Kolom Eropa

FC Augsburg: Sejarah, Tradisi dan Kasperle

Griaßeich, liebe Bundesliga-Fans!

(Halo, suporter Bundesliga tercinta!)

Selamat datang di Emma Express! Saya, Alicia, akan memandu kamu dalam perjalanan panjang ke sebuah pulau dengan dua gunung, tolong jangan berpikiran kotor dulu, saya belum selesai!

Sebelumnya, saya akan memberi kamu penggalan lirik sebuah lagu:

“Eine Insel mit zwei Bergen und dem tiefen weiten Meer

(Sebuah pulau dengan dua gunung)

Mit viel Tunnels und Geleisen und dem Eisenbahnverkehr 

(Dengan banyak terowongan dan rel dan kereta api)

Nun, wie mag die Insel heißen, ringsherum ist schöner Strand 

(Apa nama yang tepat untuk pulau ini, pulau yang dikelilingi pantai yang indah)

Jeder sollte einmal reisen in das schöne Lummerland!

(Semua orang harus datang ke Lummerland yang indah!)

***

Iya, saya tahu kalimat saya tidak ada apa-apanya. Terjemahannya juga jelek. Tapi ya, saya sudah melakukan yang terbaik, sama seperti ketika FC Augsburg setiap mencetak gol di WWK Arena.

Oh, maaf. Saya lupa. Apa hubungannya Emma dan kereta api di lagu ini? Apa pula hubungannya dengan FC Augsburg? Siapa sih Kasperle itu?

Jadi begini, Emma adalah nama kereta api di lagu yang saya barusan tuliskan liriknya. Lagu itu berasal dari sebuah acara televisi tahun 60-an yang judulnya Jim Knopf und Lukas der Lokomotivfuehrer (Jim Kancing dan Lukas Si Masinis). Acara tersebut bukanlah kartun, tapi pertunjukan boneka yang dibuat oleh teater paling terkenal di Jerman, Augsburger Puppenkiste, yang bekerja sama dengan die Fuggerstaedter sejak….

Tunggu, saya belum selesai…hah? Anda mau mendengar sejarah FC Augsburg dari awal, bukan cuma…..hmm, oke, siap. Saya senang, kok. Jarang-jarang ada yang mau meluangkan waktu membaca tulisan saya jelasin soal klub antah berantah. Jadi, mari kita mulai…

Pada zaman dahulu kala, tepatnya 8 Agustus 1907, lahirlah seorang bayi lucu…eh, maksud saya, klub sepak bola bernama FC Alemania Augsburg. Pada usia 12 tahun, kesebelasan yang lahir pada Hari Festival Perdamaian itu berganti nama menjadi Ballspiel-Club Augsburg, biasa disingkat BC Augsburg (BCA).

Setelah itu, BCA membangun sebuah Fussballschule, yang pertama di Swabia bahkan, dan maju terus setelah Perang Dunia II dengan memenangkan Bavarian Cup tahun 1951 dengan sang legenda Helmut Haller (yang namanya diabadikan dalam bentuk rubber ducky di Bunducksliga). Tapi tak ada yang semulus kelihatannya, karena keuangan BC Augsburg yang mengenaskan membuat mereka khawatir.

Hal yang sama terjadi pada klub tersukses berikutnya di kota itu, TSV Schwaben Augsburg, dan kedua klub tersebut berniat bersatu dari tahun 40-an. Meskipun awalnya persatuan tersebut terhalang perbedaan kelas (BCA adalah klub kelas pekerja dan TSV klub ‘tajir’) dan rivalitas, performa yang sangat buruk di lapangan (degradasi ke divisi III pada tahun 1967 [BCA] dan 1968 [TSV]) mendorong mereka untuk segera merging. Nggak sepenuhnya, sih. TSV Schwaben hanya rela melepas divisi sepak bolanya saja.

Love child mereka adalah…ya, benar, FC Augsburg (FCA)!

Pertandingan pertama FC Augsburg dilaksanakan pada 30 Juli 1969 dan ditonton langsung oleh 13 ribu suporter. Lawan mereka hari itu adalah Nuernberg, juara bertahan Bundesliga yang habis degradasi dan Augsburg digilas dengan tiga gol tanpa balas di extra time.

Tahun 1969, penduduk Augsburg masih belum menerima FCA, membuat jumlah penonton dan prestasi mereka menurun. Tahun berikutnya, prestasi Augsburg membaik. Tapi karena mereka hanya ditonton rata-rata 300 orang tiap pertandingan, mereka tidak bisa mempertahankan pemain-pemain top yang mereka miliki.

