Other Editions

Mengumpat karena Kesalahan Wasit Memang Enak, Kok……

Akhir pekan lalu, ada satu kata yang begitu populer di dunia maya Indonesia: wasit. Kata ini jauh lebih populer dari Setya Novanto, Joko Widodo, bahkan mungkin, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sekalipun. Wasit menjadi topik yang masih hangat diperbincangkan, bahkan hingga awal pekan ini.

Berawal dari polemik wasit asing asal Australia yang memimpin Go-Jek Traveloka Liga 1, Shaun Evans, kala memimpin laga akbar Persija Jakarta kontra Persib Bandung di Stadion Manahan, Solo, drama dan kontroversi soal wasit berlanjut di laga nun jauh di Inggris, kala Manchester City menjamu Arsenal.

Wasit muda, Michael Oliver, yang punya reputasi bagus di usianya yang masih belia, melakukan blunder yang mengesahkan gol ketiga Manchester City ke gawang Arsenal. Kala itu, dua pemain City, David Silva dan Gabriel Jesus berada satu langkah di depan garis akhir pertahanan Arsenal. Tapi tidak ada peluit tanda offside berbunyi dan gol ketiga City yang mematikan perjuangan Arsenal di Etihad Stadium tercipta dengan mudah.

Kredit: caughtoffside.com

Sontak, beragam opini mengemuka. Ada banyak pro dan kontra yang mengkritisi kinerja wasit, ada juga upaya memaksa penggunaan teknologi di sepak bola, hingga yang terakhir, mengolok suporter di tim yang dirugikan oleh keputusan wasit, sebagai pihak yang tidak legowo menerima kekalahan dan cenderung menyalahkan wasit.

Jujur saja, bagi saya, ketiganya sama-sama benar dan masuk akal. Kinerja wasit memang layak dikritik, penggunaan teknologi (mungkin) memang layak diterapkan di Indonesia dan Inggris, dan terakhir, suporter mungkin memang perlu lebih dewasa. Tapi, ada satu yang mengganjal.

Bila wasit melakukan kesalahan saat memimpin pertandingan diwajarkan sebagai bagian dari kodrat alami manusia dan disebut human error, kenapa hal serupa tak diterapkan kepada suporter yang kecewa dan marah dengan keputusan wasit?

Umpatan suporter adalah manusiawi

Di Stadion Selayang kala itu, Timnas U-22 Indonesia menghadapi saudara mudanya, Timor Leste. Timor bermain sangat disiplin dan tangguh di belakang. Selain itu, tak jarang mereka tampil provokatif dan kasar. Hal itu tampak dari terjangan pertama Felipe kepada gelandang Indonesia, Septian David Maulana.

Tidak ada kartu kuning untuk pelanggaran pertama itu, walau jelas, kaki Felipe terangkat sampai hampir mengenai telak kepala Septian. Puluhan suporter Indonesia tampak berdiri dari atas tribun dan memaki kepemimpinan wasit yang dianggap tidak tegas. Sumpah serapah dilepaskan dan membuat tribun, selama beberapa detik, terasa seperti ibu kota Jakarta kala macet melanda.

Salahkah umpatan itu? Apa penonton dan suporter, baik di stadion maupun di sosial media, perlu tahu seluk-beluk Laws of The Game buatan FIFA sebelum mengumpat wasit?

Bagi saya, mengetahui aturan resmi sepak bola adalah perlu, setidaknya, beberapa aturan dasar tentang hal-hal elementer di sepak bola. Selebihnya, suporter hanya perlu datang untuk menonton, mendukung, mengumpat, dan bersuka cita di tribun dan di depan layar kaca. Di tulisan terbaru opini Bambang Pamungkas terkait laga Persija dan Persib, penyerang ikonik timnas Indonesia tersebut dengan jelas mengakui bahwa ia sendiri tak cukup banyak mengetahui aturan per-wasit-an, jadi bila seorang Bambang saja tidak tahu Laws of The Game secara komprehensif, lalu kenapa suporter merasa perlu untuk tahu?

Baca juga: Drama dan Kontroversi di Manahan

Banyak orang bilang, hidup seperti roda: kadang di atas, kadang di bawah. Saya rasa itulah fragmen yang pas untuk menyebut nasib buruk yang menimpa suatu tim akibat kesalahan wasit. Kadang satu tim dirugikan, tapi di satu saat, tim tersebut diuntungkan. Saya tidak menyebutnya karma, tapi hanya perputaran roda kehidupan yang manusiawi saja. Contoh, timnas Inggris.

