berduel dengan para lawannya. Tekel keras dan permainan ngototnya telah menjadikan ia simbol benteng teater impian bersama sahabat karibnya, Paul Shcoles, dan telah menghasilkan banyak trofi bagi Manchester United.<\/p>\n<p>Selepas gantung sepatu di Skotlandia, Keano, panggilan akrabnya, kembali ke Inggris untuk memulai pekerjaan barunya. Ia terpilih menjadi pelatih Sunderland dan mengemban tugas berat guna mengembalikan The Black Cats kembali ke kasta tertinggi sepak bola Inggris. Tugas itu berhasil ia capai kala membawa tim yang bermarkas di stadion Of Light tersebut promosi.<\/p>\n<p>Tapi hanya cukup itu narasi kehebatannya. Mengarungi Liga Primer Inggris yang sangat ketat membuat Keane, dengan Sunderland hanya berkutat di papan bawah. Mantan anak asuh Brian Clough di Nottingham Forest ini pun dipecat sebelum akhir musim 2008 karena tak mampu mengangkat Sunderland dari zona merah.<\/p>\n<p>Mantan kapten Manchester United, yang selepas gantung sepatu lebih sering mengkritik Setan Merah ketimbang memuji mantan timnya ini kemudian kembali ke Divisi Championship untuk menukangi Ipswich Town. Kariernya di Portmand Road pun tak bertahan lama, karena ia kembali dipecat pada 2011 setelah menelan tujuh kekalahan dari sembilan pertandingan terakhirnya.<\/p>\n<p>Selanjutnya, Roy Keane lebih banyak berkarier sebagai asisten pelatih, seperti menemani Paul Lambert di Aston Villa, dan sekarang pulang ke negaranya untuk mendampingi Martin O\u2019Neil di tim nasional Irlandia.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-3521 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/zenga.jpg\" alt=\"\" width=\"594\" height=\"369\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/zenga.jpg 594w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/zenga-350x217.jpg 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/zenga-560x348.jpg 560w\" sizes=\"(max-width: 594px) 100vw, 594px\" \/><\/p>\n<h3><strong>Walter Zenga<\/strong><\/h3>\n<p>Julio Cesar bisa saja meraih <em>treble<\/em> bersama Inter Milan, namun tampaknya hati Interisti tetap memilih Walter Zenga sebagai kiper terbaik klub yang bermarkas di Giuseppe Meazza ini.\u00a0 Bukan tanpa alasan memang jika para tifosi La Beneamata mendapuknya sebagai kiper legendaris. Bagaimana tidak, kiper yang kini berkepala plontos ini memperkuat Inter dari tahun 1982 hingga 1994.<\/p>\n<p>Meski tidak terlalu banyak mempersembahkan gelar bagi tim asal kota mode, Zenga memiliki tempat tersendiri di hati Interisti. Musim terbaiknya bersama Nerazzurri terjadi pada musim 1986\/1987, di mana gawangnya hanya kemasukan 17 gol. Catatan manis ini akhirnya membuka pintu gerbang tim nasional Italia.<\/p>\n<p>Selepas meninggalkan Inter pada akhir musim 1994 dan gantung sepatu di akhir musim 1999, Zenga langsung mengabdi pada klub terakhirnya, New England Revolution sebagai pelatih. Selanjutnya, pemain yang mengawali karier di Salernitana ini hanya membesut tim-tim semenjana.<\/p>\n<p>Dan dari semua tim yang ia latih, selalu berakhir dengan kegagalan. Terakhir, pelatih yang telah menangani 16 tim berbeda ini gagal di Inggris, saat ia dipecat Wolverhampton Wanderers setelah hanya memimpin Wolves selama 87 hari.<\/p>\n<p>Meski dicintai publik Gueseppe Meazza, tampaknya para suporter belum ingin melakukan reuni dengan Zenga. Melihat catatan minornya selama melatih, Interisti di seluruh dunia tentu tak ingin mengorbankan cinta pada satu legenda dengan kejatuhan tim kesayangan. Sekalipun Zenga masih menaruh impian melatih Internazionale suatu hari nanti.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<figure id=\"attachment_3522\" aria-describedby=\"caption-attachment-3522\" style=\"width: 600px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-3522 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Robby-Darwis.jpg\" alt=\"\" width=\"600\" height=\"406\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Robby-Darwis.jpg 600w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Robby-Darwis-333x225.jpg 333w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Robby-Darwis-562x380.jpg 562w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Robby-Darwis-560x379.jpg 560w\" sizes=\"(max-width: 600px) 100vw, 600px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-3522\" class=\"wp-caption-text\">Kredit: Tribun Jabar<\/figcaption><\/figure>\n<h3><strong>Robby Darwis<\/strong><\/h3>\n<p>Setelah berkeliling Eropa, mari kita kembali ke negeri tercinta. Karena Liga Indonesia mulai bergulir, tidak elok rasanya jika kita tidak mengupas sedikit mantan bintang tim nasional yang meredup kariernya kala menjadi pelatih. Salah satunya adalah Robby Darwis.