Other Editions

Perjalanan Menonton Sepak Bola Matt Walker di 55 Negara Eropa

Apa yang terlintas dalam benak Anda saat datang ke stadion menyaksikan pertandingan sepak bola? Pastinya menonton tim favorit dan tim lawan, lalu menikmati bagaimana suasana stadionnya, penonton dan lain-lain. Lepas dari lelah berdesakan dan antrian tiket, ada kepuasan bukan menonton langsung di stadion?

Tetapi yang dilakukan pria Inggris yang satu ini lebih dari sekedar menonton, tetapi sangat niat menonton. Matt Walker, ahli statistik di kantor pemerintahan ini, rela mengambil cuti satu tahun hanya untuk menyaksikan laga di 55 negara anggota UEFA!

Uniknya, dia mengawali perjalanannya dengan pergi ke negara-negara yang sepak bolanya kurang mentereng. Jika menyaksikan Liga Primer, La Liga, Serie A atau Bundesliga, mungkin biasa saja, Walker justru mengawali perjalanannya di salah satu negara pecahan Uni Soviet, yaitu Georgia. Dia menyaksikan laga antara Dila Gori dan Lokomotiv Tbilisi di stadion yang hanya terisi 200 penonton dari total kapasitas stadion yang bisa memuat 25 ribu penonton.

Lalu, dia menuju Finlandia ke Pulau Aland, satu-satunya wilayah Finlandia yang berbahasa Swedia. Pulau Aland adalah markas klub IFK Mariehamn yang dijuluki Leicester City-nya Finlandia. IFK Mariehamn juara liga musim lalu dengan status underdog dan tengah berjuang mempertahankan gelar domestik mereka.

Mengapa mengawali perjalanan di Georgia? Karena negeri indah ini memiliki perpaduan unik antara Eropa dan Asia. Ada perpaduan pengaruh Uni Soviet, Iran dan Turki. Yang lebih unik, jika di negara-negara Eropa lain musim panas adalah masa liburan, jadwal liga di Georgia justru diadakan di musim panas.

Melakukan perjalanan selama setahun, tentunya Walker sudah mempersiapkan daftar tempat yang akan dikunjungi (dan perkiraan pengeluarannya). Persiapan logistik tentu juga jadi pertimbangan. Dia justru memilih kota kecil yang tidak ramai. Namun, laga Dila Gori melawan Lokomotiv Tbilisi, justru harus diadakan di Tbilisi, ibu kota Georgia karena stadion Dila Gori tengah direnovasi. Agak aneh juga berada di stadion yang kapasitasnya 25 ribu lebih penonton, tetapi terisi hanya ratusan orang.

Walker sendiri mengaku senang karena orang-orang Georgia ramah-ramah. Dan ada yang lebih aneh lagi karena tidak ada yang membayar tiket. Penyebabnya, karena pihak Dila Gori merasa biaya mencetak tiket lebih mahal ketimbang menjualnya. Alasan yang cukup unik, ya?

Tentunya, ini jadi keuntungan tersendiri bagi pria 40 tahun yang juga fotografer amatiran ini. Dia sudah mengalokasikan 14 paun untuk tiket setiap pertandingan. Harga itu tentu tidak mungkin cukup untuk membeli tiket laga di Liga Primer Inggris yang mahalnya selangit itu, bukan?

Georgia sendiri adalah negara transit untuk pergi ke Armenia dan Azerbaijan. Karena Armenia dan Azerbaijan masih terlibat konflik, jadi tidak bisa pergi langsung melainkan harus lewat Georgia. Dan tidak ada transit antara Armenia dan Turki, yang ujung-ujungnya harus balik lewat Georgia lagi. Hal-hal yang di luar dugaan seperti ini memang bisa saja menghambat perjalanan. Tetapi, teman-teman Walker ingin dirinya melaporkan sesuatu yang tak biasa.

Jika pertandingan berjalan normal-normal saja tanpa kendala, maka sudah umum. Tetapi bagaimana dengan kondisi di Kepulauan Faroe yang mana pertandingan sering ditunda karena angin kencang dan bisa saja bola jatuh ke laut? Nah, hal seperti ini unik, bukan?

Apakah Walker tidak ingin menyaksikan laga Liga Primer? Sejauh ini memang belum ada rencana, tetapi tujuannya kemungkinan bukanlah Manchester atau London. Namun, Bournemouth, Brighton dan Huddersfield.

Perjalanan lengkap Walker bisa diikuti di sini, bila kamu tertarik mengikutinya caranya menikmati sepak bola dan menemukan perjalanan sepak bolamu sendiri, Tribes!

Author: Yasmeen Rasidi (@melatee2512)