Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Bernama Antonio Di Natale

Bicara tentang pesepak bola yang memiliki loyalitas tinggi terhadap klubnya, kompetisi Liga Italia Serie A mungkin bisa diapungkan sebagai salah satu pusatnya. Ada banyak contoh pesepak bola yang enggan meninggalkan klub yang sudah membesarkan nama mereka, walau ditawari kontrak fantastis dari klub-klub yang lebih mapan di luar Italia.

Dari puluhan atau bahkan ratusan nama pemain dengan loyalitas hebat semacam itu, saya merasa bahwa sosok Antonio ‘Toto’ Di Natale begitu pantas untuk disebut sebagai salah satunya. Tak kalah dengan nama-nama seperti Gianluigi Buffon, Paolo Maldini, Francesco Totti, maupun Javier Zanetti.

Berlainan dengan keempat nama di atas yang membela klub-klub mapan di Liga Italia Serie A, jalan karier yang ditempuh Di Natale justru bak anomali. Tak sekalipun lelaki kelahiran Naples ini memperkuat tim mapan dalam kancah sepak bola.

Kesebelasan asal Tuscany, Empoli, menjadi tempat Di Natale menimba ilmu dan mengasah kemampuannya sebagai penyerang jempolan sejak tahun 1994. Di Natale sendiri memperoleh debut profesional pertamanya pada 26 Januari 1997, saat Empoli bersua Cremonese di ajang Serie B. Menariknya, pelatih yang memberi Di Natale kesempatan tersebut adalah Luciano Spalletti.

Namun, keberadaan sejumlah penyerang senior di tubuh Empoli saat itu semisal Massimiliano Cappellini dan Carmine Esposito, membuat manajemen klub memilih untuk ‘menyekolahkannya’ terlebih dahulu. Dalam rentang 1997-1999, ada tiga kesebelasan yang disinggahi Di Natale buat menjalani masa pinjaman yakni Iperzola, Varese, dan Viareggio.

Dari tiga klub tersebut, masa studinya di Viareggio menjadi momen yang paling menyenangkan karena dirinya sukses membuktikan kualitas apiknya dengan menceploskan 12 gol dari 25 pertandingan.

Hasrat Empoli buat naik kasta ke Serie A akhirnya memaksa tim dengan kostum utama berwarna biru itu memanggil pulang Di Natale pada musim 1999/2000. Sayang, Empoli cuma bisa finis di peringkat ke-9 Serie B musim tersebut, walau Di Natale sukses menyumbang 6 buah gol dan menjadi tumpuan anyar di sektor depan.

Pada musim kompetisi 2001/2002, esensi Di Natale buat Empoli semakin terasa kuat usai keluar sebagai top skor klub dengan 16 gol dari 38 pertandingan Serie B. Tak sampai di situ, performa ciamik Di Natale juga membantu Empoli untuk finis di peringkat empat dan menggenggam satu tiket promosi ke Serie A via jalur play-off.

Nahas bagi Di Natale, pada periode awal bermain di Serie A bareng Empoli, ketajamannya mengalami inkonsistensi. Usai mencetak 13 gol di musim 2002/2003 dan mengantar Empoli finis di peringkat ke-13, torehan gol Di Natale merosot jadi 5 gol saja pada musim 2003/2004. Mandulnya Di Natale pada musim kedua berlaga di Serie A itu membuat Empoli terjerembab di peringkat ke-17 klasemen akhir dan harus rela terdegradasi ke Serie B.

Menyadari bahwa Di Natale punya kemampuan lebih, kesebelasan dari timur laut Italia, Udinese, langsung mengamankan tandatangan dari pria berpostur 170 sentimeter itu. Di Natale diproyeksikan untuk menjadi partner Davide Di Michele dan Vincenzo Iaquinta di lini depan.

Uniknya, ada campur tangan Spalletti lagi dalam proses kepindahan Di Natale ke Stadion Dacia Arena (dahulu Friuli). Pria berkepala plontos yang saat itu duduk sebagai allenatore Udinese, menjadi sosok yang amat getol meminta kubu manajemen untuk merekrut bekas anak asuhnya tersebut.

Tak butuh waktu lama buat Di Natale untuk moncer dalam strategi racikan Spalletti. Bersama Di Michele dan Iaquinta, ketiganya jadi tridente yang cukup menakutkan di Serie A. Tak tanggung-tanggung, musim pertama Di Natale bareng Udinese berakhir dengan sangat cemerlang. Zebrette sukses dibawanya finis di peringkat ke-4 sehingga lolos ke babak kualifikasi ketiga ajang antarklub nomor wahid di Eropa, Liga Champions.

Semenjak saat itu juga, karier Di Natale seakan tak tersentuh oleh warna selain hitam-putih kepunyaan Udinese. Keberhasilan Udinese meramaikan di papan tengah ataupun merangsek sampai papan atas dalam rentang 2004/2005 hingga 2015/2016 kemarin, juga tak bisa dilepaskan begitu saja dari perannya sebagai pemain andalan.

Pergantian satu pelatih ke pelatih lainnya, bongkar pasang skuat yang dialami selama beberapa musim di dalam tubuh Zebrette, tak membuat dirinya ingin pergi dari klub yang berdiri pada tahun 1896 tersebut. Bahkan tawaran dari klub sekelas Liverpool pada tahun 2009, dan Juventus setahun berselang, tak diiyakan ayah dari Filippo dan Diletta tersebut, karena sudah merasa nyaman tinggal di kota Udine.

Selain membentuk trisula mengerikan bareng Di Michele dan Iaquinta, Di Natale juga pernah menjadi pasangan maut kala bermain bersama Alexis Sanchez dan Fabio Quagliarella. Kondisi ini juga berkontribusi terhadap ketajaman dari lelaki yang didapuk sebagai kapten Udinese pada tahun 2007 tersebut kala menahbiskan diri sebagai capocanonniere alias pencetak gol terbanyak Serie A dua musim berturut-turut di 2009/2010 (29 gol) dan 2010/2011 (28 gol).

Berkat penampilan-penampilan hebatnya bersama Empoli dan Udinese itu, para pelatih tim nasional Italia pun tak bisa mengabaikannya begitu saja. Tercatat, Di Natale punya 43 caps dan 11 gol bagi Gli Azzurri serta, turun di tiga turnamen megah yakni Piala Dunia 2010 plus Piala Eropa 2008 dan 2012.

Publik boleh saja mencibir bahwa Di Natale miskin prestasi di level klub, namun apa yang diperlihatkannya bareng Empoli (bermain di 179 laga dan mencetak 55 gol) serta Udinese (445 partai/227 gol) adalah bukti jikalau sosok yang hari ini merayakan ulang tahun ke-40 tersebut, punya loyalitas tinggi terhadap klub yang dibelanya.

Ketika pensiun di pengujung musim 2015/2016 silam, Di Natale pun tercatat sebagai pencetak gol terbanyak keenam dalam sejarah Serie A dengan koleksi 209 gol. Dirinya berada di atas nama-nama penyerang yang lebih populer serta punya segudang titel juara seperti Roberto Baggio, Alessandro Del Piero, dan Filippo Inzaghi.

Harus diakui, Di Natale adalah representasi sempurna jika sepak bola tak melulu tentang gelar juara. Dirinya adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang jadi inspirasi bagi tifosi serta penduduk kota Empoli dan Udinese atau bahkan penikmat sepak bola di seluruh dunia.

Buon compleanno, Toto!

Author: Budi Windekind (@Windekind_Budi)
Interista gaek yang tak hanya menggemari sepak bola tapi juga american football, balap, basket hingga gulat profesional

Related Posts