<\/p>\n<p>Bagi Bobotoh, Robby adalah simbol Maung Bandung. Mungkin tak sedikit pula yang menganggap bahwa pemain asli Jawa Barat ini sebagai Franz Beckenbauer-nya Indonesia dan Bandung. Membawa Persib Bandung menjuarai Ligina pertama menjadi bukti tak terbantahkan. Kecintaan Bobotoh kepadanya pun dibalas dengan kesetiaan. Meski sempat beberapa kali pindah klub, ia selalu kembali ke Bandung.<\/p>\n<p>Setelah pensiun pun, pemain berposisi bek ini tetap menunjukkan kesetiannya pada Persib. Meskipun klub yang tadinya berkandang di Stadion Siliwangi ini gonta-ganti pelatih, posisi Robby sebagai asisten pelatih tak tergoyahkan. Mulai dari lengsernya Arcan Iuri, Draco Mamic, hingga Jaya Hartono, keberadaan Robby tetap aman di pinggir lapangan.<\/p>\n<p>\u201cKeabadian\u201d Robby di jajaran pelatih Persib, yang tak diimbangi prestasi membuat legenda lainnya angkat bicara. Ajat Sudrajat, mantan rekannya ketika masih aktif bermain mengkritik habis kinerja Robby Darwis yang dianggap tidak memberi kontribusi apa-apa bagi tim.<\/p>\n<p>Kariernya di pinggir lapangan Maung Bandung benar-benar habis saat ia menjabat sebagai pelatih kepala pada 2012.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-3524 size-full\" src=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/M.-Zein-Alhadad-1.jpg\" alt=\"\" width=\"673\" height=\"373\" srcset=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/M.-Zein-Alhadad-1.jpg 673w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/M.-Zein-Alhadad-1-350x194.jpg 350w, https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/M.-Zein-Alhadad-1-560x310.jpg 560w\" sizes=\"(max-width: 673px) 100vw, 673px\" \/><\/p>\n<h3><strong>M<\/strong><strong>.<\/strong><strong> Zein Alhadad<\/strong><\/h3>\n<p>Pernah menyandang status top skor di era Galatama bersama Niac Mitra pada musim 1987-1989, Zein Alhadad menjelma menjadi pemain yang ditakuti bek lawan pada masanya. Hanya kejatuhan klub yang ia bela, yang mampu menghentikan lajunya di atas lapangan hijau.<\/p>\n<p>Setelah mondar-mandir mencari ilmu kepelatihan dan beberapa kali menjadi asisten pelatih di tim-tim kecil, Deltras Sidoarjo mendapuk pria keturunan Arab ini sebagai pelatih kepala. Ia sempat dianggap sukses kala mengantar The Lobster menjadi juara ketiga di ajang Copa Dji Sam Soe pada tahun 2009 lalu. Namun capaiannya di Deltras pun mulai menurun seiring permasalahan finansial yang menggerogoti klub.<\/p>\n<p>Zein kembali berkutat sebagai asisten pelatih tim nasional di berbagai ajang. Pria yang akrab disapa Mamak ini kembali merasakan atmosfer sebagai pelatih saat ditunjuk Persija Jakarta sebagai pelatih kepala untuk mengarungi Torabika Soccer Championship (TSC) beberapa waktu lalu.<\/p>\n<p>Kariernya di ibu kota kembali berakhir hambar karena hanya membawa Macan Kemayoran di peringkat 13. Setelah capaian kurang maksimal itu, Zein akhirnya dipecat manajemen Persija. Jelang bergulirnya Liga Indonesia pertengahan April ini, Zein Alhadad belum juga menemukan klub yang mau mempekerjakannya.<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Mungkin beberapa orang di atas, atau pemain bintang lainnya bisa mendengarkan sedikit curhatan legenda hidup Brazil, Pele. Bahwa ia tidak ingin karier sepak bola yang ia bangun selama puluhan tahun hancur karena kegagalannya jika menjadi seorang pelatih.