Membandingkan Bill Paxton dan Zlatan Ibrahimovic

Baru tujuh bulan sejak kepindahannya ke Manchester United, Zlatan Ibrahimovic sudah memberikan dua gelar bagi klub barunya. Setelah menjuarai Community Shield dengan mengalahkan Leicester City 2-1, kali ini sihir Zlatan kembali memakan korban. Golnya ke gawang Southampton tiga menit jelang berakhirnya pertandingan membawa MU memenangkan trofi keduanya musim ini, Piala Liga Inggris (EFL Cup). Di pertandingan Minggu malam (26/2) kemarin, Zlatan mencetak dua gol dengan skor akhir 3-2.

Trofi Piala Liga Inggris tersebut adalah trofi ke-32 yang diraih Zlatan sepanjang kariernya hingga saat ini. Itu belum termasuk gelar individu yang didapatnya sejak memulai karier sepak bola professional di tahun 1999. Zlatan memang dikenal sebagai pemain yang selalu mempersembahkan gelar juara di klubnya. Pengecualian untuk kariernya saat membela Malmö FF, sejak berseragam Ajax Amsterdam di musim 2001/2002, Zlatan tidak pernah absen memberikan gelar juara di klubnya.

Ajax dibawanya menjuarai Eredivisie dua kali, Zlatan juga merupakan bagian dari skuat Juventus yang meraih Scudetto (meskipun akhirnya dicabut karena kasus Calciopoli). Gelar Scudetto kemudian benar-benar diraih Zlatan, yakni sebanyak tiga kali beruntun saat berbaju Inter Milan. Ketika pindah ke Barcelona, Zlatan kembali meraih gelar juara liga, ditambah dengan dua Piala Super Spanyol, satu Piala Super Eropa, dan satu Piala Dunia Antarklub.

Musim 2010/2011 Zlatan kembali ke Italia dengan membela AC Milan. Rossoneri, julukan Milan, dibawanya meraih gelar juara Serie-A di musim pertamanya. Kemudian saat pindah ke Paris Saint-Germain (PSG), total sembilan gelar juara ia persembahkan untuk Sheikh Nasser, pemilik PSG.

Kesuksesan Zlatan meraih gelar juara di setiap klub yang dibelanya adalah berkat adaptasinya yang cepat dengan pola permainan di liga tersebut. Zlatan dengan cerdas dapat menyesuaikan gaya bermainnya dengan pola permainan menyerang di Eredivisie, taktikal ala Serie-A, teknik tinggi khas La Liga dan Ligue 1, serta permainan cepat nan keras seperti yang dijalaninya di Liga Primer Inggris saat ini.

Berkat adaptasinya yang cepat itu pula, ia selalu menempati posisi penyerang utama. Sangat jarang kita melihat Zlatan duduk di bench kalau bukan karena cedera atau kelelahan.

Lalu, apa hubungan adaptifnya Zlatan dengan mendiang Bill Paxton?

Sabtu (25/2) lalu, aktor papan atas asal Amerika, Bill Paxton meninggal dunia. Bill meninggal usai komplikasi setelah operasi jantung yang dijalaninya. Semasa hidupnya, pria 61 tahun tersebut telah membintangi lebih dari 90 judul film.

Aksinya yang terkenal diantaranya dapat kita temukan di film Aliens, Predator 2, Terminator, Twister, Apollo 13, dan Titanic. Khusus di film Twister, perannya sebagai Bill “The Extreme” Harding sempat menaikkan pamor para pekerja meteorologis. Presiden Spotter Network (penyedia jasa informasi titik badai) John Wetter, mengatakan bahwa “Gara-gara Twister, pekerjaan sebagai meteorologis menjadi keren, meskipun hanya sebentar.”

Membintangi puluhan film bukanlah perkara mudah. Pembawaan diri di satu peran dan peran lainnya pasti berbeda, suasana di skenario satu dan skenario lainnya pasti juga bervariasi. Adaptasi yang cepat sangat dibutuhkan untuk menunjang performa akting yang maksimal.

Bill dengan sukses menjalani semua perannya dengan baik. Bahkan salah satu akun hiburan di jejaring sosial Instagram mengatakan bahwa Bill adalah satu-satunya orang yang sanggup melawan tiga musuh besar: alien, predator, dan Terminator.

Berkat performa aktingnya yang memukau, Bill berhasil meraih penghargaan Screen Actors Guild Awards dalam kategori Outstanding Performance by a Cast in a Motion Picture di film Apollo 13, dan Saturn Awards dalam kategori Best Supporting Actor di film Aliens. Itu belum termasuk belasan nominasi yang ia raih di berbagai ajang penghargaan.

***

Bill Paxton dan Zlatan Ibrahimovic adalah dua contoh figur dunia yang sukses berprestasi melalui penyesuaian diri di lingkungannya secara cepat. Di zaman yang cepat berinovasi seperti sekarang ini, memang dibutuhkan orang-orang yang cepat beradaptasi.

Oleh karena itu, keberadaan Arsene Wenger sekarang ini perlu dipertanyakan, karena mengingat adaptasi taktiknya yang konvensional, seharusnya beliau berkarier di zaman kerajaan Angling Dharma masih eksis di layar kaca Indonesia.

Author: Aditya Jaya Iswara (@joyoisworo)
Milanisti paruh waktu yang berharap Andriy Shevchenko kembali muda dan membawa AC Milan juara Liga Champions Eropa lagi.