Malaga yang Kembali Menjadi Upik Abu

Malaga pernah memberi kita sebuah cerita indah.

Malaga

Lima tahun lalu, Malaga adalah salah satu wakil Liga Spanyol di Liga Champions Eropa. Di musim 2016/2017 ini, Los Boquerones malah bertarung untuk menghindari degradasi. Apa yang sebenarnya terjadi?

Malaga pernah memberi kita sebuah cerita indah. Kita pasti selalu menikmati kisah heroik kuda hitam yang sanggup melangkah jauh. Sebut saja tim nasional Denmark dan Yunani yang pernah menjuarai Piala Eropa walaupun sama sekali tidak diunggulkan sebelumnya. Ada juga FC Porto yang menjadi juara Liga Champions 2004. Semua fenomena itu bagaikan cerita dongeng Cinderella, seorang gadis ‘upik abu’ yang memperoleh keajaiban sehingga dapat mengubah nasibnya menjadi putri cantik jelita.

Di Liga Spanyol, salah satu cerita ala Cinderella itu dimulai pada awal musim 2012/2013, ketika sebuah kekuatan baru telah muncul dalam diri Malaga CF. Klub asal kota kelahiran pelukis legendaris Pablo Picasso ini sukses menembus persaingan ke penyisihan grup Liga Champions Eropa setelah finis di peringkat 4 La Liga musim 2011/2012. Banyak cerita menarik di belakang sepak terjang ‘tim Cinderella’ baru ini.

Malaga Club de Futbol (Malaga CF) pada awalnya merupakan klub khusus pemain cadangan bagi klub wilayah Andalusia tersebut. Masyarakat setempat pada awalnya memiliki klub bernama CD Malaga sebagai klub utama. Sayang, krisis finansial membuat CD Malaga bangkrut dan akhirnya bubar di tahun 1992.

Malaga CF pun naik pangkat jadi klub utama. Meski demikian, selama lebih dari dua puluh tahun, klub ini hanya sanggup mondar-mandir dari divisi satu ke divisi dua Liga Spanyol. Los Boquerones tidak ubahnya si upik abu di cerita Cinderella, sama sekali tidak istimewa dan tidak memikat.

Namun, sesosok ‘peri’ datang dalam wujud pengusaha Timur Tengah bernama Muhammad Nasser bin Abdullah Al Thani. Pengusaha Qatar ini membeli sebagian besar saham Malaga di tahun 2010. Dalam waktu dua musim, Malaga yang tadinya hanya mengandalkan pemain-pemain semenjana, disulapnya menjadi tim berhiaskan bintang.

Sebutan ‘berhiaskan bintang’ mungkin lebih tepat dibanding ‘bertabur bintang’, karena sebenarnya para pemain yang diboyong ke klub tersebut sebagian besar sudah melewati masa-masa kejayaan mereka. Sebagian lagi hanya termasuk bintang-bintang kelas dua. Meski demikian, masuknya para jugador ini berperan penting dalam mendongkrak prestasi Malaga. Berturut-turut mulai dari Julio Baptista, Martin Demichelis, Joaquin Sanchez, Jeremy Toulalan, Joris Mathijsen, Santi Cazorla, Enzo Maresca hingga Ruud van Nistelrooy didatangkan untuk menghiasi stadion La Rosaleda.

Malaga yang sudah bersolek pun didampingi oleh ‘pangeran’-nya, yaitu pelatih bertangan dingin, Manuel Pellegrini. Sempat sukses menyulap Villareal menjadi tim papan atas Spanyol, pelatih asal Cile ini dipercaya Syeikh Al-Thani untuk menggantikan Jesualdo Perreira yang dianggap gagal. Pellegrini pun hanya butuh satu setengah musim untuk membawa Malaga sang Cinderella untuk pertama kali dalam sejarah berlaga di pesta sepak bola level klub paling elite di Eropa, yaitu Liga Champions.

Namun, seperti halnya di kisah Cinderella, bantuan dari ‘sang peri’ ternyata ada batasnya. Secara tak terduga, bantuan dana dari Syeikh Al-Thani mendadak mampat. Desas-desus pun mengembang bahwa sang miliuner menolak mendanai Malaga lebih jauh karena obsesinya untuk membangun semacam kompleks olahraga di kota Malaga ternyata ditentang pihak pemerintah kota. Lalu, layaknya seorang bocah yang kehilangan ketertarikan pada mainannya, Syeikh Al-Thani pun kecewa dan menelantarkan klub sepak bolanya.

