Garap Liga 1 U-19 dengan Serius, PSSI!

Diharapkan banyak bibit tumbuh pada kompetisi ini.

Liga 1 U-19
Suasana managers meeting Liga 1 U-19 2017. Kredit: Liga 1

Beberapa waktu yang lalu, federasi sepak bola Indonesia (PSSI) dan operator kompetisi, PT. Liga Indonesia Baru (LIB), menggelar konferensi pers guna meluncurkan kompetisi usia dini yang diberi tajuk Liga 1 U-19. Kompetisi ini dibuat sebagai ajang bagi para pemain junior dari klub-klub peserta Go-Jek Traveloka Liga 1 menempa diri. Ajang ini sendiri menggantikan keberadaan Liga U-21 yang eksis sebelumnya.

Meski terbilang lambat jika dibandingkan dengan para tetangga di Asia Tenggara, apa yang dilakukan PSSI dan PT. LIB ini patut diapresiasi lantaran mereka masih memikirkan pembinaan usia muda di negeri ini. Akan tetapi, keberadaan Liga 1 U-19 ini takkan serta merta membuat publik yakin dengan tata kelola sepak bola di Indonesia. PSSI dan PT. LIB wajib membuktikan kesungguhan mereka dalam hal ini.

Sudah jadi rahasia umum apabila pembinaan usia muda di negeri ini jadi salah satu masalah akut yang tak jua diselesaikan oleh PSSI. Sebagai induk organisasi sepak bola tertinggi di tanah air, selama ini PSSI cenderung fokus pada kompetisi di level senior, mulai dari Liga 1, Liga 2, dan Liga 3 saja. Maklum, pundi-pundi uang yang bisa dihasilkan dari kompetisi senior memang lebih menjanjikan daripada kejuaraan resmi di level junior.

Tapi PSSI tak bisa berkelit terus menerus karena keberadaan kompetisi resmi di level junior adalah jaminan keberlangsungan sumber daya di bidang sepak bola. Tanpa adanya kompetisi junior, akan sangat sulit bagi PSSI untuk mencari bibit-bibit muda di pelosok negeri yang potensial dan siap dijadikan tumpuan membela negara di masa depan.

Baca juga: Pembinaan Usia Muda: Pekerjaan Rumah Tiada Akhir bagi Indonesia

Saya pribadi berharap, kompetisi Liga 1 U-19 ini bisa menjadi tonggak awal lahirnya kompetisi-kompetisi junior di kelompok umur yang lain, seperti U-17, U-15 bahkan U-10, seperti yang bisa sama-sama kita lihat di Italia maupun negara-negara maju sepak bola yang lain.

Dengan pembinaan usia muda yang terstruktur, iklim sepak bola di negeri ini pun bisa berjalan dengan lebih baik. Anak-anak yang bercita-cita menjadi pesepak bola punya wadah yang jelas buat mengejar impiannya. Tak sekadar masuk sekolah sepak bola lalu berharap bakatnya dipantau dan diminati orang-orang dari klub yang ada di Indonesia.

Apalagi, keberadaan tim junior juga masuk dalam unsur yang wajib ada ketika PSSI maupun operator kompetisi melakukan verifikasi. Terlepas dari masih tidak seriusnya PSSI dan PT. LIB dalam menjalankan keharusan itu, pihak klub pun seharusnya sadar jika keberlangsungan mereka di masa yang akan datang bakal dipengaruhi oleh keberadaan tim-tim junior dan tidak sekadar mengincar keuntungan sesaat melalui tim senior saja.

Ayo berbenah!

Author: Budi Windekind (@Windekind_Budi)
Interista gaek yang tak hanya menggemari sepak bola tapi juga american football, balap, basket hingga gulat profesional