Kolom

Aliansi Suporter Indonesia: Separuh Nyawa Garuda di Malaysia

Loyalitas dan kreativitas Aliansi bagi Indonesia

Di laga keempat Grup B melawan Vietnam di Selayang, satu bangku di atas tempat saya berdiri menonton timnas berisi seorang ibu yang menggendong bayi. Saya dan Rianto, kawan liputan selama di Malaysia, memanggil sang ibu dengan sebutan sederhana dan singkat saja, ‘Mbak e’. Wanita tangguh yang, tidak hanya selalu berdiri selama 90 menit mendukung Garuda Muda bermain, tapi ia melakukannya semuanya sambil rutin bernyanyi tanpa henti dan menggendong sang anak!

Sang suami yang juga merupakan anggota Aliansi, berdiri di tribun depan bersama sebagian besar rombongan, sementara ia dan sang anak berdiri di belakang, beberapa tribun di atas sang suami dan kawan-kawan Aliansi. Sepanjang laga, ia tak henti bernyanyi. Membuat keringat dingin yang mengucur membasahi dahi dan tangan saya tak lagi terasa karena merasa sejuk mendengar nyanyian untuk anak-anak asuh Luis Milla selalu berkumandang di belakang saya berdiri.

Dedikasi luar biasa bagi wanita yang sudah beberapa tahun tinggal di Malaysia dan menetap di Selangor. Usai laga yang berkesudahan 0-0 tersebut, saya dan Rianto menghabiskan 10 menit duduk bersama beliau di tribun. Menatap lekat-lekat sang ibu yang sudah terduduk sembari menidurkan anaknya dan diam-diam, saya menyimpan rasa takjub dan hormat yang teramat tinggi bagi sang ibu, salah satu suporter wanita terhebat yang pernah saya temui selama datang ke stadion.

Di lain hari, saya berkesempatan mewawancarai salah satu dirigen dari kawan-kawan Aliansi, yang kami tak tahu benar siapa nama asli beliau, tapi di kalangan Aliansi dan anak-anak di tribun, beliau akrab disapa ‘Jokowi’, mengingat parasnya yang memang bila dilihat sekilas mirip seperti Presiden Republik Indonesia yang berasal dari Solo tersebut.

Wajahnya kalem, seperti Jokowi, nada suaranya pun tak tegas dan berwibawa laiknya seorang dirigen suporter di tribun. Tapi ketika sudah berada di atas panggungnya sebagai dirigen, beliau orang yang berbeda 180 derajat.

Auranya terpancar sangat hebat di atas tribun. Ia salah satu yang rutin mengingatkan suporter-suporter lain untuk bangkit berdiri dan bernyanyi dengan gagah dan bangga tiap kali Indonesia Raya berkumandang, serta menjadi orang pertama yang memberikan isyarat untuk mengajak suporter duduk dan diam ketika lagu kebangsaan negara lain tengah berkumandang. Sebuah aksi yang sangat mengundang hormat dan saya bangga satu tribun dengan bapak ini.

SEA Games memang sudah selesai dan medali perunggu adalah hasil terbaik yang bisa diraih timnas Indonesia U-22 di ajang kali ini. Tapi, semangat dan euforia kawan-kawan Aliansi saya bawa pulang ke Indonesia dengan penuh memori syahdu dan kebanggaan yang jauh lebih berharga dari keping perunggu Garuda Muda.

Sampai jumpa di SEA Games dan Piala AFF berikutnya, kawan-kawan Aliansi Suporter Indonesia. Berkat kalian, Garuda tidak akan pernah merasa sendiri terbang ke sana kemari mengepakkan sayapnya ke segala penjuru Asia Tenggara. Hormat tertinggi saya untuk totalitas dan loyalitas kalian selama di Malaysia.

Tabik.

Isidorus Rio Turangga – Editor Football Tribe Indonesia