Kolom

Juventus melawan Real Madrid: Panggung Marcelo dan Dani Alves

Ketika datang kali pertama di Juventus, Dani Alves disambut dengan cukup meriah dan gairah tinggi. Gianluigi Buffon menariknya ke sudut dan meminta Alves memberinya penjelasan cara memenangi Liga Champions. Massimiliano Allegri menggambarkan saat itu, semua pemain seperti ingin mencekik Alves, saking senangnya bek asal Brasil tersebut bergabung bersama Juventus.

Dua musim sebelumnya, Alves membantu Barcelona mengalahkan Juventus lewat final yang terasa antiklimaks. Kini, giliran Alves menebusnya dengan mengantar Si Nyonya Tua ke Cardiff, panggung final Liga Champions. Laga semifinal melawan AS Monaco boleh dikata menjadi salah satu penampilan terbaik Alves bersama Juventus.

Baca juga: Juventus 2-1 Monaco: Perihal Superioritas Dani Alves

Pada laga pertama di rumah Monaco, Alves membuat dua asis. Salah satunya dilakukan dengan luar biasa, menggunakan tumit kaki, setelah proses serangan balik yang sama luar biasanya. Keajaiban Alves berlanjut di laga kedua, di Juventus Stadium, ketika ia kembali membuat satu asis, dan melengkapinya dengan gol indah lewat lesatan tendangan voli.

Lawan Juventus, di final nanti, adalah Real Madrid, dengan Marcelo, sebagai bek kiri, yang akan berhadapan langsung dengan Dani Alves. Marcelo, sama seperti Alves, berperan besar terhadap kelolosan timnya ke final Liga Champions. Adalah Marcelo, yang membongkar pertahanan Bayern Muenchen di menit 109, menerobos terjangan bek lawan, dan memberikan asis untuk Cristiano Ronaldo yang berdiri bebas untuk menceploskan bola.

Dan di Cardiff, Dani Alves dan Marcelo akan bertemu. Kawan di timnas Brasil, namun “musuh” selama beberapa tahun di salah satu rivalitas terpanas di dunia, Barcelona dan Real Madrid. Dua bek, yang tak hanya bermain seperti seorang pemain bertahan. Jika ditotal, keduanya sudah mengumpulkan 53 trofi dan dalam waktu dekat, akan menjadi 54. Mereka adalah sosok kunci, di dua tim terbaik di Eropa saat ini.

Sebagai seorang pemain bertahan, selama bertahun-tahun, Marcelo dan Dani Alves hampir selalu dikritik karena dipandang tidak bisa bertahan. Namun sepak bola akan terlalu membosankan, bukan? Terutama apabila para pemainnya tak bisa bersenang-senang. Dan seperti itulah keduanya, menikmati setiap pertandingan, bermain lepas, dan senyum selalu ada untuk diumbar.

Harus diingat bahwa keduanya seperti “terlalu” menyerang karena para pelatih memberi instruksi untuk maju ke depan dan membantu menyerang. “Apa yang kalian maksud dengan bertahan? Bahwa pemain tak boleh menggiring bola atau menyerang? Sepak bola akan sangat membosankan. Untuk menang, Anda harus mencetak gol. Pemenang bukan hanya ditentukan oleh tim yang bertahan lebih baik. Jika Anda mampu bertahan dengan baik, namun tak bisa mencetak gol, lantas apa gunanya?” ungkap Alves.

Jika hanya bisa bertahan, keduanya mungkin tak akan bermain di Real Madrid dan Barcelona, dua klub yang selalu menuntut para pemainnya bermain menghibur. Selain cara bermain, kepribadian keduanya memang seperti itu, menyenangkan dan menularkan kegembiraan. Alves suka menyanyi dan menari, pun dengan Marcelo, meski terkadang kebodohan yang mereka tunjukkan.

Bahkan akar sepak bola keduanya tidak berbeda. Keduanya sama-sama berkembang dari sepak bola jalanan dan mengasah bakat di lapangan futsal. Marcelo mulai mengenal futsal ketika berusia empat tahun. Kakak iparnya merupakan pemain futsal profesional dan di tahun-tahun awal berseragam Madrid, Marcelo sering kabur dari asrama dan bermain futsal, bahkan ikut kompetisi.

Bakat Marcelo bermain sepak bola adalah bakat alami. “Ia punya kemampuan menggiring bola dan teknik yang sangat baik. Ia punya kemampuan untuk berimprovisasi guna keluar dari situasi sulit yang sering tidak bisa dibayangkan pemain lain,” ungkap kakak iparnya. Lingkungan tempatnya tumbuh memengaruhi corak permainan Marcelo, begitu juga dengan Dani Alves.

“Saya senang bermain futsal ketika masih bersekolah. Futsal mengasah kepandaianmu, karena Anda harus berpikir apabila bermain olahraga ini. Ruang yang sempit, dan lawan akan menempelmu dengan ketat. Jadi, Anda harus pintar, dan berpikir dengan cepat. Di sepak bola, pemain pintar punya keuntungan,” jelas Alves soal futsal yang memberi pengaruh kepada permainannya.

Dengan dasar permainan seperti itu, Marcelo dan Dani Alves menjadi bukan hanya sekadar bek sayap yang bisa menyerang. Mereka lebih dari itu. Mereka leluasa untuk keluar dari posisinya, bermain lebih ke tengah, mencipta peluang, bermain umpan satu-dua. Mereka seperti gelandang serang yang bermain di posisi yang salah. Cap bek sayap memang terkadang bisa menipu dan mengecoh.

“Anda melihat asis Dani Alves yang menggunakan tumit ketika melawan Monaco? Itu pekerjaan seorang playmaker,” kenang Allegri.

Sementara itu, Jorge Valdano memberi gambaran yang paling jelas soal Marcelo. “Ia terlihat begitu alami ketika menggiring bola. Dia menggiring masuk ke area tengah dengan mudah seperti masuk rumahnya sendiri. Dan ketika ia sampai di daerah lawan, ia menunjukkan solusi seperti seorang penyerang. Dahulu, Real Madrid punya bek sayap seperti Gordillo atau Roberto Carlos, yang ‘membajak’ tepi lapangan. Namun Marcelo, ia ‘menanam bunga’ di sisi lapangan.”

Dan di sana mereka akan beradu. Di panggung final Liga Champions. Sama-sama mengusung semangat orang Brasil, yang menikmati setiap pertandingan. Ia yang mengenakan kaos warna ungu, adalah Marcelo, yang tengah memburu tiga gelar Liga Champions dalam empat tahun. Sementara itu, ia yang mengenakan kaos hitam dan putih, adalah Dani Alves, yang mengejar rekor tiga kali treble di delapan musim.

Sebuah catatan yang tak buruk amat untuk dua orang bek sayap yang konon dipandang tak bisa bertahan.

Disclaimer:

Tulisan ini diadaptasi dari artikel Sid Lowe di Guardian yang berjudul, “Marcelo and Dani Alves make Champions League final a battle of the full-backs”. Tulisan orisinal bisa dibaca di sini.

Author: Yamadipati Seno
Koki @arsenalskitchen