Perjalanan Berliku Karier Ryan Babel

Ryan Babel baru saja berulang tahun yang ke-30 di akhir 2016 lalu. Karier profesionalnya cukup mentereng dengan pengalaman bermain untuk Ajax Amsterdam dan Liverpool. Ia juga telah tampil lebih dari 40 kali untuk tim nasional Belanda, termasuk menjadi bagian skuat Oranje untuk Piala Dunia 2010. Meski demikian, rasanya di Deportivo La Coruna-lah Babel baru merasakan periode ketika dirinya dianggap penting oleh fans klub yang dibelanya.

Pada jornada ke-16, yaitu menjelang libur musim dingin pada Desember 2016, pemain yang bisa beroperasi sebagai penyerang maupun sayap kiri ini mencetak gol yang memperbesar keunggulan Super Depor atas Osasuna.

Kemenangan 2-0 tersebut merupakan kemenangan ke-4 mereka musim ini, sekaligus sedikit mengamankan Pedro Mosquera dan kawan-kawan dari zona degradasi. Bagi Babel, ini juga menjadi pembuktian bahwa dirinya pantas menjadi pemain inti yang dipercaya pelatih Gaizka Garitano.

Maklum, ketika diboyong secara gratis ke La Coruna ketika musim kompetisi sudah berjalan dua pertandingan, reputasi Babel tidak ubahnya sebuah mobil bekas. Ia memang pernah terkenal sebagai wonderkid Ajax yang dibeli secara mahal oleh Liverpool. Namun, kariernya usai di Liverpool tidak bisa disebut membanggakan.

Setelah pindah ke Bundesliga untuk bergabung dengan TSG Hoffenheim pada tahun 2011, karier pria kelahiran Amsterdam ini menukik tajam. Ia hanya mencetak 5 gol selama dua musim di Jerman, sehingga akhirnya Ajax kembali menampungnya.

Ia ternyata tidak bertahan lama di kota kelahirannya setelah menerima tawaran mengejutkan untuk pindah ke Liga Turki. Klub yang diperkuatnya di Turki pun bukanlah klub besar, melainkan kekuatan kelas dua bernama Kasimpasa.

Dua tahun di Kasimpasa ternyata lumayan bagi karier Babel. 14 gol dari 58 pertandingan memang bukan catatan sensasional, tapi cukup untuk kembali meningkatkan nilai jualnya. Hingga akhirnya pada tahun 2015 lalu, Babel memperoleh tawaran yang mengubah hidupnya. Tawaran itu secara ajaib datang dari Al Ain di Liga Uni Emirat Arab.

Sungguh ironis memang. Pemain yang pernah menjuarai Piala Eropa U-21 bersama tim nasional U-21 Belanda ini berakhir di Liga Uni Emirat Arab. Mulai dari situ, hidup Babel pun mulai kacau. Media-media setempat melaporkan bahwa sang pemain bermasalah dengan pelatih Al Ain, Zlatko Dalic. Ia pun sempat diturunkan ke tim cadangan Al Ain.

Entah bagaimana kelanjutan masalah Babel di negara Arab tersebut, tapi yang jelas publik sepak bola Spanyol dibuat terkejut oleh kemunculannya di musim panas 2016 lalu. Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba saja pemain kelahiran 19 Desember 1986 ini menandatangani kontrak untuk bergabung dengan Deportivo La Coruna!

Dari situ, semuanya kembali berjalan indah bagi Babel. Para pendukung Super Depor mulai mengelu-elukannya. Ia dianggap sebagai pengganti yang pas bagi Joselu yang cedera parah dan Lucas Perez yang hijrah ke Arsenal di awal musim.

Kemudian, tak ada angin dan tak ada hujan lagi, Babel diam-diam pindah lagi ke Liga Turki. Kali ini, Besiktas yang memboyongnya. Saat itulah kemudian terkuak bahwa kontrak Babel bersama Deportivo la Coruna hanya bersifat jangka pendek.

Super Depor hanya menjadi persinggahan baginya selama 6 bulan setelah dilepas secara gratis oleh Al-Ain. Manajemen Depor tidak sanggup menyaingi kekuatan finansial Besiktas yang menawarinya kontrak selama dua setengah tahun dengan gaji awal 1,25 juta euro sampai akhir musim 2016/2017.

“Tiga bulan di Spanyol telah menjadi pengalaman luar biasa bagiku,” tutur Babel kepada ESPN. “Meskipun sangat singkat, tapi La Coruna sudah menjadi rumah ketigaku setelah Amsterdam dan Liverpool.”

Januari lalu, pemain yang tergabung di skuat Belanda untuk Piala Dunia 2010 ini langsung unjuk gigi di Besiktas. Ia mencetak gol indah ke gawang Alanyaspor setelah melakukan solo run memukau.

Perjalanan kariernya memang tidak selalu mulus, tapi percayalah, Ryan Babel masih hidup!

Author: Mahir Pradana (@maheeeR)
Mahir Pradana adalah pecinta sepak bola yang sedang bermukim di Spanyol. Penulis buku ‘Home & Away’.