Nasional Bola

Perihal Hukuman Jika Gagal di SEA Games dan Pemakluman Edy Rahmayadi

“Tapi gagalnya bagaimana dahulu. Kalau karena mental, kami akan hukum, kalau skill kami latih. Kalau karena skill dihukum kan salah,” ungkap Edy Rahmayadi seperti dilansir jawapos.com.

Sebuah peringatan, yang saya artikan sebagai ancaman untuk anak-anak muda di bawah usia 22 tahun yang akan berlaga di SEA Games 2017. Gagal meraih emas karena masalah mental, siap-siap saja, para pemain timnas mendapat hukuman dari Ketua PSSI, Pangkostrad Edy Rahmayadi.

Menarik sebenarnya meminta penjelasan lebih lanjut kepada Bapak Edy perihal kekalahan karena mental itu yang seperti apa. Nuansa yang terbangun dari ucapan beliau membuat suasana tegang jelang laga perdana melawan Thailand menjadi lebih gerah. Sebelum bermain, pemain timnas sudah dibebani dengan ancaman yang tak perlu.

Anda bilang maksud Bapak Edy itu baik? Untuk melecut semangat? Pemain sepak bola, apalagi di usia muda, tak memerlukan ancaman untuk memahami bahwa mereka tengah memikul panji tim nasional. Mereka bukan anggota militer, yang perlu digetak supaya taat dengan aturan, supaya sukses menjalankan misi di medan tempur.

Anak-anak muda yang akan “bertempur” di Kuala Lumpur ini dikumpulkan dalam waktu yang singkat dan bermain di bawah asuhan pelatih asing yang tak paham bahasa Indonesia. Apakah Bapak Edy sudah membayangkan situasi itu? Mereka manusia yang punya akal, yang sudah barang tentu akan menghadapi tekanan ketika pertandingan nanti. Ancaman Bapak Edy sangat tidak membantu.

Kalah karena kemampuan tak mendapat hukuman? Bagaimana jika kalah karena taktik? Hal-hal seperti ini tak bisa dibangun dalam waktu singkat.

Pemain yang kemampuannya meningkat karena pelajaran jangka panjang, bermain di dalam sistem yang ia pahami, lagi nikmati, niscaya akan punya mental pertandingan yang baik. Tekanan seperti yang Bapak Edy ucapkan tak diperlukan lagi. Namun catatannya jelas: jangka panjang.

Ironisnya, soal jangka panjang ini pernah Bapak Edy tegaskan sesaat ketika terpilih sebagai Ketua PSSI. Kira-kira begini rangkuman ucapan Bapak Edy:

Bapak Edy menegaskan bahwa beliau ingin membawa Indonesia ke Olimpiade 2022. Caranya? Pembinaan usia muda. Salah satu wujud konkretnya adalah membuat sistem database sehingga PSSI punya daftar pemain dari seluruh Indonesia. Bapak Edy menegaskan bahwa ini adalah misi utamanya selama menjabat sebagai ketua.

Membangun sepak bola yang kuat membutuhkan proses yang panjang. Bapak Edy percaya bahwa untuk sukses, dibutuhkan sebuah proses. Salah satu proses yang dimaksud Bapak Edy adalah memperbaiki sektor infrastruktur dan kompetisi. Dua hal yang, apabila bisa diperbaiki selama Bapak Edy menjabat, sudah sangat baik, karena dua hal itu memang sangat sulit untuk diperbaiki.

Membuat sistem di atas kertas memang mudah, namun eksekusinya yang amat susah. Bahkan Bapak Edy sudah menunjukkan sulitnya memperbaiki kompetisi. Kebijakan menggunakan pemain U-23 yang dicabut ketika klub tengah beradaptasi adalah contohnya. Siapa yang mencabut?

Bagaimana dengan proses pembinaan jangka panjang? Bapak Edy belum genap memanggul misi menjadi Ketua PSSI. Belum ada 12 bulan. Apakah waktu sependek itu sudah termasuk jangka panjang sehingga Bapak Edy bisa mengeluarkan ancaman hukuman jika kalah karena mental?

Apakah pemain-pemain muda Indonesia sudah berkembang dengan baik dan bermain dengan rapi di atas lapangan?

Penegasan Bapak Edy sesaat setelah terpilih menjadi ketua seperti menguap entah ke mana. Akan jauh lebih sejuk apabila Bapak Edy menegaskan bahwa gagal di SEA Games tidak akan menjadi masalah. SEA Games harusnya menjadi laboratorium, tempat meneliti segala kekurangan pembinaan pemain muda di Indonesia.

Segala keluhuran dari kata “pembinaan” selalu berhilir di atas lapangan. Penampilan pemain muda adalah cermin sejauh mana keberhasilan pembinaan yang dilakukan dalam konteks JANGKA PANJANG. Bukan dengan ANCAMAN.

Sebenarnya, memaklumi kekalahan bukan pilihan yang buruk. Asal, disambung dengan niat diri untuk koreksi dan evaluasi. Dan langkah selanjutnya: memperbaiki secara konkret. Fokus dengan perubahan, bukan keluhan, apalagi ancaman.

Betul, maklum saja, seperti ketika kami harus memaklumi sikap Bapak Edy untuk terjun ke medan perang politik. Atau tetap merangkap jabatan ketika sudah terpilih menjadi ketua PSSI. Kami semua maklum, toh karena kami memang tak kuasa melawan sikap Bapak Edy tersebut. Siapa kami, yang hanya bisa menulis?

Kami juga berusaha untuk optimis bahwa Bapak Edy memang multitasking, bisa fokus kerja di banyak medan perang dalam satu tarikan napas. Fokus sebagai Pangkotrad, Ketua PSSI, dan mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur Sumatera Utara. Fokus Bapak Edy pastinya sundul langit. Kami maklum.

Oleh sebab itu, memaklumi bahwa (jika nanti) gagal di SEA Games adalah usaha untuk mencatat segala kekurangan. Jalan terjal perubahan dan manisnya “pembinaan” tak hanya dilakukan dalam satu atau dua tahun. Untuk sepak bola Indonesia yang “seperti ini”, bisa jadi, dibutuhkan 10 tahun bahkan lebih supaya “pembinaan” jangka panjang menuai sukses.

Akan semakin lama lagi apabila fokus Bapak Edy di banyak medan perang sedikit menurun.

Maka menjadi terang bahwa, ancaman bukan stimulus yang baik. Bahkan hadiah uang pun tak selalu menjadi reward yang sehat. Bapak Edy, kalah atau menang, beri anak-anak muda ini hadiah kompetisi dan “pembinaan jangka panjang” yang sehat, jangan ancaman.

Ya kalau hukumannya adalah menanam satu juta pohon untuk penghijauan, sih, saya mendukung.

Author: Yamadipati Seno (@arsenalskitchen)
Koki Arsenal’s Kitchen