<\/p>\n<p><strong>Author: <\/strong><em><strong>Wanda Syafii (<a class=\"ProfileHeaderCard-screennameLink u-linkComplex js-nav\" href=\"https:\/\/twitter.com\/wandasyafii\" target=\"_blank\"><span class=\"username u-dir\" dir=\"ltr\">@<b class=\"u-linkComplex-target\">wandasyafii<\/b><\/span><\/a>)<\/strong><br \/>\n<\/em><em>Kopites yang masih percaya timnya akan juara liga walau entah kapan. Sering bikin gaduh di<\/em> <a href=\"http:\/\/www.wandasyafii.com\/\" target=\"_blank\"><strong><em>wandasyafii.com<\/em><\/strong><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menjadi bintang lapangan hijau ketika masih aktif bermain \u00a0bukanlah jaminan kelak akan menjadi pelatih hebat. Sebaliknya, tidak sedikit pula pemain yang memiliki karier singkat dan memperkuat tim semenjana ketika bermain, kemudian menjadi hebat bergelimang gelar saat berkarier sebagai pelatih. Jose Mourinho, Jurgen Klopp, Arsene Wenger, dan Joachim Loew adalah deretan pemain biasa-biasa saja, lalu menjelma menjadi luar biasa ketika menjadi pelatih. Ini pula yang menjadi dua mata pisau ketika para kolega mereka justru mengalami kemunduran karier saat menjadi pelatih. Bahkan banyak dari mereka hanya menjadi bahan lelucon media ketika melihat tim yang mereka besut menjadi bulan-bulanan lawan. Diego Maradona Tidak ada yang meragukan predikat \u201cTuhan\u201d yang disematkan rakyat Argentina padanya. &hellip; <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/04\/16\/mereka-yang-hanya-hebat-sebagai-pemain\/\" class=\"tribe-more-link\">Continue reading &#8220;Tentang Mereka yang \u2018Hanya\u2019 Hebat Sebagai Pemain&#8221;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":3525,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[291],"tags":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v22.8 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Tentang Mereka yang \u2018Hanya\u2019 Hebat Sebagai Pemain | Football Tribe Indonesia<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Saat masih berstatus pemain, mungkin para pria ini bisa dibilang sebagai salah satu yang terbaik. Namun ketika menjadi pelatih, nasib mereka berbeda!\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/04\/16\/mereka-yang-hanya-hebat-sebagai-pemain\/\" \/>\n<link rel=\"next\" href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/04\/16\/mereka-yang-hanya-hebat-sebagai-pemain\/2\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Tentang Mereka yang \u2018Hanya\u2019 Hebat Sebagai Pemain | Football Tribe Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Saat masih berstatus pemain, mungkin para pria ini bisa dibilang sebagai salah satu yang terbaik. Namun ketika menjadi pelatih, nasib mereka berbeda!\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/04\/16\/mereka-yang-hanya-hebat-sebagai-pemain\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Football Tribe Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"http:\/\/facebook.com\/footballtribeindonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-04-16T05:18:16+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2017-04-17T09:26:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Diego-Maradona-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"594\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"396\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"tribeindonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@footballtribeid\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@footballtribeid\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"tribeindonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"8 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/04\/16\/mereka-yang-hanya-hebat-sebagai-pemain\/\",\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/04\/16\/mereka-yang-hanya-hebat-sebagai-pemain\/\",\"name\":\"Tentang Mereka yang \u2018Hanya\u2019 Hebat Sebagai Pemain | Football Tribe Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/04\/16\/mereka-yang-hanya-hebat-sebagai-pemain\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/04\/16\/mereka-yang-hanya-hebat-sebagai-pemain\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Diego-Maradona-1.jpg\",\"datePublished\":\"2017-04-16T05:18:16+00:00\",\"dateModified\":\"2017-04-17T09:26:00+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\"},\"description\":\"Saat masih berstatus pemain, mungkin para pria ini bisa dibilang sebagai salah satu yang terbaik. Namun ketika menjadi pelatih, nasib mereka berbeda!