Malaga pun limbung. Kondisi keuangan mereka terguncang. Segenap pemain dan staf dikabarkan tidak menerima gaji selama beberapa bulan. Cicilan transfer para pemain dari tahun lalu juga ternyata banyak yang belum terbayar. Masalah-masalah finansial ini akhirnya berdampak pada hukuman tidak diperbolehkannya Malaga tampil di kompetisi antarklub Eropa, seperti yang menimpa Mallorca pada tahun 2010.

Dengan kesabarannya, ‘pangeran’ Pellegrini bersama segenap manajemen klub ternyata tidak berniat meninggalkan sang upik abu telantar begitu saja. Mereka pun mencarikan ‘ukuran sepatu kaca Cinderella’ yang tepat agar kondisi klub bisa stabil kembali, meskipun dengan konsekuensi segenap pilar mereka harus meninggalkan klub. Akhirnya, Cazorla harus direlakan ke Arsenal, Mathijsen dilepas ke Feyenoord, Maresca ke Sampdoria, Van Nistelrooy pensiun dan Salomón Rondón dijual ke Rubin Kazan.

Dengan hasil penjualan pemain-pemain tersebut, kondisi keuangan Malaga sedikit membaik. Mereka menambal kekosongan yang ditinggalkan dengan cara mendatangkan pemain-pemain berpengalaman dengan harga murah demi menyambut kerasnya persaingan Liga Spanyol dan Liga Champions Eropa.

Duet pemain lawas, Javier Saviola dan Roque Santa Cruz menjadi solusi bagi hengkangnya pemain-pemain andalan mereka. Kedua pemain tersebut melengkapi armada tim yang sedang naik daun, seperti bintang baru timnas Spanyol Ignacio Monreal dan sang wonderkid, Francisco Roman Suarez alias Isco.

Hasilnya cukup menggembirakan. Klub yang sempat bekerjasama dengan UNESCO ini akhirnya menyambut saat-saat bersejarah bagi klub mereka. Malaga akhirnya berlaga untuk pertama kali di Liga Champions 2012/2013, kompetisi tertinggi sepak bola Eropa. Di fase grup, mereka menghadapi wakil Rusia, Zenit St. Petersburg, juara Belgia, Anderlecht dan raksasa Italia, AC Milan.

Malaga pada saat itu bukan lagi sekadar ‘si upik abu’ yang hanya bisa bermimpi. Mereka sukses melewati fase grup dan menghentikan raksasa Portugal, FC Porto, di babak 16 besar. Sayangnya, mereka takluk di perempatfinal dari Borussia Dortmund dengan proses yang cukup dramatis. Seri 0-0 di kandang sendiri, Malaga takluk dengan skor 2-3 di dua menit akhir pertandingan.

Sejak saat itu, satu per satu pelaku sejarah di tahun tersebut meninggalkan La Rosaleda. Tak ada lagi Pellegrini, Joaquin atau Isco. Untuk awal musim 2016/2017, Los Boquerones hanya mendatangkan Sandro Ramirez dari Barcelona dan memulangkan Martin Demichelis, keduanya dengan status bebas transfer. Mereka juga memakai jasa pelatih Juande Ramos, yang sempat sukses bersama Sevilla lebih dari satu dekade lalu.

Namun, Ramos hanya bertahan enam bulan. Pada bulan Januari 2017, ia mengundurkan diri dan posisinya digantikan oleh Marcelo Romero. Nama kedua hanya bertahan tak lebih dari dua bulan sehubungan dengan jebloknya prestasi Malaga di papan bawah klasemen.

Nama Michel atau Jose Miguel Gonzalez, mantan pelatih Sevilla dan Olympiakos, kini menjabat sebagai pelatih kepala. Namun, banyak kalangan sepakat bahwa persoalan Malaga yang sebenarnya terletak pada ketidakseriusan sang pemilik, Al Thani, dalam mengurus klub Andalusia ini.

Bukan rahasia lagi bahwa pria Qatar ini kecewa akibat gagal membujuk otoritas kota Malaga untuk mengembangkan berbagai infrastruktur olahraga yang diinginkannya. Impian membangun kota olahraga seperti yang dilakukan para pengusaha Uni Emirat Arab di kota Manchester.

Jika Demichelis dan kawan-kawan terdegradasi pada akhir musim 2016/2017, bisa jadi rezim Al Thani akan segera berakhir di La Rosaleda. Malaga pun kembali menjadi ‘upik abu’ yang menderita.

Author: Mahir Pradana (@maheeeR)
Mahir Pradana adalah pencinta sepak bola yang sedang bermukim di Spanyol. Penulis buku ‘Home & Away’.