Dunia Asia

Aung Thu: Bukti Progresi Myanmar di Kancah Sepak Bola

Bila dikomparasi dengan Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand, nama Myanmar atau yang dahulu dikenal dengan Burma, tentu kalah mentereng di kancah sepak bola. Padahal, negara yang satu ini pernah keluar sebagai peraih medali emas di ajang Asian Games (1966 dan 1970), sebuah pencapaian yang bahkan tak bisa dilakukan oleh empat negara yang disebut terlebih dahulu.

Harus diakui bila sejak era 1980-an, Myanmar mengalami penurunan prestasi karena lebih sering gagal tatkala mentas di sebuah kejuaraan. Mulai dari Piala AFF sampai ajang South East Asia (SEA) Games, timnas yang kini ditangani pelatih asal Jerman, Gerd Zeise ini, juga lebih sering jadi bulan-bulanan negara Asia Tenggara lain.

Namun segalanya mulai berubah sejak satu dekade terakhir. Pelan tapi pasti, Myanmar mulai berkembang dan memunculkan lagi tajinya di kancah sepak bola Asia Tenggara. Mereka pun tak lagi bisa dipandang sebagai tim gurem oleh para pesaing.

Salah satu bukti progresi Myanmar di kancah sepak bola tentu munculnya sosok Aung Thu, penyerang muda andalan timnas berjuluk The White Angels di ajang SEA Games 2017 kali ini. Pemain yang talentanya diasah oleh Mandalay Football Academy ini memang baru berumur 21 tahun. Namun segenap potensi yang ada pada diri Aung Thu, diklaim bisa membuatnya jadi salah satu pemain terbaik di Asia Tenggara bahkan Asia dalam beberapa tahun ke depan.

Di ajang SEA Games 2017, sampai tulisan ini dibuat, Aung Thu sudah mengoleksi empat gol sekaligus mematri namanya sebagai top skor sementara. Hal tersebut bisa dijadikan justifikasi sederhana bila Aung Thu memiliki kualitas mumpuni.

Ketajamannya sendiri sudah terbukti di beberapa turnamen lain yang diikutinya bersama timnas Myanmar muda. Contohnya saja di ajang Piala Asia U-19 di tahun 2014 kemarin. Sepasang gol pemain kelahiran Pyinmana ini sukses mengantar Myanmar menembus babak semifinal dan lolos ke Piala Dunia U-20 untuk kali pertama sepanjang sejarah.

Ajaibnya, Aung Thu berhasil mengulangi kegemilangannya dengan mencetak satu buah gol untuk Myanmar meski di Piala Dunia U-20 tahun 2015, mereka dijadikan santapan empuk oleh beberapa tim yang lebih kuat semisal Amerika Serikat, Selandia Baru, dan Ukraina.

Berkat penampilan apiknya ini pula, Zeise yakin untuk menggunakan tenaga Aung Thu di tim senior Myanmar. Sampai sekarang, dirinya sudah berhasil menceploskan 4 gol dari 20 caps.

Di level klub, Aung Thu yang membela Yadanarbon, juga menunjukkan skill luar biasa usai menyarangkan 8 gol di sepanjang musim kompetisi 2016 kemarin. Catatan itu hanya kalah dari dua penggawa andalan yang lain, Keitu Martu Nah dan Win Naing Soe, yang masing-masing punya koleksi gol dua kali lipat dari kepunyaan Aung Thu. Lebih mantapnya lagi, di akhir musim, Yadanarbon sukses merengkuh titel Liga Myanmar keempat mereka sepanjang sejarah.

Bareng sejumlah talenta muda The White Angels yang lain macam Hlaing Bo Bo dan Sithu Aung, pemain bernomor punggung 9 ini tentu jadi andalan utama Myanmar untuk menggondol medali emas SEA Games 2017. Paceklik medali emas SEA Games dari tahun 1973 memang harus disudahi dengan segera.

Dan dengan usia yang masih sangat muda, kans Aung Thu agar bisa mengembangkan diri tentu masih sangat besar. Jika segenap potensi yang dimilikinya itu bisa dimaksimalkan, bukan tak mungkin klub-klub tenar di benua Asia bakal tertarik merekrutnya dalam beberapa tahun ke depan.

 

Author: Budi Windekind (@Windekind_Budi)
Interista gaek yang tak hanya menggemari sepak bola tapi juga american football, balap, basket hingga gulat profesional