Mengenal Sisi Lain Philipp Lahm

Secara profesional, karier seorang Philipp Lahm memang luar biasa. Dari pemain yang dianggap terlalu kecil untuk bermain sepak bola, ia justru berhasil meraih segalanya. Ia berhasil membawa klubnya Bayern Munchen menjadi juara Eropa setelah gagal di beberapa final sebelumnya. Dan Lahm juga membawa Jerman menjadi juara dunia setelah puasa hampir 24 tahun. Total 20 medali juara berhasil ia kumpulkan sepanjang kariernya.

Di akhir musim ini, The Magic Dwarf akan mengakhiri karier sepak bola profesionalnya. Dan selama hampir dua dekade bermain, catatan Lahm memang mengesankan. Apalagi ditambah fakta bahwa ia belum sekalipun pernah menerima kartu merah. Sebuah poin hebat melengkapi catatan emas yang sudah Lahm torehkan sebelumnya.

Karisma dan aura kepemimpinan Lahm mungkin berbeda dengan yang ditunjukan oleh Paolo Maldini, Javier Zanetti, atau bahkan seniornya yang legendaris, Frans Beckenbauer. Ada kesan kalem dan tenang dalam diri pemain asli Bavaria kelahiran 11 November 1983 ini. Meskipun demikian, nyatanya ada waktunya Lahm bisa dibilang cukup meledak-ledak. Terutama dalam urusan mengomentari mantan pelatih yang pernah menangani dirinya.

Tertuang dalam autobiografinya yang berjudul Der feine Unterschied: Wie man heute Spitzenfußballer wird atau yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi The Subtle Difference : How Become a Top Footballer. Dalam buku yang terbit pada tahun 2011 lalu tersebut Lahm memberikan kritik pedas kepada para pelatih yang pernah menanganinya. Empat nama pelatih tercantum dalam buku tersebut yang mendapatkan komentar negatif dari Lahm.

Daftar pelatih pertama yang mendapatkan kritik dari Lahm adalah Rudi Voller. Legenda Bayer Leverkusen tersebut merupakan pelatih Timnas Jerman dari tahun 2000 hingga 2004. Lahm bertemu Voller ketika ia merupakan bagian dari skuat Jerman yang berlaga di Euro 2004,Portugal.

Lahm mengkritik bahwa sesi latihan timnas Jerman era Rudi Voller kelewat santai. Lahm beranggapan bahwa inilah yang membuat para pemain menjadi tidak giat dan berambisi untuk melakukan yang terbaik. Dengan kata lain, sesi latihan era Rudi Voller yang santai membuat para pemain menjadi malas.

Nama selanjutnya yang dikritik oleh Lahm adalah Felix Magath. Pelatih yang bersama dengan Lahm ketika ia dipinjamkan ke Stuttgart dan kembali bersama ketika Magath menangani FC Bayern pada medio 2004-2007. Lahm menganggap bahwa Magath rasanya selalu bekerja di bawah tekanan. Ia tidak bisa membuat para pemain lebih rileks. Terlebih Lahm menganggap Magath tidak tahu apa yang mesti ia lakukan di FC Bayern.

Bahkan, legenda sepak bola Jerman seperti Jurgen Klinsmann pun ikut terkena serangan dari Lahm. Lahm bercerita bahwa dalam delapan minggu para pemain menyadari bahwa Klinsmann tidak punya pengetahuan apa-apa secara taktis. Ia melanjutkan bahwa para pemain FC Bayern di era Klinsmann memikirkan sendiri apa yang harus mereka lakukan di lapangan ketimbang menjalankan instruksi dari Klinsmann.

Nama terakhir yang mendapatkan komentar tidak mengenakan adalah Louis van Gaal. Lahm awalnya memuji bahwa juru taktik asal Belanda tersebut memiliki filosofi tersendiri yang sangat berbeda dari pelatih kebanyakan. Detail mendalam Van Gaal juga begitu disukai oleh Lahm.

Lahm sendiri mengaku bahwa ia sangat menyukai pengetahuan sepak bola secara taktikal. Sayang menurut Lahm, Van Gaal begitu keras kepala untuk mengakui ada kekurangan besar dalam filosofi yang diusungnya. Lahm menganggap filosofi Van Gaal sangat beresiko membuat tim kemasukan banyak gol.

Tercatat hanya ada dua nama mantan pelatih yang menangani Lahm tetapi tidak terkena kritikan dari dirinya. Yaitu Ottmar Hitzfield dan Joachim Low. Meskipun tidak mendapat kritik, Hitzfield justru mengomentari sikap Lahm yang ia anggap tidak berhak mengomentari hasil pekerjaan dari para pelatih yang sudah menanganinya. Terutama para pelatih di level tim nasional.

Melihat komentar-komentar Lahm kepada para mantan pelatihnya, kesan kalem yang ada justru menjadi sedikit hilang. Yang muncul adalah kesan yang perfeksionis absolut dan hampir serupa seperti yang ada dalam diri mantan kapten Manchester United, Roy Keane. Memang terkadang, perpaduan pemain hebat dan sikap perfeksionis kerap menghasilkan pribadi pemimpin yang sempurna.

Author: Aun Rahman
Penikmat sepak bola dalam negeri yang (masih) percaya Indonesia mampu tampil di Piala Dunia