Jika Alexis Sanchez Hengkang

Harapan yang paling utama tentu Alexis Sanchez (dan Mesut Ozil) bertahan. Namun, bagaimana apabila Alexis akhirnya meninggalkan Arsenal?

Pertama, tentu Gooners harus iklas. Ia yang hengkang artinya sudah meniatkan diri untuk tak lagi bersama. Klub akan terus ada, sedangkan pemain datang silih berganti. Dan juga harus diingat, usia karier pesepak bola itu singkat, dan akan selalu ada penerus.

Kedua, tentu menyiapkan pengganti. Akan sulit tentu saja, mengingat The Gunners harus mengganti salah satu pemain kunci musim lalu. Tanpa Alexis (dan Ozil), bisa jadi, Arsenal tak akan lolos ke Liga Europa dan menjuarai Piala FA.

Sekarang kita telaah satu per satu.

Mengapa Gooners harus memaklumi hengkangnya Alexis? Soal prestasi? Tentu saja. Boleh ditanyakan kepada semua pesepak bola, apakah mereka tak ingin merasakan prestasi tertinggi? Kebahagiaan atas keberhasilan mencapai puncak tertinggi adalah hadiah yang wajar bagi mereka yang sudah bekerja keras.

Namun ada juga mereka yang bermain untuk kebanggaan, Francesco Totti atau Paolo Maldini misalnya. Namun kita berbicara manusia, di mana satu dan lainnya mempunyai pola pikir dan hasrat yang berbeda. Bagi pembaca yang pernah mencoba menjadi pesepak bola profesional tentu paham dengan situasi ini.

Dan Alexis adalah tipe pemain dengan hasrat yang besar. Ia akan selalu memeras keringat sampai tetes terakhir demi klub yang ia bela. Jangan tanya bagaimana dirinya yang selalu berani mati untuk timnas Chile.

Bersama Arsenal (baca: Arsene Wenger), Alexis selalu kesulitan menapaki puncak tertinggi seorang pesepak bola di level klub. Kita bicara Liga Champions, di mana pemain sekaliber Alexis pasti mengidamkannya. Arsenal hampir selalu mentok di perempat final, kalah dengan lawan yang itu-itu saja. Bahkan, Arsenal pernah disisihkan AS Monaco.

Sialnya, musim 2017/2018 nanti, Arsenal tak akan bermain di kompetisi antar-klub termahal di dunia tersebut. Apakah Alexis akan bersedia bertahan satu musim lagi dan membantu Arsenal lolos ke Liga Champions 2018/2019? Ingat, kita bicara seorang pemain dengan hasrat berprestasi yang tinggi.

Bahkan jika kita berbicara kompetisi lokal? Jaminan seperti apa yang bisa Wenger berikan kepada Alexis bahwa musim depan Arsenal akan juara Liga Primer Inggris. Membeli pemain berkaliber besar? Penting, namun tak selalu menentukan.

Skuat Arsenal dalam tiga tahun ke belakang tak bisa dibilang buruk. Masalah ada di kepala Wenger dan bagaimana ia menjalankan kebijakannya. Masalah cedera, penurunan performa, terlalu memberi kepercayaan kepada pemain yang tidak tepat menjadi masalah yang bertumpuk. Dan pada akhirnya, menahan kaki Arsenal yang hendak berlari maju.

Klub mana yang bisa menampung hasrat Alexis? Manchester City salah satunya. Musim kedua Pep Guardiola diwarnai dengan persiapan yang ambisius. Manajer plontos tersebut dengan berani tak memperpanjang kontrak pemain-pemain senior. Padahal, pengaruh pemain senior sangat penting di dalam klub, dan Pep melakukannya dengan persiapan matang.

Saya sempat menuliskan tentang usaha cuci gudang City, dengan “membuang” pemain-pemain yang tak berkontribusi maksimal dan mendatangkan amunisi baru yang lebih menjanjikan. Pun ketika negosiasi buruannya, City melakukannya dengan cepat. Sebuah wujud ambisi untuk memperkuat skuat dengan cepat dan mempersiapkannya untuk musim baru.

Bagaimana dengan Arsenal? Sedikit trivia, Arsenal sudah menyatakan tertarik memboyong Alexandre Lacazette sejak tahun 2014. Hingga 2017 saat ini, Arsenal memerlukan waktu yang begitu panjang untuk menyelesaikan negosiasi satu pemain. Arsenal selalu bermasalah dengan presiden Lyon, hingga akhirnya batal memboyong Lacazette. Gambaran bagaimana Arsenal dapat dengan mudah “diatur” oleh orang lain.

Baca juga: Mengapa Arsenal Membutuhkan Alexandre Lacazette

Bagi pemain di klub lain, Alexis misalnya, bisnis yang dilakukan City sangat menarik. Karena Anda akan berada di lingkungan dengan pola pikir menjadi yang utama. Bagi pekerja keras seperti Alexis, lingkungan seperti itu sungguh ideal. Ambisi yang besar, bertemu lingkungan yang terbaik untuk mewujudkannya. Sebuah daya tarik yang seksi.

Bahkan, Carles Puyol, legenda Barcelona yang kini menjadi agen, menyarankan kliennya untuk menerima tawaran City alih-alih menahannya di La Masia. Artinya, proyeksi City ke depan sudah sangat terang, profesional, dan sangat menarik bagi pemain-pemain dengan ambisi yang besar.

Setelah mengiklaskan Alexis hengkang, tentu Arsenal harus menyiapkan pengganti.

Nilai transfer Alexis ke City diperkirakan ada di sekitar 55 juta euro. Kontraknya pun tinggal satu musim dan proses negosiasi berjalan (kembali) terlalu lama. Arsenal menahan diri untuk tidak memenuhi tuntutan gaji di angka 300 ribu paun per pekan. Sementara itu, Alexis juga menahan diri (dengan kuat) untuk tidak menurunkan permintaannya.

Kehati-hatian Arsenal untuk tidak merusak struktur gaji memang bukan langkah yang salah. Namun, perkembangan ekonomi di sepak bola saat ini menjadikan tingginya gaji dan besarnya nilai transfer sebagai wujud dari ambisi. Sebuah kenyataan yang tidak nyaman, namun begitulah bisnis berjalan. Ya, bisnis, sepak bola bukan hanya sekadar olahraga.

Melihat situasi tersebut, melepas pemain yang Desember nanti sudah berusia 29 tahun dan mendapatkan 55 juta euro tentu bukan bisnis yang buruk amat. Masalah bagi Arsenal kemudian hanya soal menemukan pemain pengganti yang tepat.

Membeli pemain untuk menggantikan Alexis bukan perkara soal talenta sepak bola. Ia juga harus bermental tebal karena akan selalu ada komparasi dengan Alexis. Lebih mengenal Liga Primer Inggris tentu lebih disukai, dan bisa bermain sebagai penyerang sayap sekaligus striker adalah sebuah bonus yang menyenangkan.

Bukan, saya tidak tengah berbicara soal Kylian Mbappe dan 140 juta euro banderolnya. Pembaca pasti paham siapa yang yang saya maksud. Petunjuknya adalah harga yang terjangkau dan realistis. Mudah bukan mencari pengganti Alexis.

Sekali lagi, artikel ini berbicara dalam tataran “jika”. Namun “jika” kejadian, move on saja, Alexis sudah tak bisa bermain lagi di usia 60 tahun. Paham maksud saya?

Author: Yamadipati Seno ()