Scott Parker, Gelandang Genius yang Minim Torehan Prestasi

Pada musim panas 2017 lalu, publik Inggris harus mengucapkan selamat tinggal kepada salah satu gelandang terbaik mereka, Scott Parker. Gelandang genius ini mengakhiri dua puluh tahun karier profesionalnya pada usia 36 tahun.

Scott Matthew Parker lahir pada 13 Oktober 1980. Dua puluh tahun kariernya membentang tahun 1997 sampai 2017. Parker muda memulai kariernya di Charlton Athletic dan sempat dipinjamkan ke Norwich City, sebelum bergabung dengan Chelsea dengan biaya 10 juta paun pada bulan Januari 2004.

Kepindahan ini sempat membuat heboh publik sepak bola Inggris dan para pendukung The Blues. Parker sempat dianugerahi penghargaan bergengsi sebagai pemain muda terbaik 2004 versi Professional Footballers’ Association (PFA). Di Chelsea, pemain kelahiran London ini diharapkan untuk menjadi sosok penerus playmaker andalan mereka, Frank Lampard. Namun, usia yang tak terlalu jauh dengan seniornya itu, membuat kesempatan bermain reguler jarang menghampirinya. Parker hanya tampil lima belas kali berseragam The Blues sebelum akhirnya memilih untuk menerima tawaran Newcastle United pada tahun berikutnya.

Newcastle United adalah klub pertama yang memercayai dirinya mengemban ban kapten.  Setelah dua musim yang terbilang sukses bersama The Magpies, Parker lalu bergabung dengan West Ham United pada tahun 2007. Penampilan konsistennya berlanjut ke klub London tersebut, meskipun pada akhir musim 2010/2011, Parker dan kawan-kawan harus menerima kenyataan terdegradasi ke Championship. Beruntung, bakat pemain ini tak sia-sia karena ia kemudian direkrut klub London lain yang berprestasi jauh lebih baik, Tottenham Hotspur.

Harga yang dikeluarkan Spurs untuk mendatangkan Parker cenderung murah, hanya 5,5 juta paun saja. Padahal, reputasi pemain berposisi gelandang ini cukup mentereng ketika itu. Bisa dibilang, Scott Parker merupakan salah satu pemain terbaik yang pernah mewakili Inggris di setiap tingkat usia. Ia sudah memperkuat timnas Three Lions U-16 hingga senior. Uniknya, Parker memenangkan empat caps pertamanya di Inggris saat bermain untuk empat klub yang berbeda.

Bersama Spurs, penampilan Parker semakin gemilang. Ia terpilih memperkuat tim Inggris yang mencapai perempat-final di Piala Eropa 2012.  Pada musim pertamanya di Spurs, ia juga menjadi pemain terbaik pilihan suporter di akhir musim 2011/2012. Sayang, cedera panjang menghalanginya tampil penuh untuk musim 2012/2013 dan menyebabkan penurunan performa yang signifikan. Cukup disayangkan juga, hingga akhir kariernya ia hanya mengumpulkan 18 caps bersama tim nasional Inggris.

Akhir karier pria yang menikahi Carly Arter ini dihabiskannya di salah satu klub London lain, yaitu Fulham. Ia bergabung pada musim panas 2013, lalu menemani klub tersebut terdegradasi pada tahun 2014 dan akhirnya menutup karier profesionalnya pada musim panas 2017. Selama tepat 20 tahun kariernya, tercatat hanya dua kali Parker memperkuat klub yang berbasis di luar London, yaitu ketika menjalani peminjaman ke Norwich City pada tahun 2000 dan Newcastle United pada periode 2005 hingga 2007.

Empat klub lain yang pernah diperkuatnya semuanya berlokasi di London, antara lain Charlton Athletic, Chelsea, West Ham, Tottenham Hotspur, dan Fulham.

“Pada awal karier professional saya, hanya mimpi yang saya miliki saat itu. Maka,  apa yang telah saya capai selama dua dekade setelahnya membuat saya merasa bangga,” tutur Parker ketika mengumumkan pengunduran dirinya dari sepak bola pada bulan Juni 2017 lalu, seperti dilansir Daily Mail.

Bahkan karier pasca-pensiunnya pun tak jauh-jauh dari klub London. Kini, Parker mengabdikan dirinya untuk menjadi pelatih usia muda Tottenham Hotspur. Semoga banyak bakat muda Inggris lahir dari arahan alumni akademi Charlton ini.

Author: Mahir Pradana (@maheeeR)
Mahir Pradana adalah pencinta sepak bola yang sedang bermukim di Spanyol. Penulis buku ‘Home & Away’.

Related Posts