Ironi Bremen yang Bayangi Transfer Serge Gnabry ke Bayern

Die Werderaner jadi penyumbang terbanyak, tapi tak semua sukses.

Serge Gnabry

Sudah sejak lama, Bayern München dikenal sebagai tim yang kerap menggaet pemain dari sesama tim 1.Bundesliga. Pada bursa transfer musim panas ini saja, sudah ada Serge Gnabry dari Werder Bremen, yang mengikuti jejak duo Hoffenheim, Niklas Süle dan Sebastian Rudy. Hingga muncul pertanyaan, klub mana yang paling sering menyumbang pemain untuk Bayern?

Baca juga: Menyesap Darah Muda Serge Gnabry

Jawabannya adalah Bremen. Transfer Gnabry ke Bayern sekaligus mempertegas posisi Die Werderaner sebagai feeder club utama untuk tim asal Bavaria tersebut, setidaknya dalam 30 tahun terakhir. Lewat kehadiran pemain sayap timnas Jerman itu, Bayern telah melakukan delapan transaksi pembelian pemain dengan Bremen, berdasarkan data Transfermarkt.

Sejatinya kepindahan Gnabry ke Allianz Arena cukup mengejutkan karena sebelumnya kerap dikaitkan dengan klub semisal Hoffenheim dan AC Milan. Namun, malah Bayern yang sukses mendapatkan jasa pemain berusia 21 tahun itu dengan nilai transfer sekitar delapan juta euro lewat masa kontrak hingga 2020 mendatang.

“Kami amat senang bisa kembali mendapatkan talenta hebat Jerman pada diri Gnabry. Tentu saja dia bakal berkembang bersama Bayern,” ucap CEO Bayern, Karl-Heinz Rummenigge, kepada situs resmi klub. Sayangnya, nada optimisme juga dibarengi dengan bayang-bayang buruk sejarah kepindahan pemain dari Bremen ke Bayern.

Lebih banyak gagal

Dalam tiga dekade terakhir, Andreas Herzog jadi pemain pertama yang menyeberang dari Bremen ke Bayern, tepatnya awal musim 1995/1996 silam. Pemain asal Austria itu memang sukses meraih trofi Piala UEFA (kini Liga Europa) bersama Bayern, tapi hanya bertahan semusim dan mencatatkan tak lebih dari 30 penampilan. Setelahnya, Herzog kembali ke Bremen.

Semusim berselang, ada nama Mario Basler. Tak serupa dengan Herzog, Basler meraih kesuksesan bersama Bayern lewat deretan dua trofi 1.Bundesliga, satu titel DFB-Pokal, dan runner-up Liga Champions. Dia bertahan tiga musim di Bavaria dengan total 78 penampilan dan 18 gol, dua di antaranya dicetak pada laga final, masing-masing DFB-Pokal 1998 dan Liga Champions 1999.

Di awal milenium atau tahun 2001, Claudio Pizarro didatangkan dari Bremen dengan status sebagai penyerang tajam yang baru berusia 22 tahun. Gawang Schalke 04 jadi perkenalan pertamanya dengan publik Bayern, yang akhirnya menjuluki dia Inca God dan Andes-Bomber. Pizarro jadi kunci sukses gelar 1.Bundesliga dan DFB-Pokal bagi Bayern tiga musim beruntun pada periode 2002 hingga 2006.

Akan tetapi jelang akhir musim 2006/2007, Pizarro tak mencapai kata sepakat pada perpanjangan kontraknya di Bayern dan hijrah ke Chelsea. Namun pada 2012 lalu, dia kembali ke Die Roten. Menariknya, Pizarro yang tak lagi muda, pergi ke Bayern lewat rute sama dengan sebelumnya: Dari Bremen.

Hanya semusim di The Blues, Pizarro kembali ke Weserstadion, sebelum membela Bayern lagi, empat musim berselang dan tetap sukses meraih banyak trofi.

Pada sela-sela karier Pizarro di Bayern, hadir sosok lainnya dari Bremen, Valérien Ismaël, Miroslav Klose, dan Tim Borowski. Menjalani debut dengan mendapat kartu merah, Ismaël hanya efektif pada musim debutnya yakni 2005/2006, sebelum harus menderita cedera parah. Dia lantas dilepas ke Hannover 96.

Sementara Klose yang direkrut pada musim panas 2007, menunjukkan performa prima dalam dua musim perdana di Bayern. Namun dua musim selanjutnya, produktivitas top skor sepanjang masa Piala Dunia tersebut di Die Roten menurun drastis dan dilepas ke Lazio pada awal 2011/2012 dengan status bebas transfer.

Terakhir ada nama Tim Borowski, semusim setelah kedatangan Klose. Meski tampil sebanyak 35 kali pada musim satu-satunya di Bayern, dia tak pernah jadi pilihan pertama pelatih kala itu, Jürgen Klinsmann. Sekarang, mampukah Gnabry lepas dari bayang buruk tersebut dan tampil bersinar di Bayern seperti Pizarro?

Author: Perdana Nugroho
Penulis bisa ditemui di akun Twitter @harnugroho