{"id":26900,"date":"2018-03-24T12:00:31","date_gmt":"2018-03-24T05:00:31","guid":{"rendered":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?p=26900"},"modified":"2018-03-24T12:35:40","modified_gmt":"2018-03-24T05:35:40","slug":"diskusi-science-meets-soccer","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/03\/24\/diskusi-science-meets-soccer\/","title":{"rendered":"Diskusi \u2018Science meets Soccer\u2019, Ketika Kita Membicarakan Rumput Lapangan yang Sering Diabaikan"},"content":{"rendered":"<p>Saya bangun dengan sebuah pesan WhatsApp dari Geraldine Fakhmi. Ia merujuk pada sebuah tautan tentang acara diskusi di kampus. Judulnya menarik, \u2018<em>Science meets Soccer\u2019<\/em>, dan bahasan utamanya adalah: rumput.<\/p>\n<p>Secara spesifik, diskusi berpusat pada pertanyaan \u201crumput alami atau rumput artifisial?\u201d Dua pembicara di diskusi itu adalah Bernd Leinauer (<em>special professor turfgrass ecology<\/em> di Wageningen University) dan Ronald Waterreus. Nama terakhir ialah mantan kiper <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/tag\/psv-eindhoven\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>PSV Eindhoven<\/strong><\/a>, \u2018pada era ketika timnas Belanda masih ada di <em>ranking<\/em> atas FIFA\u2019, mengutip <em>master of ceremony.<\/em><\/p>\n<p>Buat saya, diskusi siang tadi begitu menarik karena kita mengulas hal yang sebenarnya begitu penting di sepak bola tapi kerap dilupakan: rumput. Saya mengingat tesis saya, yang membahas tentang ombak di Mentawai. Keduanya, rumput dan ombak, seringkali dilupakan dalam diskusi tentang sepak bola dan <em>surfing<\/em>. Orang-orang, atau spesifiknya, kita, lebih tertarik pada praktik (budaya), bukan <em>materiality<\/em> yang mendasari praktik-praktik itu. Kita lebih suka berdebat kenapa sepak bola dihirup seperti agama dan bagaimana <em>surfing<\/em> dianggap keren. Rumput dan ombak? Lupakan. Mereka tak lebih dari objek, yang di atasnya manusia bisa bersenang-senang.<\/p>\n<p>Waterreus membuka diskusi dengan kenyataan sederhana. Berdasarkan pengalamannya bermain sepak bola level profesional, ia menegaskan bahwa \u2018sepak bola di lapangan alami dan lapangan artifisial adalah dua hal yang berbeda.\u2019 Menurut dia, beberapa elemen yang berbeda adalah kecepatan bola, pantulan bola, dan <em>fatigue<\/em> (terkait risiko cedera).<\/p>\n<p>Tentu saja, fakta ini sering luput dari amatan. Sebagai penonton bola, saya tak peduli apakah rumput di lapangan alami atau buatan. Sementara itu, di atas lapangan, pemain-pemain \u2018berelasi\u2019 dengan rumput secara praktikal dengan kaki-kaki dan tubuh mereka. Ketika saya tak mengerti apa-apa soal rumput, para pemain mengerti sepenuhnya karena mereka \u2018berhubungan\u2019 dengan rumput secara langsung.<\/p>\n<p>Di bangku penonton, seorang profesor menjelaskan soal tekel. Di lapangan rumput, <em>sliding tackle<\/em> umumnya lebih halus dan leluasa. Sedangkan, di lapangan artifisial, tak seleluasa itu. Risiko cedera pun lebih besar, terutama di bagian <em>ankle<\/em>. Tapi ia mengakui bahwa bahasan tentang rumput alami atau artifisial selalu subjektif. Leinauer mengamini dan mengatakan bahwa bagaimana kita tumbuh memengaruhi persepsi kita tentang rumput.<\/p>\n<p>\u201cTentu saya lebih suka rumput alami karena saya tumbuh besar bermain bola di atasnya, bukan rumput buatan. Ada elemen emosional dan pribadi di dalamnya,\u201d kata dia. Sebagai profesor <em>plant science<\/em>, ia juga mengingatkan bahwa rumput artifisial mengandung berton-ton plastik, yang tentu saja non-<em>degradable<\/em> dan karenanya mengandung masalah dari segi lingkungan, walau bukan berarti rumput alami sepenuhnya tak bermasalah.<\/p>\n<p>Dari segi finansial, rumput adalah bagian dari anggaran klub sepak bola. Konon, salah satu alasan kenapa rumput artifisial kian marak di Belanda adalah efisiensi anggaran. Rumput artifisial, setidaknya dalam jangka pendek, lebih hemat dibanding rumput alami. Kendati keduanya sama-sama perlu <em>maintenance, <\/em>anggaran untuk rumput artifisial lebih <em>predictable. <\/em><\/p>\n<p>Bagi klub-klub kecil dengan anggaran minim, hal ini penting. Itu yang dikatakan Waterreus. \u201cDengan menghemat anggaran pada rumput artifisial, mereka bisa mendatangkan satu bek kiri atau kiper baru,\u201d ujar mantan kiper yang juga pernah<em> merumput<\/em> di New York Red Bulls ini.<\/p>\n<p>Terakhir, soal rumput, Waterreus teringat pengalamannya di PSV. Ia bermain di sana ketika Phillips Stadion masih \u2018terbuka\u2019 pada empat sikunya. Setelah revonasi pada 2000-an, stadion sepenuhnya tertutup. Waterreus menceritakan bahwa orang-orang luput membahas soal rumput ketika merenovasi stadion.