Saatnya Berbenah untuk Babak 8 Besar, Persebaya!

Pada kancah sepak bola, kekalahan di suatu pertandingan adalah satu hal yang paling dihindari oleh pihak manapun yang terlibat di dalamnya. Alasannya sederhana, kekalahan bisa membuat setiap korbannya mendapat label pecundang dan semakin jauh dari yang namanya prestasi.

Akan tetapi, kekalahan yang didapat oleh Persebaya Surabaya saat melawan Kalteng Putra di laga terakhir babak 16 besar Grup C kemarin (12/10) sore justru membuat saya merasa sedikit lega.

Sejak terjun di kompetisi Liga 2 musim ini, nama Persebaya selalu disebut-sebut oleh banyak kalangan sebagai salah satu kandidat kuat peraih tiket promosi ke Go-Jek Traveloka Liga 1. Penilaian tersebut didasari oleh kekuatan Persebaya yang berada sedikit di atas tim-tim pesaing.

Walau performa mereka sempat amburadul kala diasuh Iwan Setiawan, potensi besar yang dimiliki Bajul Ijo benar-benar melesat setelah ditukangi oleh pelatih berkebangsaan Argentina, Angel Alfredo Vera. Di tangan eks pembesut Persipura Jayapura itu, Persebaya sukses mencatat hasil-hasil positif sehingga mereka keluar sebagai juara Grup 5 di babak penyisihan.

Lebih asyiknya lagi, gaya main Persebaya jadi kental beraroma ofensif yang bertumpu pada umpan pendek dari kaki ke kaki, pergerakan cepat, dan permutasi posisi yang cair. Tusukan-tusukan tajam dari sayap, umpan-umpan vertikal yang membelah garis pertahanan lawan, sampai pergerakan penjaga gawang yang memainkan peran sweeper-goalkeeper, jadi sesuatu yang lazim wara-wiri di hadapan Bonek, pendukung setia Persebaya, ketika menyaksikan timnya berlaga.

Dengan cara main yang persis dengan penampilan tim-tim modern dari Eropa tersebut, ekspektasi Bonek terhadap klub kesayangannya pun melonjak drastis. Salah satu basis suporter klub sepak bola paling besar di Indonesia ini merasa yakin jika Muhammad Hidayat dan kolega bisa memenuhi cita-cita promosi ke kasta teratas sepak bola nasional.

Namun serentetan performa ciamik dengan mencetak banyak gol, jarang kebobolan, dan andal menguasai jalannya laga yang dipertontonkan oleh Persebaya, tak lantas menjadikan tim ini sempurna dan tak bisa dikalahkan.

Terlalu bergantung pada pemain pilar

Kenyataannya, permainan yang memikat mata itu tetap saja menyimpan banyak lubang dan kelemahan. Sudah menjadi rahasia umum bila Persebaya masih memiliki ketergantungan tinggi kepada para pemain andalan sehingga performa tim justru menukik tatkala ada satu atau dua pemain pilar yang absen, entah karena akumulasi kartu maupun cedera.

Sementara itu, penggawa pelapis yang dimiliki klub dengan kostum utama berwarna hijau ini belum sepenuhnya bisa memberi jawaban nyata tatkala dibutuhkan.

Rapuhnya lini belakang

Lebih lanjut, pertahanan tinggi yang sering diperagakan oleh barisan belakang Persebaya sebagai cara untuk memberi tekanan masif kepada lawan juga punya risiko besar yang mudah dieksploitasi lawan, khususnya oleh para penyerang dan gelandang yang memiliki agresivitas, kecepatan, dan teknik jempolan.

Pada saat menguasai bola atau mengeksekusi set-piece di area pertahanan lawan, dua bek tengah Persebaya seringkali berdiri di dekat lingkaran tengah guna melakukan pressing tinggi. Sialnya, duo tersebut (biasanya diisi oleh Andri Muliadi dan Fandry Imbiri) tak memiliki kecepatan yang baik sehingga keduanya sering tergopoh-gopoh untuk menahan gempuran lawan yang menguasai bola dan melancarkan serangan balik kilat.

Parahnya lagi, cover dari gelandang tengah ataupun fullback kepada duet tersebut juga kerap tidak sempurna karena penempatan posisi mereka yang terlampau jauh. Kondisi ini menyebabkan Persebaya sering terjebak dalam situasi kalah jumlah dengan pemain lawan yang melancarkan serangan balik. Diakui atau tidak, lawan pun seolah mendapat keleluasaan guna mengeksploitasi pertahanan Bajul Ijo.

Tatkala Persebaya menjamu PSIM  Yogyakarta (16/8) pada babak penyisihan grup lalu, beberapa kali situasi macam ini tampak begitu jelas dan membuat jantung Bonek deg-degan luar biasa di sepanjang pertandingan. Beruntung, Laskar Mataram ketika itu gagal memanfaatkannya dengan cara yang paripurna meski di sejumlah situasi, Engkus Kuswaha dan kawan-kawan punya banyak kesempatan untuk mengobrak-abrik gawang Persebaya.

Raihan angka sempurna yang didapat oleh Kalteng Putra di laga kemarin pun lahir dari kecermatan memanfaatkan rapuhnya garis pertahanan tinggi Persebaya. Dalam situasi 5 lawan3 (dengan catatan bahwa tiga pemain Persebaya terlambat turun), serangan kilat Kalteng Putra berhasil dieksekusi secara sempurna oleh Rivaldy Bauwo guna menciptakan satu-satunya gol di partai tersebut.

Mandulnya lini serang

Setali tiga uang dengan lini belakang yang memiliki sejumlah masalah, sektor penyerangan Bajul Ijo juga tengah dijangkiti masalah akut. Tercatat, sudah tiga pertandingan atau selama 270 menit, Persebaya tak sanggup membobol jala lawan.

Pakem utama serangan Persebaya yang dikembangkan Alfredo Vera berfokus pada sayatan dari area tepi lewat penetrasi winger dan fullback Bajul Ijo. Bola yang dikuasai oleh pemain-pemain di sisi sayap ini lantas dikirimkan ke kotak penalti, baik via crossing maupun umpan mendatar, tergantung pada siapa yang mengisi pos penyerang tengah, apakah Ricky Kayame atau Rishadi Fauzi.

Meski keduanya sering diinstruksikan untuk bergerak lebih mobile dengan sedikit turun ke tengah guna memantulkan bola atau memberi opsi umpan kepada rekan-rekannya, Ricky maupun Rishadi juga sering terisolir di lini depan akibat penjagaan ketat para bek lawan. Keadaan tersebut bisa terjadi karena dua winger Persebaya, jika tak melakukan tusukan ke area tengah, cenderung bergerak statis di area sayap sehingga ruang gerak Ricky ataupun Rishadi menjadi terbatas.

Nahasnya lagi, para gelandang Persebaya seperti Hidayat, Misbakhus Solikin, Nerius Alom, Rendi Irwan, dan Sidik Saimima, acapkali terlambat merangsek ke kotak penalti guna menambah daya dobrak Persebaya, sekaligus menjadi opsi umpan yang membuat serangan Persebaya menjadi lebih variatif.

Disadari atau tidak, pola seperti ini telah dihafal oleh para rival Persebaya sehingga cara-cara mengantisipasinya pun telah disiapkan sebelum bertanding. Tanpa variasi yang lebih banyak, tentu Persebaya akan tetap kesulitan mencetak gol.

Walau telah memastikan diri lolos ke fase 8 besar dengan status runner-up Grup C, penampilan Bajul Ijo yang terkesan menurun di beberapa laga terakhir jelas kudu dievaluasi oleh Alfredo Vera. Segala kelebihan mesti diperkuat sementara kekurangan yang masih tampak harus ditambal secepat mungkin.

Kekalahan dari Kalteng Putra bisa menjadi pengingat bagi kubu Bajul Ijo agar tidak jemawa dan mau membenahi tim agar bisa tampil lebih baik. Sebab bagaimanapun juga, fase 8 besar pasti akan lebih sulit untuk dijalani. Tanpa pembenahan berarti, mimpi Bajul Ijo untuk mencuri satu tiket promosi akan menguap begitu saja.

Author: Budi Windekind (@Windekind_Budi)
Interista gaek yang tak hanya menggemari sepak bola tapi juga american football, balap, basket hingga gulat profesional

Related Posts