Rohingya FC dan Perjuangan untuk Ada

Tahun 2012, deretan konflik di Rakhine, Myanmar memicu diaspora etnis Rohingya ke negara-negara tetangga. Menggunakan kapal-kapal motor sederhana dan jasa pedagang manusia, mereka lari menghindari amukan etnis Rakhine yang dibantu oleh militer dan polisi. Secara berangsur-angsur mereka datang dan mencari suaka di Malaysia, Thailand, dan Indonesia.

Tiga tahun berselang, seorang insinyur keturunan Rohingya kelahiran Arab Saudi, Muhammed Noor, mendirikan Rohingya FC (RFC). Noor yang orang tuanya kabur dari Rakhine pada medio 1970-an, adalah pemilik saluran TV RVision yand mulai mengudara pada tahun 2012. RVision juga turut andil untuk menyiarkan pertandingan-pertandingan RFC ke seluruh dunia.

RFC, yang resmi berdiri pada tanggal 10 Januari 2015, dalam halaman Facebook resminya mencantumkan bahwa tujuan klub ini didirikan sebagai cara untuk menyatukan pemuda-pemuda Rohingya dan menyatukan serta menghubungkan seluruh komunitas Rohingya di seluruh dunia. Uniknya, RFC juga mendaulat dirinya sebagai tim nasional Rohingya. Bahkan, Noor mengatakan bahwa tujuan utama dari RFC adalah menghadapi tim nasional Myanmar dalam pertandingan resmi.

Logo dari Rohingya FC.

“Tujuan utama klub ini adalah agar orang Rohingya mendapatkan pengakuan. Bukan untuk RFC, karena RFC hanyalah kendaraannya,” katanya. “Bagi kami, pengakuan paling utama bagi kaum Rohingya adalah melawan tim sepak bola Myanmar, bukan menantang untuk berkonflik, tapi sebagai pertandingan persahabatan. Pertandingan itu seandainya terwujud bisa menjadi titik awal pengakuan bagi kami. Kami harus berani memulai.” ujar Noor seperti dikutip dari Vice.

Walau kesempatan bertanding melawan tim nasional Myanmar terlihat mustahil sekarang, setidaknya, RFC dapat bertanding di DD Social League 2016, liga amatir yang berada pada tingakatan keempat di hieraki sepak bola Malaysia. Mereka berhasil finis di posisi 10 dari 16 tim dengan mencatatkan 5 kemenangan, 4 seri, dan 6 kekalahan. Hasil yang tidak buruk bagi tim yang energi para pemainnya juga terkuras habis sebagai pekerja kasar di Kuala Lumpur.

Untuk diketahui, etnis Rohignya di Malaysia banyak bekerja sebagai tenaga kerja tanpa keahlian. Mereka tidak memiliki akses ke fasilitas pendidikan, jaminan kesehatan, atau izin kerja resmi. Para pemain Rohingya FC sendiri kebanyakan bekerja sebagai buruh bangunan, penyapu jalan serta pekerja serabutan.

Ahmad Dilder, pelatih RFC saat ini, memimpikan tim mereka ikut berkompetisi di kasta tertinggi sepak bola Malaysia, Liga Super Malaysia. Sementara itu, Noor sang presiden, bermimpi untuk bermain di panggung internasional.

“Tim pengungsi yang berkompetisi pada Olimpiade Musim Panas 2016 di Brasil memberikan saya harapan bahwa kami bisa bermimpi besar juga. Saat ini, kami masih memiliki kekurangan di segi latihan, dana dan manajemen, jadi kami ingin untuk mendapatakan fasilitas yang layak dan manajemen yang baik untuk menjadi klub sepak bola seutuhnya. Saya ingin melihat kami melawan tim–tim kelas dunia seperti Manchester United dan Chelsea,” ujar Noor lagi seperti dikutip Four-Four Two.

Kesempatan untuk bertanding bagi Rohingya FC di panggung internasional juga bisa terwujudkan dengan cara berpartisipasi di kejuaran dunia sepak bola non-FIFA seperti Piala Dunia VIVA dan Piala Dunia CONIFA.Kedua kejuaraan ini ditunjukkan bagi mereka yang tidak diakui FIFA dan mereka yang berstatus tidak memiliki kewarganegaraan. Kedua kejuaraan ini juga terbuka bagi suku dan etnik tertentu yang sedang dalam konflik seperti Aram dan Kurdi.

Walau masih belum bermain di pertandingan internasional, RFC sudah mendapat pengakuan dan bantuan dari komunitas internasional. Dalam foto beranda halaman Facebook resminya mereka mencantumkan “Supported by The Australian Government” dan disponsori oleh The Kick Project.

The Kick Project sendiri adalah organisasi non-pemerintah yang membantu komunitas pengungsi di seluruh dunia lewat sepak bola. Sepertin dilansir Vice, RFC menerima bantuan dana sebesar 162,4 juta rupiah dari diplomat–diplomat Australia yang berada di Kuala Lumpur.

“Setelah kami membentuk klub ini, mereka menawarkan bantuan dengan menyediakan seragam, sepatu dan dana. James Rose (Direktur The Kick Project) juga menghubungi organisasi-organisasi non pemerintah lain dan orang-orang yang berhubungan dengan FIFA serta media Australia untuk memberi banyak sorotan pada tim kami. Setelah, itu kami dilihat oleh PBB dan mendapat beberapa bantuan dari mereka.”

Animo yang tinggi dari komunitas Rohingya di Malaysia terhadapa olahraga juga dimanfaatkan The Kick Project untuk membentuk tim perempuan Rohingya FC serta adanya kemungkinan untuk memfasilitasi komunitas Rohingya di bidang bulutangkis dan judo.

Pertengahan April 2017 kemarin, Rohingya telah resmi diakui sebagai anggota CONIFA serta dapat berpartisipasi dalam agenda turnamen CONIFA berikutnya. Rohingya FC juga mendapat bantuan sebesar RM 50.000, sebuah bus tim, dan ditanggung biaya sewa stadionnya selama setahun.

Rohingya FC berhasil menunjukkan bahwa walau dalam keterbatasan mereka masih sanggup untuk meminta (atau memaksa) dunia mengakui keberadaan mereka. Ini adalah sebuah tamparan bagi Myanmar Football Federation (MFF) yang sedang terkena isu korupsi oleh ketua federasinya, U Zaw Zaw. Juga merupakan sindiran bagi FIFA yang dengan moto “For the Game. For the World”, masih gagal untuk menyediakan sepak bola bagi setiap kalangan.

Orang–orang yang terlibat di Rohingya FC dapat berbangga dengan pencapaian yang diraih dalam dua tahun, dan mereka bisa dengan bangga mengutip perkataan Tyrion Lannister dari serial Game of Thrones “Never forget what you are. The rest of the world will not. Wear it like armor.”

Author: Ugo Rahvana