Eropa Inggris

Jalan Sunyi Claudio Ranieri

Bulan madu Claudio Ranieri dengan Leicester City sepertinya tengah memasuki masa-masa kritis. Pelatih yang dikenal dengan julukan Tinkerman itu telah membawa Leicester ke puncak konstelasi sepakbola Inggris, mengharubirukan pecandu sepak bola. Namun situasi di puncak begitu terjal, membawa pelatih asal Italia itu ke ujung tebing.

Ranieri kini seperti menunggu seseorang mendorongnya untuk jatuh ke dasar jurang.

Sangat naif bila kita meramalkan anak-anak The Fox akan mampu mengulangi prestasi mereka di musim lalu. Kita telah sama-sama sepakat bahwa hal tersebut merupakan sebuah cinderella story yang termaktub sekali seumur hidup dalam sejarah sepakbola. Pencapaian tersebut juga merupakan salah satu pencapaian terbaik di arena olahraga.

Media-media Inggris telah ramai memberitakan nasib Ranieri yang tengah di ujung tanduk. Klub yang dimiliki Vichai Srivaddhanaprabha itu bisa saja menjadi tim kedua setelah Manchester City yang langsung terdegradasi setelah menjuarai liga di musim sebelumnya (di tahun di 1938).

Menurut catatan Stuart James di Guardian (3/2), di pertemuan pertamanya dengan Aiyawatt Srivaddhanaprabha, vice chairman Leicester, ia ditanya apakah mau tetap berada di klub jika Leicester terdegradasi.

Setelah Ranieri melampaui target yang diberikan bosnya, dan kini bayang-bayang degradasi begitu jelas, pertanyaan yang diutarakan Ranieri kepada media tersebut bernada getir: sebuah pembelaan diri yang terkesan orang yang lari dari serangkaian hasil buruk.

Menyimak permainan anak-anak asuhannya, sulit membayangkan bahwa tim ini adalah tim yang menciptakan geger besar tahun lalu. Kita tak percaya bahwa Jamie Vardy dan Riyad Mahrez merupakan pencetak gol terbanyak dan pemain terbaik EPL 2015/16.

Apa yang salah? Karena dari skuat yang ada, hanya N’golo Kante pemain utama yang telah hengkang. Klub juga membeli nama-nama seperti Islam Slimani (yang direkrut dari Sporting Lisbon dengan harga fantastis, 30 juta paun), Ahmed Musa, Onyinye Ndidi, Bartosz Kapustka, dll dengan nilai total transfer 91.10 juta paun.

Kedatangan Slimani, selain belum memberikan kontribusi (sejauh ini hanya mampu mendulang 5 gol) juga meminggirkan Vardy. Ranieri seperti ingin selalu mencoba-coba skema sehingga untuk mengakomodasi Slimani, Vardy ia mainkan di sayap. Banyak pengamat yang menyalahkan kebiasaan Ranieri mengutak-atik tim, sehingga simpati mereka kepada pelatih berumur 65 tahun ini sedikit luntur.

Ya, kebiasaannya merotasi pemain tanpa menghasilkan hasil positif memang telah ia lakukan, tepatnya saat menjadi pelatih Chelsea sebelum datangnya Mourinho.

Namun, sulit rasanya untuk meletakkan kesalahan di pundak Ranieri semata. Ego para pemain, terutama kedua bintangnya, Vardy dan Mahrez, menjadi tinggi. Godaan untuk berlabuh ke klub yang lebih besar masih mereka lirik.

Perpanjangan kontrak yang mereka sepakati hanya sebuah upaya Leicester untuk berjaga-jaga. Maksudnya, supaya mereka mendapatkan keuntungan yang lebih banyak dibanding klausul terdahulu jika ada klub yang serius meminang Vardy dan Mahrez.

Penampilan Vardy dan Mahrez musim ini begitu buruk. Keduanya secara total baru menyumbang 8 gol dan 4 assist untuk Leicester di EPL. Mereka seperti tidak mampu mengulangi kombinasi mematikan yang musim lalu merongrong semua barisan pertahanan tim EPL. Tidak terlihat dribel-dribel licin Mahrez di dalam kotak penalti lawan, begitu pun dengan penetrasi-penetrasi secepat kilat milik Vardy.

Ini memang sebatas asumsi, tapi melihat kondisi yang ada, meski berstatus sebagai juara bertahan reputasi Leicester tetaplah tak mengilap seperti klub-klub besar lain. Para pemain inti menjadikan karier mereka di Leicester sebagai batu lompatan untuk meraih kejayaan bersama klub yang lebih mentereng.

Liverpool yang terkenal dengan tradisinya saja tidak mampu menahan hasrat Fernando Torres dan Luis Suarez, apalagi Leicester?

Pada Januari lalu agen Leonardo Ulloa menyebut Ranieri sebagai seorang yang egois karena tidak mau melepas Ulloa. Ranieri menahan kehendaknya untuk berlabuh ke Sunderland, namun jarang memberinya kesempatan bermain.

Di musim ini, penyerang berusia 30 tahun berdarah Argentina itu baru menjadi starter sebanyak 1 kali. Sisanya, Ulloa lebih sering masuk sebagai pemain pengganti dengan total 11 kali penampilan.

Mengatasi ini bukanlah persoalan mudah. Ranieri di satu sisi ingin mencoba Leicester tanpa Vardy, sehingga memberi porsi lebih banyak kepada Slimani. Di sisi lain, Slimani juga tidak mampu menebus banderolnya yang mahal.

Saat ini jarak Leicester dengan kubangan degradasi hanya 1 poin. Berat rasanya untuk menyaksikan tim yang telah memberi kita banyak kebahagiaan di musim lalu ini terpuruk dalam waktu yang begitu singkat. Keberhasilan Leicester setidaknya telah memberi jeda pada ketamakan sepak bola modern.

Jalan sunyi sepertinya memang dekat dengan karier kepelatihan Ranieri. Chelsea, dengan injeksi fulus Roman Abramovich, telah menjelma menjadi raksasa EPL. Namun tidak banyak yang tahu bahwa di balik pemain-pemain top yang dibeli Mourinho, sebagian besar tulang punggung Chelsea adalah pemain-pemain yang dibeli dan dibina Ranieri.

John Terry, William Gallas, Claude Makelele, dan Frank Lampard, untuk menyebut beberapa nama itu, adalah figur-figur penting yang tidak mungkin menghuni Chelsea tanpa kecermatan dan jasa Ranieri.

Author: Fajar Martha
Esais dan narablog Arsenal FC di indocannon.wordpress.com