Kolom

Andres Iniesta: Pilar Penting Kesuksesan FC Barcelona

Barcelona sejatinya sering mengalami nasib buruk. Mereka akrab dengan kekalahan tragis, baik di dalam maupun di luar lapangan. Pep Guardiola, dalam kurun empat tahun, membuat mereka begitu berkilauan. Kini mereka bahkan berani mencanangkan menjadi klub pertama di muka bumi yang bisa meraup pendapatan 1 miliar euro per tahun.

Klub ini adalah wahana pemberontakan yang disebut Franklin Foer sebagai ‘salah satu rahmat terbesar Tuhan untuk mengisi waktu luang’. Jelas, riwayat mereka penuh dengan perlawanan terhadap Real Madrid, yang merupakan representasi rezim militer fasis Jenderal Franco, serta monarki Spanyol.

Sejarah sepak bola Spanyol dihiasi persaingan sengit poros Catalunya-Madrid. Rivalitas kedua tim membuat para suporter tidak terima kala Luis Figo menyeberang ke Madrid, sehingga kemudian dilempari kepala babi. Pada perkembangannya, rivalitas dua klub juga mengerucut pada persaingan dua figur populer, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

Keduanya memainkan sepak bola indah, meski dengan gaya yang berbeda. Bagaimanapun menyebalkannya Barcelona di mata suporter Madrid, tercatat ada tiga pemain La Blaugrana yang mereka berikan standing ovation saat laga usai. Pemain-pemain itu adalah Diego Maradona, Ronaldinho, dan Andres Iniesta.

Rivalitas sengit ternyata dilunturkan oleh daya magis seorang pemain. Berbeda dengan dua nama sebelumnya, Iniesta bukanlah sosok yang gampang menuai pujian. Ia bertubuh mungil, cenderung lambat, dan tak sekokoh pemain lain. Ia juga jarang mencetak gol. Meski begitu, Iniesta adalah pilar penting Barcelona dan kita harus siap kehilangan daya magisnya sebentar lagi.

Lahir 11 Mei, 33 tahun yang lalu, Iniesta sanggup menyeruak dari akademi La Masia, dan mengisi skuat inti Barcelona sejak dia berumur 18 tahun. Kepada Xavi Hernandez, Guardiola pernah berkata, “Kau [Xavi] mungkin bisa menjadi orang yang menyebabkanku pensiun. Tetapi si Iniesta ini bakal memensiunkan kita semua!”

Kolaborasinya bersama Xavi dan Sergio Busquets-lah yang menjadi fondasi bagi kegemilangan Messi. Dari tiap umpan-umpan triangle pendek yan kita saksikan itu, pecahlah sebuah kebuntuan. Lantas tiap jenjang ruang, sedikit demi sedikit, tereksploitasi. Jika Messi adalah meriam, maka ketiga orang inilah yang menjadi sumbunya.

Iniesta menjadi mencolok karena selain begitu pucat (hampir seperti orang albino), ia mematikan musuh dalam sunyi. Ia begitu mawas soal ruang dalam sepak bola, sehingga dalam sepersekian detik mampu mengirim bola begitu cerdiknya. Tidak seperti Johan Cruyff, yang melenakan kita lewat kaki-kaki jenjangnya, Iniesta menggiring bola dengan langkah-langkah kecil, namun tetap sulit direbut.

Ia menjadi salah satu pemain yang sudah berada di tim inti sebelum Guardiola menjabat sebagai pelatih (bersama Carles Puyol, Xavi, dan Victor Valdes). Momen yang akan membuat namanya akan selalu diingat, tentu saja malam di mana ia membuat Barcelona melaju ke final Piala Champions 2008/2009.

Menghadapi Chelsea, mereka kewalahan sejak leg pertama di Camp Nou. Skor berakhir 0-0. Di laga tandang, mereka justru kebobolan di menit-menit awal lewat gol spektakuler pemain yang kini menjadi kesayangan Bobotoh, Michael Essien. Di pertandingan yang sering disebut sebagai konspirasi UEFA itu, Barcelona membungkam publik Stamford Bridge di menit ke-90, lewat sepakan yang luar biasa indah dari Iniesta.

Tanpa mengambil pusing atau mempertimbangkan ancang-ancang, ia menyepak bola sodoran Messi tanpa ragu, menghasilkan sebuah lentingan bola melengkung yang tak kuasa dijangkau Petr Cech. Barcelona melaju ke final di Roma berkat keunggulan gol tandang.

Sejarah selanjutnya menempatkan nama Guardiola dan Messi di panggung terhormat, karena di final berhasil menumbangkan Manchester United dengan skor 2-0. Barcelona pun menjadi klub Spanyol pertama yang sanggup meraih treble.

Panggung selanjutnya bagi Iniesta adalah Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Meski bukan pencetak gol andal, mental dan dedikasi tinggi membuat Iniesta kerap menciptakan gol-gol penting. Melawan Belanda, pertandingan mesti berlanjut ke perpanjangan waktu. Di situlah Iniesta kembali menjadi penentu kemenangan, sehingga membuat La Furia Roja menjadi negara pertama yang bisa mengawinkan trofi Piala Eropa dan Piala Dunia secara beruntun.

Barcelona lalu kemudian tim nasional Spanyol, sama-sama meraih kejayaan spektakuler di mana Andres ‘El Celebro’ Iniesta menjadi fondasinya. Di Catalunya, memang selalu Messi yang mendapat lampu sorot. Tetapi ego besarnya membuat dirinya tak kunjung meraih hasil maksimal kala tampil bersama Argentina. Padahal, seperti di Barcelona, ia juga disertai nama-nama aduhai seperti Angel Di Maria, Sergio Aguero, serta Gonzalo Higuain.

Puyol, Valdes, serta Xavi telah tak menghuni skuat Barcelona. Iniesta sang kapten masih di sana, meski pria kelahiran Fuentealbilla ini kian sering tersisihkan. Ivan Rakitic dan Andre Gomes telah sering menggantikannya.

Ya, sejarah mereka memang dipenuhi para pria agung yang diperkenankan melukis sebuah kanvas bernama keagungan Barcelona. Mulai dari Cruyff, Romario, Rivaldo, sampai Hristo Stoichkov, tanah Catalunya juga menjadi rumah yang nyaman bagi para pemain asing.

Namun Iniesta, yang berasal dari kota kecil di Spanyol berhasil menyusup dan membuat kita terpana. Ia juga membuat kita sadar bahwa operan maut dan kecerdikan melihat ruang juga bisa mengharumkan nama seorang pemain bola.

Selamat berulangtahun ke-33, Andres!

Author: Fajar Martha (@fjrmrt)
Esais dan narablog Arsenal FC di indocannon.wordpress.com