Kesengsaraan mereka tak bertahan lama, untungnya. Pada tahun 1973, Augsburg menjuarai Bayernliga (divisi empat Jerman) dan merasakan gemerlap sepak bola profesional untuk pertama kalinya. FC Augsburg akhirnya diterima publik, dan pada matchday terakhir, selebrasi gelar juara mereka ditonton 15 ribu orang.

Pada musim 1973/1974, Helmut Haller, kembali ke Augsburg setelah sebelas tahun di Italia dengan biaya transfer sebesar 44 ribu DM. Akuisisi ini tidak sia-sia karena Augsburg, si Aufsteiger (tim promosi), menjuarai divisi tersebut.

Bukan hanya itu, klub ini bahkan memecahkan rekor bersama rival mereka, TSV 1860 Munchen. Tahun yang sama kala itu, panitia pertandingan kala itu hanya menjual delapan ribu tiket untuk pertandingan melawan 1860 Munchen. Tetapi, lebih dari 80 ribu suporter tumpah ruah di dalam dan di luar Olympiastadion,  dan menjadi rekor penonton terbanyak untuk divisi ke-2 di seluruh dunia.

Ketika 1860 Munchen mencetak gol pada menit ketiga, penonton yang terjebak di luar merobohkan gerbang dan memanjat pagar yang menghalangi mereka. 137 orang cedera dalam pertandingan yang berakhir 1-1 tersebut.

Oke, di musim itu, Augsburg kalah play-off kualifikasi untuk ke Bundesliga, tapi mereka setidaknya bisa bertahan di divisi dua yang baru, 2. Bundesliga. Seluruh kota merayakan kesuksesan die Fuggerstadter, dan koran lokal menjuluki stadion Rosenau sebagai ‘Napoli-nya Jerman.’

Good things don’t last, though, dan Augsburg, yang pada dekade ini ditinggal sang legenda dan berganti pelatih sebanyak tujuh kali, harus berjuang menghindari degradasi. Haller akhirnya kembali meskipun usianya sudah 40 tahun, tapi sang legenda pun tidak dapat membantu banyak. FCA kembali bermain di level amatir.

Augsburg tampil fluktuatif, dan tahun 1983, setelah degradasi dari 2. Bundesliga, mereka berkutat di Bayernliga lagi hingga tahun 1994. Play-off 2. Bundesliga yang ditunggu-tunggu justru berakhir dengan kekalahan yang pahit.

Jika saja Augsburg adalah seorang manusia, ia pasti akan berseru, “Eh, Bayernliga. Bosen gue ngeliat lo!”

Sistem liga di Jerman yang terus berubah mempersulit Augsburg untuk maju, dan setelah bertahun-tahun jadi klub medioker yang nggak bisa bayar utang, DFB menolak memberikan lisensi Regionalliga untuk mereka. So, yeah! Augsburg turun ke divisi keempat…di Bayernliga. What a way to start the new millennium.

“GUE BOSEN!”

Tunggu, Anda teriak untuk memerankan Augsburg, atau karena benar-benar bosan membaca tulisan ini?

Oke, saya minta maaf. Tarik napas… buang. Tarik napas… buang. Bagus. Ayo lanjut. Nanti ada Kasperle, tenang aja.

Setahun kemudian, akhirnya Dewi Fortuna kasihan pada klub Bavaria yang satu ini. Walter Seinsch, seorang wirausaha lokal, membebaskan Augsburg dari lilitan utang.

Dengan bantuannya, Augsburg dapat menurunkan skuad yang kompetitif. Semangat yang membara membawa mereka ke RegionalligaSud pada tahun 2002, dan setelah empat kali finis di posisi ke-4 (terdengar seperti Arsenal), klub ini muak dan mereka memutuskan untuk mendominasi musim 2005/2006 dan…ehem…

“Dann kam der Aufstieg, die Erlösung”

(Lalu datang tiket promosi)

“Das große Fußballwunder, hier am Lech”

(Keajaiban besar di Lech)

Yang saya tuliskan barusan adalah salah satu bait dari anthem FC Augsburg yang digubah tahun 2006, khusus untuk merayakan kembalinya FCA ke 2. Bundesliga setelah penantian lama sepanjang 23 tahun.

Musim pertama Augsburg di 2. Bundesliga diakhiri di posisi ke-7, normal bagi Aufsteiger, tapi tak apa, karena mereka menang 3-0 atas rival terberat mereka, 1860 Munchen, di hadapan 69.000 suporter di Allianz Arena!