Di Piala Dunia 1966, gol hantu Geoff Hurst disebut tim Jerman Barat belum melewati garis gawang, namun wasit tetap mengesahkan dan itu menjadi titik penentu, kenapa kemudian Negeri Tiga Singa menjadi juara dunia pertama kali dan satu-satunya sejauh ini di rumah sendiri. Empat dekade kemudian, di Piala Dunia 2010, ganti tendangan keras Frank Lampard yang sudah melewati garis gawang, tidak disahkan oleh wasit dan membuat mereka kalah dari tim yang sama, Jerman, dengan skor akhir 1-4. Apakah ini karma? Bukan, ini roda yang tengah berputar, dan kebetulan, putaran rodanya berjalan dan melewati jalan takdir timnas Inggris.

Dan tepat di titik itulah, suporter (bukan pemain, pelatih atau manajer), berhak dan sah-sah saja untuk mengumpat kepada wasit. Kalau kesalahan wasit diwajarkan sebagai kesalahan yang manusiawi, bukankah sebaiknya mewajarkan umpatan suporter akibat amarah karena ketidakpuasan terhadap kinerja wasit sebagai hal yang lumrah dan manusiawi juga?

Suporter, juga wasit, jelas sama-sama manusia di hadapan sepak bola. Umpatan bukan pukulan atau tindakan anarkis lain yang mengancam keselamatan wasit atau perangkat pertandingan. Umpatan juga tidak perlu disertai kata-kata rasisme yang menyakitkan. Umpatan hanya perlu diucapkan, dengan kalimat kasar yang Anda tahu dan pahami masing-masing di tiap daerah, dan dilepaskan dengan desibel suara yang tinggi sembari berteriak.

Anda mungkin tak percaya, namun, studi telah membuktikan bahwa mengumpat sambil berteriak, terbukti berimbas positif kepada tubuh manusia. Dalam penelitian dari Keele University, di Inggris, seperti dilansir oleh Antara dan Tirto.id, membuktikan bahwa memberi kesempatan mengumpat kepada partisipan yang dipilih dalam penelitian, membuat mereka mampu menyelesaikan tes fisik yang diberikan oleh dr. Richard Stephens, kepala peneliti dari Keele University.

Masih terkait hal yang sama, baru-baru ini, dalam konferensi bertajuk British Psychological Society yang dilaksanakan di Inggris, mengumpat juga membuat tubuh manusia cenderung lebih adaptif dalam menguasai suhu dingin yang tengah mencekam. Mengumpat, ditambah lagi dengan berteriak, dipercaya para peneliti mampu meningkatkan kerja saraf simpatetik dan membantu tubuh menolerir hawa dingin di sekitarnya.

Begitulah kiranya efek positif dari mengumpat dan kenapa suporter mengumpat kepada wasit sebaiknya dianggap sebagai hal yang biasa saja dan tidak perlu dipandang sebagai cara yang tak jantan dalam menyikapi kekalahan. Lagipula, manusia mana yang sudi kalah ketika tengah berkompetisi, selain para pecundang sejati, bukan?

Saya berusaha berada di titik netral ketika menulis ini, walau mungkin, beberapa diksi saya di tulisan akan ada yang cenderung tendensius dan menunjukkan keberpihakan. Tapi, untuk menutup editorial ini, saya punya kutipan menarik dari Eduardo Galeano, mengutip dari buku luar biasa beliau berjudul, “Open Veins of Latin America: Five Centuries of the Pillage of a Continent”, yang berbunyi: “Sejarah tidak pernah mengucapkan ‘selamat tinggal. Sejarah bilang, ‘sampai juga lagi’.”

Mungkin pekan ini, tim idola yang saya dukung yang menerima hasil buruk akibat kepemimpinan wasit di lapangan. Tapi di lain hari, bisa jadi, tim Anda yang mengalami hal sial tersebut dan saya janji, saya tidak akan mengolok-olok Anda bila Anda kedapatan mengumpat wasit dengan sumpah serapah dan beragam kalimat makian.

Karena kita semua, para suporter, masih seorang manusia biasa, sama seperti wasit.

Isidorus Rio Turangga – Editor Football Tribe Indonesia

Related Posts