

Roy Keane
Jika saja ia tidak berselisih paham dengan Sir Alex Ferguson, hampir bisa dipastikan jika Roy Keane akan menutup karier indahnya di Old Trafford. Pemain yang kerap dianggap bermusuhan dengan Patrick Viera ini akhirnya membelot ke klub Britania lainnya, Glasgow Celtic, jelang akhir kariernya sebagai pemain.
Semasa bermain, Roy Keane dikenal sebagai pemain yang tak kenal kompromi kala berduel dengan para lawannya. Tekel keras dan permainan ngototnya telah menjadikan ia simbol benteng teater impian bersama sahabat karibnya, Paul Shcoles, dan telah menghasilkan banyak trofi bagi Manchester United.
Selepas gantung sepatu di Skotlandia, Keano, panggilan akrabnya, kembali ke Inggris untuk memulai pekerjaan barunya. Ia terpilih menjadi pelatih Sunderland dan mengemban tugas berat guna mengembalikan The Black Cats kembali ke kasta tertinggi sepak bola Inggris. Tugas itu berhasil ia capai kala membawa tim yang bermarkas di stadion Of Light tersebut promosi.
Tapi hanya cukup itu narasi kehebatannya. Mengarungi Liga Primer Inggris yang sangat ketat membuat Keane, dengan Sunderland hanya berkutat di papan bawah. Mantan anak asuh Brian Clough di Nottingham Forest ini pun dipecat sebelum akhir musim 2008 karena tak mampu mengangkat Sunderland dari zona merah.
Mantan kapten Manchester United, yang selepas gantung sepatu lebih sering mengkritik Setan Merah ketimbang memuji mantan timnya ini kemudian kembali ke Divisi Championship untuk menukangi Ipswich Town. Kariernya di Portmand Road pun tak bertahan lama, karena ia kembali dipecat pada 2011 setelah menelan tujuh kekalahan dari sembilan pertandingan terakhirnya.
Selanjutnya, Roy Keane lebih banyak berkarier sebagai asisten pelatih, seperti menemani Paul Lambert di Aston Villa, dan sekarang pulang ke negaranya untuk mendampingi Martin O’Neil di tim nasional Irlandia.