\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/04\/16\/mereka-yang-hanya-hebat-sebagai-pemain\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/04\/16\/mereka-yang-hanya-hebat-sebagai-pemain\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Diego-Maradona-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Diego-Maradona-1.jpg\",\"width\":594,\"height\":396,\"caption\":\"Pemain\"},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/\",\"name\":\"Football Tribe Indonesia\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\",\"name\":\"tribeindonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"tribeindonesia\"},\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/author\/tribeindonesia\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Tentang Mereka yang \u2018Hanya\u2019 Hebat Sebagai Pemain | Football Tribe Indonesia","description":"Saat masih berstatus pemain, mungkin para pria ini bisa dibilang sebagai salah satu yang terbaik. Namun ketika menjadi pelatih, nasib mereka berbeda!","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/04\/16\/mereka-yang-hanya-hebat-sebagai-pemain\/","next":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/04\/16\/mereka-yang-hanya-hebat-sebagai-pemain\/2\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Tentang Mereka yang \u2018Hanya\u2019 Hebat Sebagai Pemain | Football Tribe Indonesia","og_description":"Saat masih berstatus pemain, mungkin para pria ini bisa dibilang sebagai salah satu yang terbaik. Namun ketika menjadi pelatih, nasib mereka berbeda!","og_url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/04\/16\/mereka-yang-hanya-hebat-sebagai-pemain\/","og_site_name":"Football Tribe Indonesia","article_publisher":"http:\/\/facebook.com\/footballtribeindonesia","article_published_time":"2017-04-16T05:18:16+00:00","article_modified_time":"2017-04-17T09:26:00+00:00","og_image":[{"width":594,"height":396,"url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Diego-Maradona-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"tribeindonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@footballtribeid","twitter_site":"@footballtribeid","twitter_misc":{"Written by":"tribeindonesia","Est. reading time":"8 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/04\/16\/mereka-yang-hanya-hebat-sebagai-pemain\/","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/04\/16\/mereka-yang-hanya-hebat-sebagai-pemain\/","name":"Tentang Mereka yang \u2018Hanya\u2019 Hebat Sebagai Pemain | Football Tribe Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/04\/16\/mereka-yang-hanya-hebat-sebagai-pemain\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/04\/16\/mereka-yang-hanya-hebat-sebagai-pemain\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Diego-Maradona-1.jpg","datePublished":"2017-04-16T05:18:16+00:00","dateModified":"2017-04-17T09:26:00+00:00","author":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3"},"description":"Saat masih berstatus pemain, mungkin para pria ini bisa dibilang sebagai salah satu yang terbaik. Namun ketika menjadi pelatih, nasib mereka berbeda!","inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/04\/16\/mereka-yang-hanya-hebat-sebagai-pemain\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2017\/04\/16\/mereka-yang-hanya-hebat-sebagai-pemain\/#primaryimage","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Diego-Maradona-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2017\/04\/Diego-Maradona-1.jpg","width":594,"height":396,"caption":"Pemain"},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/","name":"Football Tribe Indonesia","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3","name":"tribeindonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g","caption":"tribeindonesia"},"url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/author\/tribeindonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3516"}],"collection":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3516"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3516\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3525"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3516"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3516"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3516"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}