Keylor Navas
Kiper asal Kosta Rika ini sering dipandang kurang “cocok” untuk Madrid. Aura kebintangannya tidak menonjol. Hal itu terbukti ketika Madrid selalu berusaha mendapatkan tanda tanga David de Gea di setiap jendela transfer. De Gea, kiper asal Spanyol ini dianggap lebih “bersinar” dan cocok dengan aura mistis Real Madrid.
Namun, de Gea memberi bukti dengan penampilan yang konsisten. Refleks yang cekatan tentu menjadi dasar kiper kelas dunia. Salah satu kelebihan Navas adalah keberaniannya menghadapi pertarungan jarak dekat. Namanya bukan nama yang tenar, namun Navas memberi satu yang dibutuhkan Madrid: rasa aman.
Dani Carvajal
Sekitar dua musim ke belakang, Carvajal tidak pernah diperhitungkan. Bek kanan asal Spanyol ini dianggap terlalu sembrono dan sering membuat kesalahan. Oleh sebab itu, Madrid sempat memboyong Danilo, bek asal Brasil. Namun, dalam waktu singkat, Carvajal menunjukkan perkembangan yang sangat memuaskan.
Saat ini, nama Carvajal diasosiasikan dengan salah satu bek sayap terbaik di dunia. Ia tak hanya tangguh ketika bertahan, namun menjadi pemain penting di sisi kanan Madrid ketika proses menyerang. Carvajal memberi bukti bahwa kemauan untuk belajar adalah kunci konsisten. Dan konsistensi adalah syarat dasar seorang pemain elite.
Marcelo
Kisah Marcelo sedikit mirip dengan perjuangan Carvajal untuk diakui sebagai salah satu bek sayap terbaik di dunia. Ketika masih belia di awal bergabung dengan Madrid, Marcelo adalah pesakitan. Ceroboh adalah salah satu narasi yang melekat kepada dirinya. Aspek menyerang Marcelo juga sangat tinggi, sehingga sering alpa untuk kembali bertahan.
Bek kiri asal Brasil tersebut sadar bahwa ia mesti belajar. Marcelo memperkuat aspek bertahan, sebagai tugas utamanya sebagai seorang bek. Kini, Marcelo masih sering menjadi sumber gol alternatif untuk Madrid. Namun, dengan teknik bertahan yang semakin matang, jujur saja, Marcelo adalah bek kiri terbaik di dunia.