<\/p>\n<p>Akibatnya, karena empat siku stadion tertutup, cahaya dan angin juga terhalang. Dampaknya, kualitas rumput menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Modifikasi lantas dilakukan klub untuk menjaga kualitas rumput. Cerita Waterreus menjadi pengingat bahwa rumput kerap dilupakan. Ia hilang dari bahasan, padahal di atasnya bola bergulir dan para pemain berlarian. Di penutup tesis, saya menulis: <em>\u201cthere are many things in life that we often forget, marginalize, overlook, or underestimate \u2013 like waves (and grass)\u2013 but through them we actually can learn and understand<\/em>.\u201d<\/p>\n<p><strong>Author: <em>Sarani Pitor Pakan<br \/>\n<\/em><\/strong><em>Mengimani sepak bola, sastra, dan perjalanan. Sedang numpang belajar di Belanda.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya bangun dengan sebuah pesan WhatsApp dari Geraldine Fakhmi. Ia merujuk pada sebuah tautan tentang acara diskusi di kampus. Judulnya menarik, \u2018Science meets Soccer\u2019, dan bahasan utamanya adalah: rumput. Secara spesifik, diskusi berpusat pada pertanyaan \u201crumput alami atau rumput artifisial?\u201d Dua pembicara di diskusi itu adalah Bernd Leinauer (special professor turfgrass ecology di Wageningen University) dan Ronald Waterreus. Nama terakhir ialah mantan kiper PSV Eindhoven, \u2018pada era ketika timnas Belanda masih ada di ranking atas FIFA\u2019, mengutip master of ceremony. Buat saya, diskusi siang tadi begitu menarik karena kita mengulas hal yang sebenarnya begitu penting di sepak bola tapi kerap dilupakan: rumput. Saya mengingat tesis saya, yang membahas tentang ombak &hellip; <a href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/03\/24\/diskusi-science-meets-soccer\/\" class=\"tribe-more-link\">Continue reading &#8220;Diskusi \u2018Science meets Soccer\u2019, Ketika Kita Membicarakan Rumput Lapangan yang Sering Diabaikan&#8221;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":26901,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[89],"tags":[3190,3191,122],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v22.8 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Diskusi \u2018Science meets Soccer\u2019, Ketika Kita Membicarakan Rumput Lapangan yang Sering Diabaikan | Football Tribe Indonesia<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Dampaknya, kualitas rumput menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Modifikasi lantas dilakukan klub untuk menjaga kualitas rumput.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/03\/24\/diskusi-science-meets-soccer\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Diskusi \u2018Science meets Soccer\u2019, Ketika Kita Membicarakan Rumput Lapangan yang Sering Diabaikan | Football Tribe Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Dampaknya, kualitas rumput menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Modifikasi lantas dilakukan klub untuk menjaga kualitas rumput.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/03\/24\/diskusi-science-meets-soccer\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Football Tribe Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"http:\/\/facebook.com\/footballtribeindonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-03-24T05:00:31+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-03-24T05:35:40+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2018\/03\/Sciene-Meet-Soccer.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"674\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"tribeindonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@footballtribeid\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@footballtribeid\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"tribeindonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/03\/24\/diskusi-science-meets-soccer\/\",\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/03\/24\/diskusi-science-meets-soccer\/\",\"name\":\"Diskusi \u2018Science meets Soccer\u2019, Ketika Kita Membicarakan Rumput Lapangan yang Sering Diabaikan | Football Tribe Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/03\/24\/diskusi-science-meets-soccer\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/03\/24\/diskusi-science-meets-soccer\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2018\/03\/Sciene-Meet-Soccer.jpg\",\"datePublished\":\"2018-03-24T05:00:31+00:00\",\"dateModified\":\"2018-03-24T05:35:40+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\"},\"description\":\"Dampaknya, kualitas rumput menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Modifikasi lantas dilakukan klub untuk menjaga kualitas rumput.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/03\/24\/diskusi-science-meets-soccer\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/03\/24\/diskusi-science-meets-soccer\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/03\/24\/diskusi-science-meets-soccer\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2018\/03\/Sciene-Meet-Soccer.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2018\/03\/Sciene-Meet-Soccer.jpg\",\"width\":1200,\"height\":674,\"caption\":\"kualitas rumput\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/03\/24\/diskusi-science-meets-soccer\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Diskusi \u2018Science meets Soccer\u2019, Ketika Kita Membicarakan Rumput Lapangan yang Sering Diabaikan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/\",\"name\":\"Football Tribe Indonesia\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3\",\"name\":\"tribeindonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"tribeindonesia\"},\"url\":\"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/author\/tribeindonesia\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Diskusi \u2018Science meets Soccer\u2019, Ketika Kita Membicarakan Rumput Lapangan yang Sering Diabaikan | Football Tribe Indonesia","description":"Dampaknya, kualitas rumput menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Modifikasi lantas dilakukan klub untuk menjaga kualitas rumput.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/03\/24\/diskusi-science-meets-soccer\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Diskusi \u2018Science meets Soccer\u2019, Ketika Kita Membicarakan Rumput Lapangan yang Sering Diabaikan | Football Tribe Indonesia","og_description":"Dampaknya, kualitas rumput menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Modifikasi lantas dilakukan klub untuk menjaga kualitas rumput.","og_url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/03\/24\/diskusi-science-meets-soccer\/","og_site_name":"Football Tribe Indonesia","article_publisher":"http:\/\/facebook.com\/footballtribeindonesia","article_published_time":"2018-03-24T05:00:31+00:00","article_modified_time":"2018-03-24T05:35:40+00:00","og_image":[{"width":1200,"height":674,"url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2018\/03\/Sciene-Meet-Soccer.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"tribeindonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@footballtribeid","twitter_site":"@footballtribeid","twitter_misc":{"Written by":"tribeindonesia","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/03\/24\/diskusi-science-meets-soccer\/","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/03\/24\/diskusi-science-meets-soccer\/","name":"Diskusi \u2018Science meets Soccer\u2019, Ketika Kita Membicarakan Rumput Lapangan yang Sering Diabaikan | Football Tribe Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/03\/24\/diskusi-science-meets-soccer\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/03\/24\/diskusi-science-meets-soccer\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2018\/03\/Sciene-Meet-Soccer.jpg","datePublished":"2018-03-24T05:00:31+00:00","dateModified":"2018-03-24T05:35:40+00:00","author":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3"},"description":"Dampaknya, kualitas rumput menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Modifikasi lantas dilakukan klub untuk menjaga kualitas rumput.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/03\/24\/diskusi-science-meets-soccer\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/03\/24\/diskusi-science-meets-soccer\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/03\/24\/diskusi-science-meets-soccer\/#primaryimage","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2018\/03\/Sciene-Meet-Soccer.jpg","contentUrl":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2018\/03\/Sciene-Meet-Soccer.jpg","width":1200,"height":674,"caption":"kualitas rumput"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/2018\/03\/24\/diskusi-science-meets-soccer\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Diskusi \u2018Science meets Soccer\u2019, Ketika Kita Membicarakan Rumput Lapangan yang Sering Diabaikan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/","name":"Football Tribe Indonesia","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/b231262f35f999de79cdfac5e14501f3","name":"tribeindonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/154726d4a2ab1006505c35ea7c41652f?s=96&d=mm&r=g","caption":"tribeindonesia"},"url":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/author\/tribeindonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26900"}],"collection":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26900"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26900\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26901"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26900"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26900"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/football-tribe.com\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26900"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}