
Babak kedua
Seperti juga di babak pertama, Ajax masih banyak menggunakan Ziyech sebagai pembuka ruang progresi bola. Salah satu contoh penggunaan Ziyech dalam progresi adalah ketika Davinson Sanchez menguasai bola dan memasuki sepertiga tengah Ajax, Ziyech, yang berada di blind-side, turun ke sepertiga tengah lawan untuk menerima umpan untuk kemudian memainkan bola kepada Riedewald (bek kiri).
Ziyech yang kemudian terus bergerak menuju ke tepi lapangan membuka ruang bagi Riedewald untuk masuk dari koridor sayap menuju ke halfspace. Dari halfspace, Riedewald berprogres ke tengah, mendekati Dolberg.

Namun, seperti yang terihat di babak pertama, progres serangan Ajax berhenti di Dolberg karena lini belakang MU telah mampu mengantisipasinya. Smalling atau Daley Blind akan mengikuti pergerakan Dolberg ditambah sokongan backward-press (press ke arah gawang sendiri) dari pemain tengah MU, yang memampatkan ruang gerak Dolberg dan menutup akses penyerang muda ini ke kedua penyerang sayap. Kalaupun Dolberg mendapatkan ruang, umpan-umpannya berlanjut dengan umpan ke belakang atau horizontal.

Blokade pemain MU di halfspace dan tengah juga membuat progresi dari lini belakang Ajax dimainkan kepada Ziyech yang bergerak ke koridor sayap. Yang sialnya, ketika Ziyech masuk ke sayap, Amin Younes (penyerang kiri) dan Jairo Riedewald berada terlalu jauh. Ditambah lagi tidak ada pemain yang mengisi halfspace dekat Ziyech, membuat MU mendapatkan kembali penguasaan bola.
Dolberg yang terlihat bermain jauh di bawah penampilan terbaiknya, pada akhirnya, ditarik keluar. Pergantian Dolberg membuat peran Bertrand Traore dalam build-up Ajax semakin penting. Ia menjadi penyerang tengah yang turun ke pos nomor 10 di halfspace dan koridor tengah. Bahkan, terkadang, Traore ikut masuk sampai pos nomor 8.
Bersama Ziyech, Traore bergerak dari sisi ke sisi untuk menciptakan overload yang kuat demi mendukung progresi serangan Ajax. Ketika keduanya masuk ke pos nomor 8, Klaassen yang bergerak naik mengisi pos nomor 10 di belakang penyerang. Sayangnya, selain kuatnya barikade MU di tengah, pengambilan posisi penyerang tengah (baik Dolberg maupun Traore kemudian) sering kali sejajar secara vertical dengan Klaassen, yang menyebabkan Ajax kehilangan aspek depth (kedalaman) dalam struktur posisional mereka.
Manchester United sendiri, walaupun memainkan sistem pertahanan yang sangat tepat guna, permasalahan tetap teridentifikasi dalam model serang mereka.

Permasalahan ini sendiri merupakan konsekuensi model permainan Mourinho. Penggunaan Fellaini dalam serangan lebih dikarenakan pertimbangan akan kemampuannya dalam duel udara dan kekuatan tubuhnya untuk menahan bola sebelum disodorkan kepada pemain lain.
Keterbatasannya, Felllaini memang bukan pemain yang punya mobilitas baik. Ia tidak eksplosif seperti Mkhitaryan atau Thiago Alcantara, misalnya. Kreativitasnya tidak sebaik Mkhitaryan atau Thiago. Konsekuensinya, untuk mengisi pos nomor 10, dalam fase menguasai bola, Mkhitaryan atau Mata yang masuk ke ruang tersebut.
Permasalahan timbul ketika keduanya sedang tidak memiliki akses memadai ke ruang 10 di celah antarlini lawan, koneksi spacing MU menjadi lemah dikarenakan Fellaini sering tidak masuk ke celah tersebut. Mou tidak mempermasalahkan hal ini, karena, toh, model permainan miliknya memang tidak menekankan kepada spacing optimal seperti yang sering kita temui dalam tim yang berlandaskan positiespel atau JdP.
Keunggulan dua gol membuat MU semakin fokus ke blok medium dan rendah. Kestabilan blok pertahanan mereka, secara tidak langsung, didukung oleh Ajax yang tidak banyak melibatkan kedua bek tengah mereka ketika masuk ke separuh pertahanan MU. Sesuatu yang pantas dipertimbangkan dan dipraktikkan oleh Peter Bosz di masa depan, ketika menghadapi tim yang bertahan seperti Manchester United.
Pemain terbaik final Liga Europa versi saya adalah Ander Herrera. Herrera layak menjadi pemain terbaik karena disiplin menjaga pos nomor 6, nomor 8 dan mampu meng-cover pergerakan gelandang sayap maupun bek sayap United.
Akhir kata, selamat atas gelar juaranya, Manchester United!
Author: Ryan Tank (@ryantank100)