Kolom

Calon Manusia 100 Juta Euro (Bagian 1): Paulo “La Joya” Dybala

Di awal kariernya, pemain kidal ini kerap disamakan dengan seniornya, Sergio Aguero. Ketajamannya di depan gawang lawan kala berseragam Instituto, membuatnya digadang-gadang meneruskan tradisi penyerang tajam khas Amerika Latin yang berasal dari Argentina.

Perpindahannya ke Italia bersama Palermo membuat pemain ini mengalami transformasi yang signifikan. Masih rutin bermain di pos penyerang tengah, Paulo Dybala muda terus mengasah kemampuannya untuk menguasai satu keahlian mendasar dalam sepak bola yang kerap dilupakan para pemain modern: menguasai ruang.

Tiga tahun di Italia bersama Palermo, membuat ia tak lagi dilabeli penerus trah Sergio Aguero, seperti yang diucapkan Maurizio Zamparini, kala sang pemain pertama kali didatangkan ke Palermo. Kepindahannya ke Juventus dan bertemunya ia dengan tactician sekelas Massimiliano Allegri, membuat julukan La Joya yang disematkan padanya terasa amat pas dan pantas.

Transformasi besar di Juventus

Di Palermo, Dybala difokuskan untuk menjadi seorang penyerang tengah murni. Seorang pencetak gol ulung dengan Franco Vasquez berada di belakangnya untuk memberi suplai matang. Kepindahannya ke Juventus membuat Dybala menjelma menjadi sesosok pemain yang menurut hemat saya, melangkah menuju kematangan secara kualitas individu dan secara taktikal.

Max Allegri memang awalnya sedikit memaksakan Dybala untuk mengisi pos yang lowong usai kembalinya si Apache, Carlos Tevez, ke klub lamanya, Boca Juniors. Posisi ini sebenarnya tak sulit diperankan Dybala, mengingat di awal kariernya selama di Instituto hingga Palermo, ia memang seorang penyerang tengah murni.

Yang mungkin menyadarkan Allegri, selepas kepergian Paul Pogba yang mudik ke Manchester awal musim ini, ia butuh memberikan kebebasan ‘berkreasi’ bagi Paulo Dybala untuk mengisi ruang yang sebelumnya ditempati oleh Pogba. Publik melihat bahwa Miralem Pjanic, gelandang yang baru didatangkan dari AS Roma, akan menempati posisi dan peran yang dimiliki Pogba. Namun, anggapan itu ditepis Allegri dengan cara yang elegan: membuktikan kejeniusannya meracik sistem bermain di atas lapangan.

Datangnya Gonzalo Higuain dan masih bercokolnya Mario Mandzukic di komposisi skuatnya, membuat eks pelatih AC Milan ini menemukan sistem yang luar biasanya mampu memaksimalkan kemampuan terbaik Dybala, Higuain dan Mandzukic dalam satu bingkai taktikal yang baik. Didorongnya Mandzukic di kiri dan sedikit menurunkan Dybala untuk berada di belakang Higuain, membuat La Joya justru semakin berbahaya.

Ia disebut La Joya, atau “Sang Permata”, tentu bukan tanpa sebab. Kualitas tekniknya memang di atas rata-rata. Semakin ke sini, alih-alih mirip Aguero, Dybala justru semakin lekat tipikal bermainnya dengan Lionel Messi. Tipikal needle player yang mampu memaksimalkan ruang dan lepas dari penjagaan  lawan karena didukung dengan kualitas individunya yang di atas rata-rata.

Contoh paling nyata dan terbaru adalah laga kontra Barcelona di perempatfinal Liga Champion lalu. Di laga yang berakhir dengan skor agregat 3-0 untuk keunggulan Si Nyonya Tua, Dybala hampir selalu berada di semua sisi lini serang Juventus.

Ia berada di kiri, namun tak menumpuk dengan Mandzukic. Mendekat ke kanan, ia pun tak bertabrakan peran dan posisinya dengan Juan Cuadrado. Dan ketika berada di tengah, tepat di belakang Higuain, pemain ini menunjukkan potensi terbaiknya. Persis seperti permutasi posisi Lionel Messi yang dilakukannya di Barcelona dua tahun terakhir ini.

Pemain seperti Dybala dan Messi, dengan kualitas teknik dan pemahaman taktikalnya yang baik, memang jauh lebih berbahaya bila mereka terlibat lebih di permainan dengan posisi sedikit ke bawah dari lini depan, daripada harus stay di depan sebagai penyerang. Saya rasa itulah satu-satunya alasan mutlak kenapa komparasi antara keduanya sangat terasa sekali. Anda ingat di mana posisi Lionel Messi kala mencetak dua gol di El Clasico kemarin, bukan?

Previous
Page 1 / 2