Suara Pembaca

Mentalitas Mudah Jatuh dan Dibantu untuk Bangkit di Sepak Bola

Kredit: Liga 1

Berharap derajat sepak bola Indonesia terangkat

Sebagai catatan, studi Geoff Foster di The Wall Street Journal tampaknya “mengonfirmasi” kegundahan para pegiat sepak bola di atas. Foster mempelajari potensi penyalahgunaan kedatangan tim medis pada 32 pertandingan pertama Piala Dunia 2014.

Tercatat 302 pemain berguling kesakitan, jatuh ke posisi tak seharusnya, serta kemungkinan lainnya yang membuat wasit menghentikan pertandingan dan memberi sinyal pada tim medis supaya masuk lapangan. Realitanya, 293 pemain sanggup bangkit kembali dan dapat melanjutkan aksinya, berbanding terbalik di mana hanya 9 pemain yang benar-benar harus mengakhiri penampilannya.

Data semakin menarik saat kita melihat tim mana yang lebih sering “terbaring”. Pemain yang timnya berada dalam kondisi tertinggal terhitung terjatuh sebanyak 40 kali, sedangkan pemain yang teman-temannya sedang mengungguli lawan, tergeletak sebanyak 103 kali. Dua angka kontradiktif yang, tentu saja, membuktikan kesahihan suara Jose Mourinho, Antony Sutton dan Simon McMenemy di atas.

Fenomena seringnya pemain terjatuh meski hanya mengalami benturan kecil dan perlu dibantu tim medis untuk bangun lagi memang patut dikritisi. Semakin sering pemain tergeletak, semakin sedikit pula waktu untuk melanjutkan pertandingan. Dengan sendirinya, waktu efektif untuk unjuk kebolehan masing-masing tim menjadi berkurang sehingga berakibat esensi sebuah kompetisi menjadi tidak tercapai.

Waktu efektif (effective time), sebagaimana dijabarkan Howard Hamilton di Soccermetrics, mempunyai definisi sebagai berikut: Keseluruhan waktu yang dihitung ketika bola dimainkan dalam sebuah pertandingan, di luar berhentinya saat waktu terjadinya pelanggaran, bola keluar lapangan, sepak pojok, pergantian pemain, cedera, gol dan saat bola terhenti lainnya.

Disuplai data dari Opta, Hamilton juga menghitung rerata effective time laga Liga Primer Inggris musim 2010/2011, yang cuma menghabiskan 55 menit 6 detik. The Guardians kemudian menunjukkan angka rerata 55 menit 52 detik, 56 menit 22 detik dan 56 menit 34 detik pada tiga musim berikutnya. Kita tidak menyadari bahwa 22 pemain di lapangan hanya beraksi kurang dari dua pertiga waktu normal atau setara membaca 50 halaman buku Sepakbola: The Indonesian Way of Life.

Temuan dia tas tentu berkelindan dengan sabda Zen RS yang menyatakan sepak bola Indonesia itu sungguh gurem. Dalam hal pembunuhan waktu, pemain-pemain Indonesia berlomba-lomba untuk mengalami kejatuhan menjelang pertandingan dan para wasit tidak cukup mengerti untuk menyadari efek buruk kebiasaan itu.

Bukan sebuah kesalahan jika kita menyebut kurangnya kesadaran para pelakon sepak bola Indonesia (baik wasit, pemain, pelatih, maupun staf medis) akan effective time turut berkontribusi pada tidak kompetitifnya klub-klub Indonesia maupun tim nasional Indonesia dalam persaingan internasional. Ironi mentalitas bangsa yang mudah roboh, diberi bukti nyata oleh para pemain kita, yang mudah jatuh dan sulit bangkit jika tidak dibantu tim medisnya sendiri.

Bagi kita yang sudah jenuh disuguhi tontonan busuk sepak bola Indonesia, upaya IFAB mengenalkan rumusan baru berupa perubahan lama pertandingan menjadi 2×30 menit bersih terasa cukup menjanjikan. Perkembangan proposal aturan baru tersebut, menurut ESPNFC, masih perlu “dikaji dalam beberapa pertemuan” sebelum diujicobakan dalam event resmi.

Jika semua lancar, tidak akan ada lagi pemain berguguran di akhir pertandingan. Perbuatan mereka akan percuma karena wasit akan menghentikan hitungan waktu. Kita dapat berharap derajat sepak bola nasional akan lebih terangkat dengan para pemain kita lebih terbiasa bersaing secara sportif dalam mengakhiri pertandingan.

Author: Mukhammad Najmul Ula (@najmul_ula)
Mahasiswa yang menganggap dua hal paling menggairahkan di dunia adalah sepak bola dan ilmu politik