Dewi Fortuna, yang mungkin saja adalah inkarnasi Arsene Wenger, sepertinya ingin membawa Augsburg kembali ke divisi IV, dan tahun-tahun berikutnya, Augsburg finis di peringkat ke-11 dan ke-14.

Pada musim 2009/2010, klub kelahiran 1907 ini pindah dari Rosenau ke stadionnya yang sekarang, Impuls Arena, yang diberi panggilan sayang ‘Schwabenstadion’ oleh suporter setia FCA.

Pindahnya Augsburg dari stadion tua yang bersejarah ke stadion netral karbon pertama di dunia seakan-akan melambangkan langkah mereka ke depan, FCA langsung finis di posisi ke-3. Ya, dan setelahnya, lagi-lagi kesebelasan ini tersandung di play-off. Sudah biasa.

And guess what’s coming next!

Pada tahun 2011, Augsburg berhasil promosi ke Bundesliga untuk pertama kalinya!

Dan seperti yang Anda tahu, dengan kerja keras, klub antah berantah ini nangkring di posisi ke-5 pada akhir musim dan maju berlaga ke Europa League untuk menorehkan sejarah sekali lagi.

Nah, sekarang, karena Anda sudah tidak sabar untuk melihat Lummerland yang menakjubkan, mari kita bahas tradisi yang melekat di klub FC Augsburg ini.

***

Dari semboyannya, Eine Region, ein Verein, eine Leidenschaft (Satu kota, satu klub, satu semangat) bisa kita simpulkan bahwa FC Augsburg adalah klub yang bangga akan kotanya dan akan sebuah tradisi.

Dan karena itu, pada tahun 2009, Augsburg mulai bekerja sama dengan Puppenkiste! Bagaimana sebuah kesebelasan berkooperasi dengan teater boneka?

Tidak sulit. Caranya, sebelum pertandingan, kapten tim tandang yang datang ke WWK Arena akan diberi persembahan berupa boneka. Bahkan, Liverpool juga sempat menerima boneka kala bertandang ke Augsburg di ajang Liga Europa lalu (Uniknya, Schwabenstadion dijuluki Anfield Road-nya Augsburg).

Selain itu, lagu yang saya kutipkan di awal, Lummerlandlied, versi instrumentalnya selalu diputar setiap kali Augsburg mencetak gol. Serius. Nada lagu tadi juga dijadikan chants oleh suporter.

Apakah kerja sama mereka hanya di hal itu? Tidak! Setiap anggota klub yang terdaftar mendapatkan potongan harga tiket masuk museum Augsburger Puppenkiste. Mau? Saya juga. Sayang, diskonnya nggak buat nonton di teaternya.

Tapi jangan khawatir, karena di laman situsweb resmi dan kanal ofisial Youtube FC Augsburg, Kasperle bisa menghibur Anda, asal Anda mengerti dialek Bavaria. Ya, kalau tidak, setidaknya sekarang Anda tahu apa artinya Griaß eich. Karena itu adalah salam yang dia ucapkan di awal tiap video.

Video apa? Match prediction, tentunya! Maaf, almarhum Paul si Gurita, Anda punya saingan.

Beberapa jam sebelum bola bergulir di WWK Arena, Kasperle akan menebak hasil pertandingan dengan pembawaan yang seringkali nyeleneh, (bahkan pernah ada sosok Darth Vader), dan meskipun boneka ini nggak jago-jago amat dalam meramal, setidaknya dia lucu.

Seperti saya? Terima kasih! I’m honored!

Saya rasa itu sekelumit kisah sejarah dan bagaimana FC Augsburg merawat benar tradisi dan semangat kota mereka untuk bersinergi dalam bisnis dan sepak bola. Sebuah langkah penting yang patut diapresiasi karena memberi ruang bagi sejarah lokal untuk ikut menjadi nilai kearifan budaya Augsburg yang bisa dibawa sampai kancah global.

Seperti misalnya, ketika Anda membaca tulisan ini, otomatis, citra dari Puppenkiste dan kearifan lokal kota Augsburg sudah tersampaikan misinya untuk dikenal luas masyarakat dunia. Hore!

Sudah dulu, ya! Saya mau pamit, sampai jumpa di artikel berikutnya! Pfiat eich! Servus!

Author: Alicia Altamira (@freibulous72)
Pecinta SC Freiburg yang hobi mengantar pembaca ke neraka klub antah berantah dengan filosofi ‘Fußball meets fun’.