Penggunaan VAR di Piala Dunia U-20 dan Segala Kontroversinya

Piala Dunia U-20 di Korea Selatan akan segera berakhir. Turnamen junior ini cukup menarik perhatian karena menjadi cikal bakal munculnya pemain-pemain kelas dunia di masa mendatang. Dan seperti biasa, selalu ada hal yang cukup menarik dari turnamen ini. Yaitu, penggunaan asisten wasit berupa video atau video assistant referee (VAR). Tentunya semua sudah cukup tahu ya apa fungsinya teknologi ini?

Baca juga: Suka Duka VAR

VAR ini berfungsi membantu wasit membuat keputusan. Seperti kita ketahui, kejadian di lapangan berlangsung cepat dan sekalipun mata wasit cukup awas, tetap saja ada yang luput. Sering kali kita melihat pemain protes karena ada yang diving tetapi justru diberi penalti atau soal gol yang offside tapi tetap disahkan. Nah, fungsi utama VAR adalah untuk membantu wasit membuat keputusan. Wasit melihat tayangan video terlebih dulu sebelum membuat keputusan.

Piala Dunia U-20 menjadi turnamen junior pertama yang menggunakan teknologi VAR. Rencananya di Piala Dunia 2018 di Rusia nanti, VAR ini akan digunakan.

Pertama kali VAR diujicobakan adalah saat Piala Dunia Antarklub 2016. Dan beberapa kejuaraan tahun ini juga akan menggunakan VAR. Tetapi ingat, sekali lagi, tidak ada sesuatu yang 100 persen sempurna. Lalu, apa saja masalah penggunaan VAR di Piala Dunia U-20 Korea Selatan ini?

Italy Zambia

  • Kartu merah Italia

Italia memang menang 3-2 atas Zambia di perempat-final. Namun, bukan berarti Tim Azzuri junior ini puas. Mereka kehilangan satu pemain gara-gara dianggap menghalangi pemain Zambia yang tengah berlari. Padahal dari rekaman video tidak ada kontak yang menghalangi pemain Zambia berlari. Lalu, wasit menunjuk titik putih dan pemain Italia tersebut dikeluarkan.

Lautaro Martinez

  • Pemain Argentina dikeluarkan akibat menyikut lawan

Ini terjadi saat Argentina berhadapan dengan Inggris. Wasit mengeluarkan pemain Argentina karena menyikut pemain Inggris. Memang kalau dilihat dari video, pemain Argentina bernama Lautaro Martinez, memang terlihat menyikut. Tetapi sulit dipastikan itu memang dilakukan dengan sengaja atau karena reaksi tubuh semata.

  • Penalti Uruguay

Laga semifinal antara Uruguay melawan Venezuela berlangsung cukup ketat. Uruguay baru berhasil mencetak gol di empat menit paruh kedua lewat titik putih. Wasit sendiri memberikan penalti saat melihat VAR. Menurut koresponden BeIN Sport, Tancredi Palmeri, masalah ini bukan masalah VAR, tetapi memang wasit yang tidak kompeten.

Lalu?

Sekali lagi tidak ada sesuatu yang sempurna 100 persen. Maksud FIFA jelas baik, agar memudahkan wasit dan asisten wasit mengambil keputusan setelah melihat tayangan video. Tetapi lagi-lagi tidak mungkin bisa menyenangkan semua pihak.

Kejadian di Liga 1 Indonesia kemarin juga cukup menarik saat Persija menjamu PS TNI yang berakhir dengan kemenangan Persija, 2-0. Wasit nyaris memberikan penalti bagi PS TNI di lima menit jelang bubaran (karena handball pemain Persija). Namun, setelah melihat tayangan ulang dari kamera televisi, wasit yang sudah menunjuk titik putih tiba-tiba membatalkan penalti. Hal ini memicu kejengkelan dari pelatih PS TNI, Ivan Kolev. Bahkan, pelatih Persija, Stefano Cugurra Teco juga bingung dengan keputusan wasit ini.

Intinya? Penggunaan teknologi jelas perlu. Tetapi ketegasan wasit juga diperlukan. Lepas dari wasit juga manusia biasa yang bisa membuat kekeliruan,  dia tetaplah sosok yang dihargai di lapangan hijau.

Author: Yasmeen Rasidi (@melatee2512)