Suara Pembaca

Andy Carroll: Jawaban atas Kebutuhan Lini Serang Chelsea

Beberapa hari terakhir ini, Chelsea disebut akan memboyong penyerang jangkung milik West Ham United, Andy Carroll. Banyak pihak dan pengamat yang meragukan kapasitas Carroll untuk membantu Chelsea mendongkrak posisi mereka di klasemen Liga Inggris. Tak sedikit yang melihat ini sebagai sebuah keputusasaan dari manajemen Chelsea dalam perburuan pemain di jendela transfer musim dingin 2018 ini.

Akan tetapi bagi mereka yang sudah mengikuti kiprah Antonio Conte sejak masih melatih di Italia, tentu hal ini bukan sebuah hal yang aneh. Sejak melatih Juventus pada periode tahun 2011-2014, Conte selalu menyukai seorang target man. Seorang penyerang tinggi dan besar yang superior dalam duel udara, serta dapat menjadi andalan untuk duel secara fisik dengan para pemain bertahan lawan.

Fernando Llorente di Juventus adalah contoh bagaimana Conte membutuhkan penyerang dengan fisik kuat serta bisa memimpin ‘serangan udara’ untuk mempertajam lini serangnya. Meskipun tidak selalu menjadi pemain inti, duet Llorente dengan Carlos Tevez sempat menjadi momok bagi lini pertahanan lawan.

Llorente bertugas dalam ‘serangan’ udara, sedangkan serangan darat dipercayakan oleh Tevez yang memiliki kemampuan dribel bola yang sangat baik. Betapa lengkap pola serangan Juventus pada masa itu, sehingga Conte dan Juventus meraih gelar Scudetto berturut-turut sekaligus memiliki rekor poin terbanyak di Serie A.

Selepas dari Juventus, kombinasi pola serangan seperti ini juga kembali diterapkan oleh Conte di tim nasional Italia pada tahun 2014-2016. Kali ini,target man Conte adalah Graziano Pelle, penyerang jangkung yang pada saat itu bermain untuk Southampton. Conte menduetkan Pelle dengan Éder Citadin Martins. Pola serangan yang sama diterapkan oleh Conte untuk Gli Azzuri, di mana serangan ini juga didukung oleh sayap-sayap lincah seperti Antonio Candreva dan Alessandro Florenzi.

Usai menunaikan tugas negara bersama tim nasional, Conte direkrut oleh Chelsea. Di musim pertamanya, ujung tombak serangan dipercayakan kepada Diego Costa, yang lagi-lagi merupakan penyerang besar dengan kekuatan fisik yang baik. Menemani Costa, tentu saja ada pemain-pemain lincah seperti Eden Hazard dan Pedro Rodriguez. Kita semua tahu, bahwa di musim pertamanya, Conte membawa Chelsea juara liga Inggris.

Baca juga: Andy Carroll? Apakah Chelsea Seputus Asa Itu?

Musim kedua melatih Chelsea, Conte kehilangan sosok penyerang kuat yang juga superior dalam duel udara. Konflik dengan Diego Costa membuat Conte memarkir pemain timnas Spanyol tersebut dan menjualnya ke klub asalnya, Atletico Madrid, pada paruh musim ini.

Di awal musim, Chelsea memboyong Alvaro Morata dari Real Madrid, untuk menggantikan peran Diego Costa. Dalam beberapa pertandingan awal, Morata sudah menunjukkan tajinya dengan mengemas gol-gol penting untuk kemenangan Chelsea. Akan tetapi dengan minimnya pilihan di lini depan, dan skema serangan Conte yang telah dijelaskan sebelumnya, lini serang Chelsea menjadi kurang bertenaga. Chelsea membukukan rekor tiga kali seri tanpa gol dan masih mencari kemenangan pertamanya di tahun 2018.

Perekrutan seorang penyerang yang dapat berbagi peran dengan Morata tidak bisa ditawar lagi oleh manajemen Chelsea. Alvaro Morata sejatinya bukan tipikal penyerang target man murni, sebab gaya bermainnya yang luwes dilengkapi dribbling yang baik, membuatnya juga cocok untuk free role di lini depan, walaupun ia memang memiliki kapabilitas duel udara yang sempurna dengan jumlah gol sundulan kepala yang banyak di musim ini.

Di awal karier seniornya, Morata beberapa kali ditempatkan di posisi penyerang yang bermain melebar oleh Jose Mourinho yang kala itu melatih Real Madrid. Hal ini tentu saja membuktikan bahwa Morata bukan tipe target man yang diinginkan Conte, akan tetapi ia akan menjadi tandem yang ideal apabila disandingkan dengan seorang target man.

Beberapa hari terakhir ini, Chelsea dihubungkan dengan Andy Carroll, seorang target man, berpostur besar dan tinggi, dengan kemampuan duel udara yang sangat baik. Dengan penjelasan di atas, maka sudah jelas bahwa apa yang diinginkan oleh Conte untuk mempertajam lini serangnya, ada pada diri Andy Carroll. Ini akan menjadi sebuah paket lengkap dengan komposisi fisik yang sesuai, pengalaman di Liga Inggris, bisa bermain di Eropa dan tentu saja melengkapi katalog trained in nation player di Chelsea.

Andy Carroll, terlepas dari ketidakmampuannya untuk memenuhi ekspektasi publik Inggris pada tahun 2011 lalu ketika mencetak rekor biaya transfer untuk pemain Inggris (35 juta paun), adalah sebuah jawaban bagi kebutuhan taktis Antonio Conte. Sehingga, apabila Carroll kemudian jadi dibeli oleh Chelsea, maka artikel ini menyimpulkan bahwa transfer ini bukanlah sebuah keputusasaan, apalagi sebuah blunder.

Author: Ganjar Ariel Santosa (@extravaganjar)