Turun Minum Serba-Serbi

Mereka yang Tak Terbeli dengan Uang Transfer Neymar

Gelandang

Javier Zanetti

Si Traktor julukannya, Argentina negara kelahirannya, tapi di Italia ia meraih impiannya. Posisi aslinya adalah bek kanan, namun legenda Internazionale Milano ini juga bisa beroperasi sebagai gelandang kanan dan gelandang bertahan.

Zanetti bukan produk asli akademi Inter, ia didatangkan dari Banfield, salah satu tim kontestan Liga Argentina pada 1995 dan sejak itulah loyalitasnya tak perlu ditanyakan lagi. 615 partai ia jalani bersama La Beneamata di Serie A dan menjadi bagian dari kesuksesan I Nerazzurri hingga gantung sepatu pada 2014 silam.

Paul Scholes

Mungkin tak ada kisah comeback yang bisa menandingi kembalinya Paul Scholes dari masa pensiun. Gelandang mini setinggi 170 sentimeter ini sempat menyatakan pensiun pada 2011 lalu, namun ketika Sir Alex Ferguson mengatakan bahwa tenaganya masih dibutuhkan United, Scholes pun kembali menapakkan kaki di Old Trafford pada musim 2012/2013.

Di usia 38 tahun, ia masih sanggup bermain di 33 pertandingan United, menambah catatan penampilan sebelumnya yang mencapai 466 pertandingan. Scholes, sama seperti Gary Nevile, merupakan satu dari tiga lulusan Class of ’92 yang bertahan hingga akhir kariernya di Theater of Dreams.

Matthew Le Tissier

Selama 16 tahun dirinya setia mengenakan seragam Southamption. Saking setianya membela Soton, para suporter The Saints menjulukinya “Le God”. Meski dikenal sebagai pemain yang malas berlari, Le Tissier merupakan kreator serangan yang jago mengeksekusi bola mati. Ia bahkan membuat rekor sebagai gelandang pertama yang mencetak 100 gol di Liga Primer Inggris. Rekor lainnya, ia sanggup mencetak 47 gol dari titik penalti dari 48 kesempatan yang dimilikinya sepanjang karier. Pantaslah ia mendapat julukan “tuhan” dari para suporternya.

Ryan Giggs

Tanggal 29 November 1973 sudah selayaknya menjadi hari libur nasional untuk memperingati kelahiran Ryan Joseph Giggs. Pemain asal Wales yang meniti karier junior di Manchester City dan menjadi legenda di Manchester United.

Giggs merupakan anomali pemain sayap karena mayoritas pemain yang berposisi di posisi itu tidak memiliki karier yang panjang, apalagi di klub sekelas Manchester United. Namun Giggs bukan sembarang pemain. Usia yang terus menua ia siasati dengan berganti gaya bermain dan beralih posisi lebih ke tengah untuk membagi bola, tidak lagi menyisir tepi lapangan.

114 gol ia cetak dari 674 penampilannya bersama Setan Merah dengan segudang gelar yang ia raih. Sangat disayangkan ia belum pernah mencicipi kompetisi Piala Dunia. Satu-satunya hal yang bisa dibanggakan Nicklas Bendtner di hadapan Giggs.