Bhayangkara FC: Berjaya dengan Tiga Playmaker

7887 operan, 311 tembakan, dan 51 gol ditorehkan Bhayangkara FC hingga pekan ke-28 menurut data statistik situsweb resmi Liga 1. Selain ketajaman Ilham Udin Armaiyn dan Ilija Spasojević, tiga playmaker Bhayangkara FC juga berperan besar dalam meroketkan tim asuhan Simon McMenemy ke pucuk klasemen sementara.

Betul, tiga playmaker!

Jika biasanya sebuah kesebelasan hanya memakai satu playmaker untuk mengatur ritme permainan, Bhayangkara FC menempatkan tiga pengatur serangan sekaligus di lini tengahnya. Ketiganya merupakan penyuplai utama bola-bola matang ke lini depan, dan membuat aliran bola Bhayangkara FC sangat sedap dipandang mata.

Menempatkan tiga playmaker sekaligus di sebuah tim tidaklah mudah. Sebagai otak permainan tim, ketiganya harus diberi peran dan fungsi yang berbeda satu sama lain agar tidak saling bertabrakan posisi. AC Milan pernah melakukannya dengan Manuel Rui Costa, Kaká, juga Andrea Pirlo, dan kini Bhayangkara FC menirunya dengan memainkan Evan Dimas, Lee Yoo-joon, beserta Paulo Sérgio.

Lee Yoo-joon yang berperan sebagai box-to-box midfielder, menjadi pendamping yang pas bagi Evan Dimas yang gemar beroperasi di posisi nomor 6. Saat ini, Lee menjadi pemain dengan jumlah operan terbanyak di Bhayangkara FC dengan 1006 operan. Artinya, 12 persen operan yang dilakukan Bhayangkara FC berasal dari kaki pemain asal Korea Selatan ini.

Hebatnya lagi, akurasi operan Lee tetap terjaga meski ia menjadi salah satu pemain yang tersibuk di lini tengah Bhayangkara FC. Berdasarkan statistik yang terdapat di situsweb resmi Liga 1, akurasi operan Lee mencapai 85 persen dengan angka dribel sukses ada di 86 persen. Angka yang tergolong tinggi untuk ukuran Liga Indonesia, karena tidak semua stadion memiliki lapangan yang bagus.

Peran Evan Dimas pun tak kalah pentingnya dengan Lee di lini tengah Bhayangkara FC. Meski penampilannya belum mengilap seperti saat berseragam timnas, tapi Evan sangat bagus menjadi penghubung antarlini Bhayangkara FC. Dengan kemampuan olah bola yang di atas rata-rata, Evan juga bisa berfungsi sebagai penahan bola ketika jumlah pemain yang maju menyerang belum mencukupi.

Kombinasi Evan-Lee di Bhayangkara FC memang sangat vital, contohnya di laga kontra Bali United. Bersama Wahyu Subo Seto yang berperan sebagai gelandang bertahan, Evan dan Lee sangat dominan di lini tengah dan membuat para gelandang tim tamu kesulitan berkreasi. Baik Evan maupun Lee saat itu bermain penuh, dan sama-sama menciptakan peluang gol.

Sosok penting bernama Paulo Sérgio

Jika Evan Dimas dan Lee Yoo-joon mendominasi di lapangan tengah, maka wilayah sepertiga akhir lapangan menjadi area kekuasaan Paulo Sérgio. Dengan visinya sebagai eks pemain liga top Eropa, Paulo sangat cocok berperan sebagai pemain nomor 10.

Sebagai marquee player asal Portugal, postur Paulo termasuk mini, tapi itulah yang menjadi kelebihan pemain berusia 33 tahun ini. Dengan tinggi badan 168 sentimeter, ia sangat cocok dengan gaya permainan sepak bola Indonesia yang mengandalkan kecepatan.

Hingga pekan ke-28, Paulo Sérgio merupakan top skor Bhayangkara FC dengan sembilan gol. Ia merupakan salah satu marquee player tersukses sejauh ini, karena juga membuat sembilan asis. Dengan kata lain, pemain jebolan akademi Sporting Lisbon ini berpotensi mengukir double figures. Sebuah torehan yang jarang dimiliki pemain-pemain di Liga Indonesia.

Kelebihan Paulo Sérgio terletak pada visi bermain dan eksekusi tendangan bebasnya. Sebagai pemain yang berposisi asli sebagai penyerang sayap, Paulo sangat mengerti bagaimana caranya untuk membuka ruang bagi rekan-rekannya, kapan masuk ke ruang kosong, dan kapan waktu yang tepat untuk mengumpan atau menembak langsung.

Golnya ke gawang Persiba Balikpapan pekan lalu contohnya. Melihat pergerakan Spaso yang maju untuk memancing bek lawan, Paulo masuk ke ruang di belakangnya dan menciptakan gol yang sangat berkelas. Sepakan first-time ala gol terbaik Piala AFF 2016 yang dicetak Andik Vermansyah.

Saat mencetak gol spektakuler ke gawang Persib dua pekan sebelumnya, Paulo juga menunjukkan bahwa ia sangat layak dilabeli marquee player. Bola pantul hasil sodoran Spaso langsung disambarnya, lagi-lagi dengan tendangan first-time. Sebuah gol yang sangat berkelas dan tidak semua pemain bisa melakukannya, karena membutuhkan kombinasi dari ketenangan dan kecepatan berpikir.

Bhayangkara FC di sisa musim ini masih menyisakan dua laga big match, yakni melawan PSM (kandang) dan Madura United (tandang). Kedahsyatan tiga playmaker Bhayangkara FC tentunya akan sangat diharapkan Bharamania dapat terus berlanjut untuk mengalahkan kedua saingan utama tersebut, agar trofi liga domestik dapat singgah ke klub milik instansi kepolisian ini. Mengikuti jejak CSKA Moscow di Rusia dan CSKA Sofia di Bulgaria.

Author: Aditya Jaya Iswara (@joyoisworo)
Milanisti paruh waktu yang berharap Andriy Shevchenko kembali muda dan membawa AC Milan juara Liga Champions Eropa lagi